"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."
Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.
Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.
Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Suap Terakhir, Awal Badai
Naira tersenyum getir, kenangan itu terasa sangat jauh sekarang. "Itu kan dulu, waktu aku masih sehat. Sekarang... menelan air putih saja rasanya berat banget."
"Justru karena itu aku di sini," balas Nevan sambil mengambil sendok. Ia mengaduk pelan kuah soto yang kental dan kekuningan itu. "Kalau kamu nggak bisa merasakan bumbunya, biarkan aku yang jadi penyambung rasanya buat kamu."
Nevan menyendok sedikit kuah dan potongan daging yang empuk. Ia meniupnya dengan penuh perasaan hingga suhu panasnya pas, lalu menyodorkannya ke bibir Naira.
"Coba sedikit saja, Sayang. Bukan buat kenyang, tapi buat kasih sinyal ke badan kamu kalau kita belum menyerah."
Naira ragu sejenak. Namun, melihat binar penuh harap di mata suaminya, ia akhirnya membuka mulut. Ia mengunyah dengan sangat perlahan, mencoba berdamai dengan rasa sakit yang menusuk pangkal tenggorokannya.
"Gimana?" tanya Nevan lembut.
Naira menelan pelan, matanya mendadak berkaca-kaca. "Sedikit... ada rasa hangat di tenggorokan. Tapi tetap saja, Mas, aku nggak punya tenaga buat habiskan ini."
Nevan menyeka sudut bibir Naira dengan tisu secara perlahan, gerakannya sangat protektif. "Satu suap itu kemenangan besar, Nai. Dengerin aku... Dokter bilang kondisi kamu harus stabil supaya operasi minggu depan bisa berjalan lancar. Kamu butuh nutrisi ini supaya sel-sel di tubuh kamu punya 'senjata' buat perang melawan sakitmu."
Nevan kembali menyiapkan suapan kedua. Tatapannya dalam, seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya ke dalam tubuh istrinya.
"Makin banyak yang masuk ke tubuh kamu, makin cepat kamu pulih. Dan itu artinya, makin cepat kita bisa pulang ke rumah, nonton film bareng lagi, dan kamu nggak perlu lagi merasakan jarum infus. Aku mau istriku yang ceria itu kembali. Boleh ya, satu suap lagi demi aku? Demi kita?"
Naira menatap mata Nevan lama, mencari kekuatan di sana. Air matanya menetes pelan di pipi, namun ia mengangguk kecil. Ia menerima suapan kedua dengan lebih mantap.
"Terima kasih ya, Mas. Maaf aku merepotkan terus."
Nevan memajukan tubuhnya, lalu mengecup kening Naira dengan sangat lembut dan lama. "Menjagamu itu bukan repot, Sayang. Itu tugasku sebagai rumah kamu. Sekarang, fokus makan, ya? Habiskan pelan-pelan, aku nggak akan beranjak dari sini sampai mangkuk ini kosong."
Nevan kembali menyuapi Naira dengan penuh kesabaran. Di restoran itu, di bawah lampu yang temaram, sang "Kaisar" bisnis yang ditakuti banyak orang itu hanyalah seorang suami yang sedang berjuang menyuapi separuh jiwanya. Baginya, setiap tetes kuah soto yang tertelan adalah sebuah doa yang terkabul.
Malam di Jakarta Pusat biasanya selalu bising, namun di sudut restoran soto Betawi legendaris itu, waktu seolah berjalan melambat bagi Nevan Wiratama. Aroma rempah yang kuat dan uap panas yang membumbung dari mangkuk di depan mereka seharusnya menjadi penanda kehangatan. Namun, Nevan bisa melihat bagaimana istrinya, Naira, berjuang hanya untuk sekadar tetap terjaga.
Naira tampak begitu rapuh. Kulitnya yang biasanya seputih porselen kini terlihat pucat dengan rona keabuan di bawah matanya. Setiap kali ia mencoba menelan ludah, jakunnya bergerak dengan susah payah, diiringi ringisan kecil yang disembunyikan di balik senyum tipisnya.
"Mas... percuma kita ke sini," bisik Naira. Suaranya serak, nyaris hilang tertelan keriuhan pengunjung lain. "Lidahku benar-benar mati rasa. Bau rempah yang biasanya bikin aku lapar, sekarang cuma lewat begitu saja. Hambar, Mas. Semuanya hambar."
Nevan merasakan hatinya seperti diremas. Pria yang di kantornya dikenal sebagai singa podium yang tak kenal ampun itu kini melunak. Ia meraih jemari Naira yang dingin di atas meja, menggenggamnya seolah ingin menyalurkan seluruh sisa energi yang ia miliki.
"Aku tahu, Sayang. Aku tahu rasanya dunia seolah kehilangan warna kalau tubuh lagi nggak kompromi," ucap Nevan lembut. Ia mencoba tersenyum, meski batinnya menjerit melihat penderitaan istrinya. "Tapi soto ini bukan cuma soal rasa. Ini soal ingatan. Ingat nggak dulu kita pertama kali kencan di sini? Kamu nambah kerupuk emping sampai tiga piring, dan aku cuma bisa melongo lihat betapa lahapnya kamu."
Naira tersenyum getir, kenangan itu seolah berasal dari kehidupan orang lain. "Itu kan dulu, waktu aku masih sehat. Sekarang... menelan air putih saja rasanya berat banget."
"Justru karena itu aku di sini," balas Nevan tegas namun tetap lembut. Ia mengambil sendok, mengaduk pelan kuah kental kekuningan itu hingga aromanya semakin menguar. "Kalau kamu nggak bisa merasakan bumbunya, biarkan aku yang jadi penyambung rasanya buat kamu."
Nevan menyendokkan sedikit kuah, memastikan suhu panasnya sudah pas sebelum menyodorkannya ke bibir Naira. "Coba sedikit saja, Sayang. Bukan buat kenyang, tapi buat kasih sinyal ke badan kamu kalau kita belum menyerah."
Melihat binar penuh harap di mata Nevan, Naira tidak tega menolak. Ia membuka mulutnya, membiarkan cairan hangat itu mengalir melewati tenggorokannya yang meradang. Sakit. Tapi ada kehangatan yang menjalar hingga ke dadanya.
Namun, di balik kegelapan pilar restoran, sepasang mata mengawasi dengan kebencian yang mendarah daging. Nadia meremas gelas anggurnya hingga jemarinya memutih. Setiap suapan yang diberikan Nevan kepada Naira adalah sayatan bagi harga diri Nadia.
"Makanlah yang banyak, Naira," desis Nadia dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kegelapan. "Karena ini mungkin perjamuan terakhirmu."
"Mas, aku ke toilet sebentar ya," pamit Naira lirih. Ia butuh membasuh wajahnya yang terasa panas.
"Perlu aku temani?" tanya Nevan waspada.
Naira menggeleng pelan. "Dekat, kok. Cuma di belakang pilar itu."
Tepat saat Naira melangkah pergi, ponsel Nevan di atas meja bergetar hebat. Nama 'Dimas' muncul di layar. Nevan menghela napas, ia tahu ini pasti soal pergerakan aset Tuan Tommy yang mendadak liar. Karena suasana restoran yang bising, Nevan berdiri dan berjalan menuju pintu samping yang lebih tenang untuk menerima telepon.
Itulah kesalahan fatalnya. Satu menit Nevan memunggungi meja, satu menit pula maut bekerja.
Nadia memberikan kode melalui lambaian tangan kecil kepada dua pria tegap yang sejak tadi bersiaga di dekat pintu dapur. "Sekarang. Jangan ada jejak. Bawa dia lewat pintu belakang!" perintahnya melalui earpiece.
Di dalam toilet wanita yang sepi, Naira baru saja menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengusap lehernya yang terasa kaku. Tiba-tiba, pintu toilet terbuka dengan bantingan keras. Sebelum Naira sempat menoleh, sebuah tangan besar sudah membekap mulut dan hidungnya dari belakang.
"Mmmph! Mmmph!"
Naira meronta dengan sisa tenaganya, namun aroma bahan kimia yang menyengat dari sapu tangan hitam itu langsung menyerang sarafnya. Dunianya berputar. Tubuhnya lemas seketika. Kesadarannya ditarik paksa ke dalam kegelapan.
Dua pria itu dengan cepat menyeret tubuh Naira yang tak berdaya melewati koridor dapur yang pengap. Para koki sibuk dengan pesanan, dan pintu belakang yang biasanya terbuka untuk bongkar muat bahan makanan menjadi jalan keluar yang sempurna. Sebuah mobil van hitam dengan mesin menderu sudah menunggu di sana.
Slap! Pintu van tertutup rapat. Mobil itu melesat membelah kemacetan Jakarta, menghilang dalam hitungan detik.
Sepuluh menit berlalu. Nevan kembali ke meja dengan wajah gusar setelah menyelesaikan pembicaraan bisnisnya. Namun, langkahnya terhenti. Kursi di depannya kosong. Mangkuk soto Naira masih menyisakan separuh isinya, uapnya sudah hilang, mendingin seperti firasatnya.
"Nai?" Nevan menoleh ke kiri dan ke kanan.
Gelisah mulai berubah menjadi kepanikan yang nyata. Ia berjalan cepat menuju area toilet wanita. Mengabaikan pandangan heran beberapa pengunjung, ia mengetuk pintu dengan keras.
"Nai? Sayang? Kamu di dalam?"
Hening.
Nevan tidak peduli lagi pada etika. Ia mendorong pintu toilet hingga terbuka lebar. Kosong. Hanya ada tas kecil milik Naira yang tergeletak mengenaskan di lantai wastafel yang basah. Jantung Nevan berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
Ia berlari ke pintu belakang restoran, mendobrak pintu besi itu dan menemukan aspal yang masih menyisakan bekas ban mobil yang berdecit kencang. Amarah dan rasa takut meledak secara bersamaan di kepala Nevan.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponselnya. "Dimas! Jemput gue sekarang di Restoran Pusat! Naira hilang! Seseorang membawanya lewat pintu belakang!" raungnya.
"Saya sudah di jalan, Pak. Saya akan retas CCTV restoran dalam tiga puluh detik," suara Dimas terdengar tenang namun penuh urgensi di seberang sana.
"Lakukan apa saja, Dim! Hubungi AKP Fabian di Polda Metro Jaya. Bilang padanya ini KODE MERAH! Gue nggak peduli prosedur hukum, gue mau jalur protokol dibuka. Kalau ada satu lecet pun di tubuh Naira... gue sendiri yang akan habisi pelakunya dengan tangan gue!"
Nevan berdiri di kegelapan gang belakang restoran. Matanya yang biasanya tajam kini berkilat dengan kegilaan yang mematikan. Ia bersumpah, siapa pun yang melakukan ini, mereka tidak sedang menculik seorang wanita—mereka sedang mengundang iblis keluar dari neraka.
Di markas Polda Metro Jaya, AKP Fabian membanting berkas di mejanya begitu menerima telepon dari Dimas. "Kode Merah dari Wiratama? Gila, mereka berani menyentuh Naira?"
Fabian segera berdiri, menyambar jaket taktisnya. "Semua unit! Lakukan penyekatan di radius lima kilometer dari lokasi Restoran Pusat! Cari van hitam dengan plat nomor yang sudah dikirimkan intelijen Wiratama! Jangan biarkan mereka keluar dari area pusat!"
Sementara itu, di dalam van yang melaju kencang, Naira mulai membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat, dan rasa sakit di saraf lehernya kembali menyerang dengan lebih hebat akibat guncangan mobil. Tangannya terikat kuat di belakang punggung.
Di depannya, Nadia duduk dengan tenang sambil memainkan pisau lipat kecil. Cahaya lampu jalan yang masuk melalui celah kaca film memberikan kesan menyeramkan pada wajah cantik Nadia.
"Sudah bangun, Istri Simpanan?" sapa Nadia dingin.
Naira mencoba bicara, namun suaranya tertahan oleh lakban hitam yang menempel erat di mulutnya. Matanya yang sayu menatap Nadia dengan penuh tanda tanya dan ketakutan.
"Lo pasti bingung kenapa gue nekat begini, kan?" Nadia mencondongkan tubuhnya, ujung pisaunya mengelus pipi Naira yang pucat. "Karena lo udah ambil apa yang harusnya jadi milik gue. Lo cuma mantan tukang pel yang nggak tahu diri. Nevan harusnya bersanding sama gue, bukan sama sampah kayak lo."