Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Jejak Menuju Alas Roban
Perjalanan menembus Jalur Pantura berlangsung cepat, namun begitu jeep Taft tua itu berbelok meninggalkan jalan aspal utama dan masuk ke jalur beton sempit menuju wilayah Alas Roban, atmosfer di sekitar mereka berubah drastis secara mengerikan.
Pohon-pohon jati raksasa yang usianya mungkin ratusan tahun menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan jalan, dahan-dahannya saling bertaut di atas membentuk semacam terowongan alami yang menghalangi sinar matahari. Cahaya siang yang terik seketika berubah menjadi temaram kehijauan yang suram. Suara deru mesin Taft yang kasar bergema memantul di batang-batang pohon, mengganggu kesunyian hutan yang absolut.
Luna duduk di kursi penumpang depan, ranselnya dipangku erat-erat. Ia bisa merasakan bola cahaya Nando di dalam tasnya berdenyut sedikit lebih cepat, seolah merespons perubahan energi di sekitarnya.
"Bapak tahu banyak soal Karang Mayit?" tanya Luna memecah keheningan, matanya waspada menatap bayangan-bayangan di sela-sela pepohonan.
Tarjo yang sedang fokus memutar kemudi menghindari lubang besar di jalanan tanah, melirik sekilas. "Semua orang tua di pantura tahu Karang Mayit, Neng. Dulu, itu desa pelarian para praktisi ilmu hitam yang dikejar warga saat zaman geger tahun enam puluhan. Mereka bersembunyi di sana, membangun perkampungan tertutup di bekas pabrik gula peninggalan Belanda."
Tarjo menyalakan kretek barunya, membiarkan asapnya memenuhi kabin jeep yang pengap. "Orang-orang normal tidak ada yang berani mendekat. Katanya, tanah di sana sudah dikutuk. Tanaman pangan tidak mau tumbuh, tapi anehnya, warga desa itu tidak pernah kelaparan. Mereka hidup dari 'kiriman' orang-orang serakah dari luar hutan yang meminta bantuan pesugihan atau santet. Sebagai bayarannya, mereka mengambil tumbal. Istriku... salah satunya."
Suara Tarjo di akhir kalimat terdengar bergetar, memendam amarah yang telah mengkristal belasan tahun. Luna menunduk, merasa simpati yang mendalam. Benar dugaannya, hutan ini menyimpan luka bagi banyak orang.
"Tapi sejak dua puluh tahun lalu," lanjut Tarjo, "desa itu tiba-tiba kosong. Nggak ada aktivitas. Orang-orang bilang dukun utamanya sudah gila dan menumbalkan seluruh warganya sendiri untuk memanggil Perewangan tingkat tinggi. Sekarang, tempat itu murni jadi sarang iblis."
Bulu kuduk Luna meremang. Dukun utamanya... Dukun yang sama yang dikunjungi Bara. Dukun yang membunuh orang tuanya.
Tiba-tiba, jeep yang mereka tumpangi tersentak keras. Mesin diesel yang tadinya meraung kuat mendadak batuk-batuk, lalu mati total dengan suara mendesis tajam. Mobil itu berhenti tepat di tengah jalanan tanah berlumpur yang diapit oleh rimbunnya pohon beringin yang akarnya menjuntai hingga menyentuh atap mobil.
Keheningan hutan langsung menyergap telinga mereka hingga berdenging.
Tarjo mengumpat kasar dalam bahasa Jawa. Ia mencoba memutar kunci kontak berkali-kali, namun mesinnya bahkan tidak mengeluarkan suara starter sama sekali. "Sialan. Akinya mati mendadak. Padahal baru kuganti minggu lalu!"
Luna memicingkan matanya menatap ke depan kaca mobil. Kabut putih yang sangat pekat tiba-tiba turun bergulung-gulung dari atas bukit, menyapu jalanan dan menelan pandangan mereka dalam hitungan detik. Udara di dalam mobil merosot dingin, membuat napas Luna menghasilkan uap putih.
Ini bukan kerusakan mesin biasa.
"Pak Tarjo, jangan keluar dari mobil," peringat Luna dengan suara rendah nan tajam, tangannya sudah membuka ritsleting ranselnya, bersiap menarik Keris Pangruwat.
"Neng, saya ini montir, mesinnya harus dicek..."
"Saya bilang jangan keluar!" bentak Luna. Matanya terpaku pada kabut tebal di depan kap mobil.
Dari balik kabut putih itu, muncul sebuah siluet hitam. Sosok itu perlahan melangkah mendekat, kakinya tidak menyentuh tanah berlumpur. Semakin dekat, wujudnya semakin jelas.
Itu adalah seorang wanita mengenakan kebaya pengantin Jawa berwarna hitam beludru yang sudah compang-camping dan dipenuhi lumut. Rambutnya disanggul berantakan, dan wajahnya... wajahnya tertutup oleh kain kafan kusam yang diikat di bagian leher, namun rembesan darah segar terus mengalir dari balik kain tersebut, menetes ke dadanya.
Tarjo yang tadinya hendak membantah, seketika membeku. Mulutnya terbuka tanpa suara. Kretek di tangannya jatuh ke lantai mobil. Meski ia pernah kehilangan istrinya di hutan ini, melihat penampakan fisik entitas gelap sejelas ini di siang bolong membuat keberaniannya runtuh.
Wanita berkebaya hitam itu berhenti tepat di depan kaca mobil Luna. Udara dingin membekukan embun di kaca depan. Wanita itu perlahan mengangkat tangannya yang kurus pucat dengan kuku-kuku hitam panjang, dan mengetuk kaca tepat di depan wajah Luna.
Tuk... Tuk... Tuk...
Ketukan itu bergema di dalam tengkorak Luna, diikuti oleh suara nyanyian sinden yang mengalun lirih, menyayat hati, dan penuh dengan aura keputusasaan.
“Sira... aja... terusna... mriki... kuburanmu...” (Kamu... jangan... teruskan... ini... kuburanmu...).
Jantung Luna berdegup liar. Biasanya, Nando akan langsung menerjang maju, membakar entitas ini dengan pendar birunya dan melontarkan kalimat sarkas. Tapi sekarang Nando tidak ada. Bola biru di dalam tasnya hanya berdenyut pelan, belum cukup kuat untuk mewujud. Luna sendirian melindungi dirinya dan Tarjo.
"Bapak tutup mata, jangan dengarkan suaranya!" perintah Luna pada Tarjo yang sudah gemetar hebat.
Luna menarik napas dalam-dalam, mengusir rasa takut yang mengakar di benaknya. Ia bukan lagi gadis kecil yang bersembunyi di dalam lemari. Ia merogoh tasnya dan mencengkeram gagang Keris Pangruwat kuat-kuat. Ia memejamkan mata dan merapalkan doa penolak bala yang diajarkan Ki Ardi, menyalurkan tekadnya ke dalam besi kuno tersebut.
"Aku tidak akan mundur," desis Luna pada dirinya sendiri.
Dengan gerakan kilat, Luna menempelkan gagang keris itu ke kaca depan mobil dari dalam. Energi putih yang menyilaukan meledak dari titik sentuhnya, merambat melalui kaca tanpa memecahkannya, dan menghantam sosok wanita sinden di luar sana.
Sebuah jeritan melengking yang tidak manusiawi membelah keheningan hutan. Sosok wanita itu terlempar ke belakang, wujudnya terburai menjadi asap hitam yang langsung tersapu oleh angin hutan. Kabut pekat yang menyelimuti jalanan ikut terbelah, menguap kembali ke atas bukit seolah ketakutan.
Bersamaan dengan lenyapnya kabut itu, mesin jeep Taft Tarjo tiba-tiba hidup kembali dengan raungan keras, tanpa perlu dikontak ulang.
Tarjo tersentak kaget, napasnya tersengal-sengal, mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih. Ia menoleh ke arah Luna yang sedang memasukkan kembali sebuah benda berkarat ke dalam tasnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Bisa kita jalan sekarang, Pak?" tanya Luna datar, meski keringat dingin membasahi dahinya. Ia harus terlihat kuat.
Tarjo menelan ludah, mengangguk patah-patah, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam. "S-siap, Neng. Pos Mati... tinggal dua kilometer lagi di depan."
Luna bersandar ke kursinya, memejamkan mata dan menghela napas lega. Tangannya mengusap ranselnya dari luar, tepat di posisi bola cahaya Nando berada. Denyut biru di dalamnya terasa sedikit lebih hangat, seolah memberikan apresiasi dalam diam.
Aku bisa mengatasi ini, Nando, batin Luna. Beristirahatlah. Simpan tenagamu untuk pertarungan yang sesungguhnya.
Jalanan tanah semakin menyempit, diapit oleh jurang di sisi kiri dan tebing di sisi kanan. Mereka semakin masuk ke dalam jantung kegelapan. Dukun Karang Mayit telah mengirimkan peringatan pertama. Dan Luna, dengan keputusannya untuk terus maju, baru saja menyatakan perang terbuka. Tidak ada lagi jalan kembali. Kehancuran altar, atau kematian mereka berdua, adalah satu-satunya garis akhir.
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍
Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣