NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Misteri
Popularitas:41.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Daging Panggang di Ngarai Bayangan

Ngarai Penegak Hukum tetaplah dunia tanpa matahari, tempat di mana waktu seolah membeku dalam kabut dupa penenang jiwa.

Langkah kaki Zeng Niu tidak menimbulkan suara sekecil apa pun saat ia menyusuri jalan setapak obsidian. Tubuhnya masih berbau darah dan lumpur rawa dari Lembah Hukuman, namun fluktuasi Qi di dalam Dantiannya kini mengalir dengan ritme yang jauh lebih dalam dan bertenaga. Ia telah memantapkan fondasi Pengumpulan Qi Tahap 3.

Namun, saat ia mendekati pelataran utama paviliun, penciumannya yang setajam Yao liar menangkap aroma yang sangat tidak lazim di tempat penuh kematian ini.

Aroma lemak daging yang menetes ke atas bara api, dipadukan dengan wangi rempah spiritual yang tajam.

Zeng Niu berbelok ke area taman batu. Di sana, di bawah pohon Ginkgo hitam yang daunnya berguguran, sebuah pemandangan terpampang nyata.

Tetua Mo Yin Sang Bayangan Tanpa Suara, algojo paling ditakuti di Benua Utara, pria sepucat mayat yang auranya bisa membuat Murid Dalam kencing di celana sedang duduk berjongkok. Lengan jubah hitamnya digulung hingga ke siku, dan tangannya sedang sibuk memutar sebuah tusukan besi raksasa di atas perapian Qi elemen api buatannya sendiri.

Di tusukan itu, terpanggang sempurna separuh badan Babi Hutan Cula Emas, monster tingkat menengah yang dagingnya terkenal sangat keras namun kaya akan esensi spiritual.

"Kau berdiri di sana seperti patung batu, Bocah," tegur Mo Yin tanpa menoleh. Suaranya masih sedingin es, tapi tangannya dengan cekatan menaburkan bubuk cabai spiritual berwarna merah menyala ke atas daging yang mendesis. "Duduklah. Baumu seperti mayat yang dikunyah anjing liar."

Zeng Niu terdiam sejenak. Di dalam Lautan Kesadarannya, Lei Ling nyaris tertawa. “Hoho... pembunuh fana ini rupanya punya bakat terpendam sebagai koki kedai jalanan.”

Zeng Niu mengabaikan roh pedang itu dan melangkah mendekat, lalu duduk bersila di seberang perapian. Hawa panas dari api Qi sedikit menghangatkan kulit keabu-abuannya.

Mo Yin menatap Zeng Niu dengan mata hitam pekatnya. Pandangannya langsung menembus ke dalam meridian Zeng Niu, melihat sisa-sisa kerusakan dan perbaikan brutal dari terobosan paksa yang baru saja dilakukan muridnya itu.

"Tahap 3. Dalam waktu kurang dari sepuluh hari sejak Tahap 2," gumam Mo Yin, mengangguk kecil, sebuah tanda persetujuan yang sangat langka. "Kau memaksanya. Meridianmu robek dan dijahit paksa oleh energi murni dari Inti Yao. Cara kultivasi yang sangat bodoh dan... sangat efektif."

Mo Yin menarik sepotong paha babi yang paling besar, memotongnya dengan jentikan Qi berbentuk bilah angin, lalu melemparnya ke arah Zeng Niu. Daging itu masih mengepulkan asap.

"Makan. Daging Babi Cula Emas ini mengandung elemen tanah yang hangat. Lemaknya akan menambal retakan halus di meridianmu agar kau tidak mati berdiri besok pagi," perintah Mo Yin.

Zeng Niu menangkap daging panas itu dengan tangan kosongnya yang kebal. Ia tidak berbasa-basi dan langsung menggigitnya.

Seketika, mata Zeng Niu sedikit membelalak. Bukan hanya karena dagingnya yang luar biasa empuk dan memancarkan energi spiritual yang menenangkan organ dalamnya, tapi karena bubuk cabainya. Rasa pedasnya menyengat lidah seperti disambar petir sungguhan.

Melihat wajah datar Zeng Niu sedikit berkedut karena kepedasan, Mo Yin tertawa pelan. Tawa yang sangat kering, seperti daun mati yang terinjak, namun tulus.

"Hahaha... Wajah kematianmu akhirnya menunjukkan ekspresi. Jika kau bisa menelan racun Teratai Jantung Darah tanpa berkedip, kau harusnya bisa menahan Bubuk Cabai Api Penyucian racikanku," ejek Mo Yin santai, mengambil kendi arak dari pinggangnya dan menenggaknya.

Ini adalah sisi Mo Yin yang tidak pernah dilihat siapa pun di akademi. Di balik kekejaman dan kedinginannya, Mo Yin sangat adil. Ia tidak pernah menindas yang lemah tanpa alasan, dan ia sangat menghargai murid yang menunjukkan tekad murni. Baginya, Zeng Niu bukan sekadar alat, melainkan pewaris Dao bayangannya.

Zeng Niu mengunyah daging itu dalam diam, menahan rasa pedas yang kini justru terasa menenangkan. "Terima kasih, Guru," ucapnya pelan. Ini adalah pertama kalinya Zeng Niu memanggilnya dengan sebutan itu.

Mo Yin menghentikan kunyahannya. Mata hitamnya menatap bara api yang menari-nari. Suasana di antara mereka berubah dari sekadar guru-murid yang santai menjadi sesuatu yang lebih berat.

"Kau tahu mengapa aku memilih jalur pembunuh?" tanya Mo Yin tiba-tiba. Suaranya merendah, menyatu dengan desir angin Ngarai Kegelapan. "Karena pisau di dalam gelap tidak pernah berbohong. Pisau itu adil. Ia memotong leher raja ortodoks sama dalamnya dengan leher perampok jalanan."

Mo Yin mendesah panjang, sebuah tindakan yang menunjukkan beban berabad-abad di pundaknya. "Aku telah mengabdi pada Akademi Jiannan selama tiga ratus tahun. Dulu, akademi ini didirikan sebagai benteng harapan fana melawan Bencana. Kami mengumpulkan bakat untuk memukul mundur para Yao Aberasi."

"Tapi sekarang..." Mo Yin meremas kendi araknya hingga nyaris retak. "Tidakkah kau merasa aneh dengan misi-misi yang dibagikan di Pelataran Luar? Mengirim murid-murid baru ke sarang monster mutasi dengan dalih 'ujian hidup dan mati'. Mengapa Lembah Hukuman dibiarkan menjadi ladang eksperimen rahasia?"

Zeng Niu berhenti mengunyah. Ia teringat informasi dari Xiaoyu tentang eksperimen akademi.

"Mereka sengaja memberi makan monster-monster itu dengan daging para murid," jawab Zeng Niu datar. "Untuk melihat hasil mutasinya."

Mo Yin tersenyum pahit. "Tepat. Kepala Akademi kita yang agung dan para Tetua Agung di puncak gunung sana... mereka tidak lagi mencari cara untuk membunuh Bencana. Mereka sedang meneliti cara untuk menggabungkan diri mereka dengan kekuatan Bencana itu. Demi umur panjang. Demi kekuatan."

Ada keraguan dan kekecewaan yang sangat dalam di mata sang eksekutor. Mo Yin adalah anjing penjaga akademi yang paling setia, namun kini ia mulai menyadari bahwa rumah yang ia jaga telah berubah menjadi sarang iblis.

"Aku adalah bilah yang buta," gumam Mo Yin, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Aku membantai pengkhianat akademi tanpa ampun. Tapi akhir-akhir ini... target yang diberikan kepadaku bukanlah pengkhianat. Mereka adalah murid dan tetua yang mulai menyadari kebusukan akademi ini. Aku diperintahkan untuk membungkam mereka."

Mo Yin menatap Zeng Niu tepat di matanya. "Kau memiliki akar yang sangat brutal, Zeng Niu. Tapi kau tidak munafik. Kau membunuh untuk bertahan hidup, bukan untuk berpura-pura suci. Dengarkan nasihat orang tua ini: Jangan pernah percaya pada 'keadilan' yang diteriakkan di bawah sinar matahari. Kepercayaan adalah kelemahan yang akan membuat bilahmu tumpul."

Zeng Niu menelan gigitan terakhir dagingnya. Energi spiritual yang hangat menyebar, menyembuhkan nyeri di Dantiannya. Ia menatap gurunya itu. Pria pucat ini, meskipun tangannya berlumuran darah ribuan orang, memiliki garis batas keadilan yang lebih lurus daripada para "Dewa" di atas sana.

"Jika akademi ini membusuk," ucap Zeng Niu pelan namun tajam, "mengapa Guru tidak memotong kepalanya?"

Mo Yin tertawa getir, menggelengkan kepalanya. "Kesenjangan ranah, Bocah. Kepala Akademi berada di ranah Nascent Soul. Di depannya, Golden Core sepertiku hanyalah kunang-kunang yang menantang matahari. Selain itu..."

Mo Yin menatap ke arah langit malam yang tertutup kabut. "...ada kekuatan lain yang lebih gelap menyokong akademi ini. Sesuatu dari Faksi Dewa Tersembunyi. Jika kau membunuh satu monster, mereka akan menurunkan monster yang lebih besar."

Mo Yin berdiri, menepuk sisa debu dari jubahnya. Ekspresinya kembali mengeras, menjadi Sang Bayangan Tanpa Suara. Kelemahan sesaatnya telah ia kubur kembali dalam-dalam.

"Istirahatlah," perintah Mo Yin dingin. "Serap seluruh energi daging itu. Besok, aku akan melemparkanmu ke dalam formasi boneka kayu berduri. Jika kau tidak bisa menghindarinya dengan Sutra Langkah Hantu, kau akan berubah menjadi landak berdarah. Jangan membuatku menyesal telah memanggang daging untukmu."

Mo Yin berbalik dan melebur ke dalam bayangan pohon, menghilang seolah tak pernah ada.

Zeng Niu tetap duduk di depan perapian yang perlahan meredup. Konflik batin Mo Yin telah memberinya gambaran yang lebih jelas tentang medan perang yang ia pijak. Akademi Jiannan bukanlah pelabuhan yang aman; ini adalah kapal yang sedang tenggelam dalam lautan darah.

Namun, Zeng Niu tidak peduli. Jika akademi adalah neraka, maka ia hanya perlu memastikan bahwa ia adalah Iblis terkuat di dalamnya. Ia memejamkan mata, mulai bermeditasi untuk mencerna energi daging spiritual itu, mempersiapkan diri untuk hari pembantaian berikutnya.

1
eka suci
lanjut💪
Xiao Bar
gaspoolllkk
Xiao Bar
lanjut
saniscara patriawuha.
bantaiiiii sudahhhhh manggg otorrrrtt
saniscara patriawuha.
sumberrr dayaaaa ituuuuu.....
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll
eka suci
ngga apa" belajar pemahaman baru ya putri 💪
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll...
eka suci
tingkat aja tinggi baru nyadar hewan peliharaan nya mati setelah seminggu😥 lanjuuut 💪
saniscara patriawuha.
sikattttt sudahhhhh
eka suci
gengsi sang putri setinggi langit cuma turun sebatas awan😄
Sang_Imajinasi: wajib,karna terlahir dengan sendok emas 🤭
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini mohon bantuan untuk beri rating bintang dan vote nya.. 🙏 Penilaian kalian sangat berharga bagi author tetap semangat untuk update cerita ini. TERIMA KASIH.... ✌️
Xiao Bar
lanjut
Xiao Bar
gas thor
saniscara patriawuha.
lanjoooottttt deuiiiii...
saniscara patriawuha.
gassdd pollll polllannn...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll....
Ardi Ansyah
putrinya sang asurah manani thor
Sang_Imajinasi: ada disini 🤭
total 1 replies
eka suci
lanjut petualangan 💪
eka suci
beberapa bulan ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!