SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kegelapan
Kegelapan yang menjemput Arga di Ruang Distribusi Kimia tidaklah sunyi. Di dalam ketidaksadarannya, ia merasa seolah-olah sedang tenggelam dalam lautan tinta yang kental dan dingin. Suara-suara dari masa lalu bergabung menjadi satu simfoni yang menyiksa. Namun, yang paling nyata adalah rasa sakit yang membakar di sepanjang pembuluh darahnya. Cairan hijau yang ia netralisir tadi tidak sepenuhnya hilang. Sebagian darinya telah terserap melalui luka-lukanya, bereaksi dengan tinta takdir yang sudah lebih dulu bersemayam di tubuhnya.
"Arga! Bangun! Kumohon, jangan menyerah sekarang!"
Suara Lintang terdengar samar, seperti berasal dari balik dinding kaca yang tebal. Arga mencoba membuka matanya. Pandangannya buram dan bergetar. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit UKS yang retak, namun pemandangan itu segera berubah. Langit-langit itu mulai bernapas, berdenyut seperti jaringan otot yang hidup.
Arga mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa sangat berat, seolah-olah tulangnya telah diganti dengan timah cair. Ia melihat tangannya, dan jeritan tertahan keluar dari tenggorokannya.
Transformasi itu sedang terjadi.
Tinta hitam yang tadinya hanya berupa pola di kulitnya kini mulai timbul, membentuk sisik-sisik halus yang keras dan berkilau seperti obsidian. Di sela-sela sisik itu, cahaya hijau neon berpendar redup, sisa-sisa formula kimia yang kini menyatu dengan energi Indigonya. Kuku-kukunya memanjang, meruncing menjadi cakar hitam yang tajam. Namun yang paling mengerikan adalah apa yang ia rasakan di punggungnya. Rasa gatal yang luar biasa hebat, seolah-olah ada sesuatu yang mencoba merobek kulitnya dari dalam.
"Jangan mendekat, Lintang!" bentak Arga.
Suaranya bukan lagi suaranya sendiri. Ada nada logam yang bergetar di dalamnya, mirip dengan suara Biological Automata yang pernah ia lawan.
Lintang berdiri di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi. Di sampingnya, Raka masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang UKS, namun napas kakaknya sudah stabil. Lintang memegang sebuah jarum suntik berisi cairan emas sisa dari laboratorium, namun tangannya gemetar hebat.
"Tubuhmu menolak kemanusiaannya, Arga. Formula itu sedang menulis ulang DNA-mu. Jika kita tidak menghentikannya sekarang, kau akan menjadi seperti Elena. Kau akan menjadi monster yang kau lawan."
"Aku merasakannya, Lintang. Pikiran-pikiran ini bukan milikku. Aku bisa mendengar sekolah ini berbicara. Aku bisa merasakan setiap murid yang ketakutan di gedung sebelah. Aku bisa merasakan lapar."
Rasa lapar itu bukan lapar akan makanan, melainkan lapar akan energi jiwa. Itulah insting dasar dari setiap makhluk hasil eksperimen di sekolah ini.
Tiba-tiba, pintu UKS terlempar hancur dari engselnya. Bukan oleh hantu, melainkan oleh sekelompok siswa yang mengenakan seragam rapi dengan ban lengan berwarna merah darah. Mereka adalah Unit Pembersihan Osis Malam. Mereka membawa senjata yang tampak seperti perpaduan antara tongkat listrik dan alat bedah.
"Subjek 02 menunjukkan tanda-tanda mutasi tahap akhir. Perintah dari pusat: eliminasi jika tidak bisa diamankan. Ambil sampel jaringan otaknya."
"Langkahi mayatku dulu!" Lintang berdiri di depan Arga, menghunus belati peraknya yang kini terlihat kecil di hadapan musuh-musuh itu.
Namun, Arga tidak membiarkan Lintang bertarung sendirian. Rasa sakit di punggungnya mencapai puncaknya. Kulit di balik seragam Arga robek. Dua struktur menyerupai sayap serangga yang terbuat dari kawat-kawat saraf dan membran transparan mencuat keluar.
Arga berdiri, tingginya kini tampak bertambah beberapa sentimeter. Aura Indigo yang biasanya menenangkan kini berubah menjadi kobaran api hitam kehijauan yang mengintimidasi.
"Kalian ingin sampel?" Arga menggeram.
Ia melesat dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata manusia. Dalam satu gerakan, ia berada di depan pemimpin Unit Pembersihan. Cakar hitamnya mencengkeram leher siswa itu, mengangkatnya dengan satu tangan. Arga bisa merasakan aliran kehidupan di dalam tubuh lawannya, dan untuk sesaat, insting monsternya mendesak untuk menghisap energi itu kering.
"Arga, jangan! Kalau kau membunuhnya dengan cara itu, kau tidak akan pernah bisa kembali!" teriak Lintang.
Arga membeku. Ia menatap tangannya yang mengerikan. Ia melihat ketakutan di mata musuhnya, ketakutan yang sama dengan yang ia lihat di mata para korban Dr. Elena. Jika ia melakukan ini, apa bedanya dia dengan Sang Arsitek?
Dengan sisa kemanusiaannya, Arga melempar siswa itu ke dinding hingga pingsan. Anggota Unit Pembersihan lainnya yang ketakutan segera menembakkan tombak listrik ke arah Arga. Arga tidak menghindar. Ia membiarkan listrik itu menghantam tubuhnya. Energi itu justru diserap oleh sisik-sisik obsidiannya, membuatnya semakin kuat.
Ia mengibaskan sayap sarafnya, menciptakan gelombang angin yang mementalkan seluruh musuh keluar dari ruangan.
"Lintang, bawa Raka pergi dari sini. Aku tidak bisa menahan ini lebih lama. Aku harus mencari cara untuk menekan mutasi ini sebelum aku kehilangan akal sehatku sepenuhnya."
"Kita pergi bersama, Arga!"
"Tidak! Aku adalah target mereka sekarang. Selama aku bersamamu, Raka tidak akan aman. Jaga dia. Cari Guru Biologi di Gedung C. Di catatan tahun 1970 disebutkan dia adalah satu-satunya peneliti yang mengkhianati Arsitek. Dia mungkin punya penawarnya."
Tanpa menunggu jawaban, Arga melompat keluar melalui jendela UKS. Ia mendarat di lapangan sekolah dengan dentuman keras, meninggalkan jejak kaki yang terbakar di rumput.
Di bawah sinar bulan yang merah, Arga menyadari bahwa transformasinya bukan hanya kutukan, tapi juga senjata. Ia kini bisa melihat jalur-jalur saraf sekolah yang tersembunyi di bawah tanah, sebuah jaringan kabel biologis yang menghubungkan setiap gedung. Ia bisa mendengar detak jantung sekolah yang berpusat di Ruang Bawah Tanah yang terlarang.
Namun, kesadarannya mulai memudar. Insting monster di dalam dirinya mulai mengambil alih, memaksanya untuk merangkak di dinding menuju tempat tinggi. Arga kini benar-benar menjadi The Shadow of the School.
Di kejauhan, di puncak Gedung Utama, Sang Arsitek memperhatikan pelarian Arga dengan senyum puas.
"Bagus, transformasi yang sempurna. Raka hanyalah wadah untuk jantungku, tapi kau, Arga, kau akan menjadi tubuhku yang baru. Selamat datang di fase kedua dari eksperimen ini, anakku."
Arga melolong ke arah bulan, sebuah suara yang bukan lagi suara manusia, melainkan suara penderitaan dari seluruh jiwa yang terjebak di SMA Nusantara.