Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Tanpa Tidur
Bab 35
Rumah baru itu lebih kecil dari sebelumnya. Hanya dua kamar tidur, satu ruang tamu yang menyatu dengan dapur, dan satu kamar mandi sempit di belakang. Dindingnya dari papan kayu yang sudah lapuk, beberapa bagian bahkan berlubang sehingga angin malam bisa masuk dengan bebas. Lantainya dari tanah yang sedikit lembab. Tidak ada listrik. Tidak ada sumur. Hanya satu lampu minyak tanah yang mereka temukan di meja dapur.
Bambang duduk di sudut ruang tamu, memeluk lututnya. Pakaiannya masih basah. Dia menggigil hebat, tapi tidak ada pakaian kering yang tersisa. Semua basah kuyup terkena hujan. Dewi sibuk di dapur, mencoba menyalakan kompor minyak tanah yang juga basah. Ucok berdiri di dekat pintu, mengawasi ke luar meskipun tidak ada yang bisa dilihat dalam kegelapan.
“Kompor ini tidak mau menyala,” kata Dewi dengan nada frustrasi.
“Biarkan,” kata Bambang. “Kita tidak perlu masak malam ini. Kita bisa makan roti saja.”
“Roti juga basah.”
“Tidak apa. Perut kita sudah terbiasa dengan yang lebih buruk.”
Mereka makan roti basah dalam diam. Rasanya tidak enak. Tapi perut mereka keroncongan. Tidak ada pilihan.
Setelah makan, mereka duduk mengelilingi lampu minyak tanah. Api kecil itu hampir padam, hanya menyisakan cahaya redup yang cukup untuk melihat wajah satu sama lain.
“Dewi,” panggil Bambang.
“Iya.”
“Kita tidak bisa terus begini. Pindah terus. Bersembunyi terus. Kapan berakhirnya?”
“Aku tidak tahu. Tapi selama Pak Toni masih buron, selama perusahaan masih beroperasi, kita tidak akan aman.”
“Jadi kita akan bersembunyi selamanya?”
“Tidak. Suatu saat, keadilan akan datang. Kita hanya harus bertahan sampai saat itu.”
“Kamu yakin keadilan akan datang?”
Dewi tidak menjawab. Mungkin dia juga tidak yakin. Tapi dia tidak mau mengatakannya.
Ucok yang sejak tadi diam tiba-tiba bicara. “Aku tidak akan bersembunyi selamanya. Kalau besok polisi tidak juga menangkap Pak Toni, aku akan cari sendiri.”
“Ucok, jangan bodoh,” kata Dewi. “Kamu tidak kenal siapa pun di sini. Kamu tidak punya senjata. Kamu tidak punya rencana.”
“Aku punya marah. Itu cukup.”
“Marah tidak cukup. Marah hanya akan membuat kamu mati.”
“Mati lebih baik daripada hidup seperti tikus. Bersembunyi. Takut. Tidak bisa kemana-mana.”
Bambang memegang bahu Ucok. “Kita tidak akan mati, Ucok. Kita tidak akan bersembunyi selamanya. Tapi kita juga tidak bisa bertindak bodoh. Kita butuh rencana. Kita butuh bantuan.”
“Bantuan dari siapa? Polisi? Mereka sudah kita beri bukti. Tidak ada yang bergerak. Hanya janji. Hanya janji kosong.”
“Kita beri mereka waktu. Seminggu. Dua minggu. Kalau tidak ada perkembangan, kita cari cara lain.”
“Cara lain apa?”
“Kita cari wartawan. Bukan Ari. Wartawan yang lebih berani. Yang tidak takut mati. Yang mau mempublikasikan semua bukti yang kita punya.”
“Bukti kita hanya salinan. Yang asli sudah kita berikan pada Hermawan.”
“Tapi kita masih punya ingatan. Kita masih punya luka. Itu juga bukti.”
Ucok terdiam. Bambang tahu dia tidak sepenuhnya setuju. Tapi setidaknya dia tidak lagi bicara tentang mencari Pak Toni sendirian.
Malam semakin larut. Lampu minyak tanah akhirnya mati karena kehabisan minyak. Mereka bertiga duduk dalam kegelapan. Tidak ada yang bicara. Hanya suara napas dan suara angin dari luar.
Bambang memejamkan mata. Dia mencoba tidur. Tapi pikirannya tidak bisa berhenti. Dia membayangkan Pak Toni di suatu tempat. Mungkin di luar negeri. Mungkin di hotel mewah. Mungkin sedang tertawa membaca berita tentang mereka yang bersembunyi di hutan.
Dia membayangkan kolam lain di pabrik lain. Masih beroperasi. Masih menghasilkan makhluk. Masih memakan korban.
Dia membayangkan Dul. Joni. Herman. Berdiri di tepi hutan. Mata kosong. Kulit hitam. Tidak bisa pulang. Tidak bisa kembali.
Air mata Bambang jatuh di kegelapan. Dia menyekanya dengan punggung tangan.
“Bambang,” bisik Dewi.
“Iya.”
“Kamu menangis.”
“Aku hanya memikirkan teman-teman. Mereka tidak seberuntung kita. Mereka tidak sempat kabur.”
“Kita akan perjuangkan mereka. Kita akan pastikan nama mereka tidak dilupakan. Kita akan pastikan keadilan untuk mereka.”
“Terima kasih, Dewi.”
Mereka berdua terdiam. Di luar, hujan mulai turun lagi. Rintik-rintik kecil jatuh di atap seng. Suaranya seperti tangisan. Seperti ratapan. Seperti doa yang tidak terjawab.
Ucok yang tadi diam tiba-tiba bergumam. “Laras... Bapak sayang kamu... Bapak pulang...”
Bambang tersenyum tipis. Ucok tidur. Meskipun di lantai yang dingin. Meskipun di rumah yang lapuk. Meskipun dalam ketakutan. Ucok tidur. Mungkin mimpinya indah. Mungkin dia sedang bersama Laras.
“Bambang,” panggil Dewi lagi.
“Iya.”
“Kamu tidurlah. Aku yang jaga malam ini.”
“Kamu juga butuh tidur.”
“Aku sudah terbiasa begadang. Dulu waktu masih jurnalis, aku sering tidak tidur dua tiga hari. Ini tidak apa.”
Bambang tidak membantah. Dia merebahkan tubuhnya di lantai. Tanahnya dingin. Keras. Tapi dia sudah terbiasa.
Dia memejamkan mata. Perlahan, kegelapan menyelimutinya.
Dia bermimpi. Dalam mimpinya, dia berdiri di depan rumah kontrakannya. Pintu terbuka. Ibu dan Bapak duduk di ruang tamu. Tapi kali ini, ada orang lain di sana. Dul. Joni. Herman. Mereka tersenyum. Wajah mereka normal. Tidak hitam. Tidak mengerikan.
“Bambang, ayo masuk,” kata Ibu.
“Kita sudah menunggumu,” kata Joni.
“Kita ingin berterima kasih,” kata Dul.
“Terima kasih untuk apa?” tanya Bambang.
“Untuk tidak melupakan kami. Untuk memperjuangkan kami. Untuk memastikan nama kami tidak hilang.”
Bambang menangis. “Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku tidak bisa menyelamatkan kalian.”
“Tidak apa,” kata Herman. “Kamu sudah berbuat cukup. Sekarang istirahatlah. Lupakan kami. Jalani hidupmu.”
“Aku tidak bisa melupakan kalian. Tidak akan pernah.”
“Itu pilihanmu. Tapi jangan biarkan masa lalu menghantuimu selamanya.”
Bambang membuka mata.
Dia sadar. Masih di rumah baru. Masih di lantai. Masih di samping Ucok yang tidur dan Dewi yang terjaga.
Langit-langit kayu di atasnya gelap. Tidak ada lampu. Tidak ada cahaya. Hanya kegelapan.
Bambang tersenyum. Mimpinya aneh. Tapi dia merasa sedikit lega. Seolah-olah Dul, Joni, dan Herman sudah memaafkannya. Seolah-olah mereka sudah melepaskannya.
“Dewi,” bisik Bambang.
“Iya.”
“Aku ingin pulang.”
“Kita semua ingin pulang. Tapi kita harus sabar.”
“Sudah. Sudah sabar. Sudah terlalu lama.”
“Sebentar lagi. Aku yakin. Sebentar lagi.”
Bambang memejamkan mata. Tidak tidur. Hanya merasakan kegelapan. Merasakan dingin. Merasakan harapan yang hampir padam.
Tapi tidak sepenuhnya padam.
Masih ada secercah. Kecil. Rapuh. Tapi masih ada.
Dan selama masih ada, selama itu dia tidak akan menyerah.