Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Kesetiaan
Pagi di Jakarta tidak pernah benar-benar tenang bagi mereka yang berada di puncak menara kaca. Bagi Zevanya, status barunya sebagai pemegang saham mayoritas Alfarezel Group tidak membawa kedamaian yang ia bayangkan. Alih-alih merasa menang, ia merasa seperti sedang berdiri di tengah lintasan balap yang licin dengan rem yang blong.
Berita tentang penangkapan Helena Alfarezel dan pengungkapan hak waris Hasan Sanjaya meledak seperti bom atom di jagat media nasional. Headline surat kabar dan portal berita dipenuhi dengan narasi dramatis: “Dari Bengkel ke Tahta: Gadis Mekanik Ternyata Pemilik Saham Terbesar Alfarezel.” Namun, di balik narasi kepahlawanan itu, ada arus bawah yang lebih mematikan.
Zeva duduk di meja makan panjang di penthouse, menatap tabletnya dengan kening berkerut. "Adrian, liat ini. Mereka nggak cuma bahas soal warisan. Ada akun anonim yang mulai nyebarin foto-foto gue lima tahun lalu."
Adrian, yang sedang merapikan kemejanya, menghampiri Zeva. Di layar tablet, terpampang foto-foto Zeva yang tampak buram namun jelas itu adalah dia. Zeva sedang berdiri di sebuah gudang gelap, dikelilingi oleh pria-pria berjaket kulit dan deretan motor yang mesinnya sudah dipreteli. Judulnya provokatif: “Sisi Gelap Sang Pewaris: Keterlibatan Zevanya dalam Sindikat Pencurian Motor?”
"Itu foto pas gue lagi nyari spare part bekas di pasar loak, Adrian," desis Zeva, suaranya bergetar karena marah. "Tapi mereka motong fotonya biar kelihatan kayak gue lagi transaksi motor bodong."
Meskipun Helena sudah mendekam di sel tahanan sementara, pengaruhnya belum benar-benar mati. Melalui jaringan pengacara mahalnya, ia masih bisa mengirimkan "kado perpisahan". Robert Tan, mantan suami Maya yang masih menyimpan dendam kesumat dari Singapura, ikut menyiram bensin ke dalam api.
"Ini bukan sekadar gosip, Zeva," ujar Adrian, suaranya berat oleh beban pikiran. "Dewan komisaris mulai goyah lagi. Mereka bilang, meskipun kau punya saham, reputasimu bisa menghancurkan nilai pasar perusahaan. Para investor global sangat sensitif soal 'integritas kriminal'."
Ponsel Zeva berdering. Nama Ujang muncul di layar.
"Zev! Gawat! Bengkel pelatihan kita di pinggiran dikepung wartawan sama orang-orang yang ngaku korban pencurian motor!" teriak Ujang dari seberang sana. "Mereka bilang lu pake uang Alfarezel buat nyuci uang hasil kejahatan lama lu!"
Zeva berdiri, menyambar jaket kulitnya. "Gue harus ke sana, Adrian."
"Jangan, Zeva! Itu jebakan," cegat Adrian, memegang lengan istrinya. "Kalau kau muncul di sana sekarang, mereka akan mendapatkan foto yang mereka inginkan: wajahmu yang tampak bersalah di depan kerumunan yang marah."
"Terus gue harus diem aja? Biarin mereka ngerusak bengkel yang kita bangun susah payah buat anak-anak itu?" mata Zeva menyala. "Gue bukan tipe orang yang sembunyi di balik jas suaminya, Adrian."
Tanpa mempedulikan peringatan Adrian, Zeva nekat menuju lokasi bengkel pelatihan menggunakan motor kustomnya, mencoba menghindari kejaran media dengan masuk ke gang-gang tikus. Begitu sampai di sana, pemandangan memilukan menyambutnya.
Dinding bengkel yang baru saja dicat rapi kini penuh dengan coretan vandalisme. Sekelompok massa yang tampak terorganisir berteriak-teriak membawa poster bertuliskan "KEMBALIKAN MOTOR KAMI, PEWARIS KRIMINAL!"
Zeva membuka helmnya, turun dari motor dengan langkah mantap. Kehadirannya seketika membuat suasana makin panas. Kamera-kamera wartawan langsung menyerbunya seperti gerombolan serangga.
"Nona Zeva! Apakah benar bengkel ini digunakan untuk memodifikasi nomor rangka motor curian?" tanya seorang reporter dengan agresif.
Zeva menatap kerumunan itu, lalu beralih ke arah anak-anak jalanan yang sedang berlatih di dalam bengkel—wajah-wajah remaja itu tampak ketakutan.
"Kalian mau bukti?" suara Zeva menggelegar, mengatasi kebisingan. "Masuk! Liat sendiri setiap mesin di sini! Semuanya punya faktur resmi, semuanya tercatat di sistem digital Alfarezel. Gue nggak pernah nyuri satu baut pun seumur hidup gue!"
Tiba-tiba, seorang pria bertubuh besar maju dan melemparkan sebuah gir motor ke arah Zeva. Zeva menghindar dengan gesit, namun gir itu mengenai kaca depan bengkel hingga hancur berkeping-keping.
"BOHONG! Gue liat lu di gudang Pak Kumis tahun 2021! Lu lagi bongkar motor Ninja merah punya gue!" teriak pria itu.
Zeva tertegun. Ia memang pernah ke gudang Pak Kumis tahun itu, tapi tujuannya adalah membelikan mesin baru untuk ambulans panti asuhan menggunakan uang tabungannya dari hasil balapan liar. Namun, di mata publik yang sudah terprovokasi, kebenaran adalah hal yang sangat subjektif.
Di saat yang sama, di Menara Alfarezel, Adrian sedang menghadapi sidang penghakiman oleh dewan direksi. Mereka menunjukkan data penurunan kepercayaan publik dan ancaman pemutusan kontrak dari konsorsium otomotif Jepang.
"Pak Adrian, kami menghormati perasaan Anda pada istri Anda," ujar salah satu komisaris senior. "Tapi Alfarezel Group lebih besar dari sekadar urusan rumah tangga. Kami meminta Anda mengeluarkan pernyataan resmi untuk menangguhkan status Zevanya dari segala kegiatan operasional dan yayasan hingga penyelidikan polisi selesai."
"Penyelidikan apa? Foto editan dan tuduhan tanpa dasar?" balas Adrian, tangannya terkepal di bawah meja.
"Publik tidak butuh dasar, mereka butuh kambing hitam," sahut komisaris itu dingin. "Jika Anda tidak melakukannya, kami akan melakukan pemungutan suara untuk mencopot Anda. Anda harus memilih: Alfarezel atau Zevanya."
Adrian terdiam. Ruang rapat yang megah itu mendadak terasa seperti penjara. Baginya, Alfarezel adalah warisannya, tapi Zeva adalah nyawanya. Namun, ia tahu jika ia jatuh sekarang, tidak akan ada lagi yang bisa melindungi Zeva dari serangan hukum yang sudah disiapkan Helena dan Robert Tan.
Zeva pulang dengan luka kecil di pipinya akibat pecahan kaca. Ia menemukan Adrian duduk di ruang tamu yang gelap, hanya diterangi cahaya dari lampu-lampu kota di bawah.
"Adrian?" panggil Zeva pelan.
Adrian menoleh, wajahnya tampak sangat hancur. "Dewan meminta aku menjauhkanmu dari perusahaan, Zeva. Secara resmi."
Zeva tertawa hambar, meski matanya berkaca-kaca. "Dan lu setuju?"
"Aku belum memberikan jawaban," bisik Adrian. "Tapi Zeva, Robert Tan punya bukti palsu yang sangat kuat. Dia menyuap beberapa saksi dari masa lalu lu di jalanan buat bilang kalau lu adalah 'otak' di balik sindikat itu. Kalau aku nggak nurutin dewan, mereka bakal narik semua dukungan hukum buat lu. Lu bisa dipenjara."
"Jadi lu mau 'ngorbanin' jabatan gue buat nyelamin gue dari penjara?" Zeva mendekat, menatap Adrian tajam. "Adrian, gue nggak butuh jabatan itu. Tapi gue butuh lu percaya sama gue. Gue butuh lu berdiri di samping gue, bukan di atas gue sambil ngatur-ngatur strategi 'penyelamatan' yang bikin gue kelihatan kayak pecundang."
"Ini soal strategi, Zeva! Lu nggak tahu gimana kejamnya hukum kalau udah dicampur politik bisnis!" suara Adrian meninggi karena frustrasi.
"Gue tahu gimana kejamnya jalanan, Adrian! Di jalanan, kalau temen lu difitnah, lu nggak ninggalin dia demi 'strategi'. Lu hajar balik orang yang fitnah!" teriak Zeva balik.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, mereka tidur di kamar yang berbeda. Dinding yang selama ini mereka robohkan kini terasa bangkit kembali, lebih tebal dan lebih dingin.
Zeva menyadari bahwa ia tidak bisa mengandalkan Adrian untuk perang kali ini. Adrian terlalu terikat oleh aturan korporasi. Maka, Zeva kembali ke jati dirinya yang asli.
Tengah malam, ia memakai kembali jaket kulit hitamnya yang penuh noda oli. Ia mengambil motornya dan meluncur menuju kawasan pergudangan di pelabuhan—tempat di mana "Pak Kumis", penadah legendaris yang dulu sering ia temui, berada. Zeva tahu, jika ada yang bisa membuktikan bahwa foto-foto itu adalah fitnah, orang itu adalah Pak Kumis.
Di dalam gudang yang lembap dan berbau karat, Zeva menemukan pria tua itu sedang menghitung tumpukan mesin.
"Nona Besar Alfarezel datang ke tempat kotor ini?" ejek Pak Kumis, namun matanya memancarkan rasa hormat.
"Gue butuh rekaman CCTV gudang lu tahun 2021, Kumis. Gue tahu lu punya kebiasaan nyimpen rekaman buat jaga-jaga kalau ada polisi mampir," ujar Zeva tanpa basa-basi.
"Wah, itu barang mahal, Zev. Robert Tan udah nawarin gue satu milyar buat bakar rekaman itu," sahut Pak Kumis sambil menyalakan rokok klobotnya.
Zeva mengeluarkan sebuah kunci motor—kunci motor kustom yang baru saja ia selesaikan. "Ini motor kustom terbaik yang pernah gue bikin. Lu tahu nilainya lebih dari sekadar uang. Ini soal reputasi lu sebagai penguasa gudang. Lu mau dikenal sebagai kacung Robert Tan, atau temen Zevanya Sanjaya?"
Pak Kumis terdiam lama, lalu ia tertawa terbahak-bahak. Ia melemparkan sebuah hard drive tua ke arah Zeva. "Ambil. Di sana ada video lu lagi bayar mesin ambulans pake uang recehan hasil balap lari. Itu video paling mengharukan sekaligus paling konyol yang pernah gue liat."
Pagi harinya, Adrian sedang bersiap untuk konferensi pers pengumuman "penangguhan" Zeva. Wajahnya tampak pucat dan tidak bernyawa. Di depan ratusan wartawan, ia berdiri di podium dengan teks yang sudah disiapkan oleh tim legal.
"Bapak dan Ibu, terkait tuduhan yang menimpa istri saya, Zevanya Alfarezel..."
Tiba-tiba, pintu aula terbuka. Zeva masuk dengan langkah tegap, masih mengenakan jaket kulit yang kotor. Di belakangnya, layar raksasa aula yang tadinya menampilkan logo Alfarezel tiba-tiba berubah.
Video rekaman CCTV tahun 2021 berputar. Di sana terlihat Zeva sedang menghitung uang recehan di depan Pak Kumis, lalu ia menunjuk ke sebuah mesin ambulans tua yang sedang diperbaiki. Suaranya terdengar jelas karena Zeva menggunakan mikrofon tambahan yang sudah ia sambungkan ke sistem suara.
"Ini buat ambulans Panti Asuhan Kasih, Kumis. Jangan lu preteli ya mesinnya, ini buat nyawa orang," suara Zeva di video itu menggema ke seluruh ruangan.
Zeva naik ke podium, berdiri tepat di samping Adrian yang tampak terperanjat.
"Itu 'bukti kriminal' saya," ujar Zeva ke arah kamera. "Saya bukan pencuri motor. Saya adalah montir yang tahu cara membedakan mana mesin yang halal dan mana orang yang bermulut sampah."
Ia menatap Adrian, lalu tersenyum tipis. "Strategi lu bagus, Adrian. Tapi strategi gue lebih nyata."
Konferensi pers itu berubah menjadi momen pembersihan nama baik yang paling epik dalam sejarah Alfarezel Group. Publik yang tadinya menghujat kini berbalik memuji kejujuran dan keberanian Zeva. Saham Alfarezel yang sempat turun justru melonjak naik karena keberanian sang pewaris.
Namun, di balik kemenangan itu, Zeva dan Adrian menyadari sesuatu yang menyakitkan. Kesetiaan mereka telah diuji sampai ke titik nadir, dan meskipun mereka menang melawan dunia, ada retakan kecil di antara mereka.
"Zeva," panggil Adrian saat mereka sudah kembali ke kantor pribadi. "Maafkan aku karena sempat ragu."
Zeva menatap suaminya lama. "Gue maafin, Adrian. Tapi lu harus janji satu hal. Mulai sekarang, jangan pernah coba nyelamatin gue dengan cara bikin gue mundur. Karena di dunia gue, mundur itu artinya kalah sebelum mulai."
Di saat mereka berpelukan, sebuah pesan masuk ke ponsel Zeva dari nomor yang tidak dikenal.
"Video itu bagus, Zeva. Tapi itu baru masa lalu tahun 2021. Bagaimana dengan apa yang terjadi malam ini di gudang penyimpanan aset Alfarezel di Merak? Cek isinya sebelum terlambat."
Zeva dan Adrian saling berpandangan. Ujian kesetiaan mereka mungkin sudah lewat, namun ujian sesungguhnya untuk melindungi dinasti mereka baru saja mengirimkan peringatan pertamanya.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan