NovelToon NovelToon
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Anak Genius / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
​Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
​Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
​Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
​Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
​Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Pamit yang Tak Pernah Sampai

[Dia benar-benar merobeknya... Ya Tuhan, terima kasih! Jantungku serasa kembali ke tempatnya. Apa ini mimpi? Apa aku harus mencubit lenganku sendiri agar tidak terbangun dari kenyataan indah ini? Dia tidak jadi meninggalkanku!]

Suara hati itu bergema di kepalaku, begitu kontras dengan wajah Liam yang kini kembali sedingin es. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan gerakan yang sangat kaku, mencoba menyembunyikan tangannya yang sedikit gemetar karena rasa lega yang luar biasa.

Aku menatap serpihan kertas di lantai marmer. Surat cerai itu hancur, Liam. Begitu juga rencana kematianku.

"Aku berangkat, Pa."

Suara dingin dan datar itu memecah keheningan yang canggung. Axelle berdiri, menyampirkan tas sekolahnya di bahu dengan gerakan malas. Wajah tampannya sama sekali tidak menoleh ke arahku. Ia bahkan tidak melirik seujung kuku pun pada sobekan kertas di lantai.

Liam mendongak, menatap putranya dengan tatapan yang sedikit melunak. "Hati-hati di jalan. Fokuslah pada pelajaranmu hari ini."

"Ya," sahut Axelle pendek.

Remaja itu melangkah pergi, melewati kursiku seolah-olah aku hanyalah udara kosong yang tidak kasat mata. Tidak ada kata pamit, tidak ada lambaian tangan, bahkan tidak ada tatapan benci. Hanya pengabaian total yang terasa lebih menyakitkan daripada makian manapun.

Aku tertegun, tanganku yang masih memegang sisa sobekan kertas mendadak terasa dingin. Jadi begini rasanya dibenci oleh darah dagingmu sendiri? Di dunia nyata, aku hanya pegawai bank yang kesepian, tapi di sini... aku punya anak, namun dia menganggapku tidak ada.

"Axelle," panggilku spontan.

Langkah kaki Axelle terhenti sejenak di ambang pintu besar ruang makan. Punggungnya yang tegap menegang.

"Mama... Mama hanya ingin bilang hati-hati di sekolah," ucapku dengan nada serak yang tidak bisa kusembunyikan.

Hening. Satu detik. Dua detik.

Axelle tidak menjawab. Ia justru mempercepat langkahnya, keluar dari ruangan itu tanpa menoleh sedikit pun. Pintu tertutup dengan bunyi dentum pelan yang terasa seperti palu yang menghantam hatiku. Aku menyadari satu hal: memenangkan hati Liam mungkin mudah dengan mendengar suara hatinya, tapi memenangkan hati Axelle? Itu akan menjadi tantangan hidup dan mati.

Aku menghela napas panjang, bahuku merosot lesu. "Dia benar-benar tidak mau bicara padaku, ya?"

Liam kembali menatapku. Matanya yang tajam seolah sedang membedah isi kepalaku, mencari di mana letak kebohongan dari aktingku pagi ini.

"Kenapa kau terkejut?" tanya Liam dengan suara berat yang mengintimidasi. "Bukankah kau sendiri yang melarangnya memanggilmu 'Mama' sejak dia bisa bicara? Kau bilang suaranya hanya mengingatkanmu pada malam yang ingin kau lupakan."

Aku tersentak. Dadaku terasa sesak. Blair asli, kau benar-benar iblis berbaju desainer! Bagaimana bisa dia setega itu pada anak setampan dan sepintar Axelle?

"Aku... aku hanya merasa ada yang salah dengan diriku selama ini," gumamku sambil menunduk.

Liam melangkah mendekat, aroma parfum sandalwood yang mahal dan maskulin menyerbu indera penciumanku. Ia berhenti tepat di depanku, membuat bayangannya menelan tubuhku yang kini terasa sangat kecil.

"Apa rencana barumu, Blair?" tanya Liam pelan, namun nadanya penuh ancaman. "Merobek surat cerai, bersikap manis pada Axelle... Apa Andreas sedang butuh uang tambahan lagi? Katakan berapa. Berapa harga dari aktingmu pagi ini agar aku tidak curiga?"

Aku mendongak, menantang matanya yang hitam pekat. "Ini bukan akting, Liam! Dan berhenti menyebut nama pria parasit itu. Aku sudah muak mendengarnya!"

Liam menyipitkan mata, rahangnya mengeras. Secara lahiriah, dia terlihat sangat marah. Tapi di kepalaku, suara hatinya justru terdengar sangat... hancur.

[Dia memaki Andreas? Dia bilang dia muak? Oh, tolong... jangan buat aku berharap terlalu tinggi lagi. Aku ingin sekali mempercayainya. Aku ingin memeluknya sekarang juga dan berjanji akan memberikan apapun asalkan dia tidak berbohong. Tapi aku takut... aku sangat takut ini hanya cara dia untuk membuatku lengah sebelum dia menusukku dari belakang lagi.]

Mendengar itu, rasa marahku menguap. Pria ini tidak kejam, dia hanya seorang pria yang trauma karena terus-menerus dikhianati oleh wanita yang dicintainya.

"Aku tidak berbohong!" balasku, kali ini lebih tenang namun tegas. "Mulai hari ini, aku akan tinggal di sini. Menjadi istrimu yang benar, dan menjadi ibu bagi Axelle. Suka atau tidak, kau terjebak bersamaku, Ralph Liam Alexander!"

Aku sengaja menggunakan nada bicara 'Blair yang galak' agar dia tidak curiga aku sudah dirasuki jiwa lain. Karena di dunia ini, Blair yang lemah lembut justru akan terlihat mencurigakan.

Liam terdiam lama. Ia menatapku seolah-olah aku adalah teka-teki paling rumit yang pernah ia temui di dunia bisnis.

[Dia bilang aku terjebak bersamanya? Itu adalah hukuman paling indah yang pernah kudengar. Blair... jika kau benar-benar tidak akan pergi, aku akan membangunkan surga untukmu. Aku akan mencari berlian paling langka hanya untuk melihatmu tersenyum padaku—bukan pada pria itu.]

"Terserah kau saja," sahut Liam dingin, sangat kontras dengan isi hatinya yang sedang berbunga-bunga. "Aku ada rapat penting. Jangan keluar rumah tanpa seizinku. Mengerti?"

"Ya, ya, Tuan CEO Posesif. Pergilah cari uang yang banyak untuk membelikanku berlian!" aku mengibaskan tangan, pura-pura tidak sabar menyuruhnya pergi.

Liam berbalik, namun ia sempat berhenti sejenak di dekat pintu. Tanpa menoleh, ia berkata dengan suara kaku, "Serpihan kertas itu... jangan biarkan pelayan yang menyentuhnya. Buang sendiri ke tempat sampah."

[Sebenarnya aku ingin mengambil sobekan itu dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan kalau hari ini dia memilihku. Tapi itu terlalu memalukan. Ah, kenapa jantungku tidak mau berhenti berdetak kencang? Aku harus segera pergi sebelum dia melihat wajahku yang memerah!]

Pria kaku itu melangkah pergi dengan punggung yang sangat tegak, namun aku bisa melihat langkahnya sedikit lebih ringan—hampir seperti orang yang ingin melompat kegirangan.

Aku terduduk lemas di kursi emas itu setelah dia menghilang. Aku menatap meja makan yang kini sunyi.

"Satu masalah selesai. Tapi Axelle..." Aku teringat luka di bibir anak itu tadi pagi. "Kenapa dia terluka? Kenapa dia bilang Lucas sudah menunggunya?"

Aku menyentuh dadaku. "Tenang, Blair. Kau adalah pegawai bank yang biasa menghadapi nasabah paling galak sekalipun. Menghadapi remaja terluka dan suami tsundere... pasti bisa, kan?"

Aku segera berdiri. Sore ini, saat Axelle pulang, aku harus siap dengan kotak obat. Dan mungkin... sebuah permintaan maaf yang sudah terlambat lima belas tahun.

1
umie chaby_ba
jadi mau Lo apa heh maxim??? kudu nya si Blair Sama Liam gituan didepan mata Lo?
Ariska Kamisa: oopsss.. 🤭🤭🤭🤭
sabar kak.. maxim lagi menguji kesabaran Blair dan Liam 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kan ga jadi cerai iiihh... Maxim ngeselin!
Ariska Kamisa: iyah Maxim ini resek yaa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
ceritanya ini tentang transmigrasi gitu yaa...
semoga bisa menghibur semuanya...
umie chaby_ba
waduh... ada LG aja nih musuhnya /Shy/
umie chaby_ba
kasian banget nasib penulis 🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
good job Axelle👍👍👍👍👍
umie chaby_ba
Elodie pengen banget si Blair mati kayanya 🫣
umie chaby_ba
Axelle lucu nih pembela mama nya banget
umie chaby_ba
ngeselin Liam /Panic/
umie chaby_ba
sweet banget🤭🤭🤭
umie chaby_ba
bagus Blair....
umie chaby_ba
bagus Axelle 👍👍👍
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/
umie chaby_ba
Adeline pelakor
umie chaby_ba
dih bimbang sih Liam /Sleep/
umie chaby_ba
penulis emang seenaknya sih 🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: aku dong....🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
wow ada karakter baru nih
umie chaby_ba
sang penulis dibuat ketar-ketir 🫣
Ariska Kamisa: iyah hehehe
total 1 replies
umie chaby_ba
so sweet😍
umie chaby_ba
penulisnya kewalahan
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
wwiihh keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!