Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Tanah Suci yang Terlupakan
Jalan setapak dari batu-batu kuno itu membentang lurus ke depan, menembus hutan yang warnanya semakin pudar. Arga melangkah dengan hati-hati, setiap injakan kakinya di atas batu berlumut terasa seperti berjalan di atas kenangan. Bisikan-bisikan di benaknya kini berubah menjadi suara yang lebih jelas—bukan kata-kata yang bisa ia pahami, melainkan emosi. Kesedihan. Kerinduan. Harapan. Semua bercampur menjadi satu, mengalir melalui liontin tiga bentuk di dadanya yang terus berdenyut hangat.
Berapa lama aku sudah berjalan?
Ia tidak bisa memastikan. Matahari di langit yang pudar tampak tidak bergerak, seolah waktu memang telah berhenti di tempat ini. Pepohonan raksasa dengan batang keperakan berdiri diam, daun-daunnya yang berwarna abu-abu tidak bergerak meski angin sesekali berembus. Tidak ada suara binatang. Tidak ada kicauan burung. Hanya keheningan yang dalam, dan bisikan-bisikan itu.
Setelah entah berapa lama—mungkin satu jam, mungkin sehari—jalan setapak itu berakhir di sebuah lapangan luas. Di tengahnya, berdiri tujuh tiang batu yang membentuk lingkaran. Masing-masing tiang setinggi tiga orang dewasa, dengan permukaan yang dipenuhi ukiran-ukiran rumit. Tapi tidak seperti ukiran di menara hitam yang menceritakan kisah, ukiran di tiang-tiang ini lebih abstrak—garis-garis melengkung, spiral, dan simbol-simbol yang tampak seperti bahasa yang bahkan Arga tidak bisa membacanya.
Ia melangkah masuk ke dalam lingkaran tiang. Begitu kakinya menyentuh tanah di dalam formasi, dunia di sekelilingnya bergetar.
BZZZZT!
Cahaya redup mulai memancar dari setiap tiang. Bukan cahaya terang, melainkan pendaran lembut berwarna perak kebiruan—warna yang sama dengan Benang Emas di Dantian-nya yang telah berubah. Liontin di dadanya ikut berpendar, seirama dengan tiang-tiang itu.
Lalu, di hadapannya, udara mulai beriak. Seperti permukaan air yang disentuh, sebuah bentuk mulai muncul dari kehampaan. Awalnya hanya bayangan samar, lalu semakin jelas, semakin padat. Seorang wanita. Tubuhnya tembus pandang, terbuat dari cahaya perak yang sama dengan tiang-tiang. Rambutnya panjang tergerai, wajahnya... wajahnya adalah wajah yang sama dengan wanita dalam visinya di Lembah Batu Tujuh. Wajah yang mirip dengan ibunya, tapi lebih muda.
"Larasati," bisik Arga tanpa sadar. Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya, seolah liontin itu yang membisikkannya.
Wanita dari cahaya itu tersenyum. Senyuman yang lembut, namun menyimpan kesedihan ribuan tahun. "Kau tahu namaku. Berarti warisan itu telah memilihmu dengan benar."
Arga menelan ludah. "Kau... Larasati dari Wangsa Lingkaran. Penjaga pertama."
"Ya." Suaranya bergema pelan, seperti berasal dari dasar sumur yang dalam. "Atau lebih tepatnya, gema diriku. Sisa kesadaran yang tertinggal di tempat ini, menunggu keturunanku yang cukup kuat untuk mencapai sini."
"Kenapa kau menungguku?"
Larasati—atau bayangannya—melangkah mendekat. Gerakannya ringan, tidak menyentuh tanah. "Karena kau adalah yang pertama setelah ribuan tahun. Darah Wangsa Lingkaran telah menipis, tersebar, hampir punah. Tapi di dalam dirimu, darah itu bangkit kembali. Lebih kuat dari yang pernah kulihat pada keturunan mana pun." Ia berhenti tepat di depan Arga, matanya yang terbuat dari cahaya menatap lekat-lekat. "Kau membawa lebih dari sekadar darah kami, Arga Sanjaya. Kau membawa sesuatu yang lain. Sesuatu yang... kuno. Jauh lebih tua dari kami."
Jantung Arga berdetak lebih cepat. Dia tahu. Tentang reinkarnasiku. Tapi Larasati tidak mengatakannya secara langsung. Mungkin ia hanya merasakan keanehan jiwa Arga, tanpa tahu persis apa itu.
"Apa yang kau maksud?" tanya Arga, mencoba tetap tenang.
Larasati tersenyum lagi. "Itu bukan urusanku. Setiap jiwa punya rahasianya sendiri. Aku di sini bukan untuk menghakimi, tapi untuk membimbing." Ia berbalik dan melayang ke arah salah satu tiang batu. "Tempat ini adalah gerbang pertama menuju Lembah Selatan. Dibangun oleh kami bertiga—aku dari Wangsa Lingkaran, saudaraku dari Wangsa Bulan Sabit, dan saudariku dari Wangsa Bintang. Di sini, para Penjaga muda berlatih. Mengasah kemampuan mereka. Mempersiapkan diri untuk tugas suci: memperbarui segel Pemangsa."
"Aku ingin berlatih di sini."
"Kau akan. Tapi tidak sebelum kau membuktikan dirimu layak." Larasati menoleh, matanya bersinar lebih terang. "Tempat ini tidak akan menerima sembarang orang, bahkan darah Penjaga sekalipun. Kau harus melewati ujian."
Arga mengangguk. Sudah diduganya. Tidak ada kekuatan yang datang tanpa ujian. "Apa ujiannya?"
Larasati mengangkat tangannya. Cahaya dari ketujuh tiang batu semakin terang, lalu menyatu di tengah lingkaran, membentuk sebuah portal berkilauan. Di dalam portal itu, Arga bisa melihat pemandangan yang berbeda—bukan hutan pudar, melainkan padang pasir luas di bawah langit merah.
"Ujian pertama: Bertahan." Suara Larasati menggema. "Kau akan dikirim ke medan pertempuran kuno. Di sana, kau akan menghadapi gema dari musuh-musuh yang pernah dihadapi para Penjaga. Mereka bukan makhluk hidup, tapi ingatan yang terwujud. Namun pedang mereka sama tajamnya, dan sihir mereka sama mematikannya."
"Berapa lama aku harus bertahan?"
"Sampai kau menemukan inti dari medan itu. Hancurkan intinya, dan kau akan kembali. Gagal..." Larasati tidak menyelesaikan kalimatnya.
Arga mengerti. Gagal berarti mati. Atau terjebak selamanya di dalam ingatan pertempuran kuno.
Ia menatap portal itu. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut, seolah merasakan tantangan yang menanti. Liontin di dadanya memanas, memberinya kehangatan yang menenangkan.
"Aku siap."
Larasati mengangguk. "Masuklah, darah Wangsa Lingkaran. Dan ingat: di medan itu, kau tidak sendiri. Gema para Penjaga yang gugur di sana masih bertarung. Temukan mereka. Mereka akan membantumu."
Arga menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah maju, menembus portal cahaya.
Dunia berputar. Warna-warna melebur menjadi satu. Lalu, tiba-tiba, kakinya menginjak pasir panas. Udara kering dan berdebu menerpa wajahnya. Di atasnya, langit merah membentang tanpa matahari. Di kejauhan, ia mendengar suara yang tidak asing—benturan logam, teriakan perang, dan raungan monster.
Medan pertempuran kuno.
Arga mengepalkan tangannya. Di kejauhan, ia melihat bayangan-bayangan mulai bergerak mendekat. Bukan manusia. Sesuatu yang lebih gelap, lebih buas. Gema musuh para Penjaga.
Baiklah, pikirnya. Mari kita mulai.
kenangan pertama
hancurkan dia Arga