NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

izin pemilik kontrakan

Di teras rumah pemilik kontrakan yang remang-remang, kepulan asap kopi dan aroma tembakau membubung di antara papan catur. Pak Hadi, sang pemilik kontrakan, menatap Mas Elang dengan kening berkerut dalam. Ia seolah mencari kebohongan di mata pria yang selama ini ia kenal sebagai pedagang bakso bakar yang pendiam namun rajin itu.

"Beneran, Nak Elang sudah menikah?" tanya Pak Hadi sekali lagi dengan tidak percaya.Suaranya sarat akan keraguan. Baginya, berita ini lebih mengejutkan daripada skakmat yang baru saja ia terima dalam permainan caturnya.

"Benar, Pak. Masa saya berbohong untuk urusan seperti ini," sahut Mas Elang tenang, meski ada nada tegas yang menyelinap di antara suaranya yang rendah.

"Tapi kami sulit percaya," sela Pak Ridwan tetangga sebelah yang tadi menjadi lawan catur Pak Hadi. Ia menyandarkan punggungnya di kursi rotan, menatap Mas Elang dari atas ke bawah. "Baru tadi sore kita berpapasan saat Nak Elang mau berangkat jualan. Nak Elang bawa gerobak bakso, pakai kaos kumal ini, rambut berantakan. Penampilan Nak Elang sekarang sama persis dengan saat berangkat tadi. Tidak ada rapi-rapinya seperti orang yang habis akad nikah!"

Elang melirik pakaiannya sendiri. Memang benar, ia hanya mengenakan kaos yang sedikit lusuh karena keringat dan celana panjang denim yang mulai pudar warnanya. Satu-satunya tambahan adalah jaket yang baru ia ambil dari jok motor.

"Iya! Saya juga bingung," tambah Ibu Hadi yang kini ikut duduk di teras. "Tadi sore saya sempat melihat Nak Elang mangkal di taman seperti biasa. Kok tiba-tiba pulang-pulang bawa perempuan dan mengaku sudah sah? Pernikahan apa yang tidak pakai dandan sama sekali?"

Elang menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia tahu penjelasannya akan terdengar seperti dongeng atau naskah film picisan.

"Pak, Bu, dan Pak Ridwan ...  saya memang menikah secara dadakan. Sangat mendadak. Saya melakukannya untuk melindungi istri saya, Arumi, dari pernikahan paksa yang direncanakan ayahnya. Dia hendak dijodohkan dengan Juragan Dirga," jelas Elang.

Mendengar nama itu, suasana teras mendadak senyap. Nama itu seolah memiliki daya magis yang mampu membungkam tawa dan keceriaan malam.

"Juragan Diega?" Pak Hadi mengulangi nama itu dengan nada bergidik. "Orang yang tinggal di daerah sini pasti tahu siapa dia."

Elang mengernyit. Ia baru tiga bulan menetap di kontrakan ini dan belum benar-benar mengenal tokoh-tokoh lokal, apalagi yang memiliki reputasi kelam. "Memang Bapak mengenalnya dengan baik?"

"Bukan kenal baik, tapi tahu buruknya!" sahut Pak Hadi ketus. "Juragan Dirga itu rentenir kelas kakap, lintah darat yang licik. Kekayaannya ada di mana-mana, tapi dibangun di atas penderitaan orang lain. Dia suka main perempuan, dan sifatnya sangat kasar. Amit-amit kalau sampai harus berurusan dengannya."

Ibu Hadi ikut menimpali dengan wajah penuh kengerian. "Nak Elang benar-benar melakukan hal besar jika menyelamatkan Arumi dari orang itu. Juragan Dirga itu tukang kawin-cerai. Istrinya banyak, entah empat atau lima, dan semuanya diperlakukan dengan kasar. Uang hasil ribanya pun tidak berkah. Beruntung sekali istrimu tidak jadi menikah dengan pria itu. Kalau sampai kejadian, dia pasti akan makan hati setiap hari."

Elang terdiam. Penjelasan Ibu Hadi mengonfirmasi semua ketakutan yang kulihat di mata Arumi tadi di taman. Ternyata, ketakutan wanita itu bukan sekadar bualan.

"Apa yang Ibu katakan sama persis dengan yang diceritakan Arumi kepada saya," ujar Elang lirih.

"Memang pilihan istri Nak Elang dan apa yang Nak Elang lakukan itu sudah benar. Tapi tunggu dulu ... Arumi ini orang mana?" tanya Pak Hadi penasaran.

"Orang sini saja, Pak. Rumahnya tidak jauh dari taman tempat saya biasa mangkal. Mungkin hanya sekitar tiga ratus meter dari sana," jawab Elang jujur.

"Anak siapa? Siapa tahu Bapak kenal orang tuanya," desak Pak Hadi.

"Namanya Pak Rahmat."

Pak Hadi tertegun. Ia mencoba menggali ingatan di kepalanya yang mulai memutih. "Pak Rahmat ... yang rumahnya tingkat dua dekat tikungan taman itu?"

"Iya, Pak. Bapak mengenalnya?"

Pak Hadi mengangguk dengan raut wajah yang berubah sendu. "Dulu dia teman saya. Tapi sejak istrinya meninggal dan dia malah menikahi selingkuhannya, kami jadi menjauh. Terakhir kami bertengkar hebat karena saya menegurnya saat dia nekat membawa selingkuhannya ke rumah, padahal istrinya baru saja meninggal karena serangan jantung. Kasihan putri tunggalnya, Arumi. Dulu saya pernah bertemu dengannya sekali; anaknya cantik dan sangat sopan. Jadi, benar Arumi putrinya Rahmat yang kamu nikahi?"

"Benar, Pak. Arumi sekarang adalah istri saya," jawab Elang mantap.

"Syukurlah kalau begitu ,saya percaya sama nak Elang ,karena nak Elang orang baik ."

Meskipun Pak Hadi mulai percaya, Ibu Hadi rupanya masih memiliki sisa-sisa keraguan. "Maaf ya, Nak Elang, tapi Ibu ini orangnya logis. Ada buktinya tidak? Zaman sekarang kan banyak orang mengaku-ngaku saja."

Elang tersenyum tipis. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan secarik kertas yang dilipat rapi. Itu adalah surat keterangan pernikahan siri yang ditandatangani oleh penghulu dan saksi-saksi di rumah Arumi tadi.

"Ini buktinya, Bu. Kami memang belum sempat mengurus buku nikah resmi ke KUA karena semuanya terjadi sangat cepat tadi malam. Tapi secara agama, kami sudah sah," ujar Elang sambil menyerahkan kertas itu.

Ketiga orang itu berkumpul, membaca kata demi kata di bawah lampu teras yang temaram. Setelah melihat tanda tangan dan stempel sederhana dari sang penghulu, barulah mereka benar-benar percaya.

"Astaga, ternyata benar," gumam Pak Ridwan Ia menepuk bahu Mas Elang dengan keras.

"Hebat kamu, Lang! Berangkat jualan bakso, pulang-pulang bawa bidadari. Ini namanya rezeki nomplok!"

"Kami bukan tidak percaya, Nak Elang. Kami hanya syok," tambah Pak Hadi sambil mengembalikan kertas itu. "Tapi saya mohon, Nak Elang harus segera mengurus surat resminya. Saya tidak mau ada masalah hukum di kontrakan ini nanti."

"Pasti, Pak. Tapi untuk saat ini, saya mohon dengan sangat... tolong rahasiakan status pernikahan kami dari penghuni lain. Arumi masih sangat tertekan dengan kejadian ini, dan kami belum siap jika harus menjadi buah bibir satu kompleks."

Ibu Hadi mengangguk maklum, meski matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. "Nak Elang jangan khawatir. Kami akan jaga rahasia ini. Tapi Nak, tetangga di sini kan banyak yang 'kepo'. Terutama ibu-ibu yang hobi ngerumpi. Kalau mereka lihat ada perempuan di kamarmu, pasti akan jadi fitnah."

"Maaf Bu, bukan bermaksud menyinggung, tapi memang ibu-ibu di sini kalau sudah berkumpul, lidahnya tajam-tajam," sela Pak Roni sambil terkekeh.

"Eh, Pak Ridwan! Tidak semua begitu ya! Saya saja sibuk mengurus katering, mana sempat ngerumpi!" protes Ibu Hadi tidak terima.

"Begini saja Pak, Bu," Mas Elang memberikan solusi. "Jika ada yang bertanya, katakan saja Arumi adalah adik saya dari desa yang datang untuk mencari kerja. Itu akan meredam kecurigaan mereka untuk sementara."

"Ide bagus! Itu lebih aman bagi kalian," sahut Pak Hadi setuju.

1
Neng Saripah
lama2 istrimu bisa curiga kamu belanja sebanyak itu ,lang 🤭
MayAyunda: he .he. .Iya kak
total 1 replies
Dwiwinarni
suatu saat nanti gilang akan membahagiakan arumi, sabar ya arumi sapa tahu gilang anak horang kaya😃
MayAyunda: he he
total 3 replies
Dwiwinarni
Arumi tidak sudi menikah sama juragan dirga, mending hidup jadi gembel dijalanan.. Elang bersedia menikah sama arumi...
Dwiwinarni
Bagus arumi jangan mau menikah juragan dirga sibandot tua itu🤭
Dwiwinarni
Elang hanya penjual bakso tusuk bakar, dihina abis2an...
Dwiwinarni
bagus itu baru pria gentmen elang...
Dwiwinarni
Kasian arumi yg jadi korbannya menikah sama bandot tua botak🤣🤭
MayAyunda: iya kak😄😄
total 1 replies
Rosmenti Sitanggang
lanjut thor💪💪
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Dwiwinarni
Ini mah kebalik cewek ngelamar cowok🤣dasar arumi belum kenal dah berani ngelamar😃
MayAyunda: he he 😁
total 1 replies
Nanik Arifin
semoga pernikahan kalian samawa & langgeng. baik tinggal dikontrakan petak maupun di mansion
MayAyunda: aamiin
total 1 replies
Nanik Arifin
tenang Arumi, suamimu ceo, pemilik perusahaan t4 kamu kerja
MayAyunda: iya kak .he.he
total 1 replies
Nanik Arifin
puas"in senyumnya Bu Lastri, krn setelah kepergian Arumi, gaya hidupmu & anakmu minta dilunasi. klo tak ada uang, ya udah bayar aj putrimu atau dirimu sendiri. lumayan kan, jadi istri Tuan Dirga yg kaya...😜
MayAyunda: .he .He ..betul itu kak😁
total 1 replies
Nanik Arifin
enak aj suruh Arumi yg membuat hutang lunas, kan yg pakai uangnya kalian? suruh aj tuh Rina nikah sama juragan Dirga, lagian pacarnya yg direktur blm tentu mau nikahi juga kan ? y ogahlah punya istri + mertua benalu
Nanik Arifin: masama. semangat thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!