Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
***
Dua bulan berlalu sejak kesepakatan di atas serbet restoran fine dining itu ditandatangani. Jakarta, dan bahkan dunia, seolah berhenti berputar sejenak ketika undangan fisik berbahan beludru biru tua dengan inisial K & D berlapis emas murni mulai tersebar ke kalangan terbatas para menteri, duta besar, hingga petinggi korporasi internasional.
Berita itu pecah seperti bom atom di jagat maya. Tanpa ada desas-desus kencan, tiba-tiba Karina idol yang karirnya di ujung tanduk karena skandal fitnah di Korea muncul dengan identitas aslinya yang menggetarkan nasional: Putri tunggal Sang Panglima, cicit dari Pahlawan Revolusi, dan kini, calon menantu keluarga paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.
Headline Media Internasional:
Dispatch: "Mantan Center Kebanggaan Korea, Karina Dyah Pramesti, Ternyata Putri Jenderal Indonesia. Menikah dengan Pewaris Takhta Cendana!"
Billboard: "The Global IT-Girl is Getting Married: Siapa Darma Mangkuluhur?"
Netizen Global: "Patah hati internasional! Dia bukan sekadar idol, dia adalah 'Royal Blood' sesungguhnya."
Prosesi Siraman: Air Suci dari Langit
H-1 sebelum Java Royal Wedding. Kediaman dinas Panglima TNI di Jakarta Pusat berubah menjadi benteng yang megah namun penuh wangi bunga. Pengamanan tidak lagi hanya soal ajudan, melainkan satu batalyon prajurit yang berjaga dalam radius satu kilometer. Wartawan dilarang mendekat, hanya beberapa fotografer resmi yang diizinkan masuk.
Karina duduk bersimpuh di atas hamparan karpet beludru hijau. Ia mengenakan kain kebaya tipis dan ronce melati yang menjuntai menutupi bahunya. Kulitnya yang bening tampak berkilau di bawah sinar matahari pagi yang menembus celah-celah tenda dekorasi.
Di sampingnya, sang Eyang, Amelia Yani, duduk dengan anggun meskipun usianya tak lagi muda. Tatapannya teduh namun sarat akan wibawa sejarah.
"Ayin," bisik Eyang Amelia sambil mengelus rambut cucunya. "Hari ini kamu disucikan dengan air dari tujuh sumber mata air. Air ini dibawa dengan helikopter dari tanah para leluhurmu. Ini bukan sekadar mandi, ini adalah cara bumi merestui langkahmu masuk ke keluarga itu."
Karina menelan ludah. "Eyang... Ayin takut."
"Kenapa takut? Kamu adalah darah Yani. Kamu adalah darah Subiyanto. Tidak ada yang perlu ditakutkan dari keluarga mana pun di negeri ini," tegas Eyangnya.
Tak lama, Jenderal Agus Subiyanto melangkah maju. Sang Panglima yang biasanya memegang tongkat komando, kini memegang gayung kayu yang dihiasi bunga. Matanya yang tajam tampak berkaca-kaca saat menyiramkan air suci ke bahu putri semata wagnyanya.
"Ayin," suara sang Jenderal rendah namun bergetar. "Jaga dirimu. Ingat, kamu adalah benteng terakhir keluarga kita. Jangan pernah biarkan siapapun merendahkanmu, sekalipun itu suamimu nanti."
"Siap, Papah," jawab Karina pelan, air matanya jatuh bercampur dengan air siraman.
Setelah sang Jenderal, giliran Ibu Evi, sang mama. Sambil menyiramkan air, beliau membisikkan pesan yang membuat jantung Karina berdegup kencang.
"Ingat nasihat lama, Nak. Di Jawa, istri itu suwargo nunut, neroko katut. Kamu harus pintar membawa diri. Keluarga Cendana itu seperti labirin. Jangan sampai kamu tersesat di dalamnya. Jaga wibawamu, jangan terlihat lemah di depan mertua dan suamimu."
Karina hanya mengangguk. Ia ingin berteriak bahwa semua ini hanyalah kontrak Rp10 miliar sebulan, tapi melihat kesakralan di depan matanya, nuraninya mulai terusik. Apakah aku benar-benar bisa menjalani peran ini?
**
Di sisi lain kota, di kediaman mewah klan Cendana, Darma Mangkuluhur juga menjalani prosesi yang sama. Pak Tommy Soeharto menyiramkan air ke bahu putranya dengan ekspresi bangga yang tak terlukiskan.
"Darma," ucap Pak Tommy setelah prosesi selesai. "Pernikahan ini adalah penggabungan dua kekuatan besar. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan untuk menjaga stabilitas bisnis kita, bukan?"
Darma berdiri, handuk putih melingkar di bahunya yang tegap. "Saya tahu, Pah. Segalanya sudah dalam kendali saya."
"Karina itu aset berharga. Jaga dia. Publik sedang menyorotnya karena skandal itu. Buat dia bersinar kembali sebagai Nyonya Hutomo. Itu akan sangat membantu citra keluarga kita di mata publik internasional," lanjut Pak Tommy.
Darma hanya mengangguk singkat. Pikirannya melayang pada poin kontrak nomor enam yang diajukan Karina: Surat bebas HIV dan bersih dari wanita lain. Ia tersenyum tipis. Wanita itu benar-benar unik. Dia memikirkan segalanya.
**
Malam Midodareni di kediaman Jenderal Agus Subiyanto bukan sekadar tradisi; itu adalah pernyataan kekuasaan yang dibalut keanggunan budaya Jawa Solo. Di luar pagar rumah dinas, barikade TNI dan Polri memastikan tidak ada satu pun jurnalis yang bisa menembus masuk, namun di dunia maya, pertempuran informasi baru saja dimulai.
Satu jam setelah prosesi Siraman selesai, foto-foto resmi yang dirilis oleh pihak keluarga mulai menghujani feed media sosial. Internet meledak. Narasi tentang Karina yang selama ini dipojokkan sebagai "pelaku perundungan" di Korea mendadak bergeser menjadi "Putri Bangsawan yang Difitnah".
Komentar Netizen Internasional (Korea & Global):
@k-pop_insider: "Visual Karina dalam balutan ronce melati benar-benar gila. Dia terlihat seperti dewi yang turun dari langit Indonesia. Bagaimana mungkin agensi di sini memperlakukannya seperti sampah?"
@soompi_fans: "Tunggu, ayahnya adalah Jenderal Tertinggi TNI dan kakek buyutnya adalah pahlawan nasional? Karakter Karina di dunia nyata jauh lebih hebat daripada drama Korea manapun!"
@seoul_vibes99: "Hoel, Klan Cendana? Aku baru saja Googling dan mereka adalah keluarga paling berpengaruh di sana. Habislah kalian para haters, pengacara kelas dunia pasti sedang terbang ke Seoul sekarang."
Komentar Netizen Indonesia:
@warga_konoha: "Ini mah bukan High Society lagi, ini sudah level Royal Family. Darma Mangkuluhur x Karina Subiyanto? Gila, gen unggul bertemu gen penguasa."
@politik_santuy: "Pernikahan ini bau-bau koalisi besar 2029. Militer dan Cendana bersatu? Siapkan diri kalian!"
**
Di dalam kamar yang harumnya menyesakkan karena ribuan bunga sedap malam, Karina duduk di depan cermin besar. Ia mengenakan kebaya beludru hijau botol yang sangat elegan, rambutnya disanggul rapi tanpa hiasan berlebih—ciri khas calon pengantin yang sedang "dipingit".
Pintu kamar diketuk pelan. Eyang Amelia Yani masuk, diikuti oleh Ibu Evi. Keduanya membawa aura ketenangan yang kontras dengan kegelisahan di hati Karina.
"Ayin," panggil Eyang Amelia lembut. Beliau duduk di tepi ranjang. "Malam ini adalah malam Midodareni. Malam di mana para bidadari turun untuk mempercantik calon pengantin. Tapi lebih dari itu, ini adalah malam terakhirmu sebagai seorang gadis di bawah perlindungan ayahmu."
Karina menatap eyangnya dari cermin. "Eyang, apa Ayin benar-benar pantas berada di tengah keluarga mereka? Mereka... sangat berbeda."
Eyang Amelia tersenyum tipis, penuh rahasia sejarah. "Dengar, Nak. Ayahmu memberikanmu pada Darma bukan tanpa alasan. Kamu adalah darah Yani. Leluhurmu menghadapi peluru demi negara ini. Jangan pernah merasa kecil. Di keluarga Cendana nanti, kamu jangan hanya menjadi 'hiasan'. Jadilah 'tiang'. Istri seorang pemimpin harus bisa menjadi tempat bersandar sekaligus penasihat yang tajam."
Ibu Evi mengusap bahu Karina. "Benar kata Eyang. Besok, saat kamu menginjak telur di kaki Darma, itu bukan simbol kamu merendahkan diri. Itu simbol bahwa kamu siap membersihkan segala rintangan bagi suamimu. Tapi ingat poin kontrakmu, Ayin... jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri hanya karena silau dengan kemegahan mereka."
**
Di ruang tamu yang luas, suasana begitu kaku dan formal. Jenderal Agus duduk tegak, didampingi para petinggi militer yang menjadi saksi. Di seberangnya, Tommy Soeharto datang membawa rombongan besar yang membawa nampan-nampan seserahan yang nilainya bisa membeli satu kompleks perumahan mewah.
Darma Mangkuluhur tampil sangat mempesona dengan beskap hitam dan blangkon Solo yang sangat rapi. Wajahnya yang biasanya datar, malam ini tampak lebih berseri namun tetap berwibawa.
"Jenderal," suara Darma bergema, rendah dan mantap. "Saya datang membawa mandat dari keluarga saya. Saya membawa seserahan ini sebagai tanda keseriusan saya untuk meminang dan menjaga putri tunggal Anda, Karina Dyah Pramesti."
Jenderal Agus menatap Darma tajam, seolah sedang menginspeksi prajurit terbaiknya. "Darma, kamu tahu Ayin adalah satu-satunya permata dalam hidup saya. Dia besar di dunia yang keras, tapi hatinya lembut. Saya serahkan dia bukan hanya untuk memperkuat koalisi, tapi karena saya percaya kamu mampu melindunginya dari badai yang sedang menyerangnya di luar sana."
Tommy Soeharto terkekeh pelan, mencairkan suasana. "Tenang saja, Pak Agus. Darma sudah menyiapkan tim hukum terbaik untuk membersihkan nama Karina di Seoul. Malam ini, kami tidak hanya membawa perhiasan dan kain sutra, tapi kami membawa janji bahwa kehormatan Karina adalah kehormatan Cendana."
Saat prosesi Tantingan di mana orang tua menanyakan kemantapan hati calon pengantin di dalam kamar Karina menjawab dengan suara bergetar namun pasti, "Ikhlas, Papah."
Setelah rombongan keluarga pria pamit untuk pulang (karena pengantin pria tidak boleh menginap), seorang pelayan masuk membawa kotak beludru merah kecil yang tadi dititipkan Darma secara sembunyi-sembunyi melalui ajudan.
Karina membukanya. Sebuah jam tangan Patek Philippe edisi sangat terbatas berkilau di bawah lampu kamar. Di balik casing emasnya, terukir kalimat singkat:
"Stay bold, Partner. Tomorrow, we don't just win their hearts, we win the world. — D.M.H"
Karina menyentuh ukiran itu dengan ujung jarinya. Senyum sinis yang tadi menghiasi bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa berdebar yang asing.
"Dia benar-benar tahu cara memenangkan negosiasi," gumam Karina.
Ia berjalan menuju jendela kamar, menyibak sedikit tirai dan melihat iring-iringan mobil mewah keluarga Cendana yang meninggalkan gerbang rumahnya dengan pengawalan ketat. Besok, ia tidak akan lagi dikenal sebagai Karina sang Idol yang malang. Besok, ia akan terlahir kembali sebagai bagian dari dinasti yang menggetarkan nusantara.
Di kejauhan, ia mendengar suara kicauan drone yang mencoba mengambil gambar dari udara—wartawan masih berusaha keras. Namun bagi Karina, dunia luar sudah tidak penting. Malam Midodareni ini adalah garis start bagi permainan baru yang jauh lebih besar dari sekadar panggung musik.
****