Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Makan malam berakhir tanpa satu pun dari mereka yang benar-benar menikmati hidangan. Senyum-senyum sopan hanya jadi penutup, menutupi kalimat-kalimat yang sejak tadi terasa menekan, meski tak pernah diucapkan terang-terangan.
Hujan turun saat mereka keluar dari restoran.
Yuda berjalan di samping Carisa tanpa menyentuhnya. Jarak mereka dekat, tapi tidak terasa dekat. Di sisi lain, Reynanda membukakan pintu untuk Humaira.
Tidak ada percakapan lagi. Hanya anggukan, salam singkat, ucapan terima kasih yang terdengar seperti formalitas. Lalu masing-masing pergi, dua mobil yang melaju meninggalkan halaman parkiran restoran, dua pasang lampu belakang yang semakin jauh di bawah hujan.
Di dalam mobil, yang terdengar hanya suara hujan.
Wiper bergerak teratur, memotong air di kaca depan. Lampu-lampu jalan lewat begitu saja, memantul sebentar di permukaan aspal yang basah, lalu hilang.
Carisa duduk diam. Pandangannya lurus ke depan tapi tidak benar-benar melihat.
Yuda menyetir tanpa suara. Tidak ada musik. Tidak ada kata. Dan diam malam itu terasa berat seperti sesuatu yang sedang ditahan agar tidak pecah.
Carisa sempat membuka mulut. Ingin mengatakan sesuatu apa saja. Tapi tidak jadi. Semua terasa salah.
Setelah melewati perjalanan yang terasa sunyi akhirnya mobil berhenti di depan rumah mereka.
Carisa membuka sabuk pengamannya. Tangannya sempat tertahan di gagang pintu saat menyadari Yuda belum bergerak.
"Kamu tidak mau turun?" tanya Carisa. "Apa kamu mau bicara di sini? karena aku yakin ada banyak pertanyaan dalam benakmu."
Yuda tetap diam beberapa detik. Tatapannya lurus ke depan, tidak bergerak.
"Ya, kamu benar ada banyak pertanyaan ."
"Kalau begitu, kita bicara di dalam." Carisa membuka pintu mobil, lalu turun dan berjalan masuk.
Rumah menyambut mereka dengan sunyi, setelah Yuda membuka pintu.
Carisa berjalan lebih dulu menuju kamar. Langkahnya cepat, seolah ingin segera sampai. Yuda mengikuti dua langkah di belakangnya, tidak terburu, tapi juga tidak santai.
Di sepanjang lorong, tidak ada suara selain langkah mereka.
Yuda melepas jasnya sambil berjalan, menggantungkannya di satu tangan. Dasi dilonggarkan sedikit, tapi belum dilepas.
Begitu masuk kamar, jas itu dilempar begitu saja ke sofa. Ia duduk di tepi ranjang. Perlahan membuka dasinya, lalu menggulung lengan kemeja sampai di atas siku. Gerakannya rapi. Terukur. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada emosi yang terlihat.
Carisa meletakkan tasnya di atas nakas. Ia duduk di depan meja rias. Sepatu haknya dilepas satu per satu. Anting-anting menyusul. Diletakkan pelan di atas meja. Matanya tertuju pada cermin. Pada bayangannya sendiri.
Dan pada bayangan Yuda di belakangnya, yang duduk diam di tepi ranjang, menatap tanpa berkata apa pun.
Hening mengisi ruangan seperti air yang mengisi wadah.
"Berapa lama kamu kenal dia?"
Suara Yuda keluar tanpa peringatan. Pelan. Tidak keras. Tapi di dalam sunyi kamar itu, terdengar jelas seperti sesuatu yang jatuh dari ketinggian.
"Siapa?" tanya Carisa santai.
"Kamu tahu siapa yang aku maksud."
Carisa melanjutkan melepas kalungnya. Meletakkannya di atas meja rias. "Aku bertemu dengannya karena pekerjaan."
"Proyek yang tidak kamu ceritakan padaku."
"Itu pekerjaanku, Yud. Aku tidak menceritakan semua klienku."
"Kamu benar. Kamu tidak pernah bercerita apapun padaku." Yuda kini berjalan mendekat ke arah Carisa, menatap Carisa dengan Carisa yang masih di depan cermin. "Yang ini pun tidak."
Carisa meraih krim pembersihnya. Membuka tutupnya. "Aku pikir itu tidak penting."
"Tidak penting." Yuda mengulang dua kata itu dengan nada yang datar, hampir tidak bermelodi. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat kata-kata biasa itu terasa seperti teguran. "Klienmu ternyata suami sepupuku. Dan itu tidak penting untuk kamu ceritakan?"
"Aku baru tahu di Bandung, Kalau dia suami sepupumu."
"Tapi setelah di Bandung kamu juga diam." Yuda memotong pelan. Matanya menatap Carisa melalui pantulan cermin dan di dalam cermin itu, tatapan mereka bertemu tanpa bisa dihindari. "Kita bahkan saat kita Duduk semeja dengan mereka. Dan kamu tidak mengatakan apa-apa."
"Karena tidak ada yang perlu dikatakan."
"Carisa." Namanya keluar dengan cara yang berbeda. "Aku sudah dua tahun menikah denganmu. Tapi aku tidak pernah tahu apa-apa tentang dirimu."
Carisa meletakkan krim pembersihnya. Menoleh dari cermin menatap Yuda langsung. "Aku lelah. Kita sudahi percakapan ini."
Yuda membalas tatapannya. Tidak berkedip. Tidak melakukan apa-apa selain menatap. Sorot matanya tenang, tapi dalam, dan entah kenapa selalu terasa menekan.
Mungkin karena posisi pekerjaan nya sebagai wakil presiden direktur, atau memang cara dia membawa diri. Tanpa perlu bicara banyak, auranya sudah cukup membuat orang lain merasa terintimidasi.
Carisa mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan itu. Ia berdiri cepat, sedikit terlalu cepat seolah ingin menutup sesuatu sebelum terbaca. Wajahnya kembali datar. Tapi tangannya tidak sepenuhnya tenang.
"Jangan ke mana-mana, aku belum selesai bicara," kata Yuda saat melihat Carisa hendak melangkah.
"Baiklah." Carisa menahan diri. Ia tidak mau terlihat seperti orang yang bersalah. Dengan gerakan yang tetap dijaga tenang, ia mulai membuka ritsleting gaunnya, meski dadanya terasa berdebar. "Aku akan berganti pakaian di sini. Di depanmu."
Jantung Carisa berdebar cepat. Selama menikah dengan Yuda, ia tidak pernah sekali pun berganti pakaian di depannya. Dan malam ini, ia melakukannya bukan karena ingin, tapi karena tidak mau terlihat goyah.
Yuda tidak melihat Carisa sebagai suami yang tertarik secara fisik. Cara dia menatap lebih seperti orang yang sedang mengamati dengan serius.
Dia diam bukan karena santai, tapi karena sedang menahan emosi. Tatapannya fokus, mengikuti setiap gerakan Carisa, seolah ingin memastikan ada atau tidak sesuatu yang disembunyikan.
Carisa mungkin terlihat tenang di luar, tapi di mata Yuda, sikap itu terasa tidak biasa seperti ada yang dipaksakan. Dan dari situ, Yuda mencoba membaca, apakah ini benar dirinya, atau ada hal lain yang sedang ia tutupi.
Carisa menarik napas pelan sebelum benar-benar melepas semua yang ia pakai di hadapan Yuda. Tidak ada lagi sisa formalitas di antara mereka malam itu, tidak ada batas seperti biasanya.
Gerakannya pelan, tapi pasti. Seolah ia sedang memaksa dirinya untuk tidak ragu, meskipun dadanya terasa tidak sepenuhnya tenang.
Yuda tetap diam. Tidak menghentikan, tidak juga berpaling. Tapi tatapannya berubah, tidak lagi sekaku tadi, melainkan lebih dalam, lebih sulit dibaca.
Suasana kamar menjadi berat. Hanya ada suara kain yang jatuh dan napas yang tidak sepenuhnya stabil di antara mereka berdua.
Yuda mulai kehilangan kontrol karena situasi yang ia lihat membuat reaksinya berubah tanpa ia bisa menahannya.
Selama ini hubungan mereka dipenuhi jarak dan batas, sehingga ia terbiasa menjaga diri dan bersikap tenang.
Namun ketika Carisa berada dalam kondisi yang sangat terbuka di depannya, sesuatu dalam diri Yuda terganggu.
Bukan hanya soal ketertarikan, tetapi juga karena momen itu tidak pernah terjadi sebelumnya di antara mereka. Ada keterikatan emosional yang belum selesai, ditambah situasi yang tiba-tiba, membuat Yuda tidak lagi sepenuhnya mampu bersikap dingin dan netral seperti biasanya.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak