NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Zirah yang Tertinggal di Depan Pintu

​Kamera-kamera itu menyambar seperti kilat badai yang siap menenggelamkanku. Puluhan mikrofon disodorkan ke arah kami, menciptakan barikade yang seolah tak tertembus di lobi utama gedung Wiratmadja Tech.

​"Apakah benar Anda diancam akan dibunuh jika tidak menikahi Ibu Aruna?!"

​Pertanyaan salah seorang jurnalis itu menggema, liar dan tak beretika. Aku mengencangkan rahang, bersiap untuk mengeluarkan suara paling mengintimidasi yang kumiliki untuk mengusir mereka. Namun, sebelum satu suku kata pun lolos dari bibirku, Bumi sudah mengambil alih kendali.

​Dia berdiri tegak di depanku, menghalangi tubuhku dari sorotan kamera yang agresif. Setelan jas bespoke hitam yang tadi pagi disiapkan Sarah melekat sempurna di tubuh tegapnya, menyamarkan identitas aslinya sebagai pemuda sederhana pemburu uang lembur.

​Bumi tidak menghindar. Dia menatap langsung ke arah lensa kamera jurnalis yang baru saja melontarkan pertanyaan provokatif tersebut. Matanya tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. Yang ada hanyalah ketenangan setajam silet.

​"Pertanyaan Anda," suara Bumi mengalun rendah namun bergema di seluruh penjuru lobi, menghentikan kasak-kusuk puluhan wartawan seketika, "bukan hanya sebuah fitnah yang keji, tapi juga sebuah penghinaan terhadap institusi pernikahan dan agama saya."

​Suasana mendadak hening. Hanya terdengar bunyi shutter kamera yang melambat.

​Bumi mengangkat tangan kanannya, dengan lembut namun pasti meraih jemariku. Dia menggenggam tanganku di hadapan puluhan pasang mata, mengunci jari-jari kami. Kehangatan kulitnya menembus sarung tangan sutra tipis yang kukenakan, mengirimkan desiran aneh yang membuat napasku tertahan.

​"Saya, Bumi Arkan, menikahi Aruna Wiratmadja karena Allah, dalam keadaan sadar, tanpa paksaan dari pihak mana pun," lanjut Bumi, setiap artikulasinya menghunjam udara pagi yang dingin. "Tuduhan bahwa istri saya adalah seorang pembunuh yang menyandera karyawannya adalah kebohongan yang sengaja diciptakan untuk memanipulasi pasar saham hari ini. Dan bagi siapa pun media yang berani menaikkan narasi itu tanpa bukti... tim kuasa hukum kami tidak akan segan untuk menyeret Anda ke pengadilan dengan tuduhan pencemaran nama baik berlapis."

​Dunia seakan berhenti berputar. Kata 'istri saya' yang keluar dari mulutnya terasa seperti mantra sihir yang melumpuhkan semua ketakutanku. Dia tidak sedang berakting. Dia sedang melindungi kehormatanku dengan nyawanya.

​"Jalan," bisik Bumi pelan, hanya agar bisa kudengar.

​Dia membimbingku membelah lautan wartawan yang mendadak membukakan jalan, terhipnotis oleh aura otoritas yang dipancarkan oleh seorang pria yang bahkan dua hari lalu tidak memiliki akses ke lobi VIP ini.

​Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) itu berlangsung persis seperti dugaanku: sebuah arena eksekusi.

​Lukman duduk di ujung meja oval dengan senyum pongah yang membuatku muak. Saat aku masuk bersama Bumi, kasak-kusuk para dewan direksi berdengung seperti sarang lebah.

​"Aruna," sapa Lukman, berpura-pura prihatin. "Sayang sekali kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini. Berita di luar sana sangat merusak citra perusahaan. Sebagai dewan, kami terpaksa—"

​"Menjatuhkan hak veto karena saya melanggar Klausul Moral?!" potongku tajam, menarik kursi dan duduk dengan postur menantang. Bumi berdiri diam di belakang kursiku, kedua tangannya bertumpu di sandaran kursiku, seolah menjadi dinding tak kasatmata yang melindungiku dari serangan.

​"Ini bukan hanya soal Klausul Moral," desis salah satu direktur senior, Pak Haris. "Ini soal tuduhan pembunuhan dan pernikahan paksa, Aruna! Saham kita terjun bebas!"

​Aku melirik Bumi. Dia mengangguk pelan.

​"Silakan periksa layar di depan Anda, Tuan-Tuan," kataku tenang.

​Bumi, dengan kecepatan dan efisiensi seorang jenius IT, menyambungkan tabletnya ke proyektor utama. Dalam hitungan detik, layar raksasa di ruang rapat itu tidak menampilkan grafik saham yang anjlok, melainkan sebuah diagram pelacakan IP (Internet Protocol).

​"Apa-apaan ini?!" Lukman mulai terlihat panik.

​"Itu adalah rekam jejak digital," suara Bumi memecah ketegangan, dingin dan profesional. "Tuduhan yang tersebar di media pagi ini berasal dari sebuah akun anonim. Namun, dengan sedikit analisis trace-route, saya berhasil melacak dari mana paket data pertama itu dikirimkan."

​Bumi menekan satu tombol. Sebuah alamat muncul di layar, diiringi nama perusahaan cangkang.

​"Alamat IP tersebut terdaftar pada server pribadi di sebuah vila di kawasan Sentul. Vila yang, secara kebetulan, terdaftar atas nama istri dari Bapak Lukman Wiratmadja, Dan jika ada di antara Anda yang masih termakan fitnah bahwa istri saya menyuap saya," tambah Bumi dengan suara menggelegar, "silakan cek catatan pernikahan kami. Mahar pernikahan kami hanya dua ratus ribu rupiah. Uang dari dompet saya sendiri, yang saya berikan dengan penuh keikhlasan. Tidak ada paksaan korporat dalam akad kami."

​Wajah Lukman pias seketika. Seluruh pasang mata di ruangan itu beralih menatapnya dengan penuh kecurigaan.

​"Jejak digital tidak pernah tidur, Pak Lukman," tambahku, memberikan pukulan terakhir. "Anda menuduh saya memanipulasi pernikahan, padahal Anda yang mensabotase perusahaan ini demi ambisi pribadi. Jika rapat ini terus dilanjutkan dengan agenda pencopotan saya, maka saya akan membawa bukti peretasan dan fitnah ini ke Bareskrim Polri hari ini juga. Pilihan ada di tangan Anda."

​Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat. Rencana Lukman hancur berkeping-keping. Klausul moral telah kupenuhi dengan surat nikah yang sah, dan fitnahnya telah kami patahkan dengan bukti digital.

​Untuk pertama kalinya sejak kematian Adrian, aku bisa bernapas lega di ruangan ini. Dan itu semua berkat pria yang berdiri dengan tenang di belakangku. Pria yang jasnya mungkin lebih mahal dari gajinya setahun, namun nyalinya jauh melampaui seluruh kekayaan di ruangan ini.

​Adrenalin itu perlahan menguap saat pintu penthouse mewa ku di lantai lima puluh tertutup rapat.

​Bunyi klik dari kunci otomatis terasa seperti garis pemisah antara realita kejam di luar sana, dan realita canggung yang kini harus kami hadapi di dalam sini.

​Aku melepaskan sepatu hak tinggiku, membiarkan telapak kakiku menyentuh karpet wol tebal. Rasa lelah yang luar biasa menghantam seluruh sendiku. Dua hari tanpa tidur yang layak, krisis Sifa, dan peperangan di kantor benar-benar menguras kewarasanku.

​Aku menoleh ke arah Bumi. Dia masih berdiri di dekat pintu, tampak sangat canggung. Setelan mahalnya tampak mulai menyiksanya. Dia melonggarkan dasinya dengan hela napas panjang, menatap sekeliling apartemenku yang luas, dingin, dan kaku. Tidak ada foto keluarga, tidak ada tanaman hias. Hanya ada perabotan monokrom, lukisan abstrak, dan jendela kaca raksasa yang menampilkan Jakarta dari atas awan.

​Sangat berbeda dengan rumah kecil ibunya yang hangat dan penuh cinta.

​"Ini... tempatku," gumamku kaku, tiba-tiba merasa harus menjelaskan kekosongan ruangan ini. "Atau, maksudku... tempat kita sekarang."

​Bumi menatapku. Tatapan tajam dan protektif yang tadi ia tunjukkan di kantor kini menghilang, digantikan oleh kesopanan seorang pria yang sedang menjaga jarak. "Tempat yang indah, Aruna. Tapi terlalu luas untuk satu orang."

​Kata-katanya menusuk tepat di bagian hatiku yang paling sepi. Aku membuang muka, berpura-pura sibuk melepaskan jam tanganku. "Kau bisa memilih kamar mana pun. Ada tiga kamar tamu di lorong sebelah kanan. Kamar utamaku ada di sebelah kiri."

​"Saya tidur di sofa saja," jawabnya cepat.

​Aku mengerutkan kening, berbalik menatapnya. "Bumi, ini bukan sinetron murahan. Sofaku memang mahal, tapi kau tidak akan bisa tidur nyenyak. Kau sudah bekerja sangat keras hari ini. Pakailah kamar tamu yang paling ujung. Ada kamar mandi dalamnya."

​Bumi tampak ragu, tangannya meremas ujung dasi yang sudah ia lepas. "Aruna, saya... saya takut kehadiran saya di sini justru membuat Anda tidak nyaman. Sesuai perjanjian kita, saya tidak akan melanggar batasan Anda."

​Ada dorongan aneh di dadaku untuk melangkah maju, untuk menyentuh lengannya dan mengatakan bahwa dia bukan ancaman bagiku. Namun, logika menahanku. Kami adalah orang asing yang disatukan oleh keputusasaan.

​Aku menatapnya dalam. "Bumi, kau baru saja berdiri di depan puluhan kamera, mempertaruhkan namamu, bahkan meretas paman suamiku demi melindungiku. Mengapa sekarang kau bertingkah seolah kau takut padaku?"

​Bumi menundukkan pandangannya. "Saya tidak takut pada Anda. Saya takut pada diri saya sendiri. Di luar sana, saya adalah perisai Anda. Tapi di dalam sini, saat hanya ada kita berdua... status itu berubah. Anda bukan sekadar atasan yang saya lindungi. Anda adalah istri yang sah secara agama."

​Napas tertahan di kerongkonganku. Cara dia mengucapkan kata istri dengan penuh penghormatan itu membuatku merasa... telanjang. Bukan dalam artian fisik, tapi jiwaku. Selama ini pria-pria di sekitarku memandangku karena posisiku atau lekuk tubuhku. Tapi Bumi memandangku melalui kacamata tanggung jawab spiritual yang begitu berat.

​Tanpa sadar, tanganku bergerak melepaskan kancing teratas blazer yang kukenakan, merasa tiba-tiba kegerahan.

​Melihat gerakanku, Bumi seketika membuang muka sepenuhnya ke arah jendela. Rahangnya mengeras.

​"Maaf," gumamnya cepat. "Aruna... bolehkah saya bertanya sesuatu?"

​"Ya?" Aku menghentikan tanganku, tiba-tiba merasa sangat sadar akan tubuhku sendiri.

​"Di mana arah kiblat?" tanyanya pelan. "Matahari sudah hampir terbenam, dan saya belum menunaikan salat Asar."

​Pertanyaan sederhana itu menghantamku lebih keras daripada tuduhan Lukman di ruang rapat tadi. Aku terdiam. Mulutku sedikit terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

​Arah kiblat!.

​Aku tinggal di apartemen ini selama tiga tahun, dan aku tidak tahu ke mana arah kiblat.

​Rasa malu yang pekat menjalar dari tengkuk hingga ke wajahku. Duniaku dipenuhi oleh analisis grafik saham, pergerakan kurs dolar, dan ekspansi perusahaan. Aku lupa kapan terakhir kali aku menggelar sajadah. Aku lupa bagaimana rasanya menundukkan kepala di hadapan sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri.

​"Aku... aku tidak tahu," jawabku akhirnya, suaraku nyaris seperti bisikan yang menyedihkan. Posisiku sebagai CEO yang tahu segalanya tiba-tiba terasa sangat tidak berguna.

​Bumi tidak menatapku dengan tatapan menghakimi. Dia hanya mengangguk pelan. Dia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah aplikasi, dan memutar tubuhnya perlahan hingga menghadap ke sudut ruangan di dekat rak buku.

​"Ke arah sana," gumamnya pelan. "Apakah saya boleh meminjam sedikit ruang di sudut itu?"

​"Tentu," kataku cepat, hampir panik. "Biar aku panggilkan housekeeping untuk membersihkan karpetnya, atau—"

​"Tidak perlu, Aruna. Lantai yang bersih sudah cukup bagi Tuhan," potongnya lembut.

​Aku menyingkir ke dapur, mengawasi dari kejauhan dengan dada yang bergemuruh. Aku melihat Bumi menggelar sajadah tipis yang selalu ia bawa di dalam tas kerjanya. Dia mengangkat kedua tangannya. "Allahu Akbar."

​Suaranya sangat pelan, sangat damai.

​Aku bersandar pada meja pantry marmerku yang dingin. Tanganku gemetar memegang gelas air putih. Aku membeli seorang suami untuk menyelamatkan perusahaanku. Tapi rasanya, aku justru membawa sebuah cermin raksasa ke dalam hidupku—sebuah cermin yang memantulkan betapa miskinnya jiwaku di balik segala kemewahan ini.

​Air mata yang tidak kuundang tiba-tiba menetes dari pelupuk mataku. Aku segera menghapusnya dengan kasar. Jangan menangis, Aruna. Kau tidak boleh terlihat lemah.

​Setelah selesai berdoa, Bumi melipat sajadahnya. Dia tampak jauh lebih tenang sekarang, seolah beban pekerjaannya sudah luruh bersama air wudu.

​Dia berjalan mendekat ke arah dapur. Matanya menangkap mataku yang sedikit memerah, tapi dengan kebijaksanaan yang luar biasa, dia tidak mengomentarinya.

​"Saya akan ke rumah sakit malam ini untuk menemani Ibu menjaga Sifa. Anda tidak perlu ikut, beristirahatlah. Anda terlihat sangat pucat," ucapnya, nadanya kini lebih rileks.

​Aku mengangguk pelan. "Kabari aku jika terjadi sesuatu."

​Bumi mengambil tas ransel kusamnya—satu-satunya barang bawaannya yang ia bawa ke apartemen ini. Namun, sebelum ia melangkah menuju pintu, ia mengeluarkan laptopnya.

​"Ada satu hal lagi, Aruna," ekspresi Bumi kembali menjadi serius. Insting programmer-nya kembali mengambil alih. "Sejak saya menyambungkan perangkat saya ke jaringan Wi-Fi pribadi apartemen Anda lima menit yang lalu, sistem pelacak otomatis saya mendeteksi sebuah anomali."

​Aku mengerutkan kening. "Anomali apa? Jaringan di apartemen ini dienkripsi oleh tim sekuriti kita."

​Bumi berjalan mendekat, membuka layar laptopnya dan menunjukkan rentetan kode hijau yang bergerak cepat. "Enkripsi itu berguna untuk mencegah serangan dari luar. Tapi tidak berguna jika penyusupnya ada di dalam."

​"Maksudmu... seseorang meretas kita lagi?" tanyaku, jantungku kembali berpacu.

​Bumi menggeleng lambat. Matanya menyusuri setiap sudut langit-langit apartemenku, ke arah pendingin ruangan, lalu ke arah detektor asap di atas meja kerjaku.

​"Bukan peretasan dari jarak jauh," bisik Bumi, suaranya kini dipenuhi kewaspadaan yang membuat bulu kudukku meremang. Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku, agar suaranya tidak menggema di ruangan itu.

​"Ada transmisi data aktif berupa audio dan visual yang sedang dikirimkan dari dalam apartemen ini ke server eksternal secara real-time."

​Aku menahan napas. "Apa... apa artinya itu?"

​Mata Bumi menatapku dengan kilat tajam yang mengerikan. "Artinya, Aruna... selama ini ada kamera tersembunyi dan alat penyadap di dalam rumah Anda sendiri. Dan seseorang sedang mendengarkan pembicaraan kita sejak kita masuk."

​Duniaku runtuh untuk kedua kalinya hari ini.

​Jika Lukman atau siapa pun telah menyadap apartemenku... maka mereka tahu. Mereka tahu bahwa pernikahan ini diawali oleh kontrak dua miliar rupiah. Dan yang lebih parah, siapa yang memiliki akses ke apartemen pribadiku selain aku dan... mendiang suamiku, Adrian?

​____________________________________________

Bumi memberikan isyarat agar Aruna diam. Ia berjalan mengendap-endap mengikuti sinyal dari laptopnya, menuju sebuah lukisan besar hadiah ulang tahun dari mendiang Adrian yang tergantung di ruang tamu. Saat Bumi menyingkirkan lukisan itu, Aruna menutup mulutnya untuk menahan jeritan. Di balik lukisan itu, terdapat sebuah pemancar kecil dengan lampu merah yang berkedip pelan. Lampu itu masih aktif. Pertanyaannya, siapa yang menaruhnya di sana?

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!