Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
**"
Pagi menyapa Desa Sukamaju dengan sisa-sisa ketegangan yang menggantung di udara. Rumah pribadi milik Bagas yang biasanya hangat oleh tawa, kini terasa sunyi dan dingin. Laras terbangun di kamar anak-anak dengan mata sembab dan tubuh yang terasa seberat timah. Tidur di antara Gilang dan Arka memang memberinya sedikit pelipur lara, namun setiap kali ia teringat wajah Bagas yang membentaknya semalam, dadanya kembali sesak.
Laras menyeret kakinya ke dapur, mencoba menjalani rutinitas meski setiap tarikan napasnya terasa berat. Ia sedang mencuci piring ketika mendengar suara motor Bagas membelah halaman. Laki-laki itu rupanya baru kembali dari kantor desa untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal.
Baru saja Bagas melangkah masuk ke rumah, sebuah mobil sedan putih mengkilap—pemandangan yang jarang di desa itu—berhenti tepat di depan teras. Jantung Laras berdegup kencang. Firasatnya memburuk.
Pintu mobil terbuka, dan keluarlah sosok wanita yang langsung membuat Laras merasa seperti remah-remah di bawah lantai. Siska. Wanita itu tampil memukau dengan kemeja sutra berwarna nude yang pas di tubuh, rok span hitam di atas lutut yang menonjolkan kaki jenjangnya, serta rambut yang disanggul modern tanpa cela. Aroma parfum mahalnya seketika menyerbu masuk, mengalahkan bau masakan Laras di dapur.
"Aduh, maaf ya Pak Bagas, saya lancang langsung ke rumah. Soalnya berkas dana jembatan Dusun Tiga ada yang ketinggalan tanda tangan di tas saya kemarin," ucap Siska dengan suara yang mendayu, matanya hanya tertuju pada Bagas.
Bagas tampak terkejut, ia melirik ke arah dapur di mana Laras berdiri mematung dengan tangan yang masih basah. "Oh, Bu Siska. Iya, silakan duduk dulu."
Laras, meski hatinya remuk, mencoba tetap teguh pada posisinya sebagai istri Kepala Desa. Ia berjalan perlahan keluar dari dapur, tangannya memegangi perut delapan bulannya yang kencang. Daster batik biru yang ia pakai tampak begitu kontras dengan pakaian branding yang dikenakan Siska.
"Eh, ini istrinya Pak Bagas ya?" tanya Siska dengan nada yang seolah-olah baru menyadari keberadaan Laras. Ia menatap Laras dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara kasihan dan meremehkan.
"Iya, saya Laras," jawab Laras singkat, mencoba menahan suaranya agar tidak bergetar.
"Pak Bagas, kok istrinya nggak diajak ke kota sesekali buat perawatan? Kasihan lho, hamil besar begini kelihatannya capek sekali. Wajahnya sampai kusam gitu," sindir Siska sambil tertawa kecil, tangannya dengan berani menyentuh lengan Bagas untuk menunjukkan keakraban.
Laras merasakan ulu hatinya seperti ditusuk. Ia ingin membalas, tapi lidahnya kelu.
Siska duduk di ruang tamu dengan gaya yang sangat anggun, menyilangkan kakinya yang putih mulus. Sementara Laras, dengan napas yang mulai tersengal karena posisi duduk yang tidak nyaman di kursi jati, berusaha menyajikan teh hangat.
"Pak Bagas ini sibuk sekali ya di desa. saya sering bilang ke dia kemarin pas makan siang, laki-laki hebat itu butuh pendamping yang energik, yang bisa update soal dunia luar. Bukan cuma yang pusing urus anak kecil dan dapur," lanjut Siska tanpa memedulikan perasaan Laras yang ada di depannya.
Ia menoleh ke arah Laras, lalu melirik perut buncit itu. "Aduh, sudah delapan bulan ya? Wah, badannya jadi melar sekali ya sekarang? Pasti Pak Bagas sering kesepian ya di kantor kalau di rumah istrinya cuma bisa rebahan karena keberatan perut?"
Siska menutup mulutnya, pura-pura merasa bersalah. "Eh, maaf ya Bu Laras, saya cuma bercanda. Habisnya, saya lihat Pak Bagas ini masih sangat gagah, jadi jomplang saja kalau dilihat."
Tangan Laras yang memegang nampan gemetar hebat. Air mata sudah menggantung di kelopaknya. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak di rumahnya sendiri, di depan suaminya sendiri. Ia melirik ke arah Bagas, berharap laki-laki itu akan menghentikan hinaan terselubung ini.
Bagas terdiam sejenak. Ia menatap Siska, lalu beralih menatap Laras. Ia melihat istrinya yang pucat, yang sedang menahan tangis, yang selama ini telah memberikan segalanya—masa mudanya, mimpinya, dan kini sedang mengandung buah cintanya yang ketiga.
Kesadaran itu menghantam Bagas seperti godam besar.
Bagas menarik napas panjang, wajahnya yang tadi tampak ramah seketika berubah menjadi kaku dan sedingin es. Ia meletakkan cangkir tehnya ke meja dengan bunyi denting yang cukup keras, membuat Siska tersentak.
"Bu Siska," panggil Bagas dengan nada rendah yang penuh otoritas. Ia tidak lagi memanggil "Aku-Kamu" seperti cara bicara Siska tadi.
"I-iya, Pak Bagas?" Siska tampak sedikit bingung melihat perubahan ekspresi Bagas.
"Pertama, di rumah ini, Anda tamu saya. Dan orang yang Anda sebut 'melar' dan 'kusam' itu adalah istri saya. Dia adalah alasan kenapa saya bisa berdiri tegak memimpin desa ini tanpa perlu khawatir urusan rumah tangga," ucap Bagas tajam. Pandangannya menghujam mata Siska.
Siska tertawa canggung. "Lho, Pak, kan saya cuma bercanda—"
"Bercanda itu kalau kedua belah pihak tertawa. Saya tidak tertawa, apalagi istri saya," potong Bagas tanpa ampun. Bagas berdiri, postur tubuhnya yang gagah kini terasa sangat mengintimidasi di ruang tamu yang kecil itu.
"Laras memang memakai daster, karena dia sedang mengandung anak saya. Dia sedang berjuang memberikan kehidupan bagi garis keturunan saya. Bagi saya, daster yang dia pakai jauh lebih mulia daripada pakaian mahal manapun yang hanya dipakai untuk mencari perhatian laki-laki lain."
Laras terpaku. Ia menatap Bagas dengan mulut sedikit terbuka. Pembelaan itu... itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia sangka akan keluar dari mulut suaminya yang seringkali dominan dan keras kepala.
Bagas melangkah menuju pintu depan, membukanya lebar-lebar. "Urusan dokumen sudah selesai saya tanda tangani tadi.
Sekarang, silakan Bu Siska pergi dari rumah saya. Dan satu hal lagi, mulai besok, semua urusan koordinasi dinas, silakan melalui sekretaris desa saya di kantor. Jangan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah pribadi saya jika hanya untuk menghina keluarga saya."
Wajah Siska memerah padam. Ia tampak sangat dipermalukan. Dengan gerakan terburu-buru, ia menyambar tasnya dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Suara deru mobilnya yang menjauh meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang tamu.
Setelah mobil Siska menghilang dari pandangan, Bagas berbalik. Ia menatap Laras dengan tatapan yang penuh rasa bersalah. Ia ingin mendekat, ingin memeluk istrinya yang kini sudah terisak tanpa suara.
"Ras... Mas minta maaf..." bisik Bagas pelan.
Laras tidak menjawab. Pembelaan Bagas memang sangat menyentuh dan tegas, namun luka yang ditanamkan sejak semalam dan sindiran Siska barusan sudah terlalu dalam menggores hatinya. Ia merasa tidak cukup kuat untuk sekadar tersenyum atau memaafkan saat itu juga.
Laras hanya menatap Bagas sekilas dengan mata yang merah, lalu tanpa sepatah kata pun, ia berbalik. Ia berjalan perlahan, menyeret langkahnya yang berat menuju kamar utama.
"Ras, tunggu dulu, Mas mau bicara—"
Laras tidak menggubris. Ia masuk ke dalam kamar, menutup pintu jati yang berat itu, dan terdengar bunyi kunci yang diputar dua kali dari dalam. Klik. Klik.
Bagas berdiri mematung di depan pintu kamar yang terkunci. Ia menyandarkan dahinya ke daun pintu, mendesah frustrasi. Ia sadar, memenangkan perdebatan dengan Siska sangat mudah, namun memenangkan kembali hati Laras yang telah ia sakiti adalah perjuangan yang jauh lebih besar.
Di dalam kamar, Laras merosot duduk di balik pintu. Ia memeluk lututnya (sebatas perutnya yang besar mengizinkan) dan menangis sejadi-jadinya. Di tengah kepedihannya, ia merasakan tendangan janinnya yang sangat aktif, seolah ikut protes atas badai yang sedang melanda rumah mereka. Malam ini, meski Bagas sudah membuktikan kesetiaannya, jarak antara mereka justru terasa kian jauh di balik pintu yang terkunci rapat.
****
Bersambung....