NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

Gunung Sandaran perlahan menghilang di balik punggungku, tertutup oleh kabut tebal yang seolah-olah sengaja menyembunyikan tempat pelarianku selama delapan tahun ini. Semakin jauh kami melangkah menuruni lereng, udara yang tadinya murni dan dingin mulai berubah menjadi berat, pengap, dan berbau amis—perpaduan antara keringat manusia, besi karat, dan busuknya sampah.

"Ingat pesanku, Qinar," bisik Ki Kusumo. Penampilannya kini berubah total; bajunya yang compang-camping semakin kumal, wajahnya diolesi arang, dan punggungnya dibungkukkan sengaja agar terlihat seperti kakek renta yang sudah satu kaki di liang lahat.

Aku mengangguk pelan. Aku mengenakan jubah rami yang kasar dan kebesaran. Tudungnya kututupkan hingga menutupi sebagian wajahku. Tanganku yang memiliki tanda merah itu kulilit dengan kain perban kotor yang bau arak, agar terlihat seperti luka borok yang menjijikkan.

"Jangan bicara. Jangan menatap mata siapa pun lebih dari dua detik. Dan yang paling penting... tekan Qi-mu sampai ke titik nol," lanjutnya.

"Aku mengerti, Ki. Aku akan jadi bayangan," balasku dengan suara yang sengaja kuserakkan.

Kami sampai di sebuah celah sempit di antara dua tebing batu hitam yang menjulang tinggi. Di depannya, berdiri dua orang pria bertubuh raksasa dengan tato kalajengking di leher mereka. Mereka memegang kapak besar yang masih bercak darah kering.

"Biaya masuk. Dua keping perak atau satu telinga," geram salah satu dari mereka, suaranya parau seperti suara gesekan batu.

Ki Kusumo merogoh kantong kumalnya, mengeluarkan dua keping perak yang sudah kusam, dan melemparkannya dengan tangan gemetar yang dibuat-buat. "Hanya ini yang kami punya, Tuan yang gagah... tolong biarkan kami lewat untuk mencari sisa makanan."

Salah satu penjaga itu meludah ke arah kaki Ki Kusumo, lalu menatapku dengan curiga. Aku menundukkan kepala sedalam mungkin, membiarkan tubuhku sedikit menggigil seolah ketakutan setengah mati.

"Masuklah, sampah! Dan jangan sampai mati di dalam, atau mayatmu hanya akan jadi pakan babi!"

Pintu gerbang kayu yang berat itu terbuka—krieekk—dan di depanku, terbentanglah Pasar Setan.

Pemandangannya sungguh gila. Ini bukan pasar desa yang penuh dengan tawa dan sayur-sayuran segar. Di sini, jalanannya becek oleh air hitam. Di kiri dan kanan, orang-orang dengan wajah penuh bekas luka duduk di balik meja-meja kayu, memajang barang-barang yang tak masuk akal: taring binatang buas, botol-botol berisi cairan hijau yang berasap, hingga potongan jari manusia yang diawetkan.

Deg-deg, deg-deg, deg-deg...

Suara detak jantung mulai menghujam kepalaku. Berkat latihan "Suara Alam" kemarin, aku bisa mendengar ribuan detak jantung sekaligus di tempat ini. Dan Ki Kusumo benar; detak jantung manusia di sini sangat berisik oleh kebohongan. Ada yang detaknya cepat karena sedang merencanakan pencopetan, ada yang sangat lambat dan dingin milik para pembunuh yang sedang mengincar mangsa.

"Lihat ke sana, Qinar," bisik Ki Kusumo tanpa menggerakkan bibirnya secara mencolok.

Aku melirik ke arah sebuah panggung kayu di tengah pasar. Di atasnya, beberapa orang dirantai lehernya seperti binatang. Mereka dilelang sebagai budak. Salah satunya adalah seorang anak laki-laki yang mungkin seusiaku, tubuhnya penuh memar dan matanya kosong tanpa harapan.

Napas petirku hampir saja bergejolak karena amarah melihat pemandangan itu. Tanganku mengepal di balik jubah.

"Tahan!" Ki Kusumo mencengkeram bahuku dengan jari-jarinya yang kuat. "Kau bukan pahlawan di sini. Jika kau bertindak sekarang, kau bukan hanya membunuh dirimu sendiri, tapi kau akan membocorkan keberadaan kita kepada mereka yang sudah mencarimu selama delapan tahun."

Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menekan amarahku. "Maaf, Ki."

Kami terus berjalan menyusuri lorong yang sempit. Tiba-tiba, seorang pria berpakaian kulit ular dengan pedang besar di punggungnya menghadang jalan kami. Matanya yang merah menatap ke arah perban di pergelangan tanganku.

"Hei, Tua Bangka! Bocah itu... baunya aneh," ucap pria itu sambil mengendus udara. "Darahnya... baunya terlalu segar untuk seorang peminta-minta. Apa dia seorang kultivator muda?"

Jantungku berdegup kencang. Pria ini bukan manusia biasa; dia punya dasar Kultivasi, mungkin Level 1 atau 2.

Ki Kusumo langsung bersujud di tanah, menangis tersedu-sedu. "Ampun, Tuan! Cucu saya ini sakit parah! Dia terkena kutukan kusta gunung, darahnya sudah membusuk! Makanya baunya aneh! Jangan dekat-dekat, nanti Tuan tertular!"

Pria itu langsung melompat mundur dengan wajah jijik. "Cuih! Sampah pembawa penyakit! Pergi dari hadapanku sebelum kupenggal kepala kalian!"

Kami segera berlari kecil melewati pria itu. Setelah cukup jauh, Ki Kusumo menghela napas lega.

"Lihat? Mereka seperti serigala. Mereka tidak butuh alasan untuk membunuh, mereka hanya butuh bau kelemahan," ucap Ki Kusumo.

Kami sampai di sebuah kedai tua yang bangunannya hampir roboh. Di atas pintunya tergantung papan kayu bertuliskan Kedai Tanpa Nama. Di sinilah, menurut Ki Kusumo, informasi paling rahasia di lima kerajaan diperjualbelikan.

"Kenapa kita ke sini, Ki?" tanyaku pelan saat kami masuk ke dalam kedai yang remang-remang dan penuh asap rokok.

"Kau ingin tahu tentang ayahmu, bukan?" Ki Kusumo duduk di pojok ruangan yang paling gelap. "Di sini ada seorang informan tua bernama Si Telinga Tikus. Dia tahu setiap helai rambut yang jatuh di istana-istana besar."

Aku tertegun. Jadi Ki Kusumo membawaku ke sini untuk mencari jawaban yang selama ini ia tutup-tutupi?

Seorang pria mungil dengan hidung yang terus bergerak-gerak seperti tikus mendekati meja kami. Matanya yang kecil menyipit menatap kami berdua.

"Lama tidak melihatmu, si Pemabuk dari Gunung," ucap Si Telinga Tikus dengan suara melengking. "Siapa bocah busuk ini? Barang dagangan barumu?"

"Dia cucuku," jawab Ki Kusumo singkat, meletakkan satu koin emas—yang entah sejak kapan ia miliki—ke atas meja. "Aku ingin berita terbaru dari Kerajaan Geedapa. Terutama tentang Sang Kaisar dan... anak-anaknya."

Mendengar kata 'Geedapa', kepalaku serasa dihantam palu. Itu nama kerajaan yang pernah disebut Ki Kusumo secara tak sengaja sebelumnya.

Si Telinga Tikus mengambil koin itu, menggigitnya untuk memastikan keasliannya, lalu berbisik pelan. "Geedapa sedang dalam masa berdarah. Kaisar sedang mencari sesuatu yang hilang delapan tahun lalu. Katanya, siapa pun yang bisa memberikan informasi tentang 'Cahaya Merah yang Terbuang', akan diberikan jabatan Jenderal Besar."

Tanda merah di pergelangan tanganku mendadak terasa sangat panas, seolah-olah ia bereaksi terhadap kata-kata itu.

"Apa ada yang sudah menemukannya?" tanya Ki Kusumo, suaranya terdengar sangat tegang.

"Belum. Tapi para Pembunuh Bayaran Bayangan sudah dikerahkan ke arah timur... menuju pegunungan ini," jawab Si Telinga Tikus.

Aku menatap Ki Kusumo. Wajahnya yang kotor kini tampak pucat. Tanpa perlu kata-kata, aku tahu; masa tenangku di atas gunung sudah berakhir. Dunia luar sedang mengepungku, dan mereka tidak datang untuk membawaku pulang dengan penuh cinta, tapi untuk menghabisi nyawaku.

"Kita harus pergi. Sekarang," bisik Ki Kusumo.

Namun, sebelum kami sempat berdiri, pintu kedai ditendang hingga hancur. Sekelompok pria berpakaian hitam dengan lambang matahari hitam di dada mereka masuk. Suasana kedai mendadak sunyi senyap. Detak jantung di ruangan itu mendadak sinkron dalam satu nada: ketakutan.

"Geedapa... mereka sudah di sini," bisikku dalam hati, tanganku mengepal erat di balik jubah, siap melepaskan Napas Petir jika keadaan memburuk.

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!