NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taring Dibalik Semak

Episode 2

Reno berlari secepat yang ia bisa. Kakinya yang hanya beralaskan sandal kulit tipis menghantam akar-akar pohon yang menonjol dari tanah hutan yang lembap. Setiap kali kakinya mendarat, ia bisa merasakan kekuatan otot remajanya yang bekerja dengan maksimal. Di kehidupan sebelumnya, jangankan berlari menembus hutan, menaiki tangga kantornya saja ia sudah terengah engah. Namun sekarang, paru-parunya terasa seperti mesin bertenaga besar yang tak kenal lelah.

"Tolong! Pergi! Jangan mendekat!"

Suara teriakan terdengar semakin jelas. Suaranya gemetar, penuh dengan ketakutan yang mendalam. Reno mempercepat langkahnya, menebas ranting-ranting yang menghalangi jalan dengan sabit di tangannya. Begitu ia melewati sebuah pohon beringin raksasa, ia sampai di sebuah area terbuka yang sedikit menanjak.

Di sana, ia melihat Lani sedang tersudut di bawah sebuah tebing batu. Gadis itu jatuh terduduk, tangannya gemetar memegang sebuah keranjang anyaman yang berisi bunga-bunga hutan yang kini berhamburan. Di depannya, sekitar tiga meter jauhnya, seekor binatang buas sedang menggeram rendah.

Itu bukan Belalang Sembah seperti yang Reno lawan tadi. Binatang ini jauh lebih berbahaya. Tubuhnya seperti serigala, tapi bulunya kaku seperti duri landak, dan dari mulutnya keluar air liur yang mengeluarkan asap tipis saat menyentuh tanah.

"Serigala Berduri... Tingkat Perunggu Tahap Menengah," gumam Reno, matanya menyipit waspada.

Binatang ini adalah predator yang jauh lebih cerdik daripada serangga. Serigala Berduri dikenal karena kecepatannya dan kemampuannya untuk menembakkan duri dari punggungnya jika merasa terancam.

"Hoh, ini baru namanya makanan!" Suara Nidhogg bergema di kepala Reno dengan nada antusias. "Energi di dalam jantung serigala itu sepuluh kali lipat lebih murni daripada belalang hijau tadi. Reno, berikan dia padaku! Aku ingin merasakan darah hangat!"

"Diam lah dulu, Nidhogg. Ini tidak akan mudah," balas Reno dalam hati. Ia tidak bisa langsung melempar Nidhogg begitu saja. Jika serigala itu bergerak sedikit saja, Nidhogg bisa meleset dan Lani akan berada dalam bahaya besar.

Reno melangkah keluar dari bayang-bayang pohon. "Lani! Jangan bergerak! Tetap di tempatmu!"

Lani menoleh dengan wajah pucat pasi. Air mata mengalir di pipinya. "Re..Reno? Pergi dari sini! Serigala ini sangat kuat! Panggil bantuan!"

Serigala Berduri itu mengalihkan pandangannya dari Lani ke arah Reno. Matanya yang berwarna kuning pucat berkilat penuh nafsu membunuh. Ia menganggap Reno sebagai ancaman yang lebih besar atau mungkin hanya sebagai hidangan tambahan.

"Grrrrr..." Serigala itu merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menerjang.

"Manusia, kenapa kau ragu?" Nidhogg mendesak. "Lempar aku sekarang! Biar ku hisap otaknya!"

"Tunggu moment yang tepat, Nidhogg. Aku bukan hanya ingin membunuhnya, aku ingin memastikan Lani selamat," bisik Reno pelan.

Reno memutar sabitnya, mencoba memancing perhatian si serigala. Di kehidupan lamanya, Arka adalah seorang negosiator ulung yang selalu bisa membaca gerakan lawan bicaranya. Meskipun sekarang lawannya adalah binatang buas, prinsipnya tetap sama, amati pola gerakannya.

Tiba-tiba, serigala itu melompat. Kecepatannya luar biasa, seperti kilat abu-abu yang melesat di udara.

"Sekarang!"

Reno tidak melempar Nidhogg. Sebaliknya, ia menjatuhkan dirinya ke tanah, berguling ke samping untuk menghindari terjangan maut tersebut. Serigala itu mendarat di tempat Reno berdiri tadi, cakarnya merobek tanah hingga dalam. Begitu mendarat, serigala itu langsung memutar tubuhnya dengan lincah.

Sret! Sret! Sret!

Tiga buah duri tajam meluncur dari punggung serigala itu ke arah Reno. Reno mengangkat sabitnya, mencoba menangkis duri-duri itu.

TING!

Satu duri berhasil ia tangkis, namun dua lainnya menggores lengannya. Darah segar mulai mengucur. Aroma darah itu tampaknya membuat serigala itu semakin ganas.

"Kau terluka, Manusia Lemah! Berikan aku kendali atas tubuhmu atau setidaknya beri aku makan!" Nidhogg berteriak marah di dalam kepala Reno.

Reno mengabaikan rasa perih di lengannya. Ia menatap tajam ke arah serigala yang sedang bersiap untuk serangan kedua. "Lani, sekarang! Lari ke belakang pohon besar itu!" teriaknya.

Lani, meski gemetar, segera bangkit dan berlari sesuai instruksi Reno. Hal ini membuat serigala itu terdistraksi sejenak. Ia bingung harus mengejar mangsa yang mana. Kebingungan kecil itulah yang dicari oleh Reno.

Reno berlari maju, bukan menjauh. Ia menutup jarak antara dirinya dan monster itu.

"Nidhogg, gunakan teknik mu sekarang!"

Reno merogoh kantong bajunya, tapi kali ini ia tidak melempar Nidhogg ke udara. Ia membiarkan Nidhogg merayap ke telapak tangannya. Saat serigala itu membuka mulutnya untuk menggigit leher Reno, Reno justru menyodorkan telapak tangannya yang berisi cacing merah itu tepat ke depan moncong si serigala.

Zap!

Kabut hitam yang jauh lebih pekat dari sebelumnya meledak dari tubuh Nidhogg. Kabut itu berbentuk seperti tentakel-tentakel gelap yang langsung melilit mulut dan mata serigala tersebut.

"Soul Devour, Tahap Menengah!" Nidhogg berseru dengan suara yang mengguncang jiwa Reno.

Serigala Berduri itu mencoba melolong, tapi tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya yang besar mendadak kaku di udara. Reno bisa melihat pemandangan yang mengerikan, energi berwarna biru redup sedang ditarik paksa dari lubang hidung dan mulut serigala itu, mengalir langsung ke tubuh kecil Nidhogg.

Serigala itu mencoba meronta, mencakar cakar udara dengan liar, namun kekuatannya hilang dengan sangat cepat. Bulu bulunya yang tajam mulai rontok, kulitnya menyusut, dan matanya yang kuning perlahan berubah menjadi putih kosong. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, binatang yang tadinya gagah itu berubah menjadi tumpukan kulit dan tulang yang kering.

Bruk.

Bangkai serigala itu jatuh ke tanah tanpa daya. Nidhogg menggeliat di telapak tangan Reno. Sekarang, ukuran cacing itu bertambah panjang sekitar dua sentimeter, dan di punggungnya muncul garis hitam tipis yang menyerupai sisik naga.

"Hah... Ini baru namanya makanan penutup yang layak," Nidhogg berkata dengan nada puas. "Darah serigala ini mengandung sedikit elemen angin. Cukup untuk memperkuat kulitku."

Reno terduduk di tanah, napasnya memburu. Ia menatap lengannya yang terluka. Meskipun sakit, ia merasa puas. "Kau benar-benar monster, Nidhogg."

"Aku sudah bilang, aku adalah pemusnah. Seharusnya kau bangga memilikiku," balas Nidhogg sombong.

"Reno? Apakah... apakah sudah selesai?" suara Lani terdengar dari balik pohon.

Reno segera menyembunyikan Nidhogg kembali ke dalam kantong bajunya. Ia tidak ingin Lani melihat teknik mengerikan milik cacingnya. "Sudah, Lani. Dia sudah... mati."

Lani berjalan mendekat dengan langkah ragu. Begitu melihat bangkai serigala yang kering kerontang itu, ia menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak ngeri. "Apa yang terjadi padanya? Kenapa serigala ini terlihat seperti sudah mati bertahun-tahun?"

Reno memutar otaknya cepat. Sebagai mantan CEO, berbohong demi kebaikan adalah keahliannya. "Mungkin dia memang sakit. Ayahku pernah bilang ada penyakit hutan yang membuat binatang mati mendadak dan tubuhnya menyusut. Aku hanya beruntung bisa menghindarinya sampai dia tumbang sendiri."

Lani menatap Reno dengan tatapan tidak percaya, namun ia terlalu shock untuk bertanya lebih lanjut. Ia melihat luka di lengan Reno dan segera mendekat. "Kau terluka karena melindungi ku! Maafkan aku, Reno. Seharusnya aku tidak pergi ke hutan sedalam ini sendirian."

Lani merobek sebagian kain dari ujung bajunya dan dengan lembut membalut luka di lengan Reno. Wajahnya yang cantik berada sangat dekat dengan Reno. Aroma harum bunga hutan dari tubuh Lani tercium oleh hidung Reno.

Deg.

Jantung Reno berdegup kencang. Bukan karena cinta monyet remaja, tapi karena otaknya secara otomatis memunculkan bayangan sepuluh istrinya dulu. Aduh, jangan lagi... wanita cantik selalu membawa masalah, batin Reno sambil sedikit menjauhkan wajahnya.

"Tidak apa-apa, Lani. Yang penting kau selamat. Ayo, kita harus segera keluar dari sini sebelum ada binatang lain yang datang karena mencium bau darah," ucap Reno tegas.

Lani mengangguk patuh. Ia membantu Reno memunguti bunga bunganya yang berhamburan, lalu mereka berjalan bersama keluar dari hutan.

Sepanjang perjalanan pulang, Reno lebih banyak diam. Di dalam pikirannya, ia sedang berbicara serius dengan Nidhogg.

"Nidhogg, jelaskan padaku. Berapa banyak lagi energi yang kau butuhkan agar bisa berubah bentuk? Aku tidak bisa terus menerus mengandalkan keberuntungan seperti tadi."

"Kau ingin aku berevolusi? Heh, kau harus lebih rajin berburu, Manusia. Saat ini aku berada di tahap Larva Dasar. Untuk menjadi Cacing Sisik Besi, aku butuh mengonsumsi setidaknya tiga puluh inti jantung binatang Tingkat Perunggu. Atau..." Nidhogg menggantung kalimatnya.

"Atau apa?"

"Atau satu inti jantung binatang Tingkat Perak. Jika aku mencapai bentuk Sisik Besi, aku akan memiliki pertahanan fisik yang kuat. Kau bahkan bisa menggunakan ku sebagai senjata atau pelindung. Aku tidak akan lagi berbentuk lunak seperti ini."

Reno mengangguk paham. Tiga puluh binatang Tingkat Perunggu bukan jumlah yang sedikit bagi seorang anak petani miskin. Jika ia tiba-tiba membawa pulang banyak kristal inti, orang desa akan curiga. Ia harus melakukan ini secara diam-diam.

Saat mereka sampai di pinggiran desa, hari sudah mulai sore. Langit berubah menjadi warna oranye kemerahan. Lani berhenti di depan rumahnya yang sederhana namun rapi.

"Reno, terima kasih banyak untuk hari ini. Aku... aku akan menceritakan kebaikanmu pada ayahku. Dia pasti akan memberimu hadiah," ucap Lani dengan wajah merona merah.

"Tidak usah, Lani. Anggap saja ini rahasia kita. Aku tidak ingin orang tuaku khawatir jika tahu aku melawan Serigala Berduri," jawab Reno sambil tersenyum tipis.

Lani terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi setidaknya, biarkan aku membantumu mengobati lukamu lagi besok."

Tanpa menunggu jawaban Reno, Lani berlari masuk ke rumahnya. Reno hanya bisa menggelengkan kepala. Wanita... di dunia mana pun, mereka selalu sulit dimengerti.

Reno melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya sendiri. Begitu sampai di halaman, ia melihat ibunya sedang mencuci beras di sumur, sementara ayahnya baru saja kembali dari sawah dengan lumpur di sekujur kakinya.

"Reno! Dari mana saja kamu? Kenapa sampai sore begini?" tanya Siti, ibunya, dengan nada khawatir.

"Ini, Bu. Reno dapat banyak kayu bakar dan sedikit tanaman obat," Reno menunjukkan keranjang kayunya. Di bagian bawah keranjang itu, tersembunyi sebuah kristal inti berwarna kuning dari serigala tadi. Reno memutuskan untuk tidak menunjukkan kristal itu sekarang.

Pak Darman mendekat, melihat luka di lengan Reno. "Lenganmu kenapa, Nak?"

"Tadi cuma tergores ranting tajam saat mengejar kelinci, Pak. Tidak apa-apa," jawab Reno berbohong.

Pak Darman menghela napas lega. "Lain kali lebih hati-hati. Oh ya, besok ada pengumuman dari kota. Katanya, Akademi Penjinak Binatang akan membuka pendaftaran beasiswa untuk anak-anak desa. Bapak ingin kamu mencoba, Reno."

Reno tertegun. "Akademi?"

"Iya. Walaupun binatang kontrakmu hanya seekor cacing, siapa tahu di sana ada guru yang bisa membantumu melatihnya. Setidaknya, jika kamu masuk akademi, masa depanmu tidak akan seberat Bapak," ucap Pak Darman sambil menepuk bahu Reno dengan tangan kasarnya yang penuh kasih sayang.

Reno menatap ayahnya, lalu meraba kantong bajunya di mana Nidhogg berada. Masuk ke akademi berarti ia akan memiliki akses ke hutan perburuan yang lebih luas dan pengetahuan tentang berbagai jenis binatang buas. Tapi itu juga berarti ia harus menyembunyikan identitas asli Nidhogg dari mata-mata ahli di sana.

"Akademi? Tempat berkumpulnya manusia-manusia sombong itu?" Nidhogg mendengus di kepala Reno. "Tapi tak apa, Reno. Di sana pasti banyak binatang buas yang kuat untuk ku makan. Aku setuju, mari kita pergi ke sana dan buat mereka semua berlutut di bawah kaki seorang penjinak cacing!"

Reno tersenyum lebar. Sebuah rencana besar mulai terbentuk di kepalanya. "Baik, Pak. Reno akan mencoba pendaftaran itu besok."

Malam itu, di bawah temaram lampu minyak, Reno duduk di dipannya sambil melihat Nidhogg yang mulai tertidur di dalam mangkuk tanah liat. Ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Jalan menuju puncak memang lambat, tapi setiap langkah yang ia ambil akan meninggalkan bekas yang tak terlupakan di dunia ini.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!