Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Mobil SUV mewah yang dikendarai oleh sopir pribadi keluarga Cavanaugh membelah jalanan kota yang mulai padat. Di kursi belakang, dua remaja yang tumbuh besar bersama itu duduk bersisian.
Liam Cavanaugh, dengan aura kepemimpinan yang sudah mendarah daging, dan Angelina Mettond, gadis yang selalu menjadi tempat bagi Liam untuk menumpahkan segala rahasia yang tidak bisa ia katakan pada ayahnya yang perfeksionis atau ibunya yang terlalu lembut.
Usia enam belas tahun ternyata memang usia yang sangat "berbahaya". Hormon yang meledak-ledak dan perasaan yang baru pertama kali muncul membuat dunia terasa jauh lebih berwarna sekaligus membingungkan.
"Angel... kau tidak akan percaya apa yang terjadi di perpustakaan tadi sebelum bel pulang," bisik Liam, suaranya sedikit bergetar, sesuatu yang sangat langka terjadi pada seorang pewaris Cavanaught.
Angelina mengalihkan pandangannya dari ponsel, menatap Liam dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu. "Tentang Clarissa lagi?"
Liam mengangguk cepat. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak sedikit memerah di bagian telinga. Clarissa adalah gadis tercantik di kelas mereka—pintar, populer, dan entah sejak kapan, ia dan Liam mulai sering menghabiskan waktu bersama untuk "belajar". Padahal semua orang tahu, Liam tidak butuh belajar tambahan.
"Tadi... saat kami sedang merapikan buku di rak paling belakang," Liam menjeda kalimatnya, menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian. "Dia sangat dekat denganku, Angel. Benar-benar dekat. Aku bisa mencium aroma parfum vanilanya. Dan tiba-tiba, dia menarik kerah seragamku."
Angelina membelalakkan mata, ia memutar posisi duduknya agar lebih menghadap Liam. "Lalu? Dia menyerangmu?"
"Hampir," Liam menutup wajahnya dengan satu tangan, malu. "Dia menatap bibirku lama sekali. Aku benar-benar deg-degan, Angel. Jantungku rasanya mau melompat keluar. Aku tahu dia ingin menciumku. Tapi... aku teringat pesan Dad tentang menjaga kehormatan wanita, jadi aku pura-pura melihat ke arah lain dengan canggung."
"Dan?"
"Dan akhirnya, dia hanya mencium pipiku. Tapi rasanya... wow," Liam mengembuskan napas panjang.
Angelina tertawa renyah, sebuah tawa yang entah kenapa terdengar sedikit dipaksakan di telinganya sendiri. "Ganas juga Clarissa itu. Aku tidak menyangka gadis pendiam seperti dia bisa seberani itu pada pangeran sekolah."
Angelina kemudian memukul lengan Liam dengan pelan, mencoba mengembalikan suasana akrab mereka. "Dengarkan aku, Liam. Pokoknya sebelum usiamu genap tujuh belas tahun, kau harus menahan diri. Jangan sampai kau melakukan hal-hal yang melampaui batas. Awas saja ya, kalau kau sampai berciuman bibir dengannya, aku akan langsung melapor pada Tante Catherina!"
Liam mendengus, namun ia tersenyum nakal. Sifat jahil Everest mulai muncul di wajahnya. "Kau mengancamku? Kau pikir aku selemah itu?"
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Liam menarik bahu Angelina dan mendaratkan sebuah ciuman cepat di pelipis gadis itu. Cup.
"Aku tidak mungkin menciumnya secepat itu, Bodoh. Aku masih tahu aturan," ucap Liam sambil tertawa melihat ekspresi Angelina yang mematung.
Kontak fisik di antara mereka memang sangat dekat. Sejak kecil, mereka sudah terbiasa berpelukan, berpegangan tangan, atau bersandar satu sama lain.
Bagi Liam, Angelina adalah adiknya, sahabatnya, dan separuh jiwanya dalam bentuk yang berbeda. Namun bagi Angelina, ciuman di pelipis tadi meninggalkan sengatan aneh yang membuatnya terdiam selama beberapa detik.
"Kau... kau ini benar-benar tidak sopan," gumam Angelina, mencoba menyembunyikan pipinya yang mendadak panas. Ia segera membuka buku catatan di pangkuannya. "Sudahlah, jangan bahas Clarissa terus. Bagaimana cara menyelesaikan soal kalkulus nomor lima ini, Liam? Aku benar-benar buntu semalam. Jika nilaiku turun, Mom tidak akan mengizinkanku ikut pesta ulang tahunmu bulan depan."
Liam mendekat, membuat bahu mereka saling bersentuhan. Ia mengambil pulpen dari tangan Angelina dan mulai menggoreskan angka-angka di atas kertas dengan sangat lincah.
"Lihat ini, Angel. Kau hanya perlu memecah fungsinya di sini..." suara Liam melunak saat menjelaskan.
Angelina pura-pura memperhatikan coretan di buku itu, namun matanya justru mencuri pandang ke profil samping wajah Liam. Garis rahang yang tajam, bulu mata yang lentik, dan aroma maskulin yang mulai terbentuk seiring bertambahnya usia pemuda itu.
Dalam hati, Angelina bertanya-tanya. Jika Liam begitu berdebar saat berada di dekat Clarissa, kenapa ia sendiri merasa jantungnya berpacu lebih kencang justru saat berada di dekat Liam? Mengapa ia merasa tidak suka saat Liam menceritakan tentang ciuman pipi dari gadis lain?
"Kau mengerti?" tanya Liam tiba-tiba, menoleh tepat ke arah mata Angelina.
Jarak mereka hanya beberapa inci. Angelina bisa melihat pantulan dirinya di mata kelam Liam.
"Ah... iya, mengerti," jawab Angelina cepat-cepat menjauhkan wajahnya. "Terima kasih, Liam."
"Sama-sama, Tuan Putri Mettond," goda Liam sambil mengacak rambut Angelina.
Di depan, sang sopir hanya tersenyum tipis melihat interaksi kedua anak majikannya itu melalui spion tengah. Ia telah bekerja untuk keluarga Cavanaugh selama belasan tahun dan tahu betul sejarah di balik kedua keluarga ini. Ia melihat bagaimana Liam menjaga Angelina dengan cara yang sama seperti Everest menjaga Catherina—penuh proteksi dan dominasi yang halus.
Mobil terus melaju menuju kediaman Mettond untuk mengantar Angelina pulang lebih dulu.
Di dalam keheningan yang tercipta setelah pembahasan kalkulus, kedua remaja itu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Liam memikirkan Clarissa dan bagaimana rasanya jatuh cinta, sementara Angelina mulai menyadari bahwa persahabatan mereka mungkin sedang berada di ambang sesuatu yang jauh lebih rumit.
"Liam," panggil Angelina lirih saat mobil mulai melambat di depan gerbang mansion Mettond.
"Ya?"
"Jangan pernah berubah ya. Tetaplah menjadi Liam yang melindungiku, meskipun nanti kau sudah punya pacar," ucap Angelina dengan nada yang terdengar hampir seperti permohonan.
Liam menatap Angelina dengan tatapan yang sangat dewasa untuk anak seusianya. Ia meraih tangan Angelina dan meremasnya lembut. "Aku adalah pengawal pribadimu selamanya, Angel. Tidak akan ada satu pun gadis di dunia ini, bahkan Clarissa sekalipun, yang bisa menggeser posisimu."
Angelina tersenyum lega, meski ada rasa perih kecil di hatinya yang ia sendiri tidak paham asalnya. Ia turun dari mobil dengan perasaan yang berkecamuk.
Sementara itu, Liam melanjutkan perjalanan pulangnya ke mansion Cavanaugh, tidak menyadari bahwa di usia enam belas tahun ini, ia tidak hanya sedang belajar tentang cinta monyet dengan Clarissa, tetapi ia juga sedang merajut benang-benang takdir yang jauh lebih kuat dengan gadis yang selama ini ia sebut sebagai sahabat.
Di kediaman Cavanaugh, Everest sedang berdiri di balkon, melihat mobil putranya memasuki halaman. Ia tersenyum. Ia tahu putranya sedang berada di fase transisi yang sama dengannya dulu.
Bedanya, Everest akan memastikan Liam tidak perlu menempuh jalan berliku dan penuh rahasia seperti yang ia lakukan dulu. Atau begitulah pikirnya, sampai ia menyadari bahwa cinta pertama seorang pria sering kali adalah kejutan yang paling tidak terduga.