Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 05
PERNIKAHAN SINGKAT DAN KILAT
Suara benturan keras menggema di ruang bawah tanah.
Bugh!
Tubuh seorang pria terhempas ke lantai beton, darah mengalir dari sudut bibirnya. Napasnya tersengal, matanya memohon, namun tidak ada belas kasihan di ruangan itu.
Lorenzo berdiri tegak, tongkat besi di tangannya masih meneteskan darah.
Tatapannya dingin dan kosong.
“Kesempatan sudah kuberikan,” ucapnya rendah, nyaris tanpa emosi. “Kau yang memilih mengkhianati.”
Pria itu berusaha merangkak mundur. “Akkh-aku bisa jelaskan—”
Bugh! bugh! bugh!
Pukulan berikutnya menghentikan kata-katanya. Sunyi kembali menguasai ruangan.
Lorenzo menghela napas pelan saat dirasa pria itu sudah tewas, lalu menyerahkan tongkat itu pada anak buahnya tanpa menoleh.
“Bersihkan.”
“Baik, Tuan.”
Langkahnya tenang saat keluar dari basecamp—bangunan gelap yang berdiri terpisah, namun masih berada dalam kawasan mansion keluarga. Sebuah wilayah yang ia miliki sendiri.
Wilayah Santis.
Berbeda dengan mansion utama milik ayahnya—de Santos.
Langit mulai meredup saat Lorenzo duduk di kursi luar, sebotol vodka sudah terbuka di tangannya.
Ia menuang tanpa gelas.
Langsung meneguknya.
Cairan panas itu mengalir di tenggorokannya, namun tidak cukup untuk meredam pikirannya. Matanya terus terbuka menatap ke arah keheningan Dindin mansion.
Namun seketika, wajah Aria muncul begitu saja. Tatapan berani dari wanita itu serta nada suara yang menantang.
(“Nikahi aku.”)
Lorenzo tersenyum tipis. Sinis. “Gila,” gumamnya pelan.
Namun justru itu yang membuatnya tidak bisa mengabaikan wanita itu.
Langkah kaki terdengar mendekat. Tanpa menoleh, Lorenzo sudah tahu siapa itu. Sementara Emilio dengan tubuh yang masih gagah, dia mendekat lalu duduk di kursi samping Loren.
“Masih dengan kebiasaan buruk mu.” sembari mengambil gelas kosong dan menuangkan vodka untuk dirinya sendiri.
“Kau juga tidak berubah, Ayah.”
Mereka diam sejenak, hanya suara angin malam yang menemani. Dan keduanya sama-sama menatap lurus.
“Aku sudah dengar masalah itu.” ujar Emilio akhirnya.
Lorenzo tertawa pelan. “Masalah selalu ada. Kau hanya baru mendengarnya.”
Emilio menatapnya sekilas, ada rasa bersalah namun apalah dayanya. “Bagaimana tentang wanita nya? Apa dia hamil?”
Lorenzo tidak langsung menjawab, dia bahkan tidak menoleh dan malah mengeluarkan sebatang rokok untuk dia nyalakan dan dihisap.
Ia kembali meneguk vodkanya, lalu berkata datar— “Ya. Dan aku akan menikahinya.”
Sunyi.
Emilio menoleh penuh keheranan. “Apa?”
“Wanita itu, wanitanya Matteo,” ulang Lorenzo santai. “Dia yang menginginkannya.” ucapnya seraya menyeringai seolah mengejek takdir.
“Lorenzo,” suara Emilio menegang. “Kau tahu apa artinya itu? Kau tidak boleh—”
“Tidak boleh menikah?” potong Lorenzo ringan.
Tatapannya tetap lurus ke depan.
“Seharusnya ini tidak terjadi jika putramu yang lain tidak bermasalah. Dan seperti biasa aku yang harus bertanggungjawab atas sesuatu yang terjadi di rumah ini.”
Emilio menghela napas tajam, ia terdiam beberapa detik. “Ini bukan soal aturan biasa. Ini soal keselamatan. Musuh kita tidak akan diam. Wanita itu—dan anak itu—akan jadi target.”
Lorenzo terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum samar.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kau tetap melakukannya?”
“Karena dia memintanya.”
Jawaban itu terlalu sederhana. Terlalu tenang. Emilio menatap putranya, mencoba membaca sesuatu di balik sikap dinginnya.
“Hanya itu alasannya?”
Lorenzo akhirnya menoleh. Matanya tajam, namun ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan kelembutan—melainkan ketertarikan yang berbahaya.
“Jangan khawatir, Ayah. Dia lebih liar dari Monica.”
Emilio terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban. Ucapan dan tatapan dingin Lorenzo selalu berhasil membuatnya bungkam. Toh dia juga yang menyetujui ucapan Monica untuk mengurus wanita yang dihamili oleh Matteo.
Dan sekarang, Loren akan menikahinya— dan tidak ada alasan lain lagi untuk menolak pilihan Lorenzo sendiri.
“Aku harus pergi, pamanmu Vitorio akan tiba sebentar lagi.” kata Emilio yang enggan ditoleh oleh Loren.
Cukup lama pria tua itu menatap putranya, lalu dia pergi begitu saja. Sementara Lorenzo sendiri tak peduli dan masih menikmati minuman, rokok dan kesendirian nya.
...***...
Italia, Milan
Meja makan panjang itu telah dipenuhi hidangan mewah. Setelah satu hari berlalu cepat, keadaan di mansion de Santos cukup ramai akan beberapa para tamu yang hadir malam ini.
Namun semuanya berjalan tak lama, setelah usai memperkenalkan putranya Matteo sebagai pemimpin perusahaan de Santos yang baru, kini keluarga tersebut tengah duduk di satu meja panjang yang terletak di ruang makan mewah.
“Suatu kehormatan, karena kau mengundang ku, Bibi Monica!” ucap seorang wanita cantik, rambut pirang bernama, Bianca Varela. Keponakan jauh Monica yang usianya sama seperti Lorenzo.
Monica tersenyum, duduk anggun di ujung meja, secangkir teh di tangannya. Adriana berada tak jauh darinya, sementara Matteo tampak santai, meski luka di wajahnya belum sepenuhnya hilang.
Jangan lupakan juga Emilio dan Vitorio yang juga hadir di sana.
“Ini bukan apa-apa, sayang. Lagipula kau masih keponakan ku.” tanya Monica dengan lembut dan anggun.
Bianca si cantik itu memperhatikan sekitar, lalu kembali menatap Monica dan mereka yang ada di sana. “Aku... tidak melihat Lorenzo sejak tadi, dia sangat sibuk?”
Monica hanya menarik nafas dalam-dalam dan malas mendengar itu.
“Tidak biasanya dia terlambat,” tambah Adriana pelan dan tersenyum pada Bianca. Mereka semua tahu, kalau Bianca mengincar Lorenzo.
Matteo menyeringai kecil. “Mungkin sedang sibuk dengan urusannya.”
Monica menatapnya sekilas, tak tertarik memperpanjang.
“Urusan yang seharusnya bukan menjadi urusannya, Matteo.” tegas Emilio menatap tajam ke putra bungsunya itu. “Fokus saja ke hidangan mu.”
Hening membuat keadaan di sana lebih dingin. Bianca hanya menatap heran seraya mengangkat kedua alisnya dan diam.
Namun tepat saat itu— langkah kaki terdengar.
“Kami datang lebih telat. Aku harap pestanya masih belum berakhir.” ucap seorang Lorenzo de Santis yang pastinya sudah dikenal oleh keluarganya.
Semua mata mengarah ke pintu. Terkejut, namun bukan ke Lorenzo, melainkan ke sosok wanita yang datang bersamanya.
Meski berjalan sejajar, namun Loren dan Aria sama sekali tidak bergandengan tangan.
Disaat pria itu mengenakan kemeja hitamnya, disaat itulah Aria juga mengenakan sebuah gaun pengantin warna putih yang sederhana dan hampir pres di tubuhnya, namun... Keadaan gaun tersebut sudah compang-camping di area bawahnya, seolah baru saja digunting dengan sengaja.
“Siapa yang kau bawa, Loren?” tanya Monica yang masih duduk dan menatap jijik ke Aria.
Meski jujur saja, wanita itu terlihat cantik dan bersih, namun pakaiannya tidak mendukung.
“Dia istriku.” jawab singkat Lorenzo yang tentunya membuat mereka di sana terkejut, kecuali Emilio yang memang sudah tahu kalau putranya itu akan menikahi seorang wanita yang tidak seharusnya dipertanggung jawabkan olehnya.
Ada yang heran, ada juga yang senang, serta ada yang marah.
“Astaga... Keterlaluan.” umpat kesal Bianca yang tak suka melihat itu.
“Kau sudah menikah, dan kami baru tahu.” Monica berdiri serta tersenyum heran ke Lorenzo.
“Ya.” balas Lorenzo. “Dan aku ingin kalian memperlakukan istriku seperti keluarga sendiri.”
Aria menatap tanpa senyuman, hanya angkuh dan amarah yang terpendam saat dia akhirnya melihat sendiri bagaimana kekuasaan dan kekayaan de Santos yang membuatnya sulit melaporkan mereka ke polisi.