NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21:Jarak

Pagi di Jakarta selalu memiliki ritme yang sama, namun bagiku, frekuensi hidupku kini telah bergeser. Aku berdiri di depan koper perak yang terbuka di atas tempat tidur, memilah pakaian yang akan kubawa ke Bali. Bukan lagi kaos santai atau daster lusuh yang dulu sering kupakai saat menemani Kaivan lembur di apartemennya, melainkan deretan linen blazer, gaun sutra ringan, dan pakaian kerja yang memancarkan otoritas.

​Bali bukan sekadar liburan. Bagi Adhitama Group, ini adalah ekspansi strategis. Bagiku, ini adalah eksodus. Sebuah cara untuk meletakkan jarak ribuan kilometer antara aku dan puing-puing hubungan yang baru saja kuhancurkan demi keselamatanku sendiri.

​Ponselku bergetar di atas nakas. Sebuah pesan masuk, tapi bukan dari nomor yang kublokir semalam.

​Bastian: "Sopir saya akan menjemputmu pukul sembilan. Pastikan tidak ada yang tertinggal, terutama ketenanganmu. Bali akan sangat sibuk, tapi saya berjanji akan memberimu waktu untuk bernapas."

​Aku tersenyum tipis. Bastian selalu tahu cara menyentuh titik paling sensitif dalam pikiranku: kebutuhan akan ruang untuk bernapas. Selama tujuh tahun, Kaivan adalah polusi yang memenuhi paru-paruku. Bastian adalah oksigen yang baru saja kutemukan.

​Kantor pagi ini terasa seperti mesin yang sangat efisien. Tim riset baruku sudah mulai bekerja. Maya memimpin koordinasi dengan ketegasan yang bahkan membuat para junior sedikit gemetar. Aku bangga melihat mereka. Inilah yang seharusnya terjadi jika talenta tidak dikubur oleh nepotisme atau rasa sungkan.

​Aku sedang meninjau dokumen terakhir di ruangan privatku saat pintu diketuk dengan tidak sabar. Bukan ketukan Bastian, bukan pula Maya.

​Pintu terbuka sebelum aku sempat menjawab. Pak Dimas masuk dengan wajah yang sangat pucat.

​"Arelia, kamu harus lihat ini," ucapnya sambil menyerahkan tablet.

​Di layar, ada sebuah unggahan di forum publik industri keuangan. Sebuah akun anonim mengunggah dokumen audit mentah yang tampak sangat mirip dengan pekerjaan kami—tapi ada yang aneh. Angka-angkanya dimanipulasi sehingga seolah-olah Adhitama Group sedang melakukan penggelembungan dana proyek.

​Jantungku berdegup kencang. "Ini... ini data sektor D yang belum selesai, Pak. Siapa yang punya akses ke draf ini selain tim inti?"

​"Hanya kamu, saya, dan... Kaivan sebelum aksesnya diputus," suara Pak Dimas melemah. "IT baru saja melacak log masuk. Ada akses dari terminal kafe internet di luar area SCBD dua jam lalu. Menggunakan kode enkripsi yang dulu sering kamu pakai bersama Kaivan."

​Rasa mual menyerang perutku. Kaivan benar-benar melakukannya. Dia bukan hanya ingin menghancurkanku; dia ingin menghancurkan Adhitama Group. Ini adalah bunuh diri karier yang luar biasa nekat.

​"Dia ingin membalas dendam karena saya memecatnya, Arelia. Tapi dia tidak sadar, yang dia serang bukan cuma perusahaan kita, tapi Bastian Adhitama," Pak Dimas menyeka keringat di dahinya. "Bastian sudah tahu?"

​"Baru saja saya tahu."

​Suara bariton itu muncul dari ambang pintu. Bastian berdiri di sana, auranya begitu dingin hingga suhu di ruangan ini seolah merosot drastis. Ia tidak tampak panik. Ia tampak seperti pemburu yang baru saja menemukan mangsanya melakukan kesalahan fatal.

​"Pak Dimas, tinggalkan kami berdua sebentar," perintah Bastian.

​Setelah Pak Dimas keluar, Bastian berjalan menuju mejaku. Ia menumpukan tangannya di atas meja, menatapku lekat. "Jangan berani-berani merasa bersalah, Arelia. Saya lihat kilatan itu di matamu. Hentikan."

​"Bastian, dia menggunakan kode yang saya buat—"

​"Itu karena dia parasit yang mencuri setiap jengkal kreativitasmu selama tujuh tahun. Kode itu bukan dosamu, itu adalah alat yang dia salah gunakan," Bastian meraih tanganku, meremasnya kuat. "Tim siber saya sudah melacak lokasinya. Dia tidak cukup pintar untuk menutupi jejaknya di hadapan ahli kelas satu. Sekarang, saya tanya padamu... apa kamu ingin saya menghentikan ini dengan cara hukum, atau kamu ingin bicara padanya untuk terakhir kali?"

​Aku terdiam. Jarak yang ingin kubangun tiba-tiba terasa begitu dekat. "Jika saya bicara padanya, dia akan merasa masih memiliki kuasa atas emosi saya. Jika kamu menggunakan hukum, dia akan hancur selamanya."

​"Dia sudah hancur saat dia menekan tombol upload, Arelia. Dia hanya belum merasakannya saja," Bastian melepaskan tanganku. "Satu jam lagi kita ke bandara. Biarkan tim legal saya yang mengurus sampah ini. Kamu tidak perlu menoleh ke belakang."

​Dalam perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta tampak abu-abu di mataku. Aku menatap keluar jendela, menyadari bahwa Kaivan sedang berada di suatu tempat di kota ini, mungkin sedang tertawa puas bersama Nadine, mengira dia baru saja memenangkan pertempuran.

​Ponselku berdering. Panggilan dari nomor tidak dikenal. Bastian melirikku, memberiku isyarat untuk mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara.

​"Halo?"

​"Puas kamu sekarang, Arelia?" suara Kaivan terdengar pecah, penuh dengan histeria. "Lihat beritanya? Semua orang sekarang tahu kalau bos kayamu itu tidak sebersih yang kamu kira. Kamu pilih orang yang salah untuk jadi sandaran!"

​Aku menarik napas panjang, menenangkan debaran di dadaku. "Kaivan, kamu baru saja melakukan tindak pidana. Data yang kamu unggah itu palsu, dan log sistem menunjukkan identitas digitalmu dengan sangat jelas. Apa kamu benar-benar sebodoh itu?"

​Hening di seberang sana. Hanya suara napas yang tersengal.

​"Aku nggak punya pilihan, Rel! Nadine butuh operasi minggu depan, dan nggak ada perusahaan yang mau terima aku gara-gara referensi buruk dari kantormu! Aku butuh uang, dan kalau aku nggak bisa punya karier, maka kamu dan Bastian juga nggak boleh punya!"

​"Nadine lagi," bisikku getir. "Selama tujuh tahun, dia adalah alasan untuk setiap pengkhianatanmu padaku. Dan sekarang, dia jadi alasan untuk kehancuranmu sendiri. Kaivan, dengarkan aku baik-baik. Ini adalah terakhir kalinya aku bicara padamu."

​Aku menatap Bastian, dan dia mengangguk kecil, memberiku kekuatan.

​"Jarak di antara kita sekarang bukan lagi soal perasaan, Van. Tapi soal hukum. Jangan pernah hubungi aku lagi. Karena saat kita bertemu lagi, itu akan terjadi di ruang sidang. Dan aku tidak akan meminta Bastian untuk meringankan tuntutannya padamu."

​Aku mematikan sambungan telepon itu. Rasanya seperti memutus kabel yang sudah lama korsleting.

​"Terima kasih," bisikku pada Bastian.

​Bastian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya meraih kepalaku, menaruhnya di bahunya—bahu yang kokoh, stabil, dan tidak menuntut apa pun sebagai imbalan.

​Kami sampai di terminal jet pribadi. Saat aku melangkah keluar dari mobil, angin bandara menerpa wajahku, membawa aroma avtur dan kebebasan. Di kejauhan, pesawat yang akan membawa kami ke Bali sudah siap.

​"Arelia."

​Aku menoleh. Bastian berdiri di sampingku, menatap langit yang mulai membiru.

​"Di Bali nanti, saya ingin kamu melupakan bahwa kamu pernah menjadi asisten siapa pun. Saya ingin kamu ingat bahwa kamu adalah wanita yang bisa mengguncang dewan komisaris hanya dengan sebuah presentasi. Dan saya ingin kamu ingat... bahwa saya ada di sana bukan sebagai bosmu."

​Aku menatapnya, mencari makna di balik kata-katanya. "Lalu sebagai apa?"

​Bastian tersenyum, sebuah senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya—hangat, tulus, dan sedikit rapuh. "Sebagai pria yang nyaris kehilangan harapan pada kejujuran, sampai dia bertemu denganmu."

​Kami berjalan menuju pesawat. Saat tangga pesawat itu kunaiki, aku merasakan beban di pundakku benar-benar luruh. Di bawah sana, Jakarta dengan segala dramanya—Kaivan dengan keputusasaannya, Nadine dengan manipulasi medisnya—perlahan mulai mengecil.

​Aku mengambil tempat duduk di samping jendela. Saat mesin mulai menderu dan pesawat lepas landas, aku melihat hamparan lampu kota yang perlahan menjauh.

​Nyaris jadi kita. Kalimat itu benar-benar sudah tidak memiliki tempat lagi.

​Jarak ini adalah obat. Dan saat pesawat menembus awan, aku tahu bahwa aku tidak akan pernah pulang ke rumah yang lama lagi. Aku sedang menuju tujuanku yang sebenarnya.

​Bali, dan babak baru yang tanpa bayang-bayang.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!