Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chat Dari Suami Tengil
Koridor gedung Fakultas Pariwisata dan Perhotelan siang itu terasa begitu pengap. Shakira duduk di bangku panjang kayu dengan tumpukan kertas laporan yang sudah penuh dengan coretan tinta merah di pangkuannya. Di sampingnya, Nina, sahabat seperjuangannya di jurusan Tata Boga, sedang sibuk mengelap keringat di dahi sambil membolak-balik halaman draf laporan miliknya.
"Gila ya Pak Kusuma," keluh Nina dengan suara serak. "Masa bab tiga gue disuruh rombak total? Padahal kemarin katanya udah oke. Dia amnesia apa gimana sih?"
Shakira menghela napas panjang, ia menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang dingin. "Sama, Nin. Gue juga. Dia bilang teknik braising yang gue tulis di laporan praktik kemarin kurang mendalam penjelasannya. Padahal itu udah sesuai standar modul."
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel Shakira yang tergeletak di atas tumpukan laporan bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sederet notifikasi dari aplikasi hijau.
Zidan Tengil: Ra, udah makan belum?
Zidan Tengil: Di kampus jangan deket-deket sama si Andre ya, awas aja.
Zidan Tengil: Pake celananya nyaman nggak? Kegedean ya? Hehe.
Zidan Tengil: Balas dong sayang... P
Zidan Tengil: P
Zidan Tengil: P
Shakira melirik layar itu dengan tatapan jengah. Ia memilih untuk mengabaikannya dan kembali fokus pada coretan Pak Kusuma. Namun, hanya selang sepuluh detik, ponsel itu berdering lagi. Kali ini panggilan telepon masuk.
Zidan Ardiansyah Calling...
"Duh, berisik banget sih!" umpat Shakira pelan. Ia menekan tombol decline dengan kasar.
Nina yang duduk di sampingnya langsung menoleh, alisnya terangkat satu. "Siapa sih, Ra? Suami lo ya? Si Zidan?"
Shakira mendengus, memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan gerakan menyentak. "Siapa lagi kalau bukan si tukang bengkel itu. Tau ah, males gue. Dia semenjak jadi suami malah makin-makin tiap hari. Posesifnya nggak masuk akal."
Nina terkekeh, ia menyikut lengan Shakira. "Ciee, yang udah jadi istri mah beda. Perhatian tahu itu namanya. Lagian Zidan kan emang dari dulu bucin banget sama lo. Sekarang udah sah, ya makin ugal-ugalan lah dia."
"Perhatian apanya? Ini mah gangguan jiwa, Nin!" semprot Shakira. "Masa tadi pagi gue mau berangkat aja diributin gara-gara pakai rok selutut? Dipaksa ganti pakai celana jins dia yang kegedean ini. Liat nih, gue harus pakai sabuk kenceng banget biar nggak melorot."
Nina memperhatikan celana jins yang dipakai Shakira, lalu tertawa terpingkal-pingkal sampai beberapa mahasiswa yang lewat menoleh. "Pantesan gue ngerasa gaya lo hari ini agak... boyish gimana gitu. Ternyata itu jins suami? Sumpah, Zidan lucu banget protektifnya."
"Lucu mata lo peyang! Gue malu tahu nggak, berasa bocah SD yang mau main layangan," gerutu Shakira.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel di dalam tas Shakira kembali bergetar. Benar-benar tidak ada habisnya. Karena merasa tidak tenang untuk lanjut merevisi, akhirnya Shakira mengeluarkan ponselnya lagi. Ada pesan baru masuk.
Zidan Tengil: Kalau nggak dibalas dalam 5 menit, aku jemput ke depan ruang dosen sekarang. Aku udah di jalan.
Mata Shakira membulat sempurna. "Gila! Ini orang beneran nekat!"
"Kenapa lagi?" tanya Nina penasaran.
"Dia ngancam mau nyamperin ke sini kalau gue nggak balas chat-nya. Duh, bisa malu gue kalau dia beneran muncul pakai baju bengkelnya yang bau oli itu ke depan ruang Pak Kusuma," ucap Shakira panik. Jarinya dengan cepat mengetik balasan.
Shakira: JANGAN MACEM-MACEM! Gue lagi revisi sama Nina. Berhenti spam atau gue blokir nomor lo!
Hanya butuh satu detik untuk statusnya berubah menjadi Read.
**Zidan Tengil: Nah, gitu dong dibalas. Ya udah, semangat masaknya istriku. Jangan lupa, 'aku-kamu' ya. Tadi masih 'gue-lo' di chat. Denda satu ciuman pas pulang ya? ;) **
Shakira hampir saja melempar ponselnya ke lantai kalau tidak ingat harganya mahal. "Sinting! Bener-bener sinting!"
"Kenapa sih? Muka lo udah kayak kepiting rebus gitu," tanya Nina sambil mencoba mengintip layar ponsel Shakira.
Shakira segera menjauhkan ponselnya. "Nggak ada! Pokoknya dia itu makin nggak jelas semenjak nikah. Gue ngerasa kayak punya satpam pribadi daripada punya suami."
"Tapi jujur ya, Ra," Nina mengubah nada bicaranya jadi sedikit lebih serius. "Gue iri deh sama lo. Zidan itu tulus banget kayaknya. Dia tipe cowok yang nggak bakal biarin lo kenapa-napa. Ya walaupun caranya emang agak... unik."
Shakira terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana Zidan tadi pagi membawakan celana panjang dengan wajah yang sangat serius. Meskipun ia kesal setengah mati, ada bagian kecil di hatinya yang merasa aneh. Tidak pernah ada yang memperhatikan detail pakaiannya sampai segitunya.
"Tulus mah tulus, tapi ya jangan bikin gue jengah juga kali, Nin," gumam Shakira, mencoba menormalkan detak jantungnya. "Gue ini mahasiswi tingkat akhir, lagi pusing mikirin laporan, malah ditambah pusing sama kelakuan dia."
"Yaudah, mending sekarang kita fokus ini dulu," Nina menunjuk kertas laporannya. "Bab empat lo gimana? Udah dapet data pendamping buat menu appetizer-nya?"
Shakira mengangguk, mencoba mengalihkan pikirannya dari Zidan. "Udah, gue rencananya mau pakai modifikasi salad buah tropis dengan dressing yogurt madu. Tapi Pak Kusuma minta perhitungan kalorinya lebih detail."
"Nah, ayo kita kerjain di perpustakaan aja. Di sini berisik, banyak orang lewat," ajak Nina.
Mereka pun bangkit berdiri. Namun, saat baru berjalan beberapa langkah menuju perpustakaan, ponsel Shakira kembali berdering. Kali ini bukan chat, tapi notifikasi Instagram.
zidan_ardiansyah mentioned you in a story.
Shakira membukanya karena penasaran. Ternyata Zidan mengunggah foto nampan berisi kopi dan beberapa baut mesin di bengkelnya dengan tulisan: "Semangat revisinya, Chef kesayangan aku @shakira.naomi. Jangan galak-galak sama Pak Dosen, galaknya buat aku aja di rumah."
Shakira refleks menutup wajahnya dengan sebelah tangan. "Tuhan... tenggelamkan gue sekarang juga."
"Ada apa lagi?" Nina langsung merampas ponsel Shakira dan melihat postingan itu. Nina tertawa lebih keras dari sebelumnya. "Gila! Zidan go public banget! Habis ini satu kampus tahu kalau lo udah sold out sama abang bengkel ganteng."
"Duh, mending gue masak rendang sepuluh kuali daripada harus ngadepin Zidan tiap hari," keluh Shakira, meski tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat, meski sangat tipis hingga Nina pun tidak menyadarinya.
"Udah ah, ayo ke perpus! Keburu Pak Kusuma pulang," ajak Nina sambil menarik tangan Shakira.
Sepanjang jalan menuju perpustakaan, Shakira terus merutuk dalam hati. Ia membayangkan bagaimana hidupnya ke depan. Apakah setiap hari akan penuh dengan drama rok, spam chat, dan panggilan 'sayang' yang memalukan?
Life after marriage ternyata jauh lebih menguras emosi daripada yang ia bayangkan. Tapi di satu sisi, ada rasa aman yang perlahan menyelinap—rasa aman karena ia tahu, sejauh apapun ia pergi ke kampus, akan selalu ada satu orang "tengil" yang menunggunya pulang dengan segala kegilaannya.
"Nin, menurut lo kalau gue beneran blokir nomor dia, dia bakal lapor ke Papa nggak?" tanya Shakira tiba-tiba di tengah perjalanan.
Nina menoleh sambil nyengir lebar. "Bukan lapor Papa lagi, Ra. Dia bakal bawa pengeras suara ke depan gerbang kampus terus teriak: 'Panggilan kepada Istriku tercinta Shakira Naomi, mohon blokirnya dibuka karena suami Anda kangen!'. Mau lo?"
Shakira bergidik ngeri. "Ogah! Ya udah, nggak jadi gue blokir."
"Nah, gitu dong. Lagian, jadi 'Istri Abang Bengkel' nggak buruk-buruk banget kan?" goda Nina.
Shakira hanya memutar bola matanya, meski dalam hati ia mulai menyiapkan mental untuk serangan chat-chat Zidan selanjutnya yang pasti tidak akan berhenti sampai ia sampai di rumah nanti. Dan benar saja, baru saja ia duduk di kursi perpustakaan, ponselnya bergetar lagi.
Zidan Tengil: Ra, nanti pulang aku jemput pakai motor ya. Aku udah servis biar suaranya nggak berisik, biar kamu nggak malu. See you, Sayang.
Shakira menghela napas, kali ini ia tidak membalas dengan 'gue-lo'. Ia hanya mengetik: Iya, jemput di gerbang belakang aja.
Dan detik itu juga, ia tahu bahwa ia mulai kalah oleh ketengilan suaminya sendiri.
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo