"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Skakmat untuk Sang Ratu Tipu
Udara di ruang sidang hari kedua terasa jauh lebih dingin, seolah-olah AC ruangan bekerja dua kali lebih keras dari biasanya. Namun, Arini tahu itu bukan karena mesin. Di sekeliling bangku penonton, ia melihat beberapa arwah—termasuk Pak Darmawan dan Abang Tato—hadir dengan wujud yang lebih tenang, seolah ingin menyaksikan keadilan ditegakkan.
Siska duduk di barisan belakang dengan wajah yang tampak jauh lebih kusam dibanding kemarin. Ia terus gelisah, tangannya tak henti meremas tas tangannya.
"Sidang dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan barang bukti tambahan dari Jaksa Penuntut Umum," suara Hakim Ketua mengetuk palu, memecah kesunyian.
Baskara berdiri. Ia tidak langsung bicara. Ia berjalan perlahan di depan meja Hakim, lalu menoleh ke arah Siska dengan senyum tipis yang mematikan. "Yang Mulia, semalam tim penyidik kami melakukan penggeledahan ulang di kediaman Nyonya Siska. Kami menemukan sebuah benda yang akan menjadi kunci dari seluruh konspirasi ini."
Baskara mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berwarna biru yang terbungkus plastik transparan.
"Buku apa itu, Saudara Jaksa?" tanya Hakim.
"Ini adalah buku dosa, Yang Mulia," jawab Baskara lantang. "Di dalamnya terdapat catatan tangan Nyonya Siska mengenai setiap rupiah yang ia kirimkan kepada Mbah Suro. Bukan hanya tanggalnya, tapi juga tujuan pengirimannya. Di sini tertulis dengan jelas: 'Pembayaran untuk pengikat sukma Darmawan' dan 'Uang tutup mulut untuk saksi tato'."
Siska berdiri dengan wajah pucat pasi. "Itu bohong! Itu bukan milikku! Kamu merekayasanya!"
"Diam, Terdakwa!" bentak Hakim.
Baskara berjalan mendekati kursi saksi tempat Arini duduk untuk memberikan keterangan medis ulang. Ia memberikan tatapan penuh dukungan pada istrinya sebelum beralih kembali ke depan sidang.
"Saudara Saksi Arini," panggil Baskara dengan nada profesional namun hangat. "Berdasarkan hasil otopsi yang Anda lakukan pada Pak Darmawan dan korban lainnya, apakah pola racun yang ditemukan sesuai dengan catatan 'ramuan' yang disebutkan dalam buku ini?"
Arini menarik napas panjang. "Sangat sesuai, Yang Mulia. Dalam buku ini disebutkan campuran digitalis dengan ekstrak tanaman langka yang hanya ada di wilayah tempat tinggal Mbah Suro. Tanaman ini berfungsi untuk menyamarkan gejala racun agar terlihat seperti serangan jantung alami. Jika bukan karena pemeriksaan mikroskopis yang sangat jeli, kita tidak akan pernah menemukannya."
Mika muncul di atas meja Hakim, bertepuk tangan dengan riuh. "Hajar terus, Rin! Lihat muka Siska, udah kayak adonan seblak gagal!" bisik Mika kegirangan.
Pengacara Adhitama mencoba menginterupsi. "Yang Mulia! Ini adalah kasus klien saya, Tuan Adhitama. Kenapa kita malah membahas Nyonya Siska?"
"Karena kedua orang ini bekerja sama!" suara Baskara menggelegar, membuat suasana sidang membeku. "Tuan Adhitama menggunakan kekuasaannya untuk melindungi Siska, dan sebagai imbalannya, Siska menyediakan 'jalur belakang' melalui Mbah Suro untuk menyingkirkan lawan-lawan politik Tuan Adhitama. Mereka adalah dua kepala dari ular yang sama!"
Baskara kemudian memutar rekaman suara yang juga ditemukan di dalam ponsel rahasia di brankas Siska. Suara Tuan Adhitama terdengar jelas memerintahkan Siska untuk 'membereskan' Arini saat Arini masih dalam keadaan koma.
Siska jatuh terduduk. Ia menutup wajahnya dengan tangan, terisak histeris. Sementara Tuan Adhitama hanya bisa tertunduk lesu, menyadari bahwa takhtanya benar-benar telah runtuh.
Baskara kembali ke mejanya, namun sebelum duduk, ia melewati Arini dan sempat meremas pelan jemari istrinya itu di bawah sorotan lampu ruang sidang. Sebuah gerakan kecil yang penuh kemenangan dan rasa terima kasih.
"Yang Mulia," tutup Baskara dengan nada yang tenang namun berwibawa. "Hukum mungkin tidak bisa melihat hantu, tapi hukum bisa mencium bau busuk dari sebuah kejahatan yang disembunyikan. Saya rasa bukti-bukti ini sudah lebih dari cukup."
Hakim mengetuk palu tiga kali. Sidang ditunda untuk pembacaan vonis minggu depan. Saat para petugas mulai menggiring Siska dan Adhitama keluar, Arini melihat arwah Ratna—istri pertama Pak Darmawan—mendekati Siska dan membisikkan sesuatu yang membuat Siska menjerit ketakutan di tengah kerumunan.
"Sudah selesai, Sayang," bisik Baskara yang kini sudah berada di samping Arini, merangkul bahunya dengan posesif. "Mereka akan membusuk di sana."
Arini menyandarkan kepalanya di dada Baskara. "Terima kasih, Bas. Terima kasih sudah percaya padaku."
Mika melayang di atas mereka, memberikan gestur jempol. "Nah, habis ini liburan ya! Aku butuh udara pantai, bosen bau formalin sama bau penjara mulu!"
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣