Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Profesor dari Kota
Bab 27
Pagi itu, Bambang bangun lebih awal dari biasanya. Matanya terbuka lebar saat cahaya matahari mulai masuk melalui celah-celah dinding kayu. Tubuhnya masih terasa pegal, tapi tidak separah kemarin. Lukanya sudah mulai mengering. Perban di lengannya terasa longgar, mungkin karena bengkaknya sudah mulai berkurang. Dia duduk di tikar dan menatap sekeliling ruangan. Ucok masih tidur di sampingnya, tubuh besarnya terlihat seperti gunung kecil di bawah selimut tipis. Dengkurannya masih keras, teratur, seperti orang yang sedang bermimpi indah.
Dari dapur, terdengar suara Dewi sedang bicara dengan Pak Heru. Suaranya pelan, tidak jelas. Tapi nada bicaranya serius. Bambang bangkit dan berjalan ke dapur. Kakinya masih sedikit pincang, tapi sudah jauh lebih baik daripada kemarin.
Dewi sedang duduk di meja kayu, memegang cangkir kopi. Pak Heru berdiri di dekat kompor, mengaduk sesuatu di dalam panci. Bau bubur ayam tercium harum di seluruh ruangan.
"Pagi, Dewi. Pagi, Pak Heru," sapa Bambang.
"Pagi, Nak," kata Pak Heru sambil tersenyum. "Kamu sudah bangun. Bagaimana lukamu?"
"Sudah lebih baik, Pak. Makasih."
Dewi menepuk kursi di sampingnya. "Duduk. Aku mau bicara."
Bambang duduk. Dewi mengeluarkan ponselnya dan membuka video rekaman semalam. Layar ponsel itu menunjukkan gambar gelap dengan sesekali siluet orang bergerak. Suara Pak Toni terdengar jelas meskipun kualitas rekamannya tidak sempurna.
"Aku sudah kirim video ini ke Profesor Rahman," kata Dewi. "Dia bilang ini sangat menarik. Dia mau bertemu kita hari ini."
"Kapan?"
"Sore. Dia akan datang ke sini. Aku sudah kirim alamat."
Bambang menghela napas. Dia tidak tahu harus berharap apa. Profesor itu mungkin satu-satunya harapan mereka. Tapi dia juga takut. Takut profesor itu tidak percaya. Takut profesor itu malah mengkhianati mereka.
"Kamu yakin dia bisa dipercaya?" tanya Bambang.
"Rahman sudah dua puluh tahun meneliti fenomena anomali di Kalimantan. Dia pernah dapat ancaman pembunuhan karena tulisannya tentang pencemaran sungai oleh perusahaan tambang. Dia tidak takut. Dia juga tidak bisa dibeli."
"Semoga saja."
Ucok terbangun sekitar pukul sembilan. Wajahnya masih pucat. Lukanya masih terlihat merah meskipun sudah dibalut perban baru. Dia makan bubur ayam dengan lahap, seperti orang yang sudah berminggu-minggu tidak makan enak.
"Ucok, bagaimana perasaanmu?" tanya Bambang.
"Lapar," jawab Ucok singkat.
"Selain lapar?"
"Lelah. Tapi tidak apa. Aku sudah biasa."
Mereka menghabiskan pagi dengan beristirahat. Bambang membantu Pak Heru membersihkan halaman. Ucok duduk di teras, merokok, matanya menatap ke kejauhan. Dewi sibuk dengan ponselnya, mengirim pesan ke sana kemari, mengatur pertemuan dengan Profesor Rahman.
Sekitar pukul tiga sore, sebuah mobil hitam memasuki halaman rumah Pak Heru. Mobil itu terawat, tidak seperti mobil-mobil lain di desa ini. Pintu terbuka. Seorang pria tua dengan rambut putih khas profesor turun. Dia mengenakan kemeja batik lengan panjang dan celana kain hitam. Di tangannya, ada tas kulit coklat yang tampak berat.
"Profesor Rahman," sapa Dewi sambil berjalan menyambut.
"Dewi, lama tidak bertemu," kata profesor itu dengan suara berat. Matanya beralih ke Bambang dan Ucok yang berdiri di teras. "Ini kah dua orang yang selamat dari pabrik karet?"
"Iya, Prof. Ini Bambang. Ini Ucok."
Profesor Rahman mendekati mereka. Tangannya diulurkan. Jabatannya kuat, seperti orang yang tidak kenal lelah. Matanya menyelidik, seperti sedang membaca sesuatu dari wajah mereka.
"Saya dengar cerita kalian dari Dewi. Tapi saya ingin dengar langsung dari kalian. Semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi."
Mereka masuk ke dalam rumah. Pak Heru menyediakan kopi dan kue di meja ruang tamu. Bambang, Ucok, Dewi, dan Profesor Rahman duduk mengelilingi meja. Pak Heru memilih duduk di kursi dekat pintu, tidak ikut bicara tapi mendengarkan dengan saksama.
"Jadi, ceritakan," kata Profesor Rahman.
Bambang menarik napas panjang. Dia bercerita. Lagi. Untuk kesekian kalinya. Tentang SMS. Tentang wawancara. Tentang kontrak. Tentang pabrik. Tentang aturan aneh. Tentang monitor CCTV. Tentang makhluk. Tentang Joni, Dul, Herman. Tentang kabur. Tentang hutan. Tentang desa. Tentang polisi yang mengkhianati. Tentang kembali ke pabrik. Tentang kolam. Tentang darah. Tentang api.
Profesor Rahman mendengarkan tanpa menyela. Matanya tidak berkedip. Sesekali dia menulis di buku catatan kecil yang dia ambil dari tas kulitnya. Ketika Bambang selesai, profesor itu menghela napas panjang.
"Ini luar biasa," kata Profesor Rahman. "Saya sudah mendengar desas-desus tentang proyek ini sejak sepuluh tahun lalu. Tapi tidak pernah ada bukti. Tidak ada saksi. Semua orang yang tahu sudah... menghilang."
"Kami saksi, Prof," kata Ucok. "Saya lima tahun di sana. Saya lihat dua belas orang berubah."
"Saya percaya. Tapi percaya saja tidak cukup. Kita butuh bukti ilmiah. Sampel. Data. Sesuatu yang bisa diuji di laboratorium."
"Kami punya video," kata Dewi sambil mengeluarkan ponselnya.
Dia menunjukkan video rekaman semalam. Profesor Rahman mengambil ponsel itu dengan hati-hati. Matanya fokus pada layar. Dia menyaksikan video itu dari awal sampai akhir. Wajahnya berubah dari serius menjadi terkejut, lalu menjadi pucat.
"Ini... ini kolam lateks?" tanya profesor itu.
"Iya. Tapi bukan lateks biasa. Kolam itu hidup. Bernapas. Bergerak. Dan ketika darah kami tuang ke dalamnya, kolam itu menjerit."
"Jeritannya terekam?"
"Terekam. Di video itu."
Profesor Rahman memutar video itu lagi. Kali ini dia fokus pada suara. Suara jeritan kolam. Suara yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Suara yang tidak mungkin dihasilkan oleh mesin atau binatang.
"Ini bukan rekayasa," kata Profesor Rahman pelan. "Suara ini tidak bisa dibuat-buat."
"Jadi Profesor percaya kami?" tanya Bambang.
"Saya percaya. Tapi seperti saya bilang, percaya saja tidak cukup. Saya harus membawa video ini ke universitas. Saya harus minta bantuan kolega saya. Ahli kimia. Ahli biologi. Ahli fisika. Kita harus meneliti fenomena ini secara ilmiah."
"Berapa lama?"
"Tidak tahu. Bisa berminggu-minggu. Bisa berbulan-bulan. Tapi saya akan coba secepat mungkin."
Bambang merasakan dadanya sesak. Berminggu-minggu? Berbulan-bulan? Selama itu, perusahaan bisa menutup jejak. Selama itu, Pak Toni bisa menghilang. Selama itu, makhluk-makhluk yang selamat dari api bisa berkeliaran.
"Prof, kami tidak punya waktu," kata Bambang. "Perusahaan pasti sudah tahu kami yang membakar pabrik. Mereka akan mencari kami. Mereka akan membungkam kami."
"Saya tahu. Tapi saya tidak bisa bergerak tanpa bukti yang kuat. Kalau saya bawa video ini ke polisi sekarang, mereka akan bilang itu palsu. Kalau saya bawa ke media, mereka akan bilang itu hoaks. Kita harus sabar."
"Kami sudah sabar, Prof," kata Ucok. "Kami sudah bertahan lima tahun. Tidak bisa lebih lama lagi."
Profesor Rahman terdiam. Wajahnya berpikir keras. Matanya beralih dari Bambang ke Ucok, lalu ke Dewi, lalu ke ponsel di tangannya.
"Baik," kata profesor itu akhirnya. "Saya akan bawa video ini ke rekan saya di Jakarta. Dia ahli forensik digital. Dia bisa memastikan bahwa video ini asli, tidak diedit, tidak direkayasa. Setelah itu, saya akan bawa ke polisi. Bukan polisi lokal, tapi polisi pusat. Bareskrim. Mudah-mudahan mereka mau mendengar."
"Berapa lama?"
"Tiga hari. Mungkin empat. Saya akan terbang ke Jakarta malam ini."
"Kami akan menunggu, Prof," kata Dewi. "Tapi tolong jangan lama. Nyawa kami taruhannya."
Profesor Rahman berdiri. Dia berjabat tangan dengan Bambang, dengan Ucok, dengan Dewi. Matanya serius. "Saya tidak akan mengecewakan kalian. Saya janji."
Profesor Rahman pergi dengan mobil hitamnya. Debu mengepul di belakang mobil itu. Bambang berdiri di teras, menatap kepergian profesor itu. Perasaannya campur aduk. Ada harapan, ada juga ketakutan.
"Dewi, kamu yakin dia bisa dipercaya?" tanya Bambang.
"Aku sudah kenal Rahman selama sepuluh tahun. Dia orang baik. Dia tidak akan mengkhianati kita."
"Tapi kalau perusahaannya lebih kuat? Kalau mereka punya koneksi di Jakarta? Kalau mereka bisa membungkam profesor itu?"
Dewi tidak menjawab. Bambang tahu Dewi juga tidak yakin. Tapi mereka tidak punya pilihan. Mereka sudah terlalu jauh untuk mundur. Satu-satunya jalan adalah maju. Terus maju. Sampai keadilan ditegakkan.
Malam tiba. Mereka makan malam bersama. Pak Heru memasak ayam goreng dan sayur lodeh. Sederhana, tapi lezat. Bambang makan dua piring. Tubuhnya butuh energi. Pikirannya butuh tenaga.
Setelah makan, mereka duduk di teras. Udara malam dingin. Angin berhembus pelan, membawa bau bunga dari kebun Pak Heru.
"Bambang," panggil Ucok tiba-tiba.
"Iya."
"Aku ingin minta tolong."
"Tolong apa?"
"Kalau aku mati... atau kalau aku berubah... tolong jaga Laras. Anakku. Kirimi dia uang setiap bulan. Beri tahu dia bahwa Bapaknya sayang sama dia."
Bambang menatap Ucok. Wajah pria besar itu terlihat tenang. Tidak ada rasa takut di matanya. Hanya kesedihan. Kesedihan yang dalam.
"Kamu tidak akan mati, Ucok. Kita tidak akan mati."
"Kita tidak tahu. Setelah semua yang kita alami, apa pun bisa terjadi. Aku hanya ingin ada yang menjaga Laras kalau aku tidak bisa."
"Kamu bisa menjaga Laras sendiri. Kamu akan pulang. Kamu akan peluk dia. Kamu akan lihat dia tumbuh besar."
Ucok tersenyum. Senyum yang pahit. "Semoga Tuhan mendengar doamu."
Malam semakin larut. Bambang berbaring di tikar. Matanya menatap langit-langit kayu yang gelap. Pikirannya melayang ke Profesor Rahman. Apakah profesor itu sudah sampai di Jakarta? Apakah dia sudah bertemu dengan rekannya? Apakah dia sudah menunjukkan video itu?
Bambang memejamkan mata. Dia berdoa dalam hati. Doa untuk keselamatan. Doa untuk keadilan. Doa untuk pulang.
Tiga hari berlalu. Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun. Bambang dan Ucok tidak keluar rumah. Mereka hanya beristirahat, makan, tidur, dan menunggu. Dewi sesekali keluar untuk membeli kebutuhan, tapi tidak pernah lama. Pak Heru menemani mereka, bercerita tentang masa lalunya, tentang desa ini, tentang hidup yang sederhana tapi damai.
Pada hari keempat, ponsel Dewi berdering. Dia mengangkatnya dengan cepat.
"Halo?"
Diam sejenak. Wajah Dewi berubah. Matanya membesar. Tangannya gemetar.
"Apa? Kapan? Di mana?"
Bambang dan Ucok menatap Dewi dengan cemas. Dewi menutup telepon. Wajahnya pucat.
"Ada apa?" tanya Bambang.
"Itu... itu temanku. Dari Jakarta."
"Apa yang terjadi?"
"Profesor Rahman... dia kecelakaan. Mobilnya tergelincir di jalan tol. Dia dibawa ke rumah sakit. Kondisinya kritis."
Bambang merasakan dunianya runtuh. Profesor Rahman kecelakaan. Mobilnya tergelincir. Di jalan tol. Apakah itu benar-benar kecelakaan? Atau ada yang merencanakan?
"Apakah dia sadar?" tanya Ucok.
"Belum. Masih di ruang ICU. Dokter belum bisa bilang apa-apa."
"Video itu? Di mana video itu?"
"Di ponselnya. Ponselnya ikut hancur dalam kecelakaan. Tidak bisa diselamatkan."
Bambang memejamkan mata. Satu-satunya bukti yang mereka miliki. Satu-satunya harapan. Hancur dalam hitungan detik.
"Ini bukan kecelakaan," kata Ucok. "Ini peringatan. Perusahaan tahu kita sudah merekam. Mereka tahu kita punya bukti. Mereka ingin menghancurkan bukti itu."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Bambang.
Dewi terdiam. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Untuk pertama kalinya, Bambang melihat Dewi putus asa.
"Aku... aku tidak tahu," bisik Dewi. "Aku tidak tahu."
Mereka bertiga terdiam. Keheningan yang tebal menyelimuti ruangan.
Di luar, hujan mulai turun. Rintik-rintik kecil jatuh di atap seng. Suaranya seperti tetesan air mata.
Bambang membuka matanya. Dia menatap Dewi. Menatap Ucok. "Kita tidak akan menyerah," katanya.
"Dengan apa?" tanya Dewi. "Bukti kita sudah hilang. Saksi kita sekarat."
"Kita masih punya diri kita sendiri. Kita masih punya ingatan. Kita masih punya luka di tubuh kita. Itu bukti."
"Bukti untuk siapa? Tidak ada yang percaya."
"Maka kita buat mereka percaya. Kita cari profesor lain. Kita cari wartawan lain. Kita cari siapa saja yang mau mendengar. Sampai seseorang percaya. Sampai seseorang bertindak."
Ucok mengangguk. "Bambang benar. Kita tidak boleh menyerah. Sudah terlalu banyak yang kita korbankan."
Dewi menatap mereka berdua. Air matanya jatuh. Tapi di balik air mata itu, ada api kecil yang menyala. Api yang hampir padam, tapi berhasil dinyalakan kembali.
"Baik," kata Dewi. "Kita cari lagi. Kita coba lagi. Sampai berhasil."
Mereka bertiga berjabat tangan. Di tengah hujan. Di tengah keputusasaan. Di tengah ketidakpastian.
Perjuangan belum selesai. Masih panjang. Masih berat. Tapi mereka tidak akan berhenti. Tidak akan menyerah.
Karena di ujung perjalanan ini, ada pulang.
Ada Ibu.
Ada Bapak.
Ada Laras.
Ada kehidupan yang normal.
Kehidupan yang pantas mereka dapatkan setelah semua mimpi buruk ini.