NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Praktik Dihutan Elang

Episode 12

Fajar baru saja menyingsing, namun lapangan utama Akademi Elang Hijau sudah dipenuhi oleh ratusan murid tingkat pertama. Suasana pagi yang biasanya tenang kini berubah menjadi riuh rendah. Ada aroma kegugupan yang tercium di udara, bercampur dengan bau khas binatang kontrak mulai dari bau bulu basah, aroma api tipis, hingga bau tanah dari binatang tipe reptil.

Reno berdiri di tengah kerumunan, sedikit terpisah dari rombongan besar. Ia mengenakan pakaian kulit pelindung ringan yang disediakan akademi. Di bahunya, Nidhogg melingkar dengan tenang. Berkat kemampuan kamuflase yang baru dipelajarinya setelah evolusi semalam, sisik hitam Nidhogg yang tadinya berkilau kini tampak kusam dan berwarna abu-abu kecokelatan, membuatnya terlihat seperti cacing tanah biasa yang sedikit lebih besar.

Tattoo naga di telapak tangan Reno tertutup oleh sarung tangan kain tanpa jari. Reno bisa merasakan aliran energi yang hangat merambat dari Nidhogg ke pembuluh darahnya. Sejak evolusi itu, Reno merasa indranya menjadi berkali kali lipat lebih tajam. Ia bisa mendengar bisikan murid di ujung lapangan, dan ia bisa merasakan arah angin dengan sangat presisi.

"Reno! Di sini!"

Dito berlari mendekat dengan napas terengah engah. Kelinci putihnya, si Salju, berada di dalam tas khusus di dadanya. "Kau tahu tidak? Kabarnya ujian kali ini tidak dilakukan di area simulasi, tapi benar-benar di pinggiran Hutan Elang yang belum dibersihkan sepenuhnya!"

Reno menoleh, wajahnya tetap tenang. "Hutan Elang yang asli? Itu berarti risiko kematian ada, kan?"

Dito mengangguk cepat, wajahnya sedikit pucat. "Iya! Makanya setiap dari kita diberikan Sinyal Darurat. Jika kita membakarnya, penjaga akan datang menolong, tapi itu artinya kita langsung didiskualifikasi."

Tak lama kemudian, Instruktur Raka naik ke atas podium kayu. Jubah peraknya berkibar ditiup angin pagi, wajahnya tetap sedingin es. Di sampingnya berdiri beberapa instruktur lain yang membawa tumpukan lencana logam.

"Perhatian semuanya!" suara Raka menggelegar tanpa bantuan alat sihir, murni karena kekuatan energi mentalnya. "Hari ini adalah ujian praktik lapangan pertama kalian. Dunia penjinak bukanlah tempat untuk bermain main di dalam kelas. Di luar sana, binatang buas tidak akan menunggumu merapikan mantra atau menyiapkan strategi."

Raka memberi isyarat, dan para instruktur mulai membagikan lencana.

"Tugas kalian sederhana namun berat," lanjut Raka. "Kalian akan dimasukkan ke Hutan Elang dalam kelompok kecil yang sudah ditentukan secara acak. Tugas setiap kelompok adalah mengumpulkan lima 'Inti Kristal' dari binatang liar Tingkat Perunggu. Selain itu, kalian diperbolehkan mencuri lencana dari kelompok lain. Kelompok yang memiliki lencana paling banyak dan inti kristal paling lengkap di akhir hari, akan mendapatkan akses ke Ruang Meditasi Energi selama satu minggu."

Mendengar kata Ruang Meditasi, mata semua murid berbinar. Itu adalah tempat di mana konsentrasi energi alam lima kali lebih padat dari biasanya. Tempat impian bagi siapa pun yang ingin cepat naik level.

Reno melihat daftar kelompok di papan pengumuman besar.

Kelompok 42: Reno, Dito, dan... Lani.

"Wah! Kita satu tim dengan Lani!" seru Dito kegirangan. "Setidaknya kita punya penjinak tipe pendukung yang hebat."

Reno tersenyum tipis. Baguslah, setidaknya aku tidak perlu menjaga orang asing yang mungkin akan menusukku dari belakang.

Namun, saat ia berbalik, ia melihat Bagas sedang menatapnya dari kejauhan. Bagas berada dalam kelompok yang berisi murid-murid kuat dari keluarga bangsawan. Bagas memberikan isyarat dengan tangannya sebuah gerakan memotong leher sebelum tertawa sinis dan masuk ke dalam kereta pengangkut.

"Reno, aku rasa Bagas akan mengincar kita," bisik Lani yang tiba-tiba sudah berada di samping mereka. Ia mengenakan pakaian tempur yang pas di tubuhnya, membuatnya terlihat seperti ksatria wanita muda yang anggun namun tangguh.

"Biarkan saja dia datang, Lani," jawab Reno datar. "Hutan adalah tempat yang adil. Di sana tidak ada Kepala Desa yang melindunginya."

Kereta pengangkut membawa mereka menuju perbatasan Hutan Elang. Semakin dekat mereka ke hutan, pepohonan semakin tinggi dan rapat. Cahaya matahari mulai kesulitan menembus dedaunan yang rimbun, menciptakan suasana remang-remang yang lembap. Bau lumut dan kayu lapuk tercium kuat.

Setelah sampai di titik penurunan, Instruktur Raka memberikan aba-aba terakhir. "Waktu kalian sepuluh jam. Jika kalian tidak kembali ke titik ini saat matahari terbenam, kalian dianggap gagal. Mulai!"

Reno, Dito, dan Lani segera masuk ke dalam hutan. Reno memimpin di depan. Instingnya yang sudah diperkuat oleh Nidhogg membuatnya sangat peka terhadap setiap jebakan alam.

"Dito, lepaskan kelinci mu. Biarkan dia mendeteksi keberadaan binatang buas dalam radius seratus meter. Lani, siapkan sihir pelindungmu, kita tidak tahu apa yang bersembunyi di balik semak-semak ini," perintah Reno secara alami. Kepemimpinannya sebagai mantan CEO keluar tanpa ia sadari.

Dito dan Lani terpaku sejenak melihat otoritas yang dipancarkan Reno, lalu mereka segera mengangguk patuh.

Mereka berjalan selama tiga puluh menit tanpa menemui kendala berarti. Hutan Elang terasa sangat sunyi, hanya suara gesekan sepatu mereka di atas daun kering yang terdengar. Namun, kesunyian itu justru membuat bulu kuduk berdiri.

"Reno... berhenti," bisik Nidhogg di kepala Reno. "Ada aroma busuk di depan. Sekitar lima puluh langkah. Sesuatu yang lapar sedang menunggu."

Reno segera mengangkat tangannya, memberi tanda agar timnya berhenti. "Diam. Ada sesuatu di depan."

Lani segera menyiapkan staf kecilnya, sementara kelinci Dito mulai gemetar ketakutan dan bersembunyi di dalam tas.

Dari balik pohon ek besar, muncul sesosok makhluk dengan tinggi dua meter. Tubuhnya kurus kering namun berotot, tertutup oleh kulit yang menyerupai kulit pohon. Matanya yang merah menyala menatap mereka dengan penuh rasa lapar.

"Kera Kulit Kayu... Tingkat Perunggu Tahap Menengah," gumam Lani dengan suara gemetar. "Binatang ini sangat lincah dan sulit diserang karena kulitnya sekeras kayu jati."

Kera itu meraung, suaranya seperti dahan yang patah. Ia melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan kecepatan luar biasa, mencoba mengepung tim Reno.

"Dito, mundur ke belakang Lani! Lani, gunakan sihir pengikat jika dia mendarat di tanah!" perintah Reno.

Reno sendiri tidak mundur. Ia justru melangkah maju. Nidhogg merayap turun dari bahunya ke telapak tangan Reno.

"Boleh aku memakannya, Reno? Aku butuh sedikit camilan setelah proses evolusi yang melelahkan semalam," tanya Nidhogg dengan nada haus darah.

"Lakukan, tapi jangan tunjukkan bentuk aslimu. Tetap gunakan aura yang kusam," balas Reno.

Kera Kulit Kayu itu menerjang Reno dari atas, cakarnya yang tajam mengarah tepat ke kepala Reno. Lani berteriak memperingatkan, namun Reno tetap tenang. Di saat terakhir, Reno memiringkan tubuhnya dan menyodorkan telapak tangannya.

Nidhogg melompat, namun gerakannya sangat berbeda dari sebelumnya. Kali ini, tubuh Nidhogg tidak hanya mengeluarkan kabut hitam, tapi juga seolah olah menghilang ke dalam bayangan.

ZAP!

Nidhogg menembus kulit keras kera itu seolah-olah kulit kayu itu hanyalah kertas tipis. Nidhogg masuk ke dalam tubuh kera tersebut.

Kera itu mendarat di tanah dengan posisi yang aneh. Ia tidak menyerang lagi. Sebaliknya, ia mulai meronta ronta di tanah, memegangi dadanya. Suara jeritannya terdengar sangat memilukan.

Lani dan Dito hanya bisa menonton dengan wajah pucat. Mereka tidak bisa melihat apa yang dilakukan Nidhogg di dalam tubuh makhluk itu. Mereka hanya melihat urat-urat di tubuh kera itu membengkak dan berubah warna menjadi hitam.

Hanya dalam hitungan detik, kera besar itu berhenti bergerak. Tubuhnya menjadi kaku dan berwarna pucat keabu abuan. Nidhogg merayap keluar dari telinga kera itu, membawa sebuah kristal hijau kecil di mulutnya, lalu kembali ke tangan Reno.

"Rasanya pahit, seperti makan kayu bakar," keluh Nidhogg.

Reno memasukkan kristal itu ke kantong lencananya. Satu inti kristal didapat.

Lani mendekati Reno dengan langkah ragu "Reno... apa yang baru saja dilakukan cacing mu? Kenapa kera itu mati secepat itu?"

Reno menatap Lani dengan tatapan datar yang meyakinkan. "Dia adalah spesies Cacing Intan yang bermutasi, Lani. Dia menyerang langsung ke pusat saraf melalui pori-pori kulit. Kelihatannya mengerikan, tapi itu cara paling efisien untuk membunuh tanpa merusak inti kristalnya."

Lani menelan ludah, ia merasa Reno sekarang jauh lebih misterius dan berbahaya daripada saat di desa dulu. "Baiklah... yang penting kita selamat."

"Jangan lengah," Reno memperingatkan. "Bau darah kera ini akan mengundang predator yang lebih besar. Kita harus segera pindah dari sini."

Baru saja mereka hendak melangkah, telinga Reno menangkap suara tepuk tangan yang lambat dari balik semak-semak di sisi lain.

"Luar biasa. Benar-benar luar biasa untuk seorang petani sampah."

Tiga orang muncul dari kegelapan hutan. Itu adalah Bagas dan dua orang pengikutnya yang paling kuat. Bagas memegang pedang pendek yang berkilau, sementara serigalanya berdiri di sampingnya dengan bulu yang berdiri tegak.

"Bagas? Apa yang kau lakukan di sini? Area kita seharusnya di sektor timur!" seru Dito dengan nada takut.

"Sektor timur membosankan," ucap Bagas sambil menyeringai licik. "Aku lebih tertarik dengan sektor selatan. Di sini ada mangsa yang ingin sekali aku hancurkan. Reno, serahkan semua inti kristal mu dan lencana mu, maka aku mungkin akan membiarkanmu merangkak keluar dari hutan ini dengan satu kaki yang utuh."

Reno menatap Bagas dengan dingin. Ia bisa merasakan Nidhogg mulai mengeluarkan aura panas di bahunya.

"Reno... bolehkah aku menghisap serigala itu? Aku benci bau anjing," bisik Nidhogg.

"Jangan sekarang, Nidhogg. Simpan untuk saat yang tepat," balas Reno.

Reno menatap Bagas, lalu melirik ke arah pohon-pohon di sekeliling mereka. Ia menyadari sesuatu yang aneh. Ada bayangan hitam yang tidak wajar yang sedang mengawasi mereka dari atas dahan tinggi. Bukan penjaga akademi, tapi aura yang sama dengan pria berjubah hitam semalam.

Sial, mereka benar-benar mengejar ku sampai ke sini, batin Reno.

"Bagas, jika kau ingin bertarung, sebaiknya kau lihat sekelilingmu dulu," ucap Reno dengan nada rendah. "Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari aku yang sedang memperhatikan kita."

Bagas tertawa terbahak bahak. "Trik murahan! Kau ingin menakuti ku agar aku lengah? Tidak akan berhasil!"

Namun, tawa Bagas terhenti saat sebuah jarum hitam kecil melesat dari kegelapan hutan dan menancap tepat di leher salah satu pengikut Bagas. Pemuda itu langsung tumbang ke tanah dengan mulut berbusa tanpa sempat mengeluarkan suara.

Suasana seketika menjadi mencekam. Reno tahu, ujian praktik ini baru saja berubah menjadi perburuan nyawa yang sesungguhnya.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!