[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana Monyet Itu Tahu Rumahku?
Tiga hari setelah kepulangan teman-teman Chinanya, Olyvia akhirnya bisa menikmati kesunyian istananya. Tidak ada lagi suara tawa Liu Meixiang yang memekakkan telinga. Tidak ada lagi Zhang Wei yang berebut remote TV dengan Wang Junjie. Tidak ada lagi Sun Xiaowen yang bernyanyi di kamar mandi sampai Bu Sri mengetuk pintu.
Sunyi. Damai. Persis seperti yang ia butuhkan.
Ia menghabiskan tiga hari itu di ruang kerjanya, menyiapkan bahan presentasi untuk hari Senin. Prof. Budi sudah mengonfirmasi bahwa beberapa kolega dari industri akan hadir. Ini kesempatan besarnya untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar anak beasiswa yang diremehkan.
Slide demi slide ia susun dengan rapi. Diagram arsitektur model, hasil uji akurasi, perbandingan dengan metode existing, dan potensi implementasi di dunia medis. Semuanya ia siapkan dengan teliti. Xiao Han memang sudah membantunya menyelesaikan kode, tapi presentasi adalah tanggung jawabnya sendiri.
Gue harus tampil sempurna. Ini tiket gue buat lulus cepat. Ini bukti bahwa gue bukan Olyvia yang dulu.
Ia menyeruput kopi buatan Bu Sri dan meregangkan tubuhnya. Punggungnya terasa kaku setelah berjam-jam duduk. Ia berdiri dan berjalan ke jendela, menatap taman tropis yang tertata rapi. Pak Slamet sedang menyiram tanaman, sementara Pak Dedi membersihkan kolam renang.
Hidup gue sekarang damai. Proyek selesai. Teman-teman udah pulang. Ibu bentar lagi jadi Ratu Kontrakan. Monyet udah gak muncul lagi.
Ia tersenyum puas. Tapi senyum itu langsung pudar begitu ia mendengar suara ribut-ribut dari arah gerbang depan.
"Mbak Olyvia! Mbak Olyvia! Ada tamu!" suara Bu Ratih terdengar panik dari lantai bawah.
Olyvia mengerutkan kening. Tamu? Siapa? Temen-temen gue udah pulang semua ke China.
Ia berjalan keluar kamar dan menuruni tangga. Begitu tiba di ruang tamu, ia langsung membeku.
Di depan pintu utama, berdiri Arjuna Wicaksono. Dengan singkatan monyet Arjuna.
Pria itu mengenakan kemeja biru muda dan celana jeans. Rambutnya klimis seperti biasanya. Wajahnya tampan, seperti biasa. Tapi yang membuat Olyvia ingin muntah adalah barang-barang yang ia bawa.
Sebuah spanduk kecil bertuliskan "I'M SORRY, VY. TAKE ME BACK."
Sebuket mawar merah yang dibungkus plastik transparan.
Dan sekotak besar cokelat mahal dengan pita emas.
Lagi. Lagi. LAGI.
Arjuna tersenyum begitu melihat Olyvia. Senyum yang dulu membuat Olyvia meleleh, tapi sekarang hanya membuatnya ingin menampar.
"Vy! Akhirnya aku nemuin kamu! Aku cari alamat kamu kemana-mana. Ternyata kamu pindah ke sini. Rumah kamu bagus banget. Aku bangga sama kamu."
Olyvia menyilangkan tangan di dada. "Jun, kamu ngapain di sini? Dan yang lebih penting, gimana kamu tau alamat ku? "
Arjuna tersenyum malu-malu. "Aku... aku tanya temen-temen kampus. Ada yang tau. Aku gak bisa sebutin namanya."
Olyvia mendesah panjang. Mata-mata lagi. Dasar.
"Terus kamu ke sini mau apa? Bawa spanduk lagi? Bunga lagi? Cokelat lagi? Jun, kamu gak capek apa?"
Arjuna melangkah maju dan menyodorkan buket mawar dan cokelat itu. "Vy, aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku cuma mau buktiin kalau aku serius. Aku cinta kamu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu."
Olyvia menatap buket mawar itu. Merah. Cantik. Mahal. Tapi kosong. Sama seperti kata-kata Arjuna.
Lalu ia menatap kotak cokelat itu. Belgian chocolate. Premium. Mahal. Tapi...
"Cokelat lagi," gumam Olyvia pelan.
Arjuna mengangguk semangat. "Iya! Ini cokelat impor kesukaan kamu kan? Kamu suka cokelat kan?"
Olyvia akhirnya tertawa. Bukan tawa bahagia. Tawa sinis yang membuat Arjuna mengerutkan kening.
(disini pakai lo-gue, si olyv udah mulai muak, mueeeh)
"Jun, Lo tau gak sih? Selama dua tahun kita pacaran, lo gak pernah tau gue suka apa."
Arjuna bingung. "Maksud kamu apa? Kamu suka cokelat kan? Semua cewek suka cokelat."
"Enggak, Jun. gue gak suka cokelat tapi gue suka strawberry."
Arjuna terdiam.
Olyvia melanjutkan, suaranya tenang tapi tajam. "Dua tahun, Jun. Dua tahun lo gak pernah ingat. Setiap lo kasih gue cokelat, gue terima sambil senyum. Tapi di dalam hati, gue kecewa Jun, kecewa berat. Karena lo gak pernah benar-benar kenal sama gue sedikitpun"
Arjuna membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
Olyvia menunjuk kotak cokelat di tangannya. "Itu cokelat mahal. Tapi buat gue, itu cuma sampah. Karena lo beli itu bukan buat gue. Lo beli itu buat ego lo sendiri. Biar lo keliatan romantis. Biar orang-orang kasian sama lo. Biar lo bisa bilang ke diri lo sendiri, 'Gue udah berusaha, tapi dia yang gak mau.'"
Air mata mulai menggenang di mata Arjuna. "Vy, aku... aku gak bermaksud..."
"Tau gak, Jun? Ada seseorang yang cuma kenal gue enam bulan. Dan dia ingat gue suka strawberry. Dia bawakan gue cake strawberry, mochi strawberry, susu strawberry. Dia bahkan gak pernah bilang cinta ke gue sedikitpun. Tapi tindakannya menunjukkan dia peduli. Lo? Lo bilang cinta setiap hari, tapi lo gak pernah peduli sama apa yang gue suka."
Arjuna menunduk. Tangannya yang memegang cokelat dan bunga gemetar.
Olyvia menghela napas. "Jun, gue gak benci lo. Gue cuma gak peduli lagi sama lo. Lo bisa bawa spanduk segede apa pun, lo bisa sewa pesawat buat nulis nama gue di langit, lo bisa beli cokelat satu toko. Tapi lo gak akan pernah bisa bikin gue balik. Karena gue udah bukan Olyvia yang dulu."
Ia melangkah mundur dan menunjuk pintu. "Sekarang, tolong pergi. Dan jangan pernah datang lagi. Kalo lo datang lagi, gue panggil satpam."
Arjuna berdiri terpaku. Air matanya akhirnya jatuh. Tapi Olyvia tidak bergeming.
"Bu Sri, tolong antar Mas Arjuna keluar."
Bu Sri yang sedari tadi mengamati dari sudut ruangan langsung maju. "Silakan, Mas. Sini saya antar."
Arjuna menatap Olyvia untuk terakhir kalinya. Ada luka di matanya. Tapi Olyvia sudah berbalik dan berjalan menaiki tangga.
Dulu gue yang nangis kayak gitu. Sekarang giliran lo. Rasain apa yang gue derita dulu jun.
Kamar Olyvia
Olyvia menutup pintu kamarnya dan bersandar di sana. Dadanya terasa sesak, tapi bukan karena sedih. Karena lega.
Akhirnya gue bisa ngomong semua. Akhirnya dia denger.
Ia berjalan ke meja kerja dan menatap bahan presentasinya. Lalu matanya tertuju pada gelang bintang di pergelangan tangannya.
Xiao Han ingat gue suka strawberry. Dia bahkan gak pernah bilang cinta ke gue. Tapi dia ingat kesukaan gue.
Ia menyentuh liontin bintang di pergelangan tangannya. Keep shining.
Gue akan terus bersinar. Sendiri. Tapi gak kesepian.
Ponselnya bergetar. Pesan WeChat dari Xiao Han.
Xiao Han: Aku sudah sampai di Shanghai. Presentasimu hari Senin?
Olyvia tersenyum dan membalas.
Olyvia: Iya. Senin pagi.
Xiao Han: Semoga sukses. Aku yakin kamu bisa.
Olyvia: Terima kasih. Untuk semuanya.
Xiao Han: Untuk apa? Aku hanya membantu sedikit.
Olyvia: Bukan itu. Terima kasih karena kamu ingat aku suka strawberry.
Jeda sejenak. Lalu balasan datang.
Xiao Han: Aku ingat semua tentangmu, Olyvia. Bukan hanya strawberry.
Olyvia menatap pesan itu lama sekali. Dadanya menghangat. Tapi ia tidak membalas. Ia hanya menyimpan ponselnya dan kembali menatap bahan presentasi.
Senin. Fokus ke Senin dulu. Soal hati... nanti aja.
Tapi senyum tipis di bibirnya tidak bisa ia sembunyikan.
Hidup nya di penuhi ganggu si Arjuna, sampai Minggu malam sebelum presentasi keesokan harinya. Olyvia duduk di tepi kolam renang, menatap bintang-bintang. Besok adalah hari yang menentukan. Presentasi proyek AI-nya di depan profesor dan kolega industri. Jika berhasil, ia bisa lulus lebih cepat dan mendapatkan penghargaan.
Tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Ia menatap gelang bintang di pergelangan tangannya. Xiao Han ingat semua tentang gue. Bukan cuma strawberry.
Apa dia... benar-benar peduli? Atau gue yang terlalu banyak menghayal?
Ia menggelengkan kepala. Oly, ingat. Lo mati rasa. Lo gak boleh jatuh cinta lagi. Fokus sama karier. Fokus sama keluarga. Cowok itu bonus. Bukan tujuan.
Tapi saat ia memejamkan mata, bayangan Xiao Han dengan tote bag coklat berisi cake strawberry terus muncul.
Kenapa dia? Kenapa bukan Arjuna yang ingat? Kenapa harus dia yang jarang bicara, tapi tindakannya selalu tepat?
Ia membuka mata dan menatap bintang paling terang di langit.
Keep shining. Gue akan terus bersinar. Dengan atau tanpa dia.