Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Bengkel Pusat
Sebelum sirine pemadam kebakaran memekakkan telinga di malam yang naas ini, ingatan Zevanya terseret paksa ke sebuah masa dua dekade silam. Masa di mana bau oli bukan sekadar aroma pekerjaan, melainkan aroma kasih sayang seorang ayah.
Kilas Balik: Gadis Kecil dan Kunci Inggris No. 12
Zeva kecil, yang saat itu baru berusia tujuh tahun, tidak pernah menyukai boneka barbie atau rumah-rumahan plastik. Baginya, istana yang paling megah adalah bengkel kecil milik ayahnya, Hasan Sanjaya, yang terletak di sudut kumuh Jembatan Merah. Bengkel itu hanyalah bangunan semi-permanen dengan atap seng yang selalu bernyanyi saat hujan turun, namun di mata Zeva, setiap sudutnya menyimpan keajaiban.
"Zev, ambilkan kunci pas nomor dua belas," perintah Hasan sambil berbaring di bawah kolong truk tua yang sedang ia perbaiki.
Zeva dengan sigap berlari ke arah rak perkakas yang berantakan namun ia hafal luar kepala. Dengan tangan mungilnya yang sudah bernoda hitam, ia memberikan alat itu. "Ini, Pah. Mau Zeva bantu pegangin lampunya?"
Hasan keluar dari kolong truk, mengusap peluh di dahinya dengan lengan baju yang penuh oli, lalu tersenyum lebar. Ia mencubit hidung putrinya, meninggalkan noda hitam kecil di sana. "Kamu itu perempuan, Zev. Kamu nggak mau main masak-masakan sama anak-anak sebelah?"
Zeva menggeleng kuat. "Nggak mau. Masak-masakan itu nggak seru. Mesin ini lebih seru, Pah. Dia punya jantung, punya urat kabel, dan kalau dia 'sakit', dia bakal nangis suara krak-krak-krak. Zeva mau jadi dokter buat mesin."
Hasan tertawa bangga, namun di balik tawa itu, ada kabut kesedihan. Hasan tahu bahwa kecerdasan putrinya dalam memahami mekanika adalah warisan jenius yang ia miliki, namun ia juga tahu dunia di luar sana kejam terhadap orang kecil seperti mereka.
Suatu malam, Zeva melihat ayahnya duduk di bawah lampu minyak, menekuni sebuah jurnal tua dan tumpukan surat dengan stempel emas bertuliskan Alfarezel Group.
"Pah, kenapa Bapak itu sering dateng ke sini?" tanya Zeva merujuk pada Gunawan Alfarezel, ayah Adrian, yang sesekali datang dengan mobil mewah yang tampak sangat asing di lingkungan kumuh itu.
"Dia teman lama, Zev. Kita sedang membangun mimpi besar. Suatu hari nanti, ayah ingin kamu sekolah di tempat yang paling bagus, nggak usah mandi oli tiap hari begini," bisik Hasan sambil mengelus rambut Zeva.
Zeva tidak tahu bahwa "mimpi besar" itu adalah awal dari malapetaka. Ia tidak tahu bahwa ayahnya sedang dikhianati oleh sistem dan oleh wanita bernama Helena yang haus kekuasaan. Yang Zeva tahu hanyalah ketika bengkel itu terbakar hebat tiga tahun kemudian, ayahnya meneriaki namanya agar ia lari keluar, sementara sang ayah sendiri terkepung api demi menyelamatkan sebuah kotak baja hitam yang ia sebut sebagai "masa depan Zeva".
Zeva berdiri di trotoar, menangis meraung-raung melihat bengkel itu runtuh ditelan si jago merah. Sejak malam itu, jantung Zeva membeku. Ia bersumpah akan membangun kembali setiap inci dari apa yang hilang, meskipun ia harus merangkak dari aspal yang paling dingin.
Kembali ke masa kini.
Zevanya tersentak dari lamunannya saat ponselnya bergetar hebat di dalam saku jaket kulitnya. Di hadapannya, melalui jendela kaca besar di kantor pusat, ia melihat semburat warna oranye yang mengerikan di ufuk barat. Itu bukan matahari terbenam. Itu adalah api.
"Zeva! Bengkel Pusat! Terbakar!" teriak Adrian yang baru saja merangsek masuk ke ruangan dengan wajah panik.
Tanpa berkata-kata, Zeva berlari menuju parkiran. Ia memacu motor kustomnya melintasi kemacetan Jakarta dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan memori traumatis masa kecilnya yang baru saja melintas. Jangan lagi, Tuhan. Jangan biarkan mereka mengambil bengkelku lagi, doanya dalam hati.
Begitu sampai di lokasi, Zeva terjatuh dari motornya karena syok. Z&A Automotive & Social Hub, bengkel modern yang ia bangun dengan tetesan keringat dan air mata untuk membina anak-anak jalanan, kini sedang dilalap api yang sangat besar. Suara ledakan tangki bensin dan tabung gas pengelas terdengar susul-menyusul.
"Ujang! Siska! Di mana kalian?!" teriak Zeva, mencoba merobos barisan polisi yang sudah memasang garis pengaman.
"Nona! Jangan masuk! Di dalam masih ada ledakan!" cegat seorang petugas keamanan.
Zeva meronta, kekuatannya seperti singa yang mengamuk. "Anak-anak didik gue ada di dalam! Mereka lagi lembur buat pesanan yayasan! Lepasin gue!"
Adrian tiba beberapa saat kemudian, langsung memeluk Zeva dari belakang untuk menahannya. "Zeva, tenang! Pemadam sudah bekerja! Lihat, mereka sudah mengevakuasi semua orang!"
Zeva melihat Ujang dan beberapa remaja didikannya terduduk di aspal, wajah mereka hitam karena jelaga, tubuh mereka gemetar. Zeva berlari menghampiri mereka, memeluk mereka satu per satu dengan tangis yang pecah.
"Kalian nggak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Zeva dengan suara serak.
"Kami semua selamat, Zev," ujar Ujang dengan suara parau. "Tapi... mesin-mesin baru itu... proyek restorasi mobil klasik milik kolektor... semuanya habis. Habis total."
Zeva menatap bengkelnya yang kini tinggal puing-puing membara. Bau besi terbakar dan bensin yang menyengat membawa kembali rasa sakit sepuluh tahun lalu. Ini bukan kecelakaan. Zeva tahu betul protokol keamanan di bengkelnya adalah yang terbaik di industri. Ini adalah sabotase. Ini adalah serangan jantung terhadap simbol kemandiriannya.
Pagi harinya, saat asap tipis masih mengepul dari sisa-sisa bangunan, Zeva melangkah masuk ke dalam reruntuhan dengan sepatu bot yang berderit menginjak kaca dan logam cair. Adrian mengikutinya, membawa masker pernapasan.
Zeva berhenti di sudut di mana dulu ia menyimpan server CCTV lokal. Semuanya sudah meleleh. Namun, matanya yang jeli menangkap sesuatu yang tidak biasa di dekat panel listrik utama.
"Adrian, sini," panggil Zeva.
Ia menunjuk ke sebuah alat kecil yang hampir hancur, namun kabel-kabelnya menunjukkan bahwa itu adalah perangkat pemicu jarak jauh yang diletakkan secara sengaja.
"Ini bom termit," desis Zeva. "Suhu pembakarannya sangat tinggi, itulah kenapa api menyebar begitu cepat dan pemadam kesulitan memadamkannya. Ini bukan kerjaan amatir, Adrian. Ini kerjaan profesional yang tahu persis titik lemah struktur bangunan ini."
Adrian mengepalkan tangannya. "Robert Tan? Atau kaki tangan Helena?"
"Siapapun mereka, mereka ingin aku hancur secara finansial dan mental," ujar Zeva. Ia mengambil sisa pemicu itu dengan sapu tangan. "Mereka ingin menunjukkan bahwa meskipun aku punya saham Alfarezel, aku tidak akan pernah bisa memiliki 'rumah' sendiri."
Tiba-tiba, seorang asisten Adrian berlari menghampiri. "Pak Adrian, Nona Zeva... ada masalah baru. Para investor dan kolektor mobil yang menitipkan kendaraan mereka di sini mulai melayangkan tuntutan. Nilai kerugiannya mencapai ratusan miliar karena kendaraan yang terbakar adalah barang langka yang tidak bisa dinilai dengan uang."
Zeva tersenyum getir. "Skenario yang sempurna. Membakar mimpiku sekaligus mencekikku dengan hutang."
Zeva terduduk di atas mesin bubut yang sudah hangus. Ia merasa hancur. Selama ini ia selalu menjadi pahlawan bagi orang lain, namun sekarang, ia merasa seperti gadis kecil yang kembali kehilangan ayahnya di tengah kobaran api.
Adrian duduk di sampingnya, merangkul pundaknya. "Zeva, aku punya dana pribadi. Aku bisa menutupi semua tuntutan itu. Kita bangun lagi dari awal."
Zeva menoleh, menatap mata suaminya. "Nggak, Adrian. Kalau lu pake uang Alfarezel atau uang pribadi lu buat nutupin ini, mereka bakal bilang gue cuma 'benalu' yang nggak becus bisnis. Mereka menang kalau gue berlindung di balik ketiak lu."
"Lalu apa rencanamu? Ratusan miliar bukan uang kecil, Zeva."
Zeva berdiri, menghapus sisa arang di pipinya. "Gue bakal pake cara jalanan. Gue bakal cari siapa yang jual termit ini di pasar gelap Jakarta. Dan soal ganti rugi... gue punya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang tunai."
Sore itu, Zeva memanggil semua kolektor dan investor ke lokasi reruntuhan. Di hadapan orang-orang kaya yang marah itu, Zeva berdiri tegak di atas tumpukan puing.
"Saya tahu kalian kecewa," suara Zeva lantang, tanpa getaran ketakutan. "Mobil-mobil kalian adalah sejarah. Dan sejarah tidak bisa dibeli dengan uang asuransi. Maka saya menawarkan janji: Dalam waktu enam bulan, saya sendiri yang akan memimpin tim untuk merestorasi ulang mobil-mobil kalian atau mencarikan unit pengganti yang lebih baik melalui jaringan logistik Alfarezel di seluruh dunia. Tanpa biaya tambahan. Jika saya gagal, saya akan menyerahkan seluruh porsi saham saya di Alfarezel sebagai jaminan."
Para investor terdiam. Adrian terkejut dengan keberanian Zeva yang mempertaruhkan warisan ayahnya. Namun, di mata para investor, mereka melihat sesuatu yang jarang ditemukan di dunia bisnis: integritas yang murni.
Malamnya, Zeva tidak beristirahat. Ia mengganti pakaian mewahnya dengan kaos hitam lusuh dan celana kargo. Ia menghubungi jaringan lamanya di Jembatan Merah.
"Gue butuh info siapa yang dapet orderan termit minggu ini," ujar Zeva pada seorang informan bernama 'Si Kancil'.
Pencarian membawanya ke sebuah klub malam ilegal di pelabuhan Utara. Di sana, Zeva harus berhadapan dengan gerombolan tentara bayaran yang diduga menjadi pelaksana pembakaran.
Zeva masuk sendirian, hanya berbekal keberanian dan insting bertarung. Di dalam ruangan yang penuh asap rokok, ia menemukan orang yang ia cari: mantan kepala keamanan Alfarezel yang dipecat Adrian bulan lalu, yang kini bekerja untuk Robert Tan.
"Zevanya... kau berani datang ke sini tanpa pengawal pangeranmu?" ejek pria itu sambil menghunuskan pisau lipat.
"Gue nggak butuh pangeran buat beresin sampah kayak lu," sahut Zeva.
Perkelahian pecah di ruang sempit itu. Zeva menggunakan kelincahannya, memanfaatkan botol-botol minuman dan kursi sebagai senjata. Ia tidak bertarung seperti petarung profesional, tapi seperti kucing hutan yang terpojok—brutal, cepat, dan efektif.
Setelah melumpuhkan dua penjaga, Zeva menekan leher sang mantan kepala keamanan ke meja judi yang penuh uang. "Siapa yang kasih perintah?! Robert Tan atau Helena?!"
"Robert... Robert Tan yang bayar! Tapi informasinya dari dalam, Zeva! Ada orang di yayasanmu yang kasih denah titik lemah listriknya!" rintih pria itu.
Zeva membeku. Pengkhianatan dari dalam. Orang yang ia anggap keluarga telah menjualnya.
Zeva kembali ke apartemen saat fajar menyingsing. Adrian menunggunya dengan cemas di lobi. Melihat istrinya yang babak belur namun membawa sebuah flashdisk berisi bukti percakapan sabotase, Adrian hanya bisa memeluknya erat.
"Sudah ketemu pelakunya?" tanya Adrian.
"Sudah. Dan itu lebih menyakitkan daripada apinya sendiri," jawab Zeva pelan.
Zeva berdiri di balkon, menatap arah bengkelnya yang kini tinggal kenangan. Namun, kali ini ia tidak menangis. Ia teringat kata-kata ayahnya: "Zev, besi itu nggak bisa hancur cuma karena api. Dia cuma berubah bentuk jadi sesuatu yang lebih kuat kalau ditempa dengan benar."
"Adrian," panggil Zeva. "Banyak orang pikir api itu akhir dari segalanya. Tapi buat gue, api ini justru ngebakar semua keraguan gue. Gue nggak akan cuma bangun bengkel itu lagi. Gue bakal bangun pusat otomotif terbesar di Asia Tenggara, dan gue bakal pastiin orang-orang yang ngebakar mimpi gue bakal ngerasain dinginnya penjara selamanya."
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan