"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Bintang melepaskan pelukannya perlahan, namun tangannya masih enggan lepas dari pinggang Afisa. Wajahnya yang biasa tenang saat menghadapi pasien di IGD, kini tampak berseri-seri penuh kemenangan.
"Karena klausulnya sudah ditandatangani, kita butuh dokumentasi sebagai bukti otentik," ujar Bintang sambil merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan ponsel.
Afisa tertawa kecil, menyeka sisa air mata haru di sudut matanya. "Dokter Bintang, kamu benar-benar sudah tertular cara kerja pengacara, ya? Semuanya harus ada bukti?"
"Harus, Fis. Supaya kamu nggak bisa mengajukan banding lagi," canda Bintang.
Ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, mengarahkan kamera ke arah mereka berdua. Afisa sedikit merapat, menyandarkan kepalanya di bahu lebar Bintang sambil mengangkat kunci apartemen baru dengan gantungan bunga matahari itu ke arah kamera. Cekrek! Cahaya lampu flash ponsel menerangi kabin mobil sesaat, menangkap senyum paling tulus yang pernah Afisa miliki selama empat tahun terakhir.
Tanpa membuang waktu, jemari Bintang menari lincah di atas layar.
"Pertama, ke grup Ayah dan Bunda," gumam Bintang. Ia mengetikkan pesan singkat: 'Alhamdulillah, Ayah, Bunda... Afisa sudah setuju untuk pulang ke rumah yang sama. Mohon doanya.'
Afisa menggigit bibir bawahnya, membayangkan reaksi orang tuanya di rumah jakarta selatan yang pastinya akan langsung heboh saat melihat notifikasi itu di tengah malam pergantian tahun.
Belum sempat Afisa berkomentar, Bintang beralih ke grup berikutnya: Keluarga Fernandes.
"Arkan pasti langsung heboh," tebak Afisa.
Bintang mengirimkan foto yang sama dengan caption yang lebih berani: 'Resmi. Januari 2022 bukan cuma ganti tahun, tapi ganti status. Persiapkan jas kalian.'
Hanya butuh hitungan detik sampai ponsel di tangan Bintang bergetar tanpa henti. Notifikasi masuk bertubi-tubi seperti rentetan kembang api yang baru saja meledak di langit Jakarta.
Grup Keluarga Fernandes:
Arkan: WIDIIIIHHH! Akhirnya rekan debat gue luluh juga! Kak Bintang pake pelet apa di mobil? Gue otw pesan jas sekarang juga!
Mama Bintang: Alhamdulillah... Mama langsung sujud syukur, Bin. Afisa sayang, selamat datang di keluarga kita secara resmi ya Nak.
Papa Bintang: Kerja bagus, Bin. Besok kita bahas katering dan gedung.
Afisa melihat semua pesan itu dengan perasaan yang meluap. Ia merasa begitu dicintai, begitu diterima. Ketakutannya tentang "bosan" dan "dibuang" seolah tenggelam oleh gelombang dukungan dari keluarga besar pria di sampingnya ini.
"Lihat, Fis? Semua orang menunggu momen ini," Bintang menunjukkan layar ponselnya yang masih terus bergetar.
Afisa tersenyum, menyentuh layar ponsel itu pelan. "Aku nggak pernah menyangka, di akhir tahun 2021, aku akhirnya berani mengambil langkah ini, Bin."
"Kamu nggak melangkah sendiri, Fis. Ada aku," jawab Bintang lembut, lalu ia menyimpan kembali ponselnya. "Sekarang, calon Nyonya Bintang, silakan istirahat. Besok adalah hari pertama di tahun 2022, dan kita punya banyak rencana besar untuk disiapkan."
Afisa mengangguk, ia mencium pipi Bintang singkat sebelum keluar dari mobil. Sambil melangkah menuju lobi apartemen, ia masih bisa merasakan debar jantungnya yang tak karuan.
Namun, saat ia menaiki lift dan membuka pintu apartemennya, matanya tak sengaja tertuju pada tumpukan dokumen di atas meja kerja yang belum sempat ia rapihkan. Di sana, di balik laptopnya, terselip sebuah amplop cokelat berlogo firma hukumnya yang baru saja dikirim oleh kurir sore tadi dan belum sempat ia buka karena terburu-buru pergi ke Gala Keluarga Fernandes.
Afisa melangkah mendekat, rasa penasarannya terusik. "Surat apa ini? Tumben kantor kirim dokumen fisik di akhir tahun."
Dengan perasaan tenang yang masih terbawa dari mobil Bintang, Afisa merobek amplop itu. Ia berharap itu hanyalah bonus akhir tahun atau sekadar laporan tahunan. Namun, saat matanya membaca baris pertama, seluruh kehangatan yang ia rasakan mendadak menguap.
REKOMENDASI MUTASI JABATAN: AFISA ANJANI, S.H.
Menimbang kebutuhan strategis Kantor Cabang Utama... efektif per 15 Januari 2022, Saudara dipindahtugaskan untuk memimpin tim litigasi di SEMARANG.
Lutut Afisa mendadak lemas. Ia terduduk di kursi kerjanya, menatap surat itu dengan pandangan kosong. Kabar dari Citra tadi di meja makan tiba-tiba terngiang kembali di telinganya. Citra ke Semarang, dan ternyata... ia juga harus ke sana.
Tepat saat ia baru saja berjanji untuk membangun "rumah" bersama Bintang di Jakarta.