NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Thalia si Anak Baru (Syialan~)

Hari Senin.

Matahari Lombok terasa lebih menyengat dari biasanya. Atau mungkin itu hanya perasaan Angga yang kurang tidur. Semalaman ia menyelesaikan sketsa pesanan baru, sebuah potongan lanskap pantai untuk klien dari Surabaya.

Ia masuk ke ruang kuliah Fakultas Ekonomi dengan langkah malas. Tas laptop di bahu, rambut sedikit berantakan, kemeja lengan panjang abu-abu digulung di siku. Penampilan khas Angga: sederhana tapi sulit diabaikan.

Beberapa mahasiswi melirik. Angga tidak peduli.

Ia duduk di bangku paling belakang dekat jendela. Posisi favoritnya. Dari sini ia bisa melihat langit, pohon-pohon, dan kadang-kadang bayangan gedung kedokteran di kejauhan. Di gedung itu, Adea sedang belajar sesuatu tentang tulang atau sistem pernapasan atau hal-hal yang tidak Angga pahami.

Semoga dia makan siang, pikir Angga. Jangan cuma roti lagi.

Dosen belum datang. Suasana kelas masih ramai dengan obrolan mahasiswa.

"Bro, ada murid baru lekan Jakarta, taok'm?" bisik Yoga, teman sebangku Angga yang juga anak ekonomi. Cowok berkacamata tebal dengan logat Lombok yang kental.

(Bro, lu denger? Ada mahasiswi pindahan dari Jakarta)

"Terus?" Angga tidak terlalu tertarik.

"Inges solah! Katanya jak, anak dewan atau apalah jage. Pindahan sengak turut parents ne."

(Katanya cantik. Ayahnya pejabat atau apalah gitu. Pindahan karena ikut orang tua).

"Banyak yang pindahan, Yoga."

"Iya tapi ini beda. Nama nya Thalia Askara Mahendra. Udah kayak nama artis aja."

Angga hanya mengangguk malas. Ia membuka laptop dan mulai memeriksa tugas yang belum ia kumpulkan.

---

Pintu ruang kuliah terbuka.

Dosen masuk-Pak Adam, dosen pengantar ekonomi mikro yang terkenal galak tapi baik hati. Rambutnya sudah memutih di pelipis.

"Selamat pagi, mahasiswa ekonomi yang kelak akan menjadi tulang punggung negeri. Mudah-mudahan kalian tidak menjadi tulang punggung yang bengkok."

Seluruh kelas tertawa kecil. Semua kecuali Angga. Ia hanya tersenyum tipis.

"Hari ini kita kedatangan mahasiswi baru dari Universitas Indonesia. Pindahan karena alasan keluarga. Tolong diterima dengan baik, ya. Jangan ada yang nge-bully atau saya akan masukkan nilai D di akhir semester."

Pak Adam menoleh ke pintu.

"Silakan masuk, Thalia."

Pintu terbuka lebih lebar.

Seekor perempuan melangkah masuk.

Tinggi. Rambut hitam panjang lurus sebahu. Kulit putih bersih seperti tidak pernah tersentuh matahari. Wajahnya anggun dengan tulang pipi tegas dan mata yang teduh. Tapi ada sesuatu di balik teduh itu yang sulit dijelaskan. Ia mengenakan blazer putih, rok pensil abu-abu, dan sepatu hak rendah. Tas selempang kulit coklat melintang di tubuhnya.

Ia benar-benar terlihat seperti bukan anak ekonomi.

Ia terlihat seperti anak magang di kantor konsultan.

"Thalia Askara Mahendra. Panggil Thalia," ucapnya singkat. Suaranya lembut tapi jelas, seperti air mengalir di atas batu-batu sungai. "Dari Jakarta. Saya di sini karena ayah saya ditugaskan di NTB. Mohon bantuannya."

Ia tersenyum. Senyum yang terlatih. Senyum yang tidak salah.

Kelas bertepuk tangan ramah.

Beberapa cowok bersiul kecil, langsung ditegur Pak Adam dengan tatapan tajam.

"Thalia, silakan duduk di mana pun yang masih kosong."

Thalia mengamati ruangan. Matanya menyapu bangku-bangku.

Bangku depan penuh. Tengah penuh. Belakang...

Matanya berhenti.

Seorang cowok dengan kemeja abu-abu sedang menatap laptopnya, tidak peduli dengan kedatangannya. Rambutnya sedikit panjang, hampir menutup mata. Tubuhnya tegap, berbeda dengan cowok kebanyakan yang kurus-kurus khas anak ekonomi.

Thalia tersenyum kecil.

Ia berjalan. Sepatu hak rendahnya berbunyi pelan di lantai keramik. Melewati bangku demi bangku. Hingga akhirnya ia berhenti.

Tepat di sebelah Angga.

"Maaf, ini kosong?" tanyanya.

Angga menoleh. Matanya bertemu dengan mata Thalia untuk pertama kalinya.

"Iya," jawabnya singkat. Lalu kembali ke laptopnya.

Thalia duduk. Ia mengeluarkan buku catatan, pulpen mahal berwarna emas, dan menyusun semuanya dengan rapi. Tidak ada yang berantakan. Tidak ada yang keluar tempat.

Yoga di sebelah Angga melongo. Ia mencolek lengan Angga.

"Bro, dia duduk di sini."

"Gue lihat."

"Dia duduk di SEBELAH lo."

"Gue punya mata."

"Lo sadar gak sih-"

"Yoga, fokus. Dosen mulai ngajar."

Pak Adam sudah membuka slide presentasi di proyektor. Topik hari ini: Elastisitas Permintaan.

Thalia membuka buku catatannya. Ia menulis dengan rapi, pulpen emasnya menggores kertas dengan suara halus.

Sesekali, ia melirik ke samping. Ke arah Angga.

Cowok itu tidak menulis. Ia hanya menatap layar proyektor dengan ekspresi bosan seperti sudah tahu semua materi yang diajarkan. Jari-jarinya yang besar dan kasar sesekali mengetuk meja tanpa suara.

Menarik, pikir Thalia.

Ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari cowok ini. Sesuatu yang tidak ia temukan di Jakarta. Sesuatu yang... mentah. Nyata.

---

Jam istirahat.

Pak Adam memberi waktu 15 menit. Kelas langsung ramai kembali. Mahasiswa berhamburan ke kantin atau ke luar ruangan untuk menghirup udara segar.

Angga tetap di tempatnya. Ia membuka ponsel dan menemukan pesan dari Adea.

"Anggaa~ gue praktikum sampe jam 3. Jemput ya jangan telat! 😠"

Ia tersenyum kecil. Membalas:

"Iya. Makan siamg."

"SIANG, BANGKE!!"

"Siamg."

"KAMPANG!!"

Angga terkekeh pelan. Ia memasukkan ponsel ke saku.

"Pacar?"

Suara Thalia dari samping. Perempuan itu menatapnya dengan senyum tipis, pulpen emas masih di tangan.

"Bukan," jawab Angga datar.

"Tapi lu senyum lihat chat-nya."

Angga tidak menjawab.

"Thalia," perempuan itu mengulurkan tangan. "Kita belum kenalan resmi."

Angga menatap tangan yang terulur. Kulitnya halus, kuku nya rapi, ada cincin tipis di jari manisnya. Bukan cincin pertunangan, hanya aksesoris.

Ia menyambut jabatan tangan itu singkat. "Angga."

"Angga...?"

"Angga aja."

(Nama aslinya Alvito Tegar Prangga~)

Thalia tertawa kecil. Tidak tersinggung. "Oke, Angga aja. Lu anak sini?"

"Iya. Asli Lombok."

"Cool. Gue baru sebulan di sini. Masih adaptasi." Ia menatap keluar jendela, ke arah pohon-pohon rindang di halaman kampus. "Jakarta sama Lombok... beda banget. Di sini adem. Orang-orangnya santai."

"Lo bakal betah," ucap Angga. "Asal lo gak bawa gaya Jakarta ke mana-mana."

Thalia mengangkat alis. "Gaya gue kenapa?"

"Gak salah. Cuma beda."

Thalia tersenyum lagi. Senyum yang sama, terlatih, tapi kali ini ada sedikit rasa ingin tahu di dalamnya.

"Gue suka orang blak-blakan kayak lu, Angga."

"Gue gak peduli lo suka atau gak."

Thalia tertawa. Kali ini lebih keras. "Lucu. Gue baru pertama kali ketemu cowok yang gak berusaha nge-impress gue."

Angga tidak menanggapi. Ia menatap jam tangannya. Masih jam 10. Empat jam lagi sampai ia bisa menjemput Adea.

Lama amat.

Thalia mengamati perubahan ekspresi di wajah Angga. Cowok ini jelas sedang memikirkan seseorang. Bukan dosen. Bukan tugas. Bukan uang.

Seseorang.

Thalia tidak bertanya lebih lanjut. Ia kembali ke buku catatannya, pulpen emas mulai menari di atas kertas.

Tapi di sudut bibirnya, ada senyum kecil yang tidak hilang.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!