[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balik Kampung
Olyvia menatap layar ponselnya dengan ekspresi setengah bosan setengah geli. Di aplikasi perpesanan, masih ada puluhan pesan dari nomor-nomor tidak dikenal yang belum sempat ia buka. Semuanya pasti dari orang yang sama. Arjuna Wicaksono, sang mantan yang tidak kenal kata menyerah.
Ia menggulir layar dengan malas.
+62 812-1111-2222: Vy, aku di kampus. Kamu di mana? Kok gak masuk?
+62 813-3333-4444: Oly, aku tahu kamu baca ini. Please, kita ketemu bentar aja.
+62 815-5555-6666: Aku tunggu di apartemen kamu lagi. Satpamnya udah mulai curiga. Tapi aku gak peduli.
+62 821-7777-8888: Aku cinta kamu, Vy. Aku gak bisa hidup tanpa kamu.
Olyvia mendesah panjang. Gila. Udah ganti nomor berkali-kali masih aja ngeyel. Emang dasar monyet.
Tanpa pikir panjang, ia masuk ke pengaturan ponsel dan mengaktifkan fitur Blokir Semua Nomor Tidak Dikenal. Seketika, notifikasi dari nomor-nomor asing berhenti total. Hening. Damai. Olyvia tersenyum puas.
Nah, gini enak. Sekarang waktunya fokus ke hal yang lebih penting. Pulang kampung.
Hari itu adalah hari terakhir ujian akhir semester. Olyvia menyelesaikan semua mata kuliah dengan mudah. Pengetahuannya sebagai peneliti senior selama empat puluh tahun membuat soal-soal Advanced Machine Learning dan Neural Network Architecture terasa seperti PR anak SD. Ia bahkan selesai lebih awal di setiap ujian, membuat beberapa teman sekelas melongo iri.
Begitu ujian terakhir selesai, Olyvia langsung pulang ke apartemen, mengemasi barang-barang secukupnya, dan memesan tiket kereta api menuju kampung halamannya. Sebuah desa kecil di pinggiran Kabupaten Malang, tempat kedua orang tuanya tinggal dan menjalani hidup sederhana.
Kereta api melaju pelan meninggalkan Stasiun Kota Malang. Olyvia duduk di dekat jendela, menatap hamparan sawah hijau yang berganti menjadi perbukitan. Pikirannya melayang pada keluarganya.
Ibunya, Bu Sumarni, adalah seorang penjaga warung kelontong kecil di depan rumah. Warung itu hanya berukuran tiga kali empat meter, menjual sembako, jajanan anak sekolah, dan pulsa. Di kehidupan pertama, warung itu akhirnya tutup karena kalah saing dengan minimarket modern yang dibangun di ujung desa. Ibunya meninggal dengan penyesalan karena tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana.
Ayahnya, Pak Harjo, adalah seorang petani penggarap. Setiap hari ia pergi ke sawah milik orang lain, menanam padi, memupuk, dan memanen dengan upah yang tidak seberapa. Di kehidupan pertama, ayahnya terus bekerja hingga tubuhnya remuk, dan akhirnya meninggal karena sakit paru-paru basah yang tidak tertangani karena biaya rumah sakit terlalu mahal.
Olyvia mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Gak akan kejadian lagi. Kali ini gue punya cukup uang buat ngubah semuanya. Ibu gak akan tutup warung. Bapak gak akan mati kecapekan. Adik-adik gue bakal kuliah setinggi-tingginya.
Kereta tiba di stasiun kecil menjelang sore. Olyvia turun dan langsung mencium aroma khas pedesaan: campuran tanah basah, jerami, dan asap kayu bakar dari rumah-rumah penduduk. Ia menarik napas dalam-dalam. Rumah. Akhirnya.
Ia berjalan kaki menyusuri jalan desa yang masih berupa paving block. Beberapa tetangga yang mengenalinya melambai dan menyapa.
“Lho, Olyvia pulang? Tumben, biasanya setahun sekali.”
“Wah, Mbak Olyvia tambah cantik aja. Kuliahnya gimana?”
Olyvia membalas sapaan itu dengan senyum ramah dan anggukan sopan. Setelah lima belas menit berjalan, ia tiba di depan rumahnya. Rumah sederhana berdinding bata yang dicat putih kusam, dengan warung kecil di bagian depan.
Ibunya, Bu Sumarni, sedang duduk di belakang etalase warung sambil mengipasi diri dengan kipas anyaman bambu. Begitu melihat Olyvia, wajahnya langsung berseri.
“Astaga! Olyvia! Kok gak bilang dulu sih, Nduk? Ibu kan jadi gak siap-siap!”
Olyvia berlari kecil dan memeluk ibunya erat-erat. “Ibu… Olyvia kangen.”
Bu Sumarni menepuk-nepuk punggung anaknya. “Ibu juga kangen, Nduk. Sini, masuk. Pasti capek. Ibu buatin teh manis dulu ya.”
Mereka masuk ke dalam rumah. Ruang tamu kecil dengan sofa kain yang sudah sedikit melorot. Di dinding tergantung foto-foto keluarga, termasuk foto Olyvia saat wisuda SMA dan foto adik-adiknya. Olyvia duduk sambil menenteng tas ranselnya. Ia sengaja tidak membawa barang belanjaan dari mall kemarin. Terlalu mencolok. Nanti saja diurus.
“Bapak mana, Bu?”
“Masih di sawah. Paling bentar lagi pulang. Adikmu juga belum pulang sekolah."
Olyvia mengangguk. Adik perempuannya, Siska, sekarang kelas tiga SMA. Adik laki-lakinya, Galang, kelas dua SMA. Di kehidupan pertama, Siska akhirnya tidak kuliah karena ketiadaan biaya dan malah meningal gara-gara jadi peran pengganti, dan Galang putus sekolah untuk bekerja sebagai kuli bangunan.
Gak akan terjadi lagi.
Belum lama Olyvia menikmati teh manis buatan ibunya, pintu depan terbuka. Siska masuk dengan wajah sembab. Matanya merah, jelas habis menangis. Di belakangnya, Galang berjalan dengan kepala tertunduk.
Bu Sumarni langsung berdiri. “Lho, Siska? Kenapa nangis? Ada apa?”
Siska tidak menjawab. Ia malah berlari ke kamarnya dan membanting pintu. Galang menghela napas panjang dan duduk di kursi dengan wajah lesu.
“Galang, ada apa ini?” tanya Bu Sumarni cemas.
Galang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Anu, Bu. Tadi di sekolah, Mbak Siska gak sengaja nyenggol HP temennya. HP-nya jatuh terus layarnya pecah.”
Bu Sumarni menutup mulut. “HP siapa?”
“Anak orang kaya di kelasnya, Bu. Namanya Lidia. HP-nya itu iPhone 17 Pro Max. Masih baru warna ungu.”