NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Benih yang Tumbuh dalam Diam

Markas Ordo Pemburu Bayangan menyambut mereka dengan keheningan yang berbeda. Bukan keheningan kosong, melainkan keheningan yang penuh antisipasi. Begitu pintu batu terbuka dan mereka melangkah masuk, puluhan mata langsung tertuju pada sosok berjubah abu-abu yang berjalan gontai di antara Darmaji dan Sinta.

"Itu dia?" bisik salah satu pemburu muda pada rekannya. "Tetua Lingkaran Naga Hitam?"

"Kurasa begitu. Lihat jubahnya. Simbol naga di dadanya."

Arga berjalan di depan, mengabaikan bisik-bisik itu. Liontin tiga bentuk di dadanya berdenyut tenang, seolah ikut merasakan atmosfer markas yang kini berubah. Ia bisa merasakan aura para pemburu—campuran antara kagum, curiga, dan takut. Wajar. Mereka baru saja menyaksikan pemimpin mereka kembali dengan tahanan berbahaya dan seorang pemuda yang kini memancarkan aura berbeda.

Darmaji memberi isyarat pada dua pemburu senior. "Bawa dia ke sel khusus. Pengawalan ketat. Jangan ada yang bicara padanya tanpa izinku."

Tetua Abu diseret pergi. Sebelum menghilang di tikungan lorong, ia menoleh dan menatap Arga. Matanya yang kelabu menyiratkan sesuatu—bukan ancaman, melainkan sesuatu yang lebih mengganggu: rasa ingin tahu.

"Kau pikir kau menang, keturunan Penjaga?" suaranya parau. "Kau baru saja membuka pintu yang tidak bisa kau tutup."

Ia menghilang.

Arga tidak menjawab. Tapi kata-kata itu tertanam di benaknya seperti duri.

---

Tiga hari berlalu.

Arga menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang arsip, membaca kitab-kitab yang berkaitan dengan para Penjaga dan Langit Kesepuluh. Warisan yang ia terima di menara memberinya pemahaman instingtif tentang banyak hal, tapi detail-detailnya masih kabur—seperti lukisan besar yang hanya bisa ia lihat dari kejauhan. Ia butuh konteks. Sejarah. Nama-nama.

Darmaji bergabung dengannya di hari ketiga. Pemimpin ordo itu meletakkan setumpuk gulungan baru di meja.

"Ini dari makam Penjaga di utara. Tim patroli kita berhasil mengambilnya sebelum Lingkaran Naga Hitam membersihkan tempat itu." Ia duduk di seberang Arga. "Kubaca sekilas. Banyak yang tidak kumengerti. Tapi kau mungkin bisa."

Arga membuka gulungan pertama. Aksaranya kuno—lebih tua dari yang pernah ia lihat di kitab mana pun. Tapi entah bagaimana, matanya bisa mengikuti alur tulisan itu seolah ia telah membacanya seumur hidup.

"Aku, Larasati dari Wangsa Lingkaran, mencatat ini sebagai peringatan bagi generasi mendatang. Pemangsa tidak bisa dihancurkan. Ia hanya bisa dikurung. Dan kurungan itu harus diperbarui setiap seribu tahun oleh darah Penjaga yang telah mencapai ranah Inti Emas..."

"Seribu tahun," gumam Arga. "Pembaruan terakhir dilakukan oleh tiga Penjaga pertama. Setelah mereka mati, tidak ada yang melakukannya."

"Berarti sudah ribuan tahun segel itu melemah." Darmaji mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. "Pantas Lingkaran Naga Hitam bisa merasakannya."

Arga melanjutkan membaca. Halaman-halaman berikutnya berisi detail ritual pembaruan segel. Posisi bintang. Fase bulan. Jenis energi yang dibutuhkan. Dan yang paling penting—lokasi tepat gerbang menuju ruang kurungan Pemangsa.

"Ini." Arga menunjuk sebuah diagram. "Gerbang yang kami buka di menara itu hanya gerbang pertama. Gerbang menuju altar. Tapi gerbang sejati—gerbang menuju ruang kurungan—ada di tempat lain. Di jantung benua. Di bawah gunung berapi yang sudah mati."

Darmaji mempelajari diagram itu. "Gunung Tidur. Di wilayah tengah. Itu perjalanan berbulan-bulan dari sini."

"Dan aku harus mencapai ranah Inti Emas sebelum bisa memperbarui segel." Arga menyandarkan punggungnya. "Itu bisa memakan waktu bertahun-tahun. Sementara itu, Lingkaran Naga Hitam tidak akan diam."

"Tentang itu..." Darmaji meraih gulungan lain. "Tim interogasi sudah memeras beberapa informasi dari Tetua Abu. Tidak banyak—dia lebih tahan dari yang kukira. Tapi cukup untuk memberi kita gambaran."

Ia membuka gulungan itu, memperlihatkan peta dengan tanda-tanda merah. "Lingkaran Naga Hitam memiliki setidaknya lima markas utama di seluruh benua. Dua di antaranya—di utara dan barat—adalah pusat operasi mereka. Dewan Tetua bermarkas di utara. Tiga Tetua, termasuk Tetua Abu, memimpin pencarian liontin. Dua lainnya... entah."

"Berapa kekuatan mereka?"

"Yang kita tahu, setiap Tetua setidaknya berada di ranah Inti Emas awal. Pemimpin mereka—Tetua Hitam—konon sudah menyentuh ranah Jiwa Baru Lahir."

Arga merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Jiwa Baru Lahir. Itu dua tingkat di atas Inti Emas. Dalam kehidupan sebelumnya sebagai Kaisar Langit, level itu bukan apa-apa. Tapi sekarang, dengan tubuhnya yang baru mencapai Pemurnian Qi tahap keenam atau ketujuh, jaraknya seperti bumi dan langit.

"Aku butuh waktu," katanya akhirnya. "Dan aku butuh tempat yang aman untuk berkultivasi. Markas ini terlalu dekat dengan wilayah Klan Sanjaya dan Wirya. Jika Arman atau Baskara tahu aku di sini..."

Darmaji mengangguk. "Aku sudah memikirkannya. Ada tempat. Jauh di selatan, di balik Pegunungan Kabut, ada lembah tersembunyi yang bahkan Ordo hanya tahu dari legenda. Konon, itu adalah tempat pelatihan para Penjaga pertama. Tapi..."

"Tapi?"

"Tapi tidak ada yang pernah kembali dari sana." Darmaji menatap Arga serius. "Para pemburu yang mencoba masuk tidak pernah keluar. Entah mati, tersesat, atau memilih tinggal. Kami tidak tahu."

Arga merenung. Tempat pelatihan para Penjaga pertama. Jika ia bisa menemukannya, ia mungkin bisa mempercepat kultivasinya. Mempelajari teknik-teknik yang tidak ada dalam kitab warisan. Mempersiapkan diri untuk pertempuran yang akan datang.

"Aku akan pergi," katanya.

Darmaji tidak terkejut. "Kuduga begitu. Tapi kau tidak akan pergi sendiri. Sinta akan menemanimu sampai kaki pegunungan. Setelah itu... kau sendiri."

"Terima kasih."

Darmaji bangkit. "Istirahatlah. Kalian berangkat lusa."

---

Malam harinya, Arga duduk sendirian di kamarnya. Liontin tiga bentuk di dadanya berdenyut pelan. Ia menutup mata dan membiarkan kesadarannya menyelam ke dalam Dantian.

Benang Emas-nya kini adalah galaksi mini yang berputar. Setiap bintik cahaya di dalamnya adalah potongan pengetahuan dari para Penjaga. Ia belum bisa mengakses semuanya—hanya sebagian kecil. Tapi ia tahu, seiring pertumbuhan kultivasinya, lebih banyak akan terbuka.

"Arga."

Suara itu. Bukan dari luar. Dari dalam liontin.

"Arga Sanjaya. Darah Wangsa Lingkaran. Kau telah membuka jalan. Kini saatnya kau menempuhnya."

"Kau siapa?" tanyanya dalam hati.

"Aku adalah gema. Ingatan dari Penjaga pertama. Namaku telah hilang ditelan waktu. Tapi tugasku tetap: membimbing darah Penjaga berikutnya."

Arga merasakan kehangatan menjalari tubuhnya.

"Lembah Selatan menunggumu. Di sana, kau akan menemukan apa yang kau butuhkan. Tapi ingat: kekuatan sejati tidak datang dari warisan. Ia datang dari pilihan. Dan kau akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang akan menentukan takdirmu—dan takdir dunia."

Suara itu memudar.

Arga membuka matanya. Lembah Selatan. Tempat pelatihan para Penjaga pertama. Di sana, jawaban menunggu. Dan mungkin, lebih banyak pertanyaan.

Ia mengepalkan liontin di dadanya.

Aku siap.

1
Mommy Dza
So sweet 😁 akhirnya Arga bs tdur nyenyak
Mommy Dza
Masuk ke dalam kegelapan
kenangan pertama
Mommy Dza
Mencari pecahan
Mommy Dza
Pilihan yg sulit
Mommy Dza
pemangsa yg kesepian ternyata🥹
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!