NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan nenek

Suasana di teras belakang itu mendadak hening, hanya desir angin yang menggoyangkan kelopak bunga matahari yang terdengar. Nenek terdiam sejenak, tatapannya yang tadi menerawang kini fokus tertuju padaku.

Ada kilat kecerdasan yang tak biasa di matanya, seolah beliau sedang mengakses sebuah kotak rahasia yang terkunci rapat di dalam ingatannya.

​"Ayyara," panggil Nenek lembut, suaranya parau namun mantap. "Nenek tidak tahu... apakah ingatan Nenek yang sedang kacau atau bagaimana. Tapi akhir-akhir ini, Rain sering sekali mengajak Nenek bicara tentang usianya yang sudah tiga puluh empat tahun."

​Aku terpaku. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku melirik Rain, dan kulihat tubuhnya menegang kaku di sampingku.

​"Dia bicara tentang kembalinya dia ke masa muda... bersamamu," lanjut Nenek, jemarinya yang renta menggenggam tanganku lebih erat.

"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Tapi, Ayyara... jika nanti Nenek harus pergi ke tempat yang jauh terlebih dahulu, tolong jaga dia. Nenek tahu, kamu adalah satu-satunya orang yang datang bersama dia dari 'dunia' itu."

​Kalimat terakhir Nenek telak menghantam pertahananku. Rahasia yang selama ini kami simpan rapat, yang kami anggap sebagai kegilaan yang hanya milik kami berdua, ternyata tumpah di depan sosok yang paling Rain sayangi.

Entah ini keajaiban dari kejernihan pikiran sesaat, ataukah insting seorang nenek yang melampaui logika medis, aku tidak tahu.

​Aku menoleh ke arah Rain. Setitik air mata jatuh di pipinya, membasahi wajahnya yang selama ini selalu tampak tenang dan tak tersentuh.

Dengan gerakan cepat yang sedikit gemetar, ia menyeka air mata itu dengan punggung tangannya.

Ia tampak tak percaya bahwa semua cerita yang ia bisikkan saat neneknya sedang dalam fase demensia—saat ia merasa aman karena mengira Nenek tak akan mengingatnya—justru terekam sempurna dalam ingatan beliau.

​"Nek..." suara Rain tercekat, ia tak mampu melanjutkan kata-katanya.

​Nenek hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh pengertian dan kasih sayang yang murni. Beliau tidak butuh penjelasan teknis tentang bagaimana kami bisa terlempar kembali ke tahun 2019. Bagi beliau, yang terpenting hanyalah satu: cucunya tidak sendirian menghadapi beban itu.

​"Janji pada Nenek, ya?" desak Nenek lagi, menatapku dengan penuh harap.

​Aku menarik napas panjang, mencoba menahan sesak di dada. Aku menggenggam balik tangan Nenek dengan kedua tanganku. "Iya, Nek. Saya janji. Saya akan menemani Rain."

​Rain menunduk, bahunya sedikit berguncang. Di sore yang mulai temaram itu, di antara bau tanah basah dan aroma teh yang mendingin, rahasia terbesar kami baru saja disucikan oleh doa seorang nenek.

Aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang memperbaiki karier atau mencari hunian yang nyaman, tapi tentang menjaga satu sama lain di dunia yang kini terasa jauh lebih nyata sekaligus rapuh.

​Matahari mulai menghilang di ufuk barat, namun hangat di tangan Nenek seolah menjadi semangat baru bagi langkahku dan Rain ke depannya. Kami tidak lagi hanya dua orang yang tersesat di lorong waktu; kami adalah dua jiwa yang telah dititipkan untuk saling menjaga.

Nenek memajukan duduknya, tangannya yang gemetar kini meraih jemari Rain, menggenggamnya dengan sisa kekuatan yang ia miliki.

Tatapannya mendalam, seolah ia sedang berusaha menyalurkan seluruh kebijaksanaan hidupnya ke dalam sanubari cucu satu-satunya itu sebelum kabut ingatannya kembali menutup.

​"Rain," panggil Nenek dengan nada yang rendah namun penuh penekanan. "Nenek berpesan satu hal padamu. Kelak, jangan sampai kamu memilih hidup sendirian. Carilah teman yang benar-benar bisa menemani hari-harimu, yang bisa diajak bicara saat duniamu terasa sunyi."

​Rain terdiam, matanya yang masih kemerahan menatap Nenek tanpa berkedip. Di sampingnya, aku merasa udara di sekitar kami mendadak menjadi sangat khidmat.

​"Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam kesepian," lanjut Nenek lagi. "Jika kamu sudah menemukan orang yang benar-benar kamu sayangi, segeralah menikah. Bangunlah rumah tangga yang hangat.

Tapi ingat..." Nenek menjeda kalimatnya, menatap ke arah taman bunga matahari yang mulai merundup tertimpa senja.

​"Jikapun nanti perjalanan itu gagal, atau tidak sesuai dengan bayanganmu, pastikan kamu tetap hidup dengan semangat. Tetaplah bahagia dengan sahabat-sahabatmu dan hal-hal yang kamu cintai. Jangan pernah biarkan satu kegagalan mematikan cahayamu."

​Nasihat itu terasa seperti petir di siang bolong bagi kami yang membawa memori dari masa depan. Nenek seolah tahu bahwa di lini masa yang lain, Rain mungkin pernah merasakan pahitnya kesendirian atau kegagalan yang membuatnya menjadi sosok yang begitu kaku.

​Rain menunduk, dahinya menempel pada punggung tangan Nenek yang ia genggam erat. "Iya, Nek. Rain ingat. Rain janji."

​Suasana di teras itu menjadi sangat emosional. Nenek tidak hanya memberikan restu, tapi juga memberikan "izin" bagi Rain untuk menjadi bahagia, terlepas dari apa pun bentuk kebahagiaan itu nantinya. Beliau ingin memastikan bahwa saat ia tidak lagi ada di dunia ini, Rain memiliki jaring pengaman bernama cinta dan persahabatan.

​Aku hanya bisa tertegun di samping mereka, merasakan getaran emosi yang begitu kuat. Pesan Nenek bukan hanya untuk Rain, tapi juga terasa seperti tamparan lembut bagiku. Di tengah ambisiku memperbaiki karier dan mencari tempat tinggal di tahun 2019 ini, aku sering lupa bahwa inti dari perjalanan waktu ini mungkin adalah tentang hubungan antarmanusia—tentang tidak membiarkan satu sama lain berjalan sendirian.

​Senja benar-benar jatuh di pusat perawatan itu. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, memberikan pendar keemasan pada wajah Nenek yang kini tampak letih namun tenang. Tugasnya sore ini seolah sudah selesai; ia telah menyampaikan pesan terpenting dalam hidupnya kepada seseorang yang ia cintai lebih dari apa pun.

Malam merayap perlahan di pusat perawatan lansia itu. Wangi tanah basah setelah siraman sore hari berpadu dengan aroma sup hangat yang baru saja disajikan perawat. Kami tidak tega membiarkan Nenek makan sendirian setelah momen emosional tadi, jadi kami memutuskan untuk bertahan sedikit lebih lama.

​Aku membantu Nenek menyuap sesendok demi sesendok bubur halus, sementara Rain duduk di sisi lain tempat tidur, mengupas potongan buah pepaya dengan sangat telaten. Suasana kamar itu terasa begitu tenang, hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan mangkuk keramik.

Nenek sesekali bergumam kecil, menceritakan kembali potongan-potongan masa kecil Rain yang membuat Rain tersenyum tipis—sebuah senyum tulus yang jarang ia perlihatkan di kantor.

​Setelah mangkuk makanan itu kosong, Rain membantu Nenek meminum obatnya. Kami kemudian menuntun beliau untuk berbaring di tempat tidur yang sudah dirapikan dengan sprei putih bersih.

​"Nek, istirahat ya. Besok Rain mampir lagi," bisik Rain sembari menarik selimut hingga ke dada Nenek.

​Nenek menatap kami bergantian dengan mata yang mulai sayu karena kantuk. Jemarinya yang lemah sempat mengusap punggung tanganku sekali lagi, seolah memastikan janji yang tadi kuucapkan tetap terjaga. "Hati-hati di jalan... jangan pulang terlalu malam," gumam beliau lirih sebelum akhirnya kelopak matanya terpejam perlahan.

​Kami berdiri diam di samping tempat tidur selama beberapa menit, memastikan napas Nenek sudah teratur dan beliau benar-benar terlelap dalam tidurnya yang damai. Rain kemudian mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur remang-remang yang memberikan pendar hangat di sudut ruangan.

​Kami melangkah keluar dengan sangat pelan, menutup pintu kamar tanpa suara. Begitu sampai di lobi depan, udara malam kota yang lembap langsung menyambut kami.

​"Terima kasih sudah mau menemani sampai Nenek tidur, Ra," ucap Rain saat kami berjalan menuju parkiran motor.

Suaranya terdengar sedikit parau, sisa-sisa emosi dari percakapan tadi masih menggantung di sana.

​"Sama-sama, Rain. Aku justru senang bisa bertemu Nenek lagi," jawabku tulus.

​Rain mengenakan helmnya, lalu menatapku lewat kaca pelindung yang terbuka. "Ayo pulang. Aku antar sampai depan kos. Malam ini sepertinya kamu butuh istirahat total setelah seharian survei dan... yah, menghadapi kejutan dari Nenek."

​Aku naik ke boncengan motornya, membiarkan mesin motor menderu halus membelah jalanan yang mulai lengang. Di sepanjang perjalanan pulang, tak banyak kata yang terucap di antara kami.

Namun, ada rasa saling mengerti yang mengalir tanpa perlu suara. Pesan Nenek tentang "jangan hidup sendirian" seolah menggema di antara deru angin malam, membuat jarak di antara punggung Rain dan jemariku terasa sedikit lebih dekat dari biasanya.

​Malam itu, di bawah kerlip lampu jalanan yang berlalu cepat, aku menyadari satu hal: di dunia yang membingungkan ini, setidaknya kami memiliki satu sama lain untuk memastikan bahwa kepulangan kami bukan menuju kesunyian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!