Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07 - Senja Di Tepi Pantai
Gwen terkejut, buru-buru melepaskan ciumannya dengan Aga. Wajahnya merah padam saat menyadari posisinya yang masih duduk di pangkuan pria itu. Aga, sebaliknya, tampak tidak terburu-buru. Ia masih memeluk pinggang Gwen erat-erat, bahkan sempat mengecup pelipis wanita itu sebelum akhirnya menoleh ke belakang dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.
"Ganggu aja," gerutu Aga pelan.
"Ganggu?" suara Pandji meninggi "Gue cariin dari tadi, Bro! Papa nyuruh gue nyariin Mbak Gwen buat diajak pulang. Ternyata lo yang bawa kabur dan asyik... keluar masuk." Ia menggerakkan jari tanda kutip di udara dengan wajah jijik yang dilebih-lebihkan.
"Keluar masuk apa, Pan?" Aga mengangkat alis, masih santai meski Gwen sudah mencoba turun dari pangkuannya. Tangan Aga menahan pinggang Gwen sejenak sebelum akhirnya melepaskan dengan enggan.
“Nama gue Pandji, bukan Pan,” protes Pandji dengan wajah kesal.
Aga mengangguk santai. “Iya, Ji.”
Pandji langsung melotot. “Bukan Ji juga!”
Aga menghela napas pendek, pura-pura berpikir. “Ribet banget sih, cuma panggilan doang.”
“Jadi aneh tau nggak,” gerutu Pandji. “Pan nanti dikira nama gue panci. Ji orang kira nama gue jijik.”
Aga menatap Pandji beberapa detik, lalu tiba-tiba terkekeh.“Ya salah sendiri nama lo Pandji,” katanya santai. “Banyak bahan singkatannya.”
Pandji langsung melotot. “Itu nama pemberian orang tua gue!”
Aga mengangkat bahu. “Ya makanya. Mereka harusnya mikir dulu sebelum ngasih nama.”
“Enak aja lo ngomong!”
Gwen yang berdiri di samping mereka memijat pelipisnya pelan. "Ya Tuhan… kalian berdua bisa berhenti sebentar nggak?'"
Aga menoleh ke arahnya dengan ekspresi polos. “Dia duluan yang ribut, Sayang.”
“Alah, sayang-sayang pala lu peyang,” celetuk Pandji cepat. “Jangan mau, Mbak. Dia udah menghina nama yang diberikan orang tua kita.”
Aga menatap Pandji datar. “Siapa yang menghina sih.”
“Lah? Lo manggil gue Pan dari tadi!”
Aga mengangkat bahu santai. “Itu panggilan sayang.”
“Panggilan sayang apaan! Itu penghinaan terselubung!” Pandji masih kesal, suaranya meninggi. “Mbak, pokoknya lo jangan sampai mau kalau si Mie Gaga ini coba-coba nyium lu lagi!”
“Nyium apaan? Kami cuma ngobrol kok,” sahut Gwen cepat, suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya—sampai ia sendiri merasa jawabannya tidak terlalu meyakinkan.
"Ngobrol." Pandji menatap mereka berdua bergantian, matanya menyipit curiga. "Ngobrol sampai lipstik lo berantakan begitu, Mbak?"
Gwen langsung menyentuh bibirnya, merasakan sensasi hangat yang masih tertinggal di sana. Pipinya semakin memanas. Ia menatap adiknya dengan panik, berharap Pandji tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
“Udah deh, Pandji,” ucap Aga, sengaja menekankan nama sahabatnya, lalu bangkit sambil merapikan kemeja batiknya. “Sana balik.”
"Ya ini gue mau balik. Ayah gue udah nunggu di mobil. Katanya mau pulang sekarang karena besok pagi harus ke jakarta." Pandji berbalik, tapi kemudian berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang dengan senyum miring yang Gwen kenal baik—senyum khas adiknya saat sedang merencanakan sesuatu. "Eh Mbak, hati-hati ya. Aga itu dulu suka nyembunyiin mainan temennya terus bilang ilang. Jangan sampai hatimu juga diilangin."
"Pandji!" seru Gwen dan Aga bersamaan—Gwen dengan nada tegur, Aga dengan nada kesal.
Pandji sudah berlari ke arah gedung pernikahan Mega sambil tertawa, meninggalkan mereka berdua di tepi pantai dengan kecanggungan yang menggantung tebal.
“Maaf,” ucap Aga pelan, suaranya tenang tapi nada itu menyimpan sedikit kelakar. “Pandji suka ngelantur.”
"Iya, mirip kamu,” balas Gwen, setengah tersenyum sambil menatap ke arah laut, membiarkan angin pantai sedikit meredakan ketegangan di antara mereka.
Aga menatap Gwen sebentar, alisnya terangkat tipis, lalu sudut bibirnya naik membentuk senyum kecil. “Eh, itu maksudnya pujian atau sindiran?” godanya.
“Terserah kamu mau nganggep yang mana,” ucap Gwen sambil mengalihkan pandangan ke laut, membiarkan suara ombak menenangkan sedikit kegelisahannya. "Ayah sudah nunggu, Ga. Aku harus—"
"Aku tahu," Aga memotong, suaranya lembut. Ia meraih tangan Gwen, jemari mereka saling mengait sebelum Gwen sempat menarik diri. Tapi kali ini, ada urgensi di sentuhannya. "Tapi sebelum kamu pergi, aku perlu kamu dengar ini."
Gwen terdiam. Ia menatap tangan mereka yang terjalin, merasa seharusnya melepaskan tapi tidak sanggup. Di kejauhan, ia bisa melihat siluet mobil ayahnya yang sudah terparkir di depan gedung.
"Gwen," Aga memanggil namanya dengan suara serak yang membuat perut Gwen mellihat. Ia mendekatkan wajahnya, dahi mereka hampir bersentuhan. "Aku nggak main-main. Dan aku nggak akan nyembunyiin perasaan ini lagi. Aku serius."
Mata mereka bertemu lagi. Matahari mulai condong ke barat, membuat bayangan panjang di pasir. Suara keramaian keluarga besar masih terdengar samar, tapi bagian dunia ini—bagian yang hanya milik mereka berdua—terasa begitu sunyi.
“Aku tahu ini rumit,” lanjut Aga, jemarinya mengusap punggung tangan Gwen dengan lembut. “Kamu lebih tua, keluarga kita saling kenal. Tapi aku sudah cukup lama memendam ini."
Dahi Gwen mengernyit. "Maksudmu?" ucapnya bingung, sambil perlahan melepaskan genggaman tangan Aga.
“Dulu, waktu kita masih SD, kamu pernah berantem sama anak yang ngerundung aku. Gengnya Heru, ingat? Yang sering malak aku.”
“Oh…” Gwen berusaha mengingat. Saat kenangan itu perlahan muncul ke permukaan, ia mengangguk pelan.
"Memang preman cilik mereka tuh, kamu juga kenapa takut amat, sih? Lawan dong!"
Aga terkekeh "Mana berani? Mereka lebih tua dariku."
Kejadiannya saat Gwen kelas enam SD yang berarti Aga kelas dua SD. Aga si anak orang kaya, dianggap korban yang potensial untuk dipalaki karena terlihat penakut dan lemah. Bekalnya pun selalu menarik, sehingga tiap jam istirahat sering diseret ke belakang sekolah dan dipalak Heru and the genk.
Kadang, bocah itu juga disuruh ini itu, tanpa berani melawan. Membuat Gwen kesal saat mendengar cerita Pandji. Tanpa banyak pikir, Gwen langsung mendatangi mereka di kebun belakang sekolah.
Di sana, emosinya meledak. Bocah itu hanya diam dengan wajah ketakutan, kerah seragamnya dicengkeram Heru, sementara bekalnya sudah habis. Kotak makan mahalnya tergeletak berantakan di tanah.
Entah dari mana datangnya keberanian itu, Gwen berteriak dan memaki mereka. Merasa tubuhnya tak kalah besar dari Heru, ia mendorong anak itu, lalu menarik si bocah agar bersembunyi di belakangnya.
“Rupanya, kesadaranku sudah setipis tisu sejak dulu,” kekeh Gwen, mengingat kejadian masa lalu.
Aga ikut tertawa kecil “Tapi… waktu itu kamu keren,” gumamnya pelan.
Gwen mendengus, melipat tangan di dada. “Keren apanya? Habis itu aku juga dimarahin guru, ingat nggak?”
Aga mengangguk, senyumnya melebar. “Iya. Tapi sejak hari itu mereka nggak pernah ganggu aku lagi.”
Gwen terdiam sejenak, alisnya sedikit terangkat. “Serius?”
“Serius.” Aga menatapnya lebih lama. “Mungkin karena mereka takut sama kamu… atau karena aku akhirnya berani nolak.”
“Bagus,” gumam Gwen pelan. Tanpa sadar, tangannya terangkat dan mengacak rambut Aga.
Aga tidak mengelak. Pria itu justru diam, seolah menikmati sentuhan itu lebih lama dari yang seharusnya. Ketika tangan Gwen hendak ditarik, jemarinya lebih dulu ditangkap.
“Gwen…” panggil Aga pelan.
Gwen mengerjap, napasnya tercekat tipis. Tangannya refleks menegang di dalam genggaman Aga, tapi ia tidak menariknya.
“Sekarang nggak ada lagi yang menghalangi, Gwen. Aku… kamu… kita sama-sama sendiri.”
Gwen merasa ada sesuatu yang baru saja meledak di dadanya. Sesuatu yang hangat, yang penuh, yang membuat matanya sedikit berkaca-kaca. Ia ingin menjawab, tapi suara klakson mobil dari arah rumah memotong momen mereka.
"Mbak! Ayo!" teriak Pandji dari kejauhan.
Gwen menatap Aga dengan panik. "Aku harus pergi."
"Aku tahu." Aga melepaskan tangannya, tapi matanya tetap terpaku. "Aku nggak bakal berhenti di sini. Aku bakal datang ke kamu lagi… dan kamu bakal tahu aku serius.”
Gwen mengangguk cepat, masih terengah-engah. Ia berbalik, berjalan beberapa langkah, tapi kemudian berhenti. Sesuatu menariknya kembali—magnet yang sama yang tadi menahannya di pangkuan Aga.
Ia berbalik, melangkah cepat ke arah Aga, dan mencium pipi pria itu dengan cepat. Sentuhan yang singkat, yang hampir tidak terlihat, tapi terasa seperti petir di kulit mereka berdua.
“Terima kasih… sudah mau menemani aku hari ini," bisik Gwen pelan, suaranya hampir terbawa angin.
Lalu ia berlari, meninggalkan Aga yang berdiri terpaku di tepi pantai dengan senyum yang merekah di wajahnya—senyum yang lebih cerah dari matahari senja yang tenggelam di balik cakrawala.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
kalau "kita" berarti yang diajak berbicara ikut terlibat....