Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — Jangan Paksa Aku Kembali
Suasana di terminal keberangkatan mendadak terasa lebih sempit bagi Bella.
Di sekeliling mereka, orang-orang tetap lalu lalang dengan koper dan tiket di tangan, suara pengumuman penerbangan masih terdengar bergema dari pengeras suara, namun bagi Bella semua itu seolah menjauh. Yang tersisa hanya dirinya dan Dominic yang berdiri tepat di hadapannya dengan wajah penuh kepanikan.
Pria itu terlihat berbeda dari Dominic yang selama ini selalu rapi dan tenang. Rambutnya sedikit berantakan, napasnya belum sepenuhnya teratur, dan sorot matanya menyimpan sesuatu yang belum pernah Bella lihat sebelumnya—ketakutan yang sangat nyata.
Dominic menatap Bella seolah wanita itu adalah satu-satunya hal yang masih tersisa di dunianya.
“Please,” ucapnya pelan, suaranya serak. “Jangan pergi.”
Bella menggenggam paspor dan tiketnya lebih erat.
Tangannya dingin.
Namun hatinya justru terasa panas.
Ia sudah menyiapkan dirinya untuk pergi, sudah memantapkan hati sepanjang malam, namun melihat Dominic berdiri di depannya seperti ini tetap membuat luka lama berdenyut kembali.
“Menepi, Dom,” katanya pelan namun tegas. “Aku nggak mau ketinggalan pesawat.”
Dominic menggeleng cepat, seolah bahkan membiarkan Bella melangkah satu langkah saja adalah sesuatu yang tak sanggup ia lakukan.
“Kita bisa bicara dulu.”
“Kita sudah bicara.”
“Belum cukup.”
Bella tertawa kecil.
Tawanya tipis, hampir pahit.
“Yang kurang itu bukan pembicaraan, Dom.” Tatapannya bertemu dengan mata pria itu. “Yang kurang itu kejujuran.”
Kalimat itu membuat Dominic terdiam sesaat.
Rahangnya mengeras.
Ia tahu Bella benar.
Selama ini ia terlalu banyak membiarkan semuanya berjalan dalam diam, berharap masalah akan selesai dengan sendirinya. Namun kini semua kebisuan itu justru menjelma menjadi jurang di antara mereka.
Dominic melangkah sedikit lebih dekat.
“Aku salah.”
Bella memalingkan wajah sejenak.
Suara itu terdengar begitu tulus, namun luka yang ia bawa masih terlalu segar untuk disentuh.
“Aku tahu.”
“Aku akan perbaiki semuanya.”
Bella mengangkat wajahnya kembali.
Untuk beberapa detik, ia hanya memandang pria di hadapannya.
Pria yang dulu begitu ia cintai.
Pria yang pernah menjadi rumah.
Namun kini terasa begitu asing.
“Kenapa selalu begitu?” tanyanya pelan.
Dominic mengernyit.
Bella tersenyum tipis, namun kali ini ada air mata yang mulai menggenang.
“Kamu selalu bilang akan memperbaiki semuanya setelah semuanya rusak.”
Suasana di antara mereka kembali sunyi.
Hanya suara roda koper yang sesekali melintas di sekitar.
Dominic membuka mulut, namun Bella lebih dulu melanjutkan.
“Aku capek, Dom.”
Nada suaranya tidak tinggi.
Tidak penuh amarah.
Justru itu yang membuat dada Dominic semakin sesak.
“Aku capek terus jadi orang yang harus mengerti kamu. Aku capek terus jadi orang yang harus memaafkan.”
Bella menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di suaranya.
“Aku juga manusia.”
Tatapan Dominic melembut.
“Aku tahu.”
Bella menggeleng pelan.
“Enggak. Kalau kamu tahu, kamu nggak akan bikin aku sampai pergi seperti ini.”
Kalimat itu jatuh pelan, namun begitu tajam.
Dominic menatap wajah Bella lama.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang sangat menakutkan.
Bella benar-benar sudah berada di ambang pergi.
Bukan hanya secara fisik.
Tapi hatinya.
—
Suara pengumuman boarding kembali terdengar.
Penerbangan menuju Sydney akan segera ditutup.
Bella memejamkan mata sejenak.
Waktunya hampir habis.
Ia harus memilih sekarang.
Dominic juga mendengarnya.
Panik di wajah pria itu semakin jelas.
“Bella, please.”
Suara itu terdengar lebih rendah.
Lebih rapuh.
Dominic meraih pergelangan tangan Bella dengan hati-hati, seolah takut wanita itu akan pecah jika disentuh terlalu keras.
Sentuhan itu membuat tubuh Bella sedikit menegang.
Ada terlalu banyak kenangan dalam satu sentuhan sederhana itu.
Dulu, tangan itu selalu membuatnya merasa aman.
Kini justru membuat hatinya semakin sakit.
“Jangan paksa aku kembali ke tempat yang melukaiku,” ucap Bella pelan.
Kalimat itu membuat Dominic perlahan melepaskan tangannya.
Mata pria itu memerah.
“Aku nggak tahu harus gimana lagi.”
Bella memandangnya cukup lama.
Ada banyak hal yang ingin ia katakan.
Tentang malam di hotel.
Tentang Diana.
Tentang bayi yang sedang tumbuh di dalam dirinya.
Namun ia menelan semuanya.
Belum.
Belum sekarang.
“Belajar hidup tanpa menyakitiku dulu,” katanya akhirnya.
Dominic membeku.
Kalimat itu terdengar seperti akhir.
Namun Bella melanjutkan, suaranya lebih lembut.
“Aku nggak pergi buat menghukum kamu.”
Tatapannya turun sesaat ke perutnya, lalu kembali ke wajah Dominic.
“Aku pergi supaya aku bisa bernapas.”
Dominic menangkap ada sesuatu yang aneh dalam sorot mata Bella saat wanita itu sempat menunduk.
Namun sebelum ia sempat bertanya, Bella sudah melangkah mundur.
Satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Jarak di antara mereka kembali tercipta.
Dominic ingin mengejar.
Ingin menahan.
Namun ada sesuatu dalam mata Bella yang membuatnya berhenti.
Keputusan yang tidak bisa digoyahkan.
Bella mengangkat tiket di tangannya, lalu menatap Dominic untuk terakhir kalinya.
“Aku pernah mencintaimu dengan seluruh hatiku, Dom.”
Jantung pria itu terasa berhenti.
Air mata yang selama ini Bella tahan akhirnya jatuh.
“Tapi sekarang… aku harus lebih mencintai diriku sendiri.”
Dan tanpa memberi kesempatan bagi dirinya untuk lemah, Bella berbalik.
Langkahnya menuju boarding gate terasa berat.
Sangat berat.
Namun ia tidak menoleh.
Tidak kali ini.
Di belakangnya, Dominic berdiri mematung.
Tatapannya mengikuti Bella yang semakin jauh.
Dan saat tubuh wanita itu akhirnya menghilang di balik pintu keberangkatan, sesuatu di dalam dirinya benar-benar runtuh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Dominic menangis.
Di tengah terminal yang ramai, pria itu berdiri sendirian dengan mata merah dan dada yang terasa kosong.
Bella pergi.
Dan ia tidak bisa menghentikannya.
END BAB 17 😭🔥
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹