lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21
Rara mengusap dahi Jek yang berkeringat, jari-jarinya gemetar namun penuh kelegaan. "Kau tidak perlu meretas pintu lagi, Jek. Aku yang akan membukakannya untukmu. Setiap kali."
Jek tertawa kecil, suara yang serak dan sangat manusiawi. Ia melirik tangannya yang kasar, tak ada lagi pendar perak, hanya kulit manusia yang mulai mendingin terkena angin sore. "Rasanya aneh. Kepalaku... sepi. Tidak ada ribuan data yang masuk serentak. Hanya ada suara napasmu, dan suara burung yang sebenarnya."
Maya bangkit berdiri dengan susah payah, menepuk debu dari celananya yang robek. Ia menatap hutan di depan mereka yang kini tampak liar kembali, tanpa pendar buatan. "Sistem itu benar-benar mati, Jek. Aku merasakannya saat loop itu selesai. Jaringan Hijau kembali menjadi sekadar tumbuhan. Ares hanya tinggal tumpukan besi tua di utara."
"Dan Vane?" tanya Rara, teringat pada burung gagak bermata lensa tadi.
"Mungkin dia kembali menjadi burung biasa," gumam Jek, matanya menerawang ke arah pepohonan. "Atau mungkin dia hanya sisa proyeksi yang ikut terbakar. Tidak penting lagi. Dia benar, aku hampir menjadi kaisar, tapi dia salah tentang satu hal: warna perak itu tidak abadi."
Jek mencoba berdiri, dibantu oleh Rara. Kakinya terasa berat, seolah ia baru belajar berjalan untuk pertama kalinya. Di kejauhan, terlihat beberapa warga kamp mulai berjalan keluar dari persembunyian. Mereka saling bersentuhan, memastikan bahwa orang di sebelah mereka masih memiliki kehendak sendiri. Tidak ada senyum seragam yang mengerikan itu lagi—hanya wajah-wajah bingung, lelah, namun hidup.
"Jadi, apa rencana pertama sang mantan dewa digital?" goda Maya, meski matanya masih tampak sembab.
Jek memandang ke arah gubuk kecil mereka di tepi hutan, tempat asap tipis mulai mengepul dari dapur umum yang kembali beroperasi secara manual.
"Teh hangat," jawab Jek pelan. "Dan pisang goreng. Yang benar-benar digoreng dengan api, bukan disintesis oleh generator."
Rara tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Jek saat mereka mulai melangkah pelan meninggalkan bekas pertempuran itu. "Aku akan membantumu menyalakan apinya. Tanpa kode, Jek. Hanya dengan korek kayu."
"Itu terdengar sangat sulit," bisik Jek sambil mengeratkan rangkulannya. "Tapi aku punya banyak waktu sekarang. Seluruh sisa hidupku."
Di bawah kaki mereka, tanah Jakarta yang hancur mulai menerima tetesan hujan pertama. Bukan hujan asam atau hujan statis, melainkan air murni yang akan membasuh sisa-sisa perak dari dedaunan, membiarkan dunia mulai membusuk dan tumbuh kembali dengan caranya sendiri yang berantakan, namun indah.
Rara berhenti melangkah tepat di depan teras gubuk mereka yang reyot. Ia melepaskan bahu Jek sebentar, lalu merogoh saku kecil di balik rompi tempurnya yang sudah koyak. Di sana, terselip sebuah lingkaran logam kusam—bukan emas, bukan perak digital, melainkan sebuah mur kuno yang ia temukan di reruntuhan bengkel saat mereka melarikan diri dari Ares bulan lalu.
"Jek," panggil Rara pelan.
Jek menoleh, wajahnya yang pucat tampak bingung. Rara mengambil tangan Jek yang kasar dan penuh bekas luka bakar, lalu menyelinapkan lingkaran logam itu ke jari manisnya. Ukurannya sedikit longgar, tapi pas di sana.
"Tadi kau bilang ingin mengunci dunia agar aku aman," Rara menatap mata cokelat Jek dengan binar yang mengalahkan pendar energi apa pun. "Tapi aku lebih suka dikunci oleh janji manusia biasa. Tidak ada sinkronisasi saraf, hanya kau dan aku yang belajar bicara lagi dari nol."
Jek terdiam, menatap mur kusam di jarinya. Ia tertawa pendek, sebuah tawa yang berakhir dengan isakan kecil yang tertahan. Ia menarik Rara ke dalam pelukannya, mencium keningnya lama sekali.
"Ini lamaran yang paling buruk dalam sejarah umat manusia, Ra," bisik Jek di sela rambutnya. "Di tengah hutan yang hancur, dengan cincin dari barang rongsokan."
"Tapi ini milik kita sendiri," balas Rara tegas.
Maya, yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka, berdeham sambil menyilangkan tangan. "Aku tidak ingin merusak suasana romantis ini, tapi jika kalian ingin merayakan 'pertunangan rongsokan' ini, aku baru saja menemukan sisa persediaan teh melati di bunker bawah. Dan ya, aku menemukan satu sisir pisang yang hampir terlalu matang."
Jek melepaskan pelukannya, matanya berbinar jenaka—sebuah emosi yang sudah lama tidak ia rasakan tanpa gangguan algoritma. "Teh melati dan pisang goreng? Itu lebih mewah daripada seluruh database Jaringan Hijau."
Mereka bertiga berjalan masuk ke dalam gubuk. Rara sibuk mematahkan ranting kering untuk menyalakan tungku, sementara Jek duduk di bangku kayu yang berderit, memperhatikan setiap gerakannya dengan rasa takjub yang baru. Tidak ada sensor suhu yang memberitahunya kapan api itu pas, tidak ada prediksi kecepatan angin. Hanya aroma asap kayu yang menusuk hidung dan suara tawa Maya yang mencoba mengupas pisang dengan tangan gemetar.
Saat api mulai menyala, memantulkan warna jingga yang hangat di dinding kayu, Jek menggenggam tangan Rara. Mur logam di jarinya terasa dingin, namun hatinya terasa begitu panas.
"Besok kita mulai menanam lagi, kan?" tanya Jek.
"Besok," jawab Rara sambil meletakkan teko di atas bara. "Tapi malam ini, kita hanya akan menjadi Jek dan Rara. Tanpa sistem, tanpa misi. Hanya dua orang yang lapar."
Di luar, malam jatuh dengan tenang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, langit Jakarta benar-benar gelap, membiarkan bintang-bintang asli yang selama ini tertutup polusi cahaya digital, muncul satu per satu sebagai saksi bisu kembalinya kemanusiaan.
"Hati-hati, Jek. Apinya tidak punya protokol keamanan," canda Rara saat melihat Jek mencoba membantu menyusun kayu bakar dengan gerakan yang masih kaku.
Jek meringis, merasakan panas yang menyengat ujung jarinya. "Sakitnya terasa... sangat nyata. Aku hampir lupa kalau api itu merusak jaringan kulit, bukan hanya sekadar barisan peringatan 'High Temperature' di sudut mataku."
Maya datang membawa tiga cangkir kaleng yang penyok, menuangkan teh melati yang aromanya memenuhi ruangan sempit itu. Uapnya mengepul, menari-nari di bawah cahaya lampu minyak yang temaram. "Untuk pasangan paling aneh di abad ini," gumam Maya, menyerahkan cangkir itu. "Dan untuk dunia yang akhirnya berhenti berisik."
Mereka duduk melingkar di atas lantai kayu yang kasar. Jek menyesap tehnya. Rasa pahit dan sepat melati itu meledak di lidahnya—sebuah sensasi analog yang jauh lebih kaya daripada simulasi rasa apa pun yang pernah diberikan Sistem.
"Rasanya seperti hidup kembali," bisik Jek. Ia menatap mur kusam di jari manisnya, lalu menatap Rara. "Terima kasih, Ra. Karena sudah menarikku pulang sebelum aku benar-benar menjadi mesin."
Rara menggenggam tangan Jek, merasakan denyut nadi yang stabil di pergelangan tangannya. "Kau selalu ada di sana, Jek. Terkubur di bawah tumpukan kode itu. Aku hanya perlu mengingatkanmu cara bernapas."
Di luar gubuk, suara langkah kaki terdengar mendekat. Beberapa warga kamp berdiri di ambang pintu yang terbuka. Mereka tidak bersujud, tidak memuja. Mereka hanya membawa beberapa ubi kayu dan senyum yang masih tampak canggung.
"Jek... Rara..." salah satu dari mereka, seorang pria tua yang lengannya penuh bekas luka, bicara dengan suara serak. "Pendar itu hilang. Kami merasa... kosong, tapi entah kenapa, kami merasa bisa berpikir lagi. Apakah ini akhirnya?"
Jek berdiri dengan perlahan, meskipun kakinya masih terasa berat. Ia tidak lagi bicara dengan nada otoriter seorang Kaisar. Ia bicara sebagai tetangga. "Ini bukan akhir," kata Jek tenang. "Ini hanya awal yang sangat lambat. Sistemnya sudah mati. Tidak ada lagi yang mengatur pikiran kalian. Besok, kita harus mulai mencangkul tanah tanpa bantuan sensor."
Pria tua itu mengangguk pelan, lalu meletakkan ubi kayu itu di depan pintu sebagai tanda terima kasih yang sederhana. Satu per satu, warga kembali ke tenda mereka, meninggalkan keheningan malam yang jujur.
Jek kembali duduk, menyandarkan kepalanya di bahu Rara. Pisang goreng yang dibuat Maya mulai mendingin, tapi bagi mereka, itu adalah perjamuan terbaik yang pernah ada.
"Kau tahu apa yang paling hebat dari tidak menjadi dewa?" tanya Jek sambil memejamkan mata.
"Apa?" bisik Rara.
"Aku bisa tidur," jawab Jek pelan. "Benar-benar tidur, tanpa harus memproses data seluruh kota saat memejamkan mata."
Dan malam itu, di tengah reruntuhan Jakarta yang mulai gelap dan sunyi, Jek tertidur lelap dalam pelukan Rara. Tidak ada mimpi tentang angka, tidak ada visi tentang masa depan perak. Hanya kegelapan yang tenang, tempat seorang manusia beristirahat setelah perang panjang melawan dirinya sendiri.