Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Di bawah cahaya rembulan yang samar-samar menyelinap melalui celah tirai jendela, Laura dan Doni duduk berhadapan di sofa empuk. Suasana hening mendayu sepasang hati yang saling mencinta, menanda salah satu kuntum biologis yang merekah perasaan penghibur jiwa, memberi arahan pada detak jantung yang kemudian bermain seirama. Laura menatap mata Doni, seakan memanggil dari altar sukacita, matanya berkilauan seperti bintang-bintang di malam yang cerah.
"Doni," bisik Laura, suaranya lembut bagai melodi musikal era keemasan. "Aku tidak pernah menyangka akan menemukan cinta seperti ini. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan."
Doni meraih tangan Laura, menggenggamnya demi koneksi penegasan. "Laura, kaulah mimpi terindahku. Setiap detik bersamamu adalah anugerah. Senyummu, raut manis mentari yang menerangi hari-hariku, dan tawamu, riang kegembiraan yang menjadi simfoni favoritku."
Laura tersenyum mengikuti senyum dalam batinnya, pipinya merona merah sebab bara asmara kian menyala. "Kamu selalu tahu cara membuatku merasa istimewa. Aku mencintaimu, Doni. Lebih dari kata-kata atau puisi romantis yang bisa kuucapkan."
Doni membawa tangan Laura ke bibirnya, mencium punggung tangannya dengan penuh rasa hormat. "Aku juga mencintaimu, Laura. Dengan seluruh jiwa dan ragaku."
Perlahan, seperti seorang kesatria yang ingin berangkat ke medan tanding, Doni mendekatkan wajahnya. Mata mereka saling mengunci bagai gembok bertemu rantai, dililit di antara tiang-tiang perunggu ludic, memancarkan kerinduan dan cinta yang bergelora. Jantung Laura berdebar lembut seperi deru angin yang membisik, menanti sentuhan afeksi yang ia dambakan. Doni membelai lembut pipi wanita yang ada di hadapannya, ibu jarinya menyapu kulit halus yang terasa seperti kain sutera pilihan.
"Boleh aku?" bisik Doni, meminta persetujuan.
Laura mengangguk, napasnya tertahan. "Ya, Doni. Selalu."
Bibir mereka akhirnya bertemu, lembut pada awalnya, lalu semakin larut, meleleh seperti bongkahan es di kutub utara yang diliputi gerah dari selatan. Ciuman itu adalah perpaduan kehangatan dan janji cinta seumur hidup. Mereka berciuman seolah rotasi bumi berhenti untuk mengangkat topi awannya, seolah tidak ada dunia lain selain mereka berdua. Dunia larut dalam keindahan momen itu, hanya menyisakan kebahagiaan murni yang mengalir di antara dua manusia yang saling membutuhkan.
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan ciuman, namun kening mereka masih bersentuhan. Napas mereka saling berkejaran, mengejar kepastian segel ikatan satu perasaan, dan mata mereka memancarkan terbit yang melenyapkan gelapnya beban.
"Aku mencintaimu," bisik Laura lagi, kali ini dengan nada yang memuaskan jiwanya.
"Aku lebih mencintaimu," jawab Doni, mengecup kening Laura yang tampak seperti sepasang burung yang terbang di ujung pantai senja.
"Laura," ucap Doni lagi, suaranya menggali lapisan perasaan. "Pernahkah kau membayangkan keluarga kita nanti?"
Laura menyandarkan kepalanya di bahu Doni, mengangguk pelan. "Tentu saja. Aku sering membayangkannya."
"Aku punya impian kecil," Doni melanjutkan, tawanya renyah dan lepas. "Aku ingin sekali punya anak perempuan. Tiga, tepatnya."
Laura mengangkat kepalanya, menatap Doni dengan rasa ingin tahu bercampur geli. "Tiga? Kenapa harus tiga?"
"Karena aku ingin mereka kembar tiga!" seru Doni, matanya berbinar penuh semangat. "Dan yang paling penting..." ia menjeda, menghimpun napas sejenak, "aku ingin mereka selalu memakai gaun merah. Gaun merah yang cantik, melambangkan keberanian, keteguhan dan cinta."
Laura tertawa, membayangkan pemandangan lucu itu. "Tiga gadis kembar dengan gaun merah? Wah, pasti ramai sekali rumah kita nanti!"
"Tentu saja!" Doni mengangguk puas meski itu masih berupa rencana. "Setiap kali mereka berjalan, seolah ada tiga kelopak mawar merah yang berarak. Aku akan mengajari mereka menari, menyanyi, dan berlari di taman. Dan setiap ulang tahun mereka, kita akan membuat pesta dengan tema merah!"
Laura menatap Doni, hatinya menghangat melihat antusiasmenya. "Kamu sudah memikirkannya sejauh itu, ya? Hmmmm."
"Tentu saja," jawab Doni, membelai rambut Laura. "Aku membayangkan betapa bahagianya kita nanti, melihat tiga gadis kecil kita tumbuh besar, dengan gaun merah kebanggaan mereka. Aku akan menjadi ayah yang paling banyak senyum, dan kamu akan manjadi ibu yang paling mencolok di antara dorongan kereta bayi."
Laura memeluk Doni erat. "Aku juga tidak sabar menunggu impianmu itu terwujud, Doni. Aku yakin, mereka akan menjadi gadis-gadis yang luar biasa."
"Dan mereka akan memiliki ibu yang paling luar biasa juga," bisik Doni, mencium puncak kepala Laura. "Terima kasih, Laura, karena sudah ada di sampingku dan berbagi impian ini."
Setelah momen romantis yang menghangatkan hati, Doni bangkit dari sofa dengan senyum mengembang seperti bunga subur yang selalu disiram. "Sebentar ya, sayang. Kamu jangan pulang dulu. Aku mau siapkan sesuatu di dapur. Kamu pasti lapar, kan?"
Laura tersenyum, "Tidak perlu repot-repot, Doni. Bersamamu saja sudah cukup. Dan satu lagi, aku sudah mengabari orang tuaku, bahwa aku malam ini akan pulang lebih larut. Jadi, yah... aku bisa menemanimu, lebih lama."
Doni mengedipkan mata, lalu melangkah menuju dapur, meninggalkan Laura yang masih duduk mengukir raut manis di sofa, sambil memandangi punggung lebar kekasihnya dengan penuh cinta.
Di dapur, Doni mulai mencari bahan-bahan. Ia ingin membuatkan sup kesukaan Laura, dan ingat bahwa air minum di dispenser sudah habis. Dia pun berinisiatif untuk mengisi ulang botol air mineral dari keran. Mesin air di rumah Doni adalah tipe yang otomatis memompa air dari sumur bor, dan kebetulan saat itu sedang menyala, mengeluarkan suara dengungan yang samar. Doni yang tidak terlalu memperhatikan, meraih botol kosong yang tergeletak di dekat mesin air.
Saat Doni membungkuk perlahan untuk meraih botol yang terletak di sudut lantai dekat mesin air, telapak tangan kanannya yang sedikit berkeringat karena efek gairah kebahagiaan tadi, secara tidak sengaja menggesek dan kemudian menempel erat pada sambungan kabel yang sudah lama terkelupas.
Pada saat yang sama, sekejap kilat rasa panas yang membakar seperti tusukan baja panas menusuk langsung dari ujung jari manisnya, melesat dengan kecepatan kilat melalui pembuluh darah dan urat syaraf ke pergelangan tangan, lengan atas, bahu, hingga merambat ke seluruh tubuhnya seperti ular listrik yang menggeliat. Tubuh Doni tiba-tiba mengeras seperti patung batu, tulang belakangnya membungkuk ke belakang dengan sudut aneh, sementara matanya melotot lebar hingga bola mata hampir tampak keluar dari kelopak, putih matanya terlihat jelas. Rahangnya mengatup dengan kekuatan menumbuk, giginya menggergaji satu sama lain hingga terdengar suara gesekan yang menyakitkan, dan napasnya terhenti total di tenggorokan, seolah ada tangan penjepit yang mencekik kerongkongannya dengan sangat erat.
Rasa sakit yang menusuk bukan hanya seperti tusukan, melainkan seperti ribuan jarum panas yang menusuk sekaligus dari setiap pori-pori tubuhnya, menggigilkan setiap serat otot hingga otot-otot di tangannya, lengan, dada, dan kaki mulai berkram dengan kekerasan. Otot bisepnya membengkak seperti tali yang diregangkan hingga hampir terputus, jari-jarinya melengkung ke arah dalam dan menempel erat pada tembaga di celah kabel, tidak dapat sedikit pun digerakkan, sebab ia telah terikat oleh daya tarik magnet berkekuatan besar yang menjeratnya pada sumber listrik.
Suara mengeram keluar dari bagian belakang tenggorokannya, "Aaaaagggh!" Diiringi deru napas yang bercampur dengan tekanan medium, sementara tubuhnya mulai bergetar dengan getaran yang kasar dan tidak teratur.
Di ruang tamu, Laura yang baru saja tersipuh senyuman, tiba-tiba tersentak, manis bibir di wajahnya tidak hanya memudar, melainkan hilang total dan digantikan oleh nuansa pahit yang memucat serta firasat menyakitkan di bagian tengah dadanya yang membuatnya merasa sesak napas. "Doni?! Doni, kamu kenapa?!" panggilnya dengan nada yang sudah mulai bergetar, lehernya memanjang mendongak ke arah dapur. Tidak ada jawaban kecuali suara mesin air, bisikan gemetar yang samar dan luapan deru yang mengkhawatirkan.
Tanpa berpikir dua atau tiga kali, Laura melompat dari sofa, kaki kirinya hampir tersandung karpet sebelum ia melangkah cepat dengan langkah yang tidak rata menuju dapur. Saat ia mencapai ambang pintu dan kepalanya muncul dari balik pintu yang terbuka, pemandangan yang menyambutnya membuat jantungnya terhenti sejenak lalu berdebar kencang seperti akan meledak dari dada. Doni berdiri dengan tubuh yang kaku seperti tongkat, wajahnya pucat seperti getah lama, dengan bibir yang menguning dan sedikit kebiruan, mata yang melotot sudah mulai mengeluarkan air mata karena kesakitan, dan keringat dingin membanjiri dahi, pelipis, dan lehernya. Tangan kanannya masih menempel erat pada kabel, dengan kulit di sekitar area kontak sudah mulai tampak kemerahan dan sedikit membengkak akibat sengatan listrik yang terus mengalir ke dalam tubuhnya.
"Dooooniiii..!!!" Jerit Laura pecah dengan suara yang terdengar serak dan pilu di tengah dapur, tangisannya sudah mulai menyertai teriakan itu. Kakinya merangkak melangkah dua langkah ke arah Doni, tapi tepat saat ujung jempol kakinya hampir menyentuh tubuh Doni, ingatan tentang bahaya sengatan listrik yang bisa menyambarnya juga tiba-tiba menghantam benaknya, seolah ada suara kecil yang berteriak-teriak memperingatkan di dalam kepalanya. Tubuhnya lantas sedikit bergeser mundur, sementara matanya berkeliling cepat mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memisahkan Doni dari belenggu listrik.
Baru beberapa detik kemudian, pandangannya tertuju pada sapu lantai kayu yang bersandar rapat di sudut dinding dekat pintu keluar ke halaman belakang, gagangnya terbuat dari kayu solid yang cukup tebal, sementara bagian sapunya terbuat dari serat alam yang tidak konduktif. Tanpa berpikir panjang lagi, Laura melesat ke arah sapu itu, meraih gagangnya dengan kedua tangan dan mengepalkannya erat-erat. Tubuhnya sedikit berjongkok untuk mengumpulkan kekuatan, lalu dengan sekuat tenaga ia mengayunkan gagang sapu dari atas ke bawah, sasaran tepat pada bagian pergelangan tangan Doni yang masih menempel erat pada kabel tembaga yang lembab.
"THUACK!" Suara benturan kayu dengan kulit dan tulang terdengar jelas. Dengan sekali sentakan yang kuat dan cepat, tangan Doni terlepas dari kabel dengan gaya yang kasar. Badan Doni yang sebelumnya berdiri kaku seperti patung pajangan horor langsung terhempas mundur, punggungnya membentur bagian tepi atas lemari dapur baja yang terletak di sebelahnya, suara benturannya terdengar cukup keras, membuat beberapa piring di dalam lemari bergetar dan salah satu tutup wadah plastik terjatuh ke lantai. Setelah itu, tubuhnya meluncur perlahan ke bawah dari permukaan lemari hingga akhirnya jatuh terduduk dengan posisi kaki sedikit membengkok dan tangan kanannya tertekuk di bawah tubuhnya.
Sesaat setelah Doni terlepas, mesin air yang sebelumnya masih menyala dengan suara gemuruh dan sedikit bergetar tiba-tiba berhenti total, suara putus daya terdengar seperti "CLICK!" di belakang mesin, lalu semua keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Tanpa menghiraukan apa pun, Laura segera berlari dan kemudian berlutut dengan tergesa-gesa di sisi kanan tubuh kekasihnya. Air mata sudah mengalir deras di pipinya, membentuk aliran lembab yang menetes ke atas lantai. Ia meraih kedua pipi Doni dengan lembut tapi erat, menangkupnya dengan telapak tangannya yang masih berkeringat dan gemetar.
"Doni! Sayangku, tolong bangun! Bicaralah padaku! Doni... jangan lakukan ini padaku..." ucapnya dengan suara sesak, matanya menatap wajah Doni yang masih terbaring kaku, kulitnya tampak lebih pucat dari sebelumnya, bahkan ada bercak kemerahan yang mulai tampak jelas di bagian pergelangan tangan kanannya yang terkena sentakan sapu dan juga bekas kontak dengan kabel listrik. Ia sedikit menggerakkan kepala Doni ke arahnya, berharap bisa melihat sedikit gerakan atau mendengar suara dari bibirnya yang sudah tampak kebiruan.
Ambulans tiba tak lama kemudian, sirenenya meraung merobek selimut sunyi malam. Petugas medis segera membawa Doni ke rumah sakit terdekat. Laura ikut serta, hatinya hancur berkeping-keping. Di sepanjang perjalanan, ia terus menggenggam tangan Doni, berharap ada keajaiban. Namun, keajaiban itu tak kunjung datang. Setelah berjuang keras, di antara dinding suram, nyala lampu redup, bisikan-bisikan instruksi terakhir; dokter keluar dengan raut wajah mendung, mencoba menahan kenyataan agar dibendung, mungkin seseorang yang mendengarnya akan tersandung, tetapi ia tak ingin kabar itu menggantung, sang dokter harus mengatakannya meski tajam yang membuat buntung. Doni telah tiada. Dunia Laura, runtuh saat itu juga.
- Keesokan Harinya.......
Mendung kelabu tertumpah di langit, awannya bersusun seolah dijahit, muncul dan ikut merasakan duka yang terasa pahit. Di sebuah pemakaman yang asri, iring-iringan pelayat berjalan perlahan, melewati barisan pohon yang melebar dahan, beberapa hati mencoba menahan ketabahan, mengantar Doni ke peristirahatan terakhirnya yang hanya berbilik rebahan. Laura berdiri di tepi liang lahat, tubuhnya lemas tak bertenaga seolah tak sehat, membayangkan rohnya ikut terkubur bersama Doni yang kini rehat. Matanya bengkak dan merah, sisa tangisan yang tak berhenti sejak ia merasa merangkak di atas tanah merah. Ia memegang erat sebuah foto dengan kaca bersih, memperlihatkan senyum mengembang dari wajah sang kekasih, dan kini harus keluar dari kehidupan yang tersisih.
Satu tangkai mawar terlepas patah di tepi, air mata mengalir teratur di pipi, semangat serasa kaku melihat jasad mati, di antara nisan yang menyimpan kisah agar diamati.
Di samping Laura, Roni, sahabat Doni sejak kecil, menopang bahunya. Wajah Roni juga tampak sembab, kesedihan mendalam terpancar dari sorot matanya. Doni adalah.... lebih dari sekadar teman baginya, Doni adalah saudaranya. Ia masih tidak percaya bahwa Doni yang selalu ceria dan penuh semangat kini telah tiada.
Tak jauh dari mereka, Ariana dan Amelia, sahabat karib Laura dan Doni, saling berpegangan tangan. Ariana berusaha menahan tangisnya, namun tetap saja kaca basah yang menebal oleh air itu meleleh. Amelia, yang biasanya selalu ceria, kini hanya bisa terdiam, raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang sama.
Tanah merah perlahan menutupi, setiap taburannya terasa seperti pukulan keras di hati Laura. Di tengah gelombang campur aduk; hembusan udara tiba-tiba menghambur dari bawah sana, melebarkan rambut seperti sayap. Di antara taburan yang berjatuhan, sepintas mata Laura melihat beberapa potong kain berwarna merah mencolok, seolah memang telah ada untuk menjadi bagian material yang menimbun liang. Tetapi batinnya mencoba mengabaikan, ia memilih menunduk, tak sanggup melihat kekasihnya menghilang lambat di balik gundukan tanah. Roni, dengan suara serak, mendekat mencoba menenangkan Laura. "Ini semua telah terjadi, telah dilaksanakan. Doni pasti ingin kamu kuat, tidak ada yang lain, dia pasti ingin kamu menulis di lembaran baru dengan senyum tegar."
Laura menggelengkan kepalanya dengan wajah mendung, air mata kembali tumpah seperti gerimis yang kembali menyeruak.
Ariana dan Amelia turut mendekat, memeluk erat punggung dan bahu Laura yang bergetar. Pelukan hangat dari para sahabatnya sedikit memberikan kekuatan, namun rasa hampa di dada Laura terasa begitu besar. Kenangan-kenangan indah bersama Doni berputar-putar seperti proyektor hening di benaknya, dari pertemuan pertama mereka, tawa canda, hingga ciuman romantis terakhir mereka di sofa. Semuanya kini hanya tinggal kenangan kopi tanpa gula, teh tanpa madu, dan air pinang yang lalu datang untuk dituang ke dalam gelas kisahnya.