NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Lampu indikator biru di ponsel pintar Felysha berkedip setiap tiga detik sekali, membiaskan cahaya tipis di permukaan meja nakas yang gelap. Felysha yang baru saja selesai mandi hanya berdiri diam di tengah kamar, rambutnya masih terbungkus handuk putih yang lembap. Ia tidak segera meraih ponsel itu, meski ia tahu bahwa kedipan itu adalah tanda dari Julian yang sedang menuntut perhatiannya. Ia membiarkan tubuhnya tetap berdiri di sana, merasakan sisa-sisa air yang menetes dari ujung rambutnya jatuh ke bahunya yang telanjang.

Resonansi getaran ponsel itu akhirnya muncul, menghasilkan bunyi dengung yang panjang di atas permukaan kayu nakas. Felysha menarik napas panjang, menahannya sejenak di dada sebelum akhirnya melangkah mendekat. Ia meraih ponsel itu dengan jemari yang masih sedikit gemetar.

15 Missed Calls: Julian

20 Messages: Julian

Ia menelan ludah, merasakan kerongkongannya yang terasa kering meski ia baru saja minum satu gelas penuh air dingin sebelum mandi tadi. Ia menekan tombol power, dan layar itu segera menyala terang, menampilkan rentetan pesan yang nadanya semakin lama semakin mendesak.

Julian: Kamu ke mana saja? Andre bilang dia melihatmu bicara dengan pria asing di depan studio sore tadi.

Julian: Kenapa intercom apartemen tidak dijawab?

Julian: Felysha, jangan membuatku harus menelepon manajemen gedung untuk memastikan kamu ada di dalam.

Felysha menjatuhkan dirinya di tepi tempat tidur yang dilapisi seprai sutra dingin. Ia mulai mengetik balasan dengan gerakan jempol yang kaku.

Felysha: Aku sedang di studio, Julian. Aku baru saja sampai dan langsung mandi. Intercom-nya mungkin suaranya tertutup suara air.

Baru saja ia menekan tombol kirim, ponsel di tangannya kembali bergetar hebat. Kali ini sebuah panggilan video. Felysha tersentak, ia segera merapikan handuk di kepalanya dan memakai jubah mandi sutra berwarna putih, menarik talinya kuat-kuat agar tertutup sempurna. Ia menekan tombol terima, dan seketika wajah Julian muncul di layar ponselnya.

Julian sedang duduk di kursi kerjanya yang mewah di Jakarta, dengan latar belakang jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit Sudirman yang mulai diterangi lampu kota. Pria itu tampak masih rapi dengan kemeja putihnya, meski dasinya sudah sedikit dilonggarkan. Matanya yang tajam menatap Felysha lewat kamera ponsel, seolah-olah sedang memeriksa setiap inci ruangan di belakang gadis itu.

"Kenapa rambutmu basah?" tanya Julian tanpa basa-basi salam. Suaranya terdengar datar namun penuh dengan intonasi yang menuntut penjelasan.

"Aku baru selesai mandi, Julian. Aku baru pulang dari kampus setengah jam yang lalu," jawab Felysha pelan. Ia berusaha menatap lurus ke arah kamera agar tidak terlihat mencurigakan di mata Julian.

"Andre bilang kamu keluar studio bersama seorang pria. Siapa dia?" Julian menyesap kopi dari cangkir porselennya. Bunyi denting porselen yang beradu itu terdengar sangat jelas di telinga Felysha, memberikan sensasi dingin yang aneh.

"Itu Marc, teman sekelasku. Dia hanya bertanya soal benang yang kami pakai untuk evaluasi besok pagi. Hanya itu," jelas Felysha, tangannya meremas ujung jubah mandinya di bawah meja yang tidak tertangkap kamera.

Julian terdiam sejenak, matanya menyipit seolah sedang menimbang-nimbang kejujuran dalam suara Felysha. "Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan orang asing di sana, Fely. Ingat tujuanmu ke Paris adalah untuk belajar, bukan untuk bersosialisasi yang tidak perlu. Aku membiayai semuanya agar kamu bisa fokus, bukan agar kamu teralihkan oleh pria-pria tidak jelas di kampus itu."

Felysha hanya bisa mengangguk pelan. Ia merasa lidahnya kelu untuk membantah. "Iya, Julian. Aku mengerti."

"Bagus. Sekarang tunjukkan padaku apa yang ada di mejamu. Aku ingin lihat kemajuan desainmu."

Felysha berdiri, membawa ponselnya menuju meja kerja di sudut kamar yang dipenuhi dengan sketsa dan tumpukan kain. Ia mengarahkan kamera ke arah sketsa yang tadi ia kerjakan di kampus. Ia melihat bagaimana Julian mengamati garis-garis gambarnya dengan teliti.

"Kenapa bagian kerahnya jadi lebih rendah?" tanya Julian tiba-tiba. "Kemarin kita sudah sepakat untuk membuatnya lebih tertutup. Itu terlihat terlalu provokatif untuk calon istriku."

"Madame Claire bilang desainnya terlalu mati jika terlalu tertutup, Julian. Ini untuk nilai akademisku..."

"Nilai akademismu adalah tanggung jawabku, tapi citra dirimu adalah milikku," potong Julian tajam. "Ubah kembali besok pagi. Aku tidak mau melihat kamu mengenakan atau mendesain sesuatu yang memperlihatkan kulitmu terlalu banyak. Mengerti?"

Felysha menunduk, menatap ujung kakinya yang pucat di atas lantai. "Iya, Julian. Aku akan mengubahnya."

Percakapan itu berlangsung selama hampir satu jam. Julian menanyakan setiap detail harinya—mulai dari apa yang ia makan siang tadi, sampai apa yang ia rencanakan untuk sarapan besok. Ia merasa seperti sedang diinterogasi oleh detektif, bukan sedang berbicara dengan tunangannya. Setiap kali ia ingin mengakhiri percakapan, Julian selalu punya pertanyaan baru yang membuatnya harus tetap berada di depan layar.

"Satu lagi, Fely," Julian bersandar pada kursinya. "Aku sudah mengirimkan paket vitamin dan suplemen baru lewat Andre. Pastikan kamu meminumnya setiap pagi. Aku ingin saat aku ke Paris bulan depan, kamu terlihat segar, tidak pucat seperti sekarang."

"Terima kasih, Julian."

Setelah sambungan video terputus, Felysha meletakkan ponselnya di atas meja dengan tangan yang lemas. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu lemari pakaian, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai yang dingin. Ia merasa energinya terkuras habis hanya karena sebuah panggilan telepon. Di apartemen mewah ini, ia merasa seperti sedang berada di dalam penjara digital yang jerujinya terbuat dari sinyal internet dan notifikasi pesan.

Ia berjalan menuju balkon, membuka pintu kaca geser itu perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik. Angin malam Paris yang dingin langsung menusuk pori-porinya, memberikan sensasi segar yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia berdiri di tepi balkon, memegang pagar besi yang terasa sedingin es. Di bawah sana, jalanan Paris mulai sepi, hanya ada beberapa mobil yang melintas dengan cahaya lampu yang membelah kegelapan.

Ia menatap Menara Eiffel yang berkelap-kelip di kejauhan. Lampu-lampu menara itu seolah sedang mengejeknya, mengingatkannya bahwa ia berada di kota paling bebas di dunia, namun ia sendiri adalah orang yang paling terikat. Ia meraba kalung perak di lehernya, mencengkeramnya kuat-kuat hingga jari-jarinya memutih.

Tiba-tiba, ponselnya di meja kerja bergetar lagi. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk.

Julian: Aku melihatmu di balkon lewat akses CCTV gedung seberang. Masuklah sekarang, Fely. Udara sedang tidak bagus untuk kesehatanmu. Jangan membuatku harus menelepon Andre untuk menjemputmu di sana.

Felysha tersentak, ia segera menoleh ke arah gedung di seberang jalannya dengan mata yang membelalak ketakutan. Ia tidak melihat siapa pun, tapi bayangan bahwa Julian sedang mengawasinya lewat kamera keamanan membuat bulu kuduknya berdiri. Ia segera masuk kembali ke dalam apartemen, mengunci pintu balkon rapat-rapat, dan menutup tirai tebalnya hingga tidak ada celah cahaya sedikit pun.

Ia berjalan menuju tempat tidur dalam kegelapan, tidak berani menyalakan lampu lagi. Ia menarik selimutnya hingga ke dagu, mencoba menulikan telinganya dari detak jam dinding yang seolah-olah sedang menghitung setiap detik kehidupannya yang tidak lagi ia miliki. Di tengah kemegahan Paris, Felysha Anindhita menyadari bahwa ia hanyalah seorang tawanan yang sedang menunggu babak berikutnya dalam sandiwara panjang yang ditulis oleh Julian.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!