Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Untuk Meeting
Denting suara peralatan makan tengah mengiringi meja makan dipagi hari ini. Semua anggota keluarga Permana tengah menikmati sarapan pagi seperti rutinitas biasa mereka setiap kali akan mengawali hari yang baru.
Pak Baskara Arya Permana terbiasa dengan didikan yang disiplin dan tegas. Disaat tengah berada di meja makan tak ada yang boleh bersuara sedikitpun.
Kaniya lebih dulu mengakhiri sarapannya kali ini. Gadis ini tampak mempercepat tempo makannya. Setelahnya ia pun berpamitan pada seluruh anggota keluarganya.
Pak Baskara ingin menahannya namun secara spontan bu Anindika meletakkan telapak tangannya di dada kanan pak Baskara dan membelainya lembut. Hal itu berhasil membuat pak Baskara mengurungkan niatnya.
"Ma...kenapa mama tahan papa sih ma? Anak itu sudah begitu keterlaluan, harus diberi pelajaran agar dia mengerti..." Protes pak Baskara setelah kepergian Kaniya
"Pah...dalam mendidik anak-anak itu jangan terlalu keras, yang ada mereka justru malah jadi berani membantah. Selain itu yang ditakutkan kalo si anak ngambek terus gak mau pulang kerumah gimana?" Ujar bu Anindika bijak sembari tersenyum
"Papa kan tahu gimana karakter anak kita yang satu itu. Gini yah...pah, anak salah satu temen arisan mama itu ada yang menolak perjodohan terus aksi ngambeknya itu katanya dia sewa apartemen dan gak pernah mau pulang kerumah selama bertahun-tahun. Mama takut kalau Kaniya juga bakal lakuin hal yang sama..." Lanjut bu Anindika dengan tatapan menerawang jauh keseberang sana
Bu Anindika tengah membayangkan jika Kaniya melakukan hal yang sama seperti anak salah satu teman arisannya.
Pak Baskara hanya bisa menghela nafas panjang kali ini.
Kaniya memang sudah dewasa secara usia dan juga fisik. Namun tingkah lakunya masih seperti gadis berusia belasan tahun.
Saat ini dirinya berjalan dengan langkah centilnya sembari tersenyum dan mengayunkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri.
Hal itu tidak lagi mengherankan bagi seluruh staff diperusahaan milik Agashtya. Seluruhnya sudah memahami karakter unik Kaniya, gadis yang selalu ceria dan tingkahnya yang aktif.
Namun tidak dengan Sherly dan komplotannya yang selalu merasa iri hati dengan Kaniya yang bisa selalu dekat dengan Agashtya.
Ya, walaupun tingkahnya kekanakan. Kaniya memiliki attitude yang baik, juga skill yang diatas rata-rata dan juga sangat berdedikasi penuh dalam segala hal. Sehingga posisi yang ditempatkan oleh Agashtya untuknya tak lain adalah sekretaris pribadinya.
"Morning everyone..." Sapa Kaniya dengan ceria
"Morning bu Kaniya..." Sahut beberapa orang di staff kantor
"Morning mbak Kaniya..." Sahut sebagian staff wanita disana
Berbeda dengan Sherly dan komplotannya yang hanya diam sembari memutar bola matanya jengah melihat tingkah Kaniya yang dianggap memuakkan.
"Dasar naif..." Cibir Sherly
Kaniya tak menghiraukan ucapan Sherly dan teman-temannya. Ia berlalu begitu saja dari hadapan mereka yang membencinya tanpa sebab dan alasan yang jelas.
Gadis itu pun melangkahkan kaki menuju ruang kerja Agashtya. Dirinya ingin membahas mengenai dokumen kerja yang telah ia kerjakan beberapa hari yang lalu.
Agashtya yang disiplin itu pun sudah berada diruang kerjanya, duduk di kursi kehormatannya sementara netranya terfokuskan pada layar monitor komputer diruangannya itu.
"Permisi pak..." Ucap Kaniya santun
"Masuk Kaniya..." Sahut Agashtya tanpa menoleh sedikitpun
Gadis itu pun melangkahkan kakinya menghampiri Agashtya untuk menyerahkan dokumen hasil kerjanya.
"Pak ini dokumen yang bapak minta tiga hari lalu, semuanya sudah clear. Silahkan dicek terlebih dahulu sebelum digunakan untuk meeting sore ini nanti..." Ujar Kaniya profesional
Kaniya menyerahkan dokumen itu pada Agashtya. Setelah Agashtya menerimanya, ia pun tersenyum puas melihat hasil kerja sekretaris andalannya itu.
"Ok good job Kaniya. Meeting hari ini diadakan di Green Hyatt Hotel tepat pukul 7 malam nanti..." Ujar Agashtya datar
"Kamu sebagai sekretaris saya, tolong siapkan tuxedo untuk saya dan ya kamu juga harus berpenampilan elegan ya untuk meeting kali ini. Ingat jaga sikap kamu jangan kekanak-kanakan paham kan..." Lanjut Agashtya
"Ok siap pak, paham pak boss..." Sahut Kaniya dengan senyum pepsodent
Gadis satu ini pun mengiyakan semua ucapan atasannya itu. Barulah dirinya berpamitan undur diri dari ruangan kerja Agashtya dengan santun.
Kini tujuannya tak lain adalah menghubungi Alex asisten pribadi Agashtya. Tentu untuk menemaninya ke mall pagi ini.
Tujuannya saat ini adalah membeli tuxedo untuk Agashtya dan gaun malam yang akan ia kenakan diacara meeting dengan klien yang berasal dari luar negeri yang akan diadakan di Green Hyatt Hotels.
Bukan bermain diwaktu kerja melainkan bekerja serasa bebas melakukan apa saja. Itulah yang kini tengah dirasakan oleh Kaniya.
Walaupun tujuannya hanya ingin mencari tuxedo dan gaun malam. Namun dirinya adalah wanita yang normal.
Pandangan netranya tertuju pada deretan tas branded dan juga sepatu branded yang terpajang di mall kota ini.
Takut jika identitas aslinya terbongkar, Kaniya menitahkan Alex untuk tidak mengikutinya berkeliling mall.
Ya, tak ada satu pun yang mengetahui identitas asli Kaniya yang merupakan putri dari keluarga Permana salah satu orang terkaya di kota ini.
"Aa...pak Alex mending bapak nikmati kesempatan luang ini deh ya, bapak keliling mall have fun kek gitu yah...saya juga masih pengen berkeliling mall selagi ada kesempatan soalnya saya belum pernah masuk mall segede ini sebelumnya. Ya pak ya please..." Bujuk Kaniya dengan ekspresi yang sengaja di imut-imutkan agar Alex luluh
Pemuda yang diperkirakan berusia sepantaran Agashtya ini pun hanya bisa menghela nafas panjang dan mengiyakan semua keinginan Kaniya.
"Ok kalau begitu saya tunggu di mobil ya bu Kaniya..." Jawab Alex santai
Usai berpisah satu sama lain dengan Alex barulah Kaniya dengan bebas menjalankan aksinya. Kaniya memilih dua pasang sepatu pantofel branded, sebuah tas branded, beberapa baju untuk kerja dan deretan set kosmetik.
Barulah dirinya menuju tempat deretan tuxedo formal. Ia mengambil dua pasang tuxedo yang menurutnya sangat cocok untuk Agashtya. Tak lupa pula ia mencari sebuah gaun malam yang cocok untuknya.
Setelah semua dirasa sudah lengkap kini dirinya berdiri mengantri di depan meja kasir. Dengan sekeranjang penuh belanjaan tentunya.
"Silahkan mbak..." Ucap seorang mbak kasir di mall ini
"Mau bayar pakai apa mbak? Ini kode qris nya jika ingin membayar dengan akun dana atau m-banking..." Imbuh mbak kasir itu sembari menyodorkan barcode ditangannya
Dengan hati-hati Kaniya mengeluarkan black card dari dalam dompetnya.
"Bisa pake black card kan mbak? Ini ya mbak kodenya 260121..." Ujar Kaniya menyerahkan black card miliknya pada mbak kasir
"Baik mbak, akan segera saya proses..." Sahut mbak kasir ramah
Kaniya tak sedikitpun menggunakan uang yang berada di dalam black card milik Agashtya melainkan ia menggunakan black card miliknya sendiri.
Usai bertransaksi kini Kaniya melangkah dengan kecepatan kilat menghampiri seseorang yang sudah lama menunggunya.
"Mas Ardi tolong bawa semua belanjaan saya ini pulang kerumah ya, jangan sampe ketahuan mama yah ok. Ini kompensasi buat mas. Inget jangan ikuti saya, pokoknya saya gak peduli mas Ardi mau kemana yang penting kalo mama saya tanya soal saya jawab aja aman bu boss ok..." Ujar Kaniya yang memberikan delapan lembar uang berwarna merah pada Ardiansyah bodyguard nya itu
"Baik mbak Kaniya, saya mengerti. Terimakasih banyak mbak Kaniya tapi ini terlalu kebanyakan..." Sahut Ardiansyah
"Udah ambil aja, ya udah saya pergi dulu. Byeeee..." Ujar Kaniya dengan ciri khasnya sembari melambaikan tangannya pada Ardiansyah
Semua urusannya kini sudah selesai. Ia kembali berjalan dengan menenteng dua paperbag berlogo branded menuju mobil Alex. Dengan sigap Alex membukakan pintu penumpang untuk Kaniya.
Mobil daihatsu terios berwarna hitam itu pun melaju dengan kecepatan rata-rata menuju perusahaan Agashtya yang tak lain bernama Wijaya's New Era Group.
Baru saja Kaniya keluar dari mobil Alex sembari menenteng dua buah paperbag berukuran lumayan besar kini dirinya sudah disambut oleh Sherly dan komplotannya.
"Enak banget ya...pas jam kerja pergi jalan-jalan shoping ke mall. Heran deh sama pak Agashtya kenapa lebih pilih si curut satu ini jadi sekretarisnya, entah apa yang menarik dari dia coba hahaha....badut banget..." Cibir Sherly sinis
Kaniya hanya memutar bola matanya jengah dan tetap ingin menerobos masuk. Baginya meladeni Sherly dan komplotannya sama saja tengah membuang-buang energi saja.
"Minggir loe! Gue gak ada waktu berurusan sama loe bertiga..." Ujar Kaniya tegas sembari menunjuk ke arah wajah ketiga gadis itu tanpa ada rasa takut sama sekali
Hal itu tentu memancing amarah Sherly yang terlalu obsesi dengan Agashtya.
"Berani ya loe, bersikap kurang ajar sama gue. Belum tahu loe ya siapa gue? Gue itu anak orang terkaya nomor 10 di kota ini asal loe mau tahu ya papa gue itu Arlan Pratama..." Ucap Sherly angkuh
"Terserah gue gak peduli itu. Mau loe anak siapa dan gimana-gimana juga bukan urusan gue tuh. Minggir!" Jawab Kaniya tegas
Kaniya tanpa ragu sedikitpun mendorong bahunya pada bahu kiri Sherly disaat Sherly berusaha menghalangi jalannya.
"Hihhhh...awas aja loe ya, kali ini loe bisa lolos tapi lain kali loe harus sujud-sujud minta maaf ke gue. Ayo guys kita pergi..." Ucap Sherly kesal
Sementara itu Alex yang menyaksikan peristiwa yang usai terjadi di hadapannya itu pun hanya menahan tawa geli.
Bagaimana tidak pasalnya sekretaris bosnya kali ini berani melawan Sherly yang kedudukannya tak lain adalah manajer di departemen pemasaran produk.
Bagi Alex pesona sekretaris bosnya kali ini memang diacungi jempol, berbeda dengan sekretaris lama Agashtya yang lebih memilih mengundurkan diri karena selalu ditindas oleh Sherly.
Lantas mengapa Agashtya tidak mengalihkan kedudukan Sherly untuk menjadi sekretarisnya?
Itu semua dikarenakan Agashtya tahu bahwa Sherly melamar pekerjaan di perusahaannya ini tak lain adalah ingin mendekati dirinya dan ingin menjadi artis terkenal. Padahal Sherly bisa saja bekerja di perusahaan milik papanya sendiri.
Sherly tak lain adalah teman satu sekolah menengah atas Agashtya. Sherly memang begitu terobsesi dengan Agashtya sejak SMA.
...****************...
Kaniya dengan telaten memasang dua pasang tuxedo pada patung manekin yang berada di ruang ganti Agashtya.
Tak lupa pula dirinya menyemprotkan parfum pakaian branded yang biasa digunakan oleh Agashtya. Setelahnya ia setrika kembali tuxedo pilihannya itu dengan setrika uap.
"Beres deh...sekarang waktunya makan siang..." Ujar Kaniya dengan senyuman sumringah
Kaniya pun mengantisipasi terjadi suatu hal yang tak terduga seperti di drama-drama. Sebelum keluar dari ruang ganti Agashtya, Kaniya pun langsung mengunci ruangan itu.
IQ Kaniya memang tak lagi diragukan dalam segala hal. Hal itulah yang di nilai oleh Agashtya yang memilih dirinya menjadi sekretarisnya.
Agashtya memang selalu merekrut orang-orang yang memiliki kecerdasan tinggi dan juga attitude yang baik tentunya. Maka dari itu Sherly tak begitu dianggap penting baginya.
"Hah....semuanya udah beres. Udah bisa menghela udara segar..." Gumam Kaniya dengan bangga
Sesuai dengan prakiraannya. Saat ini Sherly tengah mengendap-endap berjalan menuju ruang ganti Agashtya.
Namun disaat dirinya memegang handle gagang pintu ruangan itu berdinding kaca itu ternyata dikunci.
"Arrgh...sialan pintunya di kunci. Emang bener-bener itu cewek norak satu itu ya..." Gerutu Sherly
Dirinya menendang tong sampah yang berada di samping ruangan itu. Tanpa sengaja sebuah sampah kertas yang sudah diremas-remas mengenai seseorang. Orang itu tak lain adalah Agashtya sendiri.
'Astaga...aduh...gimana ini kenapa dia tiba-tiba nongol gitu aja sih, mati...mati...mati...kamu Sher...' Gerutu Sherly dalam hati
Agashtya berjalan menghampiri Sherly yang tengah berdiri di depan ruang gantinya. Kedua tangan pemuda satu ini berada di dalam saku celananya. Namun aura mengintimidasinya sudah begitu terasa menyeramkan bagi seorang Sherly.
"Apa yang kamu lakukan di jam istirahat seperti ini disini? Ruangan kamu dimana dan kamu dimana..." Ucap Agashtya dingin
Sherly merasa seperti tengah tertangkap basah sebagai seorang pencuri saat ini. Wajahnya bahkan memerah seperti buah tomat.
"Aa...anu...tadi...anu...saya......." Ucapan Sherly dipotong seketika oleh Agashtya
Agashtya yang sedikit mencurigai gelagat gadis itu pun masih tetap berdiri sembari menatap gadis di hadapannya itu dengan mata menyala.
"Sudah gak perlu alasan ini itu. Sekarang juga kamu kembali ke ruangan kamu sebelum saya benar-benar kesal dengan kamu!" Bentak Agashtya tegas
Sherly yang tak bisa berkata apapun lagi akhirnya menurut saja. Ia pergi dari hadapan Agashtya sekarang juga.
"Hihhhhhh....Lagi-lagi gue gagal, ok kali ini loe bisa lolos lagi Kan tapi inget masih ada seribu cara buat jatuhin loe..." Gumam Sherly tersenyum seringai sembari berjalan menyusuri koridor setiap ruangan Wijaya's New Era Group
Bukan Sherly apabila menyerah begitu saja. Jika hari ini gagal maka masih banyak cara licik lain yang akan dilakukan oleh Sherly untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Cerita ini merupakan karya fiksi. Semua nama tokoh, karakter, peristiwa, dan latar belakang yang ditampilkan tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan individu, kejadian, atau tempat nyata. Setiap kemiripan yang terjadi adalah kebetulan belaka...
Bersambooo...
Visualnya Ardiansyah (Bodyguard Kaniya)...
Visualnya Alex (Asisten Pribadi Agasthya)...