Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Rencana Melamar Kekasih
Setelah insiden itu Emeery dan teman-temannya melanjutkan perjalanan ke villa Puncak. Sementara Gerry kembali ke toko bunga, karena dia memang berencana untuk membeli satu buket untuk kekasihnya yang habis wisuda. Malam ini Gerry berencana melamar wanita itu, dia juga sudah menyiapkan cincin.
"Makasih, Mbak," ucap Gerry setelah buketnya telah siap. Dia tersenyum lebar, membayangkan wajah sang pujaan yang pastinya akan sangat senang.
Dengan perasaan tak sabar Gerry masuk ke dalam mobilnya dan membawa kendaraan itu ke restoran tempat mereka janjian.
Mona, begitulah orang memanggil kekasih sang duda selama hampir satu tahun ini. Karena ingin ke jenjang yang serius, Gerry sudah memantapkan hati untuk melamar Mona setelah sang kekasih mendapat gelar dokter.
"Sayang," panggil Mona dengan manja saat melihat Gerry datang. Dia langsung menghambur dan melakukan cipika-cipiki, karena ruangan mereka memang VVIP.
"Udah nunggu lama ya?" tanya Gerry merasa tak enakan karena Mona datang lebih dulu. Gadis berkulit hitam manis itu menggeleng, hingga rambutnya yang ekor kuda ikut bergoyang.
"Enggak kok, aku juga baru dateng banget," jawab Mona, kemudian matanya tertuju pada bunga yang ada di tangan Gerry. "Buat aku ya?"
"Iya dong, Pacarku yang paling cantik," jawab Gerry seraya mengetuk hidung Mona dengan gemas. Gadis itu terkekeh dan menerima bunga mawar merah dari Gerry, wajahnya benar-benar terlihat sangat sumringah. Sehingga Gerry sangat positif sekali malam ini, bahwa lamarannya sudah pasti akan diterima.
Gerry bersikap sebagaimana seorang pria, yakni membantu Mona untuk kembali duduk di kursinya. Mereka makan malam romantis, dengan diselingi obrolan serta canda dan tawa. Bersama Mona, dia merasakan kecocokan, rasa yang pernah terpatri saat bersama istri pertamanya yang telah meninggal dunia tiga tahun lalu.
"Ada yang mau aku omongin," ucap keduanya berbarengan. Gerry dan Mona pun saling pandang, kemudian tertawa karena untuk bicara saja mereka sampai kompak begitu.
"Kamu dulu deh," ujar Mona mengalah sambil mengelap pinggiran bibirnya. Namun, Gerry menggeleng pelan.
"No, ladies first!" katanya mempersilahkan sang kekasih bicara lebih dulu. Tanpa sungkan Mona pun langsung mengeluarkan ponselnya, dia ingin memberitahu Gerry tentang rencananya melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri.
"Ini," ujar Mona seraya menyerahkan ponselnya supaya Gerry membacanya sendiri. Pria yang tampak penasaran itu membaca bait demi bait kata yang tertera.
"Ujiannya minggu depan. Kalo aku lulus, aku bakal terbang ke luar negeri dan jadi dokter spesialis handal!" lanjut Mona dengan mata yang berbinar dan wajah yang sangat sumringah. Tanpa bicara terlebih dahulu pada Gerry, dia langsung mengambil langkah, karena merasa ini kesempatan yang sangat baik.
Gerry mengangkat kepalanya dan menatap Mona dengan lekat. Entah kenapa dia malah menunjukkan wajah kecewa, perasaannya langsung campur aduk, hingga menelan ludah saja rasanya susah.
Dia merasa bahwa kelanjutan hubungan mereka tidak ada dalam wishlist Mona dalam beberapa tahun ke depan.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu nggak seneng ya aku lanjut S2?" tanya Mona membaca ekspresi Gerry yang tidak menunjukkan keantusiasan.
Mendengar itu Gerry langsung menggelengkan kepala dan menyerahkan kembali ponsel milik Mona.
"Pastinya aku seneng dong, menjadi dokter kan cita-citamu," jawab Gerry berusaha menormalkan mimik wajahnya sebisa mungkin.
Mona langsung tersenyum lebar dan menggenggam tangan Gerry. Dia tahu pria yang ada di depannya pasti mendukung.
"Terus apa yang mau kamu omongin?" tanya Mona, sontak Gerry pun menjadi bingung. Tidak mungkin dia mengajak Mona menikah di situasi yang seperti ini. Karena yang diutamakan Mona bukanlah dirinya.
Sunyi mengambil alih, sampai akhirnya Mona menyipitkan matanya, mencoba menebak. "Kamu nggak lagi mikir buat ngelamar aku 'kan?"
Deg!
Tebakan tepat sasaran itu membuat Gerry langsung tersadar dari lamunannya. Tangan Mona langsung menjauh, mendadak suasana di sekitar menjadi tidak nyaman.
"Kak Gerry," panggil Mona untuk memastikan.
"Tadinya begitu, karena dari awal aku kan udah bilang kalau aku cari wanita yang serius. Aku ngerasa cocok sama kamu, Mon, makanya aku mau mengutarakan niatku malam ini. Tapi, kayaknya nggak tepat deh," papar Gerry apa adanya. Dia membenahi jasnya, dia menyimpan cincin itu di sana.
Mona menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan. Dia berusaha menyusun kata dalam otaknya, supaya Gerry tidak berpikir bahwa dia egois.
"Aku ngerti posisi dan perasaan kamu. Tapi aku juga punya masa depan dan cita-cita yang pengen aku gapai sebelum jadi seorang istri. Aku minta maaf, mungkin aku nggak bisa terima niat baik kamu ini ...."
"It's okey, Mon, aku masih bisa nunggu," potong Gerry berusaha menimbang semuanya dengan pikiran positif.
Mona terdiam, menciptakan keheningan di sekitar mereka untuk beberapa saat. Kemudian dia menggeleng perlahan.
"Nunggu itu nggak enak, Kak, kalo emang kamu butuhnya istri. Kamu boleh cari pengganti aku," pungkas Mona yang membuat Gerry langsung melebarkan kelopak matanya.
"Maksud kamu apa, Mon? Terus apa gunanya hubungan kita selama setahun ini, kalo kamu malah bilang gini ke aku?" ujar Gerry dengan menggebu. Harapan yang awalnya begitu manis, kini malah dihempas habis oleh kenyataan.
Lagi, tak ada jawaban yang mampu Mona lontarkan. Karena dia memang belum kepikiran untuk membangun rumah tangga, dia hanya bahagia menjadi kekasih Gerry, selebihnya dia terus memikirkan dirinya sendiri.
*
*
*
Sementara itu, di bumi belahan lain.
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua, aselole josss 🎤
Sesampainya di villa keluarga Zoe, keempat orang itu langsung menempati satu ruangan dan karokean, bahkan sampai di jam malam seperti ini. Emeery dan Talita yang memegang mik, mereka bernyanyi sesuka hati meski suara pas-pasan dan terdengar cempreng, sementara sahabatnya yang lain tak kalah gila dengan berjoget bersama sambil minum-minuman bersoda.
Emeery berusaha menguapkan rasa sakit hatinya, mengeluarkan segala unek-unek yang sejak kemarin terpendam, berharap setelah ini dia menjalani hari dengan ceria seperti biasanya.
Aku sakit, aku sakit hati ~
Kau terbangkan ku ke awan, lalu jatuhkan ku ke dasar jurang ~
AKU SAKIT ~
Kali ini Emeery berteriak sekuat tenaga seperti orang kesurupan, sehingga teman-temannya langsung berubah cemas dan mengerubungi gadis itu.
"Mer, kamu nggak apa-apa? Kamu nggak kesambet kan?" tanya Zoe sambil menyentuh kening Emeery yang hangat. Emeery langsung menangkisnya dengan tatapan sendu.
"Ini lebih dari kesambet, Zoe. Info mabok beras kencur dong!" celotehnya asal sambil menepuk-nepuk dada. Yang lain saling pandang, lalu geleng-geleng kepala. Hingga salah satu dari mereka tersadar kalau ponsel milik Emeery sedari tadi bergetar.
"Mer, ada telepon dari nyokap nih," kata Talita sambil memberikan benda pipih itu.
"Matiin, matiin!" seru Emeery cepat supaya karoeke mereka dimatikan. Kemudian dia mengangkat panggilan sang ibu.
"Halo, Mommy cantik, kenapa?" tanya Emeery dengan santai. Sambil menghempaskan diri ke sofa.
"Kamu di mana sebenarnya, Emeery?"
Emeery langsung terlonjak karena yang bicara adalah sang ayah.
"Eum, kan aku udah bilang sama Mommy sebelumnya, Dad, aku nginep di rumah Zoe, sama Talita dan Nino juga," jelas Emeery berbohong sambil melirik teman-temannya satu persatu.
"JANGAN BOHONG! TADI IBU ZOE TELEPON MOMMY, KATANYA ZOE NGINEP DI SINI!" Teriakan sang ayah seperti tepat di telinga Emeery, hingga gadis itu menjauhkan ponselnya.
Astaga!
"Maafkan daku, Cheona (Yang Mulia)," ucap Emeery dengan nada bicara ala-ala drakor yang dia tonton.
"PULANG SEKARANG ATAU DADDY JEMPUT!"
Glek!