Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Julian Hu yang lolos dari hukuman langsung menuju klub malam elit untuk merayakan kebebasannya bersama teman-temannya.
“Mari kita bersulang untuk tuan muda kita yang telah bebas!” seru salah satu dari mereka riang.
“Sudah kubilang, uang adalah segalanya. Hakim dan polisi hanyalah pion ayahku,” ujar Julian angkuh.
“Aku lihat di berita, orang tua gadis itu mendatangimu?” tanya yang lain.
“Pasangan tua tak berdaya. Mereka tak bisa apa-apa,” jawab Julian dingin. “Kirim saja rekaman itu ke alamat mereka. Biar mereka semakin hancur.”
“Julian, tidak perlu. Anak mereka sudah meninggal karena ulahmu,” cegah temannya.
“Aku ingin mereka terus mengingatnya,” balas Julian singkat. “Lakukan saja. Aku ingin mereka melihat putri kesayangan mereka telanjang dan disetubuhi olehku berulang kali. Suara teriakan dan tangisannya membuatku semakin gila. Setelah aku puas, aku menenggelamkannya ke air secara perlahan. Gadis itu meronta-ronta ketakutan. Kalau saja pasangan miskin itu melihatnya ... aku yakin hati mereka akan hancur dan menderita seumur hidup. Ini adalah peringatan jangan menentang orang kaya."
"Baiklah, ikut katamu saja. Malam ini aku telan pesan lima gadis cantik. Mereka sedang menunggu kita di hotel," kata temannya itu sambil bersulang.
Tak lama, Julian dan dua temannya keluar dari klub. Tanpa mereka sadari, sebuah mobil terparkir tak jauh dari sana, mengawasi.
Di balik kemudi, Adrian Li memperhatikan setiap gerak-gerik pria yang baru saja lolos dari hukum.
“Merayakan setelah menghancurkan hidup orang,” gumam Adrian pelan.
Ketika Julian hendak menyeberang jalan—
Sebuah mobil melaju cepat.
Benturan keras terjadi. Julian terhempas beberapa meter, sementara dua temannya membeku di tempat, tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
Mobil itu berhenti beberapa meter di depan.
Pintu terbuka perlahan.
Sepatu hitam menginjak aspal dengan tenang.
Adrian Li keluar tanpa ekspresi. Tatapannya dingin menatap tubuh Julian yang masih bernapas lemah, merintih kesakitan.
Ia berjalan mendekat, tidak terburu-buru.
Dua teman Julian menatapnya dengan wajah pucat.
“Kau menabraknya! Kau cari mati?” bentak salah satu teman Julian.
“Ingin menuntutku? Datang saja ke kantor polisi. Kita bertemu di pengadilan,” jawab Adrian dingin. “Kalian sahabat brengsek ini. Tunggu saja hukum dariku.”
Adrian meraih jas Julian, menyeretnya tanpa ragu, lalu melemparkannya ke kursi belakang mobilnya.
“Hei! Kau siapa sebenarnya?” teriak mereka, berusaha menghentikan Adrian namun tak berani mendekat.
Adrian menoleh dengan tatapan tajam. “Adrian Li.”
Keduanya langsung membeku.
“Hakim gila…” gumam mereka dengan wajah pucat.
Adrian masuk ke mobil, lalu menatap mereka dari balik jendela. “Kalian punya waktu lima belas menit untuk datang ke kantor polisi dan menyerahkan diri. Jika tidak… kalian tak akan sanggup menanggung akibatnya.”
Mobil melaju pergi.
Di kursi belakang, Julian hanya bisa merintih kesakitan, tubuhnya tak berdaya.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya salah satu dari mereka panik.
“Lebih baik kita menyerahkan diri dan jadi saksi,” jawab yang lain cepat. “Lagi pula kita tidak menyentuh gadis itu.”
Beberapa menit kemudian mobil Adrian berhenti di sebuah lahan kosong yang luas.
Adrian turun, lalu menyeret Julian dengan kasar. Di depan mereka tampak sebuah lubang besar di tanah, seolah sudah disiapkan.
“Lepaskan aku! Kau akan mati kalau ayahku tahu apa yang kau lakukan!” jerit Julian panik, suaranya pecah oleh rasa takut yang mulai menguasainya.
Adrian melepaskan cengkeramannya, lalu menginjak dada Julian seolah pria itu tak lebih dari sampah di hadapannya.
“Sepertinya orang tuamu tak pernah mendidikmu,” ucap Adrian datar, namun setiap katanya terasa seperti pisau yang mengiris. “Menculik, memperkosa, menyiksa, bahkan membunuh… kau masih bisa tertawa dan merayakannya tanpa rasa bersalah.”
Julian menggeleng lemah, napasnya tersengal. “Hakim sudah membebaskanku! Aku tidak bersalah! Gadis itu yang menggodaku!” balasnya terbata, mencoba mencari pembenaran di tengah ketakutannya.
Kaki Adrian menurun ke bagian bawah Julian dan menekan lebih kuat.
“Tidak bersalah?” suara Adrian merendah, sarat ancaman. “Kau hanya berlindung di balik uang dan kekuasaan ayahmu. Kau mengira hukum bisa kau beli."
Julian menjerit ketika tekanan itu makin kuat, rasa sakitnya membuat matanya berair.
Tanpa ragu, Adrian menendang tubuh Julian.
Tubuh itu terguling tak berdaya, lalu jatuh ke dalam lubang yang menganga di tanah, debu beterbangan mengiringi jatuhnya tubuh penuh dosa itu.
Julian yang ketakutan berusaha bangkit, namun tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak. Ia hanya bisa merangkak sedikit di dasar lubang itu.
“Kau siapa… apa yang kau inginkan dariku?” tanyanya dengan suara gemetar.
Adrian berdiri di tepi lubang, menatapnya tanpa ekspresi.
“Adrian Li. Tidak ada yang bisa lolos dari tanganku,” jawabnya tenang.
“Adrian Li? Kau… adalah hakim gila?” tanya Julian, matanya membesar hampir tak percaya.
“Manusia sepertimu hidup juga tidak ada gunanya,” ucap Adrian dingin. “Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu. Tempat ini akan menjadi kuburanmu. Kau akan mati secara perlahan seperti kau menyiksa korban saat itu."
Adrian meraih sekop di sampingnya.
Suara gesekan logam dengan tanah terdengar pelan di tengah kesunyian malam saat ia mulai menyekop tanah ke dalam lubang.