Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Beberapa hari setelah pertemuan itu, tepatnya di waktu sore, ruang tamu rumah Melati berubah wajah. Kursi-kursi disusun lebih rapi dari biasanya. Meja kecil di tengah dipenuhi hidangan yang jarang disentuh. Melati duduk di sisi ibunya, mengenakan gamis sederhana berwarna lembut. Rambutnya tergerai rapi, tapi telapak tangannya dingin.
Ia bukan tamu. Bukan pula tuan rumah. Ia hanya… sesuatu yang sedang dipertemukan.
Ketika pintu depan terbuka, jantung Melati berdetak lebih cepat.
Beberapa orang masuk, orang tua, kerabat suasana langsung dipenuhi basa-basi yang terdengar sopan tapi terasa kaku. Di antara mereka, Melati melihat dua anak laki-laki.
Dadanya menegang, untuk pertama kalinya, semua yang tidak pernah ia bayangkan benar-benar terjadi. Kedua anak itu, dan juga Sus yang kewalahan beberapa hari silam, anak itu masih aktif sama seperti waktu itu.
Yang kecil langsung berlari ke arah sofa, matanya sibuk menatap sekeliling rumah. Yang lebih besar berjalan pelan di belakang seorang pria, wajahnya datar, bahunya tegap, sorot matanya dingin seperti menyimpan musim dingin sendiri.
Melati tahu. Ia tak perlu diperkenalkan untuk mengenalinya.
Cokro.
Pria itu duduk agak terpisah. Tangannya bertumpu di lutut, punggungnya lurus. Ia tak banyak bicara, hanya mengangguk seperlunya saat orang-orang tua saling bertukar cerita.
Dari sudut matanya, Cokro menatap Melati sekilas. Masih terlalu muda, pikirnya singkat, Terlalu bersih untuk hidup yang retak.
Ia menahan diri untuk tidak menghela napas. Ia datang bukan untuk mencari cinta. Ia datang karena kewajiban, pada orang tuanya yang telah tiada, pada dua anak yang tak pernah meminta lahir dalam keluarga patah.
Sementara itu, Melati duduk dengan senyum tipis yang nyaris kaku. Tatapannya sesekali jatuh pada anak kecil yang kini memegang mainan di lantai.
Dia… anak yang melempar bola itu, batinnya bergetar.
Anak itu menoleh. Mata mereka bertemu. Wajah polos itu langsung tersenyum, lalu tanpa ragu ia bangkit dan berjalan ke arah Melati. Sus yang duduk tak jauh darinya langsung berdiri setengah panik.
“Nak, jangan ganggu—”
Anak itu berhenti tepat di depan Melati. Menatapnya sebentar, lalu menyodorkan mainannya.
“Kita ketemu lagi,” katanya polos.
Ruangan mendadak sunyi sesaat, semua orang saling pandang dan tersenyum namun tidak dengan pria dingin itu, Melati menelan ludah. Ia menerima mainan itu dengan tangan gemetar. “Iya… ketemu lagi.”
Hingga akhirnya Cokro menatap adegan itu tanpa berkedip.
Kenapa dia tidak menjauh? Kenapa justru mendekat? Biasanya, anaknya tak pernah semudah itu pada orang asing.
Anak yang lebih besar memperhatikan dari kejauhan, wajahnya tetap datar. Tapi sorot matanya menyimpan sesuatu, penilaian, mungkin juga penolakan.
“Namanya Melati,” ucap ibu Melati pelan, seolah memperkenalkan lebih dari sekadar nama.
Cokro mengangguk. Hanya itu. Namun di dalam dadanya, sesuatu bergerak pelan, nyaris tak ia akui. Perempuan ini belum siap, pikirnya. Dan aku… bukan laki-laki yang bisa memberinya kehidupan ringan.
Pertemuan itu berlanjut dengan obrolan orang dewasa. Rencana, harapan, kata-kata yang terdengar rapi. Tapi bagi Melati, semua suara terasa menjauh.
Yang ia rasakan hanya satu hal: Dua pasang mata anak-anak itu. Dan seorang pria yang duduk tenang, tapi membawa luka yang mungkin akan menjadi rumahnya kelak.
Pembicaraan sore itu tak berputar jauh. Tak ada tawa berlebihan, tak ada janji manis yang ditaburkan. Semua berjalan lurus, rapi, seperti daftar yang harus diselesaikan satu per satu.
“Kalau tidak ada keberatan,” ucap salah satu orang tua dari pihak Cokro, “kami berharap pernikahan bisa dilangsungkan secepatnya.”
Melati duduk diam. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Ia tidak kaget. Entah mengapa, bagian dari dirinya sudah menyiapkan diri untuk kalimat itu sejak tadi.
Ibunya menoleh padanya sekilas. Tatapan itu bertanya, tapi juga menekan.
“Sebulan,” lanjut orang tua itu. “Cukup sederhana saja. Kami tidak ingin merepotkan.”
Sebulan.
Kata itu jatuh di kepala Melati, berat tapi tidak menghancurkan. Ia hanya mengangguk pelan, seolah sedang menyetujui jadwal yang tak ada hubungannya dengan masa depan.
Cokro yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya rendah, datar.
“Aku setuju.”
Hanya dua kata. Tak ada senyum. Tak ada nada antusias. Bahkan tidak ada lirikan ke arah Melati, mungkin pikirnya, lebih cepat lebih baik, karena anak-anak butuh kepastian, bukan penantian.
Melati menoleh sekilas ke arahnya. Wajah pria itu tenang, tapi matanya seperti menyimpan kelelahan yang panjang. Ia tidak terlihat seperti laki-laki yang sedang bersiap menikah. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang menuntaskan kewajiban terakhirnya.
“Melati?” suara ibunya pelan.
Melati menarik napas dalam-dalam. “Aku ikut keputusan ibu.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang akan mengikat hidupnya, melati menundukkan kembali tatapannya, angin sore mulai berhembus pelan, menggerakkan sedikit ujung rambutnya, namun entah kenapa hatinya tidak sesejuk angin sore yang barusan lewat.
Cokro menatapnya untuk pertama kali lebih lama.Dia tidak menawar, batinnya. Tidak menolak. Tidak juga meminta. Ada sesuatu yang tidak ia sukai dari itu. Tapi ia memilih untuk diam, karena ia tahu hatinya tidak semudah itu untuk menerima semuanya.
Banyak hal yang harus menjadi pertimbangan, kalau tidak atas dasar permintaan almarhum ayahnya dan desakan keluarga agar kedua anaknya segera memiliki ibu, mungkin sampai sekarang ia akan tetap sendiri.
Tanggal pun disepakati. Hari, bulan, tanpa diskusi panjang. Tanpa tanya apakah Melati siap. Tanpa tanya apakah ia bahagia, semuanya berjalan sesuai rencana keluarga, Sekar pun merasa lega, karena melihat Melati tidak memberontak seperti yang ia takutkan.
'Akhirnya, lamaran ini terjadi, dan untuk suamiku pastinya kamu akan tenang, karena anak kita akan menikah dengan perempuan pilihanmu,' batin Sekar.
Ketika pembicaraan beralih pada teknis mahar, saksi, akad. Melati justru menatap lantai. Ia merasa seperti sedang mendengar orang lain merencanakan hidup seseorang yang kebetulan memiliki namanya.
Di sudut ruangan, anak kecil itu tertidur di pangkuan Sus. Sementara anak yang lebih besar duduk memeluk lututnya, pandangannya sesekali mengarah pada Melati, bukan penasaran, melainkan waspada.
"Dia tidak akan mudah menerima," pikir Melati lirih.
Dan Cokro, sambil mendengar tanggal pernikahannya ditetapkan, hanya memikirkan satu hal: Semoga perempuan ini tidak berharap lebih dariku.Karena aku bahkan belum tahu bagaimana caranya menyelamatkan diriku sendiri.
Kesepakatan itu pun selesai, tanpa cincin, juga tidak ada janji apalagi cinta Hanya dua orang dewasa yang sepakat berjalan bersama karena tidak ada jalan lain.
Setelah acara itu semua keluarga sedang menikmati hidangan sederhana yang sedang disiapkan oleh ibu melati, saat semua orang sedang menikmati tiba-tiba Sekar mendekati Melati.
"Nak, makasih banyak ya, akhirnya kamu mau," ucap Sekar.
Melati hanya mengangguk kikuk, sebenarnya ia tahu perjodohan ini terjadi hanya karena suatu hutang budi.
"Melati hanya ingin membalaskan kebaikan Pak Rendra terhadap ayahku," sahut gadis itu singkat
Dan tanpa ia sadari sedari tadi pria di ujung sana menatap wajah melati dengan tatapan datar dan sulit untuk diartikan.
Bersambung ...