Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 — Keturunan Darah Berdosa
"GHAARRHHHHH!"
Monster raksasa itu makin menjadi-jadi, ketiga wanita itu terus berlari, namun karena perbedaan ukuran mereka akan terkejar dengan cepat.
Ukuran membuat monster raksasa itu mudah mengejar mereka, namun... itu juga akan menjadi kekurangan untuknya. Harus bertindak cepat, jika terlambat mereka akan mati.
Entah kenapa, aku tidak ingin meninggalkan mereka.
Rasanya seperti aku akan kehilangan sesuatu.
Lupakan itu. Yang terpenting saat ini ada di hadapan.
Pertama-tama alihkan perhatian monster sialan itu. Untuk itu pilihan paling tepat adalah sihir, sehemat mungkin, tapi tetap berkesan agar ia tidak mengabaikanku.
Aku menyatukan kedua tanganku, keluar dari persembunyian dan membidik monster itu.
Tubuhnya yang besar seharusnya punya titik lemah. Lehernya... mari coba itu.
Lingkaran sihir terbentuk di depanku, tepat ketika para wanita dan monster itu ada dalam jangkauanku. Para wanita dengan rambut putih itu melihatku, namun mereka tetap diam dan terus berlari.
"Bagus, mereka mengerti."
Monster itu mengejar! Ia melompat tinggi, hampir menjangkau wanita-wanita itu. Namun namun ia gagal, dan posisinya yang sekarang sudah sangat terbuka untukku.
"Sihir Penciptaan Api: Black Flame!"
Lingkaran sihir berpendar di hadapan telapak tanganku. Api hitam berputar cepat, memadat menjadi sebuah bola kecil yang berdenyut seperti jantung.
Dalam sekejap, bola itu melesat, menembus udara dengan suara mendesing, lalu menghantam leher monster raksasa itu dengan kekuatan menghancurkan.
BOMB—!
Ledakan panas hitam menyembur, membakar sisik baja dan membuat monster itu meraung kesakitan.
"BRRRAAAA!"
"Cepat lari!"
Selagi ia masih sibuk dengan rasa sakitnya, ini menjadi kesempatan untukku dan para wanita itu kabur. Kami mengambil jalan yang sama, yang mana monster itu tidak mengejar kami lagi.
Cukup jauh, sampai akhirnya kami berhenti untuk istirahat.
Ketiga wanita itu saling berdekatan, salah satunya memegang pisau di tangan. Mereka... curiga padaku?
Ketiganya terlihat waspada, walau begitu tidak bertindak secara langsung. Rambut mereka putih bagai salju pertama, jatuh lurus hingga pinggang. Dan mata mereka… biru laut yang dalam dan cerah, memancarkan ketakutan sekaligus ketajaman yang membekukan.
Kecantikan mereka sempurna, dingin, dan membuatku terdiam seolah waktu dirampas oleh keanggunan yang mematikan itu.
"Siapa kau?" Wanita yang di tengah memulai lebih dulu.
"Aku?"
Benar juga... namaku...
"Aku, Lin Xinyi."
"Kami belum pernah melihatmu di sini, kau adalah orang luar?" yang lain ikut berbicara.
"Benar, bahkan diriku yang hebat tidak bisa melakukan apa yang kau lakukan tadi. Kau pasti..."
"Tidak tau," ucapku singkat.
"Seharusnya aku yang bertanya pada kalian, kenapa kalian di kejar monster itu? Tempat macam apa ini? Apa maksud kalian dengan orang luar?"
Aku langsung menanyakan semua yang membuatku penasaran.
"Hei, kami yang yang bertanya di sini. Atas dasar apa kau menanyakan itu pada kami?" Salah satu wanita melipat kedua tangannya di depan dada, dagunya sedikit terangkat, menampilkan ekspresi angkuh yang memancarkan rasa percaya diri.
Aku hanya tersenyum.
"Kalian pikir, berkat siapa kalian masih hidup sekarang ini?" balasku. "Orang baik mana yang mau melemparkan sihir, hanya untuk menyelamatkan orang yang tidak ia kenal."
"Cih! Itu—"
Wanita dengan wajah lebih tenang menahan wanita angkuh itu. Ia maju selangkah kedepan. "Kami memang berterima kasih untuk itu. Tapi, ini dan itu adalah dua hal yang berbeda."
"Dia benar, siapa kau? Kenapa bisa ada di sini. Ini seharusnya bukan tempat untukmu."
"Aku tidak tau, aku tidak ingat. Hanya tiba-tiba terbangun di sini, kemudian melihat kalian di kejar-kejar oleh monster itu."
"Apa kami harus mengantarmu kembali ke luar?"
"Aku tidak tau apa-apa soal dunia luar yang kalian maksud. Jadi aku tidak tau harus melakukan apa jika ada di sana."
"Xun'er, bagaimana menurutmu?" Wanita berwajah tenang itu menoleh pada wanita di sebelahnya yang ia panggil Xun'er.
"Hmm... kau memiliki kekuatan yang kuat, cukup untuk membuat monster raksasa itu menjerit kesakitan. Tapi kau tidak ingat apa-apa... ini rasanya aneh," jawab wanita bernama Xun'er itu.
"Hei. Bukankah kalian belum menyebutkan nama?" tanyaku.
"Benar juga. Aku Yao Li, dia Li Xun'er." Wanita bernama Yao Li itu kemudian menunjuk wanita di kanannya. "Lalu dia ini, Yuan Xi. Dia yang paling muda, jadi tolong maafkan saja jika kelakuannya agak buruk."
"Baiklah, aku akan mengingat itu. Lalu... bisakah kalian memberitahuku, tempat apa ini sebenarnya?"
"Ini adalah hutan tempat kami, para Keturunan Darah Berdosa yang di singkirkan," Yao Li yang bicara.
"Karena leluhur kami melakukan kesalahan, akhirnya kami semua dianggap sebagai lambang dosa. Kami disalahkan atas apa yang terjadi, yang bahkan tidak kami ketahui. Sampai akhirnya diusir ke hutan ini, satu-satunya tempat untuk kami bertahan hidup."
Pantas saja mereka waspada denganku.
"Begitu... karena kesalahan leluhur, yah. Aku tidak tau pasti apa yang terjadi, tapi aku percaya dengan kalian."
"Bodoh, bagaimana kalau kami hanya mengarang, apa kau akan tetap percaya?" Yuan Xi yang bicara.
"Sudah, sudah." Li Xun'er menyudahi. "Namamu Lin Xinyi? Aku memang tidak merasakan niat buruk darimu, tapi entah kenapa ada yang menggangguku sedari tadi."
"Apa itu?" tanyaku.
Ia menoleh pada Yao Li, kemudian Yao Li mengangguk. "Di sekelilingmu, terpancar energi abadi. Yang artinya... kau adalah manusia abadi."
"Manusia abadi?"
"Ya, ada dua manusia di dunia ini. Manusia fana yang umurnya hanya 100 tahun lebih, lalu satunya manusia abadi yang tidak memiliki batas."
Aku adalah manusia abadi? Itu memang membuatku terkejut, tapi... keberadaan sihir saja sudah tidak masuk akal. Itu mengurangi keterkejutanku.
"Aku tidak bisa mati?"
"Kau memang tidak akan mati karena umur, tapi bukan berarti tidak bisa dibunuh."
Mudahnya... jika hidup damai, bahkan ribuan tahun pun aku tidak akan mati. Begitukah?
Agak disayangkan ini adalah dunia sihir, hidup damai di dunia ini terlalu mustahil.
Aku menepuk kepalaku, menghela nafas.
"Lalu, bagaimana denganku?" tanyaku.
"Kau mau ikut? Hanya saja... karena kau manusia abadi, mungkin mereka akan memandangmu berbeda." Yao Li mendekat. Aku tau, ia masih curiga, meski ia berbicara begitu. Raut wajahnya tidak berbohong.
"Tidak apa-apa, mungkin mereka akan terbiasa nanti."
"Hmph, kurasa mereka akan mengusirmu nanti." Yuan Xi memalingkan wajahnya.
"Xinyi, kau yakin? Mungkin hidupmu akan lebih buruk di sini," Xun'er yang bicara.
"Aku mengerti dengan apa yang kalian ucapkan, tapi... aku sudah memutuskannya. Dunia luar yang tidak kuketahui bisa saja lebih buruk, bukankah memang lebih baik mengambil apa yang ada di depan?"
"Jika memang begitu, aku tidak akan melarang lagi." Yao Li mengulurkan tangannya. "Ayo kita pergi, ke tempatnya para Keturunan Darah Berdosa."
"Jangan menyesal, Xinyi."
apa ada sejarah dengan nama itu?