NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP2

Atmosfer kamar berukuran luas masih terasa panas, maklum saja—dua insan baru saja selesai mereguk nikmatnya surga dunia. Edwin dan Bella, terkapar lemas di atas ranjang.

Kedua pasangan suami istri itu saling menatap, sarat dengan cinta yang masih menggebu meskipun pernikahan mereka telah menginjak usia sebelas tahun.

“Kenapa lama banget pulangnya?” Edwin mengecup hangat kening Bella. “Padahal kamu tau ... aku udah hampir gila nungguin kamu.”

Bella tersenyum geli melihat bibir sang suami sudah maju lima centi, persis seperti bibir bebek.

“Tugasnya ternyata jauh lebih sulit dari perkiraan ku, Ed. Banyak memakan waktu. Kamu sendiri ... kenapa udah pulang? Bukannya lagi tugas di negara lain sampai minggu depan?” Ujung jari Bella menyusuri pelan lengan Edwin hingga berhenti di pergelangan tangannya.

Alis Bella terangkat, keningnya berkerut saat melihat ukiran asing di sana.

“Kamu bikin tatto baru?” tanyanya lagi, suaranya yang samar terdengar seperti heran dan penasaran. “Apa ini tulisannya? V.I.P? Kenapa ukirannya berbentuk seperti ... simbol organisasi?”

Edwin menarik pelan tangannya, manik ambernya berkilat seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin ia bagi pada sang istri.

Bibirnya menyeringai tipis. “Kenapa kamu membuang waktu dengan sibuk membaca kulitku, hm? Bukannya kita harus gunain waktu ini untuk sesuatu yang ... bermanfaat?” Ia mencondongkan tubuh, suaranya berbisik di telinga Bella. “Seperti ... lanjut ronde kedua membuat dedek untuk Langit dan Bintang, misalnya.”

Edwin menyelipkan rambut Bella ke belakang telinganya. Ujung jarinya lalu meluncur turun dengan gerakan lembut, menyusuri kulit hingga berhenti di gunung kembar favoritnya— ia menatap lama sebelum akhirnya jemari kokoh itu meremas perlahan, seakan sengaja ingin menutup ucapannya dengan sentuhan lembut.

Bella tersenyum tipis. Tanpa memberi ruang bagi suaminya untuk menambahkan kata-kata lain, bibirnya langsung menyelam di ceruk leher Edwin. Sontak membuat pria tampan itu mendesah pelan.

Bella menyusuri dada bidang Edwin dengan bibirnya, membiarkan ciuman liarnya menyerang setiap jengkal kulit hangat itu. Namun tiba-tiba, inderanya menangkap sesuatu yang mengusik. Hidungnya berhenti tepat di bawah tulang selangka pria itu. Ada aroma yang samar, hampir tak terdeteksi jika bukan karena kepekaan nalurinya.

Bukan wangi sabun, bukan juga keringat maskulin yang biasanya menempel setelah seharian beraktivitas. Ini lebih pekat, tajam dan familiar.

‘Darah?’ batin Bella.

Kening Bella berkerut. Bibirnya sempat terhenti, meski ia berusaha menyamarkan rasa curiga dengan senyum tipis. Jantungnya seketika berdebar tak karuan.

Edwin menyadari hal itu. Ia menunduk, menatap Bella dengan tenang, seolah tau persis apa yang sedang dipikirkan istrinya. Jemarinya terulur, membelai rambut Bella dengan lembut.

“Kok berhenti, Sayang? Ayo, aku nggak tahan lagi, tadi itu ... bener-bener nikmat.”

Ajakan itu justru membuat kecurigaan Bella semakin menajam. Ia menempelkan hidungnya di kulit Edwin, kali ini sambil menghirup lebih dalam, memastikan. Aroma samar itu memang nyata, menempel di pori-pori, di setiap hembusan napas pria yang kini berusaha menutupinya dengan senyuman.

“Kenapa tubuhmu beraroma darah? Kali ini ... kekacauan apa lagi yang kamu buat, Edwin?” tanya Bella dengan sorot mata sedingin es.

Sesaat setelah kalimat itu meluncur, tubuh Bella menegang. Ingatan lama yang sudah ia kubur dalam-dalam kembali menyeruak—tentang Edwin di belasan tahun silam, di masa ketika lelaki itu bukanlah sosok seorang dokter muda penuh idealisme, melainkan sosok dengan sisi gelap yang nyaris melukai dirinya.

Bella tau betapa keras suaminya berjuang untuk keluar dari jurang itu, tapi kekhawatiran akan tetap selalu ada. Bagaimana jika seseorang memantik api di kepala sang suami yang berakhir menyebabkan luka batin dan psikisnya kembali terbuka? Bagaimana jika Edwin, tanpa sadar, kembali menapaki jejak masa lalunya yang kelam—menciptakan kekacauan yang tak lagi bisa ia kendalikan?

Bola mata Bella bergetar, menatap nanar. “Jawab!” desisnya.

Edwin menarik napas dalam-dalam, wajahnya tampak tenang. “Kekacauan apa? Kamu tau, kan, aku ini seorang dokter bedah? Darah adalah hal yang nggak bisa dihindari di keseharian ku.”

Bella mengerutkan kening, jemarinya menekan dada Edwin seakan ingin menembus kulitnya. “Oh, ya? Jadi menurutmu wajar jika aroma darah menempel sampai ke kulit tubuhmu? Apa kau membedah pasien tanpa pakaian pelindung, hah?” Nada suaranya meninggi, antara jengkel dan curiga.

Edwin terkekeh, ia menarik tubuh Bella hingga terjatuh dalam dekapannya. Ia mengecup lembut pucuk kepala sang istri. “Kamu tenang aja, Sayang. Aku cuma melakukan hal yang semestinya memang aku lakukan. Kamu nggak perlu khawatir, aku janji, aku nggak akan ngebiarin keluarga kecilku berada di dalam marabahaya.”

Matanya menatap lurus ke dalam mata Bella. Aura tenang namun berbahaya terpancar dari wajahnya, membuat Bella sulit menebak—makna dari kata-kata Edwin yang terdengar ambigu.

.

.

Pagi itu, Bella terbangun lebih dulu. Tubuhnya terasa remuk, seakan setiap sendinya protes setelah melewati malam panjang—entah berapa kali ia mereguk kenikmatan bersama Edwin meskipun ia sempat dilanda kesal.

Dengan rambut kusut menutupi sebagian wajahnya, ia meraih jubah tipis yang tergeletak di kursi, lalu beranjak dari ranjang. Langkahnya pelan, seperti tak ingin membangunkan pria yang masih terlelap di balik selimut.

Di atas nakas, laptopnya masih terhubung dengan charger. Bella menyalakannya, sekedar ingin memeriksa pesan yang mungkin masuk. Begitu layar menyala, notifikasi email memenuhi sudut kanan bawah. Matanya menyapu cepat, hingga pandangannya terhenti pada satu pesan yang masuk tadi malam—dikirim dari alamat rahasia yang hanya bisa diakses oleh anggota aktif BIN.

Jantung Bella berdetak sedikit lebih cepat. Ia meng-klik pesan itu.

[CLASSIFIED – Level 1]

Agen Bella K.,

Anda diperintahkan segera kembali ke Indonesia.

Target baru telah ditetapkan: Pulau Darasila.

Informasi awal menunjukkan lokasi tersebut digunakan untuk penelitian Bioteknologi terlarang yang mengancam keamanan nasional.

Identifikasi, selidiki, dan jika perlu—eliminasi.

Waktu keberangkatan: segera.

—Direktorat Operasi Khusus.

Bella terpaku. Alisnya berkerut, jari-jarinya menggenggam ujung meja. Pulau Darasila—seperti gema asing sekaligus mengusik rasa ingin tahunya. Ia sudah terbiasa dengan misi berbahaya, tapi kata bioteknologi terlarang membuat pikirannya berputar, menghubungkan dengan potongan informasi samar yang pernah ia dengar.

Perlahan, ia menoleh ke arah Edwin yang masih terlelap. Ada desir getir yang menyusup di dadanya. Ia tau, misi ini mungkin akan membuat mereka kembali terpisah, sangat lama.

.

.

Langit dan Bintang duduk bersebelahan. Meski terlahir kembar, keduanya bertolak belakang. Langit sangat pendiam, wajahnya selalu tenang — seperti menyimpan sejuta misteri, persis dengan ayahnya. Sebaliknya, Bintang lebih ceria dan mudah berbaur. Sikapnya juga cenderung tegas, membuat siapa pun tak bisa main-main dengannya, termasuk kakaknya sendiri.

“Rotinya jangan cuma diliat begitu, Lang,” ujar Bella sambil menuangkan susu ke dalam gelas. “Di makan.”

Langit menghela napas pelan seraya melirik singkat pada segelas susu yang disodorkan ibunya. “Aku cuma lagi mikir, Ma.”

Mendengar itu, Bintang mencebik—ia menyomot potongan roti yang sedari tadi dipandangi sang kakak, lalu menyuapkannya begitu saja ke mulut Langit. Sontak Langit kelabakan, hampir tersedak sebelum buru-buru mengunyah.

“Mikirin apa sih?” dengus Bintang sinis. “Mau makan aja, pakai mikir-mikir segala.”

Langit menatapnya sengit, cepat-cepat menelan roti di mulutnya.

“Ya mikirin pelajaran, lah!” sahutnya cepat. “Nggak semua orang bisa santai kayak kamu.”

Bintang menaruh sisa roti di piring Langit, lalu balas menatap dengan alis menukik.

“Santai apanya? Gini-gini aku juga belajar. Dan nilaiku lebih tinggi daripada nilaimu, Kak,” balasnya ketus.

Pfft!

Langit hampir menyemburkan tawa.

“Iya, tinggi emang. Tapi, cuma nilai bahasa inggris. Yang lainnya? Kamu kalah telak,” ledek Langit.

Muncung sudah bibir Bintang karena perdebatan kali ini, dimenangkan oleh sang kakak.

Edwin yang sejak tadi memperhatikan keduanya, hanya mengulas senyum tipis. Ia sengaja membiarkan keduanya saling serang agar rumah mereka selalu terasa ramai—pria itu sangat benci kesepian.

Sementara itu, Bella menghela napas pelan. Setengah jengkel, setengah geli melihat putra-putrinya tak pernah akur, mirip kucing dan tikus.

“Udah, buruan habisin sarapannya. Kalian itu, ya, kalau udah ketemu muka—debaaaat mulu, heran deh,” omel Bella sambil geleng-geleng kepala.

Edwin terkekeh kecil, menyembunyikan tawanya di balik cangkir kopi. Manik ambernya sempat menatap Bella sekilas, ada gurat hangat yang jarang muncul di wajahnya.

Suasana hening sebentar ketika semua sibuk mengunyah. Tiba-tiba, suara Bintang kembali terdengar.

“Ma ....” Ia menatap Bella dengan hati-hati. “Mama, liburnya sampai kapan? Besok aku dan Langit udah libur sekolah, kita ... punya waktu banyak untuk main bareng, kan?”

Pertanyaan itu membuat Bella terdiam sepersekian detik. Edwin yang tadinya santai, mendadak melirik istrinya, begitu pula Langit yang menurunkan gelas susunya.

Bella menghela napas pelan, mencoba memilih kata.

“Bintang, Langit, kalian pasti tau, kan ... seberapa besar Mama merindukan kalian?”

Ada tumpukan rasa bersalah di nada bicaranya.

“Mama juga pengen banget, main bareng, liburan bareng. Tapi ....” Ia tersenyum tipis, matanya tampak berkaca-kaca. “Besok, kemungkinan Mama sudah harus kembali bertugas.”

Seakan ada komando tak kasat mata, sendok di genggaman Edwin, Langit, dan Bintang jatuh bersamaan ke piring mereka.

Cling! Cling! Cling!

Ketiganya menatap Bella dengan ekspresi campuran terkejut, tidak percaya, dan sedikit kecewa.

“Besok ...?” Langit mengulang pelan.

Bintang mengerutkan kening, wajahnya jelas tak setuju. “Kita baru ketemu pagi ini lho, Ma!”

Edwin diam membisu, menatap istrinya dengan sorot yang sulit dibaca—antara ingin menahan dan mencoba mengerti situasi.

Bella meraup wajah dengan jemari. Keluarganya memang berada di urutan nomor satu. Namun, pekerjaannya juga tak bisa ditinggalkan begitu saja.

“Mama janji,” ujar Bella lirih kala melihat ekspresi sedih di wajah keluarga kecilnya. “Ini akan menjadi tugas terakhir Mama. Begitu selesai, Mama akan kembali pulang ke rumah dan akan selalu ada untuk kalian.”

“Janji?!” seru Bintang dan Langit bersamaan.

...***...

Bella menempuh perjalanan panjang dari Amerika ke Indonesia, transit di beberapa bandara hingga akhirnya tiba di ibukota. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju kantor pusat BIN untuk mengambil identitas samarannya—nama baru, wajah baru di dalam dokumen yang sah, dan latar belakang yang dirancang agar tak seorang pun mengenalinya. Dari sana, ia bergerak ke pelabuhan, menunggu kapal yang akan membawanya menuju Pulau Darasila.

Pulau itu dulu hanyalah titik kecil di peta, lama diabaikan pemerintah karena tanahnya tandus, tak ada sumber tambang, tak ada komoditas yang bisa dikeruk sebagai keuntungan. Darasila dikenal hanya sebagai pulau sepi dengan desa nelayan yang makin ditinggalkan warganya. Namun belakangan, situasinya berubah. Beberapa turis asing tiba-tiba tertarik mengunjungi pulau tersebut, memicu bisik-bisik dan menarik kembali perhatian pemerintah yang selama ini enggan peduli.

Bella berdiri di dermaga, memandang laut yang beriak, seakan menyadari bahwa Darasila bukan sekadar pulau. Di sana sedang berdenyut rahasia yang mengerikan.

‘Firasat ku benar-benar buruk, kali ini,’ batinnya.

Namun sebelum pikirannya hanyut lebih jauh, Bella dikejutkan oleh tepukan keras di bahunya, disertai suara lantang yang memanggil namanya dari belakang.

“OHOOOOY, BELLA KIM—”

BUGH!

*

*

*

1
Sriwahyuu
cepat sembuh author kesayangan kami😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
amiinnnn
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jadi sedih otor. semoga ga ada yang bahaya yah. cepat sembuh dan pulih.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
belum taaauuuuu dia
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
izzz jabir kalilah kau babang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar si babang, masih aja nakal
Anna
Cepet pulih mentor terbaikk kuhhhh, mau selama apapun Anda hiastus. Saya akan tetap setia menunggu 🫶
Anna
Dinda heyyyy tolong. Bahkan Mas Edwin saja di bikin semapot tanpa menyentuh ama Mbak Bella. 🤣
Anna
Definisi peduli tapi gengsi🫢🤣
jay naomi
semoga cepat sembuh semangat othor q.
Wenty Lucia Wardhani
cepat sehat author kesayangan....🥰🥰🥰
youyouen Rahayu
syafakillah kak semg ALLAH mengangkat segala penyakit kak author,diberikan kesehatan seperti semua dn bisa berkarya lagi,love you kak author semngtt sellu yaaa akn ku nanti setiap upnya,dengan sesabar mungkn,maaf ya kak author kalau aku sellu mengintip trs🙈🙈 di cerita ini.
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
😂😂
CallmeArin
semoga segera di angkat penyakitnya Thor 🤲🏻
Sayuri
aamiin ya Allah 🥺
Sayuri
y Allah kget q :(
k dehwa lekas sembuh 😩
Sayuri
kmu blm tw ja bu bella gmn din.. klo tau, bs trcngang
Sayuri
yg hcker kpal selam itu y tor?
Sayuri
/Joyful/
Sayuri
ber berbagi apa papa ed?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!