NovelToon NovelToon
Menikah Dengan SEPUPU

Menikah Dengan SEPUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Payang

Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.

Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.

Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.

Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Kita Menikah, Kamu Bersedia?

Di rumah sakit.

Tok! Tok! Tok!

Pandji memandangi daun pintu ruang kerja dokter anak di depannya, tidak ada tanda-tanda akan dibuka, walau sudah mengetuknya berulang kali.

"Kira-kira... dokter Elok memang masih ada di dalam, Sus?" tanya Pandji memastikan, beralih pada suster yang baru selesai memeriksa buku kunjungan pasien di mejanya.

"Masih kok, Pak," sahut suster Anita sopan.

"Sedari tadi saya disini, dokter Elok belum keluar dari ruangannya begitu pasien terakhir keluar," imbuhnya lagi seraya berdiri dari duduknya.

"Dok, dokter Elok!" panggilnya menyaringkan suara, sambil bantu mengetuk.

"Sudah, tidak mengapa, Sus. Nanti saja saya kembali lagi," Pandji tersenyum sabar, setelah dibantu pun, pintu yang mereka ketuk belum juga dibuka.

Niat Pandji beranjak pergi diurungkan begitu terdengar suara anak kunci diputar pelan dari dalam.

Klek... Klek...

Pintu terbuka, Pandji tertegun melihat wanita yang ia cintai akhirnya muncul juga di ambang pintu, penampilannya yang sedikit berantakan cukup menyita perhatiannya.

"Maaf, Sus... Tadi saya ketiduran karena lelah, ada apa mencari saya?" Elok bertanya lembut pada suster petugas tadi, sembari merapikan jas dokternya.

"Bukan saya, Dok.... tapi, pak Pandji," suster itu menunjuk pada pria di belakangnya.

Mendengar nama itu, Elok cepat beralih untuk memastikan. Sontak, matanya melebar sempurna, begitu pandangannya bertemu tatap dengan pria yang telah berjasa menjadikan dirinya seorang dokter.

"M-mas Pan-dji? Ka-kapan Mas pulang, kok nggak kasih kabar dulu?" gugupnya, raut lembutnya tadi langsung berubah canggung juga tegang.

Menanggapinya, Pandji tetap mengembangkan senyum tipis penuh cintanya, walau tidak menemukan kerinduan di mata tuangannya itu menyambut kedatangannya.yang jarang pulang.

"Baru saja tiba kok. Sebelum membawa ibu pulang dari perawatannya, aku sengaja kemari untuk menemuimu. Bolehkah aku masuk, atau kita mengobrol di luar saja sambil makan siang?" ucapnya memberi dua pilihan.

"Di-di luar. Iya, di luar saja. Kebetulan aku juga belum sempat makan siang, Mas," Elok cepat menutup pintu ruang kerja di belakangnya tanpa mengunci.

"Tasmu?" Panji mengingatkan, melihat tangan kosong tunangannya.

"Ti-tidak perlu, Mas. Ki-kita makannya di kantin saja, soalnya... waktunya juga sudah mepet ini," Elok melirik arloji tangannya, berusaha menutupi kegugupannya yang kian menjadi.

Pandji kembali tertegun sejenak.

Tidak biasanya tunangannya itu mau pergi tanpa mambawa tasnya, Ia tahu benar bahwa Elok tidak bisa berpisah dengan ponsel dan dompetnya itu bila kemana-mana.

"Baiklah, kita pergi sekarang," putus Pandji tak banyak debat, walau merasa ganjil pada sikap gugup Elok yang tidak biasa itu.

"Suster Anita, kalau pekerjaanmu sudah selesai, segeralah istirahat makan siang, pintunya tidak perlu dikunci," pesan Elok sebelum pergi.

"Baik, Dok," sahut Anita tersenyum.

"Kenapa menunda makan siang?" tanya Pandji, menoleh pada Elok yang berjalan disebelahnya.

"Banyak pasien yang berobat Mas, karena lelah aku ketiduran tadi," sahutnya memberi alasan, tanpa menoleh, tak sanggup bertemu pandang.

Pandji mengangguk ringan, berusaha mengerti. "Bunga, untukmu..." menyerahkan setangkai mawar segar yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya.

Elok menghentikan langkahnya, menatap sejenak pemberian pria mapan berusia 36 tahun yang telah menjadi tunangannya selama lima tahun ini.

"Untukku?"

Pandji mengangguk kecil diiringi senyum tipisnya. "Tentu."

"Terima kasih, Mas." Elok tersenyum, mencium kuntum mawar segar itu.

Keduanya kembali berjalan memasuki kantin, disana mereka memilih ragam menu yang tersaji rapi pada etalase, juga tidak lupa mengambil soft drink yang tersedia di lemari pendingin.

"Maafkan aku, Mas. Akhir-akhir ini aku banyak pasien, jarang ada waktu menengok Ibu yang sedang dirawat di rumah sakit ini, aku calon menantu yang sangat payah," sesal Elok, memilih duduk pada pojokan kantin diikuti Pandji, gugupnya sudah mereda sejak mereka memilih makanan tadi.

"Tidak apa-apa, masih ada perawat, dan Melitha sesekali kuminta menemani Ibu agar tidak kesepian," Pandji meneguk minumannya, ia lebih memilih air mineral dibandingkan minuman bersoda demi menjaga kesehatan tubuhnya.

Elok mengangguk pelan mendengarnya.

Di beberapa kesempatan Elok memang acap kali melihat Melitha -- adik sepupu Pandji -- menemani calon ibu mertuanya karena Pandji yang bertugas di luar pulau dan adik laki-laki Pandji yang terlalu sibuk di luar rumah mengurus kuliahnya.

"Elok," Pandji menghentikan sejenak aktifitas makannya, menatap serius wanita yang sudah delapan tahun ini menjalin hubungan dengannya.

"Ada apa, Mas?" tanyanya, balas menatap Pandji.

"Tadi... Ibu kembali mengingatkanku tentang hubungan kita. Selain sudah tua, beliau juga sering sakit-sakitan sekarang ini."

Elok menyimak, hatinya mendadak risau, tahu ke arah mana tunangannya itu akan membawa cerita mereka.

"Aku ingin kita menikah di bulan ini, Elok. Kamu bersedia?"

Deg.

"Aaaa--" Elok tergagap, walau telah menduga sebelumnya, dan reaksi itu tidak lepas dari perhatian Pandji.

"Aku, aku belum siap untuk itu, Mas..." penolakan yang terlontar itu tentu saja kembali menuai kerutan di dahi Pandji yang keheranan, pasalnya ini sudah penolakan yang kesekian kalinya.

"Maksudku..." Elok berusaha memikirkan alasan tepat untuk menunda lagi pernikahan mereka.

"Aku, aku kan baru berkerja tiga tahun ini, Mas. Tabunganku belum cukup, aku memang berniat membantu membiayai pernikahan kita agar tidak memberatkan mas Pandji. Selama ini, mas Pandji yang telah bersusah payah membiayai kuliahku sampai jadi dokter anak seperti yang aku cita-citakan, jadi aku tidak mau berpangku tangan saja, membiarkan mas Pandji menyiapkan pernikahan kita seorang diri."

Pandji tersenyum mendengar niat baik tunangannya itu.

"Terima kasih, sudah turut memikirkan tentang kita, tabungan yang kamu kumpulkan itu, untukmu saja, Mas tidak merasa diberatkan kok. Sejak lama Mas memang sudah menyiapkan tabungan untuk pernikahan kita, walau pestanya nanti hanya bisa sederhana."

"Tapi, Mas.... Aku... Nggak mau pernikahan kita dilangsungkan secara sederhana... Aku punya banyak teman, sesama dokter, pernikahan mereka rata-rata mewah... Aku malu kalau tidak bisa membuat pesta mewah sama seperti mereka... Maaf Mas bila aku jujur untuk ini..." pelan Elok, lalu menundukan kepalanya.

Pandji terdiam sejenak, rautnya tenang tanpa emosi.

"Yang penting itu rumah tangga kita yang bahagia, Elok.... Bukan tentang seberapa mewah pestanya--"

"Tapi aku tidak mau pernikahan yang biasa-biasa saja, Mas..." potong Elok cepat.

"Setelah dari gereja, kita resepsi sederhana di rumah, pasang tenda di jalan raya, membuat macet lalu lintas, aku nggak mau seperti itu, Mas. Aku malu..."

Mendengarnya, Pandji langsung teringat pada beberapa kali pengalamannya yang terjebak jalanan macet akibat pernikahan warga yang menggunakan akses badan jalan sebagai pesta pernikahan, dirinya terpaksa putar balik, mencari jalan alternatif yang lebih memakan waktu.

"Aku maunya pesta pernikahan di gedung, Mas. Hotel bintang lima kalau perlu..." tambah Elok.

"Seperti keinginanmu, Elok. Kamu boleh pilih gedung, atau balroom hotel mana saja di kota kita ini."

Elok terperangah mendengarnya.

"Tidak mungkin mampu, mas Pandji kan hanya seorang prajurit..." batinnya.

"Nanti malam, aku akan menemui kedua orang tuamu, Elok. Kita sudah berpacaran delapan tahun, dan bertunangan selama lima tahun, aku tidak ingin di cap sebagai lelaki pecundang, menggantung status anak gadis orang tanpa menikahinya," tegas Pandji bersungguh-sungguh, masih datar tanpa emosi.

"Aduh, bagaimana ini? Aku belum siap tinggal di komplek asrama mereka yang penuh aturan kaku...." panik Elok, mengenggam erat sendok dan garpu di tangannya.

...***...

Klek.

"Do-dokter Prasetyo?" Anita terkesiap, tangannya memegang erat gagang pintu ruang kerja Elok, niatnya ingin menaruh berkas-berkas pasien di meja kerja atasannya, tapi malah menemukan sosok dokter tampan itu di dalam sana.

"Ba-bagaimana dokter Prasetyo bisa ada di dalam ruang kerja dokter Elok?" menatap dokter macho itu berjalan ke arahnya yang masih berdiri di ambang pintu.

"Cup..."

Mata suter cantik itu membola sempurna, tidak menduga dirinya bakal dihadiahi kecupan oleh si dokter yang menjadi idola hampir semua kaum hawa yang ada di rumah sakit itu.

Bersambung✍️

1
Teteh Lia
habis sudah kesabaran babang Harry
Teteh Lia
Oh ya ampuun... kejam sekali dirimu, masa suami suruh tidur di lantai.
sari. trg
atur dulu anakmu Bu
sari. trg
waduh! siapa tuh bapaknya?
Zenun
harusnya tanya dulu mengapa Hary bisa bicara gitu, ada bukti apa
Dewi Payang: Harusnya begitu memang.....
total 1 replies
🟢≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
waduhhh... ternyata oh ternyata Raya berani sekali ya melakukan itu... ishhh ishhh ishhh...
Dewi Payang: Baiklah....😁😍
total 7 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
is is is ternyata jalang teriak jalang oy
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩: is is is... kok mirip elok ya🤭
total 2 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
masih aja loh si ibu. gmn klo si harry yg selingkuh?! pasti kln nge reog
Dewi Payang: klo anak sendiri dimaklumi, kko menantu gak boleh salah🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
woaahhhh ortunya juga mau2 aja menampung
Dewi Payang: Wkwk😂😂 padahal maksud mengadu pengen ortu jadi penengah kalu bisa dibelain ya kak🙈🙈🙈🙈
total 6 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar jalang. msh aja playing victim. ga tau malu. mau pake uangnya tapi ga mau melayani suami. kapan kau kapok
Dewi Payang: ini bukan hanya terjadi di dunia pernovelan saja, di dunia nyata pun ada, dan keluarganya gak menegur, miris
total 1 replies
Risa dan Yayang
Soraya Harry tahu kamu mengandung bukan darah dagingnya
Suamiku Paling Sempurna
Jangan jangan Harry mau menceraikan Soraya makanya datang ke rumah mertuanya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Bikin pesanan dengan anak yang di kandung Soraya
Risa Istri Cantik
Apa sebenarnya Soraya hamil anak Harry tapi Harry menduga Soraya hamil dengan pria lain, karena Soraya ngga mau sama pria pemalas sedangkan Harry pria rajin kerja
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Soraya kamu hamil anak siapa kalau sama Panji ngga mungkin dong Pandji pria baik baik
neng ade
kualat tuh sama suami dan adik ipar mu itu ..
Dewi Payang: Mukai menuai karma kak....
total 1 replies
Teteh Lia
Rumit bener ya ini.
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.
Dewi Payang: Sama² mengalami ujian hiduo kak😭
total 1 replies
Teteh Lia
Mamas pandji na terlalu mempesonah. jadi ya gitu... banyak yang meleleh liat na. 🤭
Dewi Payang: Jadi apa kak, jangan bikin daku penasaran🤭
total 3 replies
Teteh Lia
Soraya lagi mengandung. semoga kali ini dia bisa sedikit ngerem mulut kasar na ya. bumil kan harus hati2 dalam berucap
Dewi Payang: Harusnya gitu kak, kalo gak kasian menurun ke anaknya😂
total 1 replies
Yayang Suami Risa
Celo atau kakak iparnya Soraya yang menghamili Soraya
Dewi Payang: Kalo dua pria, tamatlah riwayat Soraya, dua²nya pemalas😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!