Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan
Jenara masih berdiri terpaku, pikirannya kacau oleh kenyataan yang baru saja menampar kesadarannya, ketika sebuah tangan kecil terulur ke arahnya.
Telapak tangan itu gemetar.
“Ibu boleh pukul aku sekarang.” Suara anak lelaki itu terdengar tertahan, seperti menelan tangis.
Jenara menoleh.
Giri berdiri di depannya, punggungnya tegak. Rahang anak lelaki itu mengeras, seolah sedang bersiap menerima sesuatu yang sangat ia takuti.
“Tapi… tolong bebaskan Gita dan Gatra,” lanjutnya cepat.
“Gatra pasti sudah kelaparan di dalam kandang ayam, Bu.”
Kandang ayam?
Kalimat itu membuat napas Jenara tercekat. Jantungnya berdegup kencang.
Ingatan terakhir dari novel yang ia baca muncul jelas di benaknya. Terlalu jelas hingga membuat tengkuknya meremang.
Jenara, sang ibu tiri jahat, mengurung Gatra di gudang dingin bersama ayam-ayam milik suaminya.
Sudah dua bulan pria itu pergi ke kota untuk menjual sapi. Namun, hingga saat ini ia belum juga kembali. Tidak ada kabar, seolah dia lenyap ditelan bumi. Dan selama itu pula, rumah telah menjadi neraka kecil bagi anak-anak.
Jenara menarik napas dalam-dalam. Punggungnya masih berdenyut nyeri setiap kali ia bergerak. Namun, rasa sakit itu kalah oleh sesuatu yang lebih menusuk. Rasa bersalah yang bukan miliknya, dan kini harus ia tanggung.
“Di mana… di mana kandang ayamnya?" tanya Jenara terdengar serak, napasnya tersengal.
Giri terbelalak. “Ibu mau ke sana?”
“Iya,” jawab Jenara mantap. “Ibu akan bebaskan Gatra.”
Sejenak, Giri dan Gita saling berpandangan. Di mata mereka ada ketakutan sekaligus kebingungan atas sikap aneh sang ibu tiri. Namun, tubuh mereka bergerak lebih cepat dari pikiran mereka.
Mereka berlari lebih dulu. Sementara Jenara mengikuti di belakang. Langkahnya tertatih, tangannya beberapa kali menahan punggungnya yang terasa seperti tertarik paksa.
Mereka melewati lorong sempit di samping rumah yang tanahnya becek. Rumput liar tumbuh tak terurus di mana-mana.
Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah bangunan kecil. Pintu kayu itu tebal, kusam, dan berpalang batang kayu kasar yang diselipkan menyilang. Engselnya berkarat. Permukaannya penuh bekas goresan dan noda gelap.
Tanpa pikir panjang, Jenara maju dan mendorongnya. Namun, benda itu tak bergerak.
Yakin bahwa pintu ini terkunci, Jenara menoleh pada Giri dan Gita.
“Kuncinya di mana?” tanyanya cepat.
Giri dan Gita saling memandang lagi, semakin heran. Tatapan mereka seperti sedang melihat orang asing yang mengenakan wajah ibu tiri mereka.
Gita akhirnya berbisik, ragu-ragu. "Biasanya Ibu sembunyikan di baju Ibu.”
Jenara menunduk.
Ia mengenakan pakaian dari kain halus berwarna biru. Potongannya rapi, panjang hingga mata kaki, dengan sulaman sederhana di bagian dada. Jelas pakaian ini milik seseorang yang hidup nyaman daripada anak-anak di hadapannya.
Dengan tangan gemetar, Jenara merogoh lipatan dalam bajunya. Di balik lapisan kain dekat pinggangn, ia menemukan sebuah kunci besi kasar, berat dan dingin di telapak tangan.
Ketika berhasil menariknya keluar, Jenara melihat sebuah kunci kuno yang berbentuk batang melengkung tanpa gerigi. Berfungsi mengait palang dari dalam.
Dengan sedikit usaha, Jenara memasukkan kunci itu ke celah pintu dan menariknya. Terdengar bunyi kayu bergeser pelan, lalu palang itu terlepas.
Krek.
Palang kayu diangkat. Begitu pintu berat itu didorong, bau lembap langsung menyeruak.
Jenara terperanjat.
Di dalam, kandang ayam itu tampak gelap dan sempit. Lantainya tanah basah bercampur jerami kotor.
Bulu ayam berserakan. Di sudut, hanya tersisa tiga ekor ayam kurus yang saling merapat, berkokok lemah. Dan, di antara mereka, seorang anak lelaki kecil meringkuk.
Tubuh anak itu gemetaran dan bajunya sangat kotor. Lututnya ditarik ke dada, lengannya melingkar erat untuk memeluk dirinya sendiri. Rambutnya kusut, pipinya pucat, dan matanya cekung oleh rasa lapar.
“Gatra,” bisik Jenara.
Dadanya terasa sesak melihat pemandangan yang menyayat hati. Tak disangka, pemilik asli tubuh ini tega menyiksa seorang anak yang tidak berdaya.
Tanpa peduli kakinya yang menginjak tanah basah, Jenara segera melangkah maju.
Namun, Gatra justru mundur. Tubuhnya menempel ke dinding bambu, matanya membelalak ketakutan.
“Tidak apa-apa,” ujar Jenara lembut, suaranya bergetar.
“Ayo, ikut Ibu. Kita keluar dari sini.”
Gatra menggeleng keras. Tangis kecil tertahan keluar dari tenggorokannya, hingga membuat Jenara menelan ludah.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjongkok, lalu menggendong tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
Tubuh Gatra ringan, terlalu ringan untuk anak seusianya. Ia menggigil hebat.
Giri dan Gita yang berdiri di ambang pintu terdiam. Mata mereka membulat heran. Untuk pertama mereka melihat Jenara yang kejam telah memeluk Gatra, bukan mengurung dan menghukumnya.
Ingatan asing itu tiba-tiba menyeruak di kepala Jenara, bak serpihan mimpi buruk yang menempel di jiwanya.
Alasan mengapa tubuh ini mengurung Gatra.
Dua hari lalu, bocah ini tak sengaja memecahkan piring keramik kesayangannya. Satu-satunya barang mahal di rumah ini, yang dibeli oleh sang suami saat ke kota.
Tatkala Gatra disuruh mencuci piring di belakang rumah, tangannya yang kecil membuat piring itu terlepas. Alhasil benda itu pecah berkeping-keping di tanah.
Jeritan Jenara yang seperti kerasukan, masih terngiang jelas. Ia menampar, menyeret, lalu mengurung bocah tujuh tahun itu di kandang ayam. Tanpa makanan, tanpa selimut, tanpa belas kasihan.
Sungguh kejam. Hanya karena sebuah piring, ia mengurung Gatra dua hari dua malam.
Dada Jenara terasa sesak. Tangannya yang menggendong Gatra refleks mengerat, seakan ingin menebus kesalahan yang tidak ia lakukan.
Walau sedikit tertatih, Jenara melangkah masuk ke rumah kayu itu. Membawa Gatra dalam pelukannya.
Giri dan Gita mengikuti dari belakang, langkah mereka pelan, mata mereka waspada. Tatapan itu bukan tatapan anak-anak, melainkan tatapan korban yang sudah terlalu sering disakiti.
Jenara mendudukkan Gatra di bangku kayu rendah. Tubuh bocah itu masih lemas dan kepalanya terkulai.
Tanpa menunda, Jenara bergegas ke dapur di sudut rumah. Ia mengambil kendi air tanah, lalu menuangkannya ke dalam cangkir tanah liat.
Dengan cekatan, Jenara mengambil sejumput gula aren, sejumput kecil garam kasar, kemudian mencampurnya perlahan hingga larut.
Cairan elektrolit sederhana—air, gula, dan garam. Cukup untuk mengembalikan tenaga anak yang dehidrasi dan kelaparan.
Jenara berbalik, hendak menyodorkan minuman itu pada Gatra. Namun, mendadak dua lengan kecil terentang di hadapannya.
“Jangan!” teriak Giri, berdiri di depan saudaranya. “Ibu mau meracuni Gatra, ya?!”
Jenara tertegun. Tuduhan ini tidak membuatnya marah, karena ia sangat memahami bagaimana derita yang harus ditanggung oleh Si Kembar Tiga.
Ia menurunkan cangkir itu perlahan. Lalu, tanpa ragu, Jenara mengangkat cangkir itu ke bibirnya sendiri dan meminum setengah isinya.
Giri dan Gita ternganga.
“Lihat. Ibu tidak apa-apa. Malah tubuh Ibu terasa lebih segar," ujar Jenara tersenyum kecil.
Kemudian, Jenara mengambil cangkir lain, membuat campuran baru dan kali ini mengulurkannya ke arah Gatra. Giri dan Gita ragu sesaat, sebelum perlahan bergeser dan memberi jalan.
Jenara berlutut, menopang kepala Gatra dengan lembut.
“Minum pelan-pelan, ya.”
Awalnya, Gatra menolak. Bibirnya mengatup rapat. Namun setelah mencicipi seteguk dan seteguk lagi, keajaiban kecil pun terjadi.
Gemetar di tubuh bocah itu mereda. Warna pucat di wajahnya perlahan berkurang.
Saat cangkir itu tandas, Gatra menatap Jenara dengan ekspresi bingung bercampur takut.
Jenara merasa lega lantas menoleh pada Giri dan Gita.
“Kalian juga boleh minum. Ambil sendiri, ya. Sekarang, Ibu akan masak. Kalian pasti belum makan.”
Kedua anak itu kembali bertukar pandang antara bingung, curiga, dan tak percaya.
Masak? Benarkah wanita pemarah yang suka bermalas-malasan ini bersedia memasak untuk mereka?
mau punya ruang Wiji juga lah 🙏🙏🙏