Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. Malam Pilu Sakura
Yang puasa skip bacaan ini, lompat bab selanjutnya. " M A A F Ya Teman-teman Readers"
Lampu neon berwarna fuchsia dan biru elektrik berkedip-kedip mengikuti dentum bas yang menggetarkan dada di salah satu klub malam paling eksklusif di Mitte, Berlin. Di pojok bar yang remang, Sakura duduk sendirian. Gaun hitamnya yang elegan tampak kontras dengan kekacauan di matanya. Di depannya, tiga gelas kosong martini sudah berjajar, dan dia baru saja memesan whiskey neat.
Pikirannya melayang kembali ke layar laptop beberapa jam lalu. Senyum Daren untuk Mila adalah jenis senyum yang tidak pernah Sakura dapatkan selama dua puluh tahun. Itu bukan senyum sopan seorang kawan masa kecil, itu adalah senyum seorang pria yang telah menemukan pelabuhannya.
"Sialan kamu, Daren..." gumam Sakura, suaranya tenggelam dalam riuh musik techno.
"Aku yang menjagamu sejak kecil, tapi dia yang mendapatkan segalanya."
Sakura menenggak wiskinya dalam sekali teguk. Rasa terbakar di kerongkongannya tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Pandangannya mulai mengabur, lampu-lampu di sekitarnya mulai berputar membentuk pusaran warna yang pusing.
Tepat saat itu, sesosok pria muncul dari kerumunan. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam, dengan rambut gelap yang sedikit berantakan dan senyum miring yang menyimpan sejuta rahasia. Mario.
Mario adalah adik tiri Daren,anak Megan, Isteri kedua daddy Farel. Daren yang kaku dan disiplin, Mario adalah definisi dari troublemaker. Dia liar, impulsif, dan selalu hidup di bawah bayang-bayang kehebatan kakaknya.
"Sakura? Little Cherry, sedang apa kau di tempat kotor seperti ini?" suara Mario terdengar berat, mengisi celah di antara dentuman musik.
Sakura menoleh dengan gerakan lambat. Dalam kondisi setengah sadar, matanya tidak lagi bekerja dengan benar. Postur tubuh pria di depannya, bahu yang lebar itu, dan garis rahangnya... dalam benak Sakura yang kacau, sosok itu berubah menjadi sosok yang sangat dia rindukan.
"Daren...?" bisik Sakura parau.
"Kamu datang? You leave her for me?"
Mario tertegun sejenak. Dia tahu betul bahwa Sakura sangat terobsesi pada kakaknya. Ada kilat kebencian sekaligus gairah di mata Mario. Dia selalu menginginkan apa yang dimiliki Daren, termasuk perhatian wanita yang selama ini hanya menatap kakaknya itu.
"Ya," jawab Mario dusta, suaranya merendah.
"Aku di sini sekarang. Ayo kita pergi dari sini."
Mario merangkul pinggang Sakura yang sudah lunglai.
Sakura menyandarkan kepalanya di bahu Mario, menghirup aroma parfum yang tajam. Karena mabuk berat, dia tidak bisa membedakan aroma citrus lembut milik Daren dengan aroma musk maskulin milik Mario yang kuat. Bagi Sakura malam itu, dunia hanya berisi satu nama Daren.
Mario membawa Sakura ke sebuah hotel mewah tak jauh dari klub. Dia membaringkan Sakura di atas tempat tidur putih yang besar. Sakura menarik kerah baju Mario, air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam.
"Jangan pergi lagi, Ren... jangan pilih Gadis Pohon itu. Aku jauh lebih baik, kan?" racau Sakura sambil terisak.
Mario menatap wajah Sakura yang cantik namun hancur. Ada rasa puas yang gelap di hatinya.
"Tonight, you are mine, Sakura. Bukan milik Daren," bisik Mario, meski dia tahu Sakura tidak mendengarnya dengan benar.
Dalam kabut alkohol dan keputusasaan, Sakura membalas setiap sentuhan Mario dengan penuh kerinduan. Dia mengira tangan yang membelainya adalah tangan pria yang dia cintai.
Dia menyerahkan segalanya malam itu, menumpahkan seluruh rasa sakit hati dan cintanya yang bertepuk sebelah tangan ke dalam sebuah malam yang penuh gairah namun didasari oleh identitas palsu.
Cahaya matahari musim dingin Berlin yang pucat menembus celah gorden, menusuk langsung ke mata Sakura. Kepalanya terasa seperti dipukul palu godam denyut nadi di pelipisnya terasa begitu menyakitkan.
Sakura mengerang, mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Dia merasakan kulit yang bersentuhan dengan kain seprai yang dingin, dan perlahan kesadarannya mulai terkumpul. Ingatannya tentang semalam samar, tapi dia ingat Daren datang. Dia ingat Daren membawanya pulang.
"Daren..." gumamnya pelan, berharap saat dia menoleh, dia akan melihat pria itu di sampingnya.
Namun, saat dia memutar tubuhnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sampingnya, tertidur dengan tenang, bukanlah Daren. Pria itu memiliki tato di bahu kirinya tato lambang serigala yang sangat Sakura kenal sebagai ciri khas adik tiri Daren yang bengal.
Mata Sakura membelalak sempurna. Rasa mual tiba-tiba naik ke tenggorokannya. Dia melihat pakaiannya berserakan di lantai, bercampur dengan jaket kulit milik Mario.
"Enggak... no, it can't be..." Sakura membekap mulutnya sendiri, air matanya mulai luruh karena rasa terhina yang luar biasa.
Saat itu, Mario mulai menggeliat dan membuka matanya. Melihat Sakura sudah bangun, Mario tersenyum malas.
"Pagi, Cherry. Tidurmu nyenyak?" tanya Mario dengan suara serak.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Mario sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya.
"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN, BRENGSEK?!" teriak Sakura histeris.
Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, gemetar hebat karena amarah yang meledak.
Mario mengusap pipinya yang memerah, ekspresinya berubah dingin.
"Apa yang kulakukan? Aku menyelamatkanmu dari lantai klub. Dan kalau kau lupa, kau yang menarikku semalam, Sakura. Kau yang memanggil namaku oh, maksudku, kau memanggil nama kakakku tersayang."
"KAU MEMANFAATKANKU, MARIO! YOU KNEW I WAS DRUNK!" Sakura meraih lampu meja di samping tempat tidur dan melemparkannya ke arah Mario.
Mario menghindar dengan tangkas.
"Aku tidak memaksamu. Kita berdua sama-sama menginginkan sesuatu yang tidak bisa kita miliki. Kau ingin Daren, dan aku... aku ingin merusak sesuatu milik Daren."
Mendengar kata-kata itu, sesuatu di dalam diri Sakura patah. Rasa malu berubah menjadi kemarahan murni. Dia menerjang Mario seperti macan betina yang terluka.
"KAU MENGHANCURKAN HIDUPKU! YOU BEAST!"
Sakura memukul dada Mario dengan tinjunya, mencakar lengan pria itu hingga berdarah. Mario mencoba menangkap tangan Sakura, tapi Sakura yang sedang murka berhasil mendaratkan serangan demi serangan. Dia menendang Mario hingga pria itu jatuh dari tempat tidur.
Tak berhenti di situ, Sakura mengambil botol champagne yang sudah kosong dan mengayunkannya. Mario berhasil menepisnya, tapi botol itu mengenai bahunya dengan keras.
"Hentikan, Sakura! You're crazy!" teriak Mario sambil mencoba melindungi wajahnya.
"AKU MEMANG GILA KARENA KELUARGA KALIAN! PERGI DARI SINI! PERGI!" Sakura mengambil sepatu hak tingginya yang tajam dan melemparkannya.
Ujung sepatu itu menggores pelipis Mario hingga darah segar mengucur.
Mario yang tadinya ingin bersikap santai, kini mulai merasa terdesak. Dia sadar Sakura benar-benar bisa membunuhnya jika dia tetap di sana.
Dengan gerakan cepat, Mario menyambar pakaiannya, lalu mundur ke arah pintu sambil menahan perih.
"Kau akan menyesal telah menyentuhku, Mario! Aku akan memastikan Daren tahu betapa menjijikkannya adiknya ini!" teriak Sakura dengan suara melengking.
Mario berhenti sejenak di pintu, menoleh dengan tatapan gelap.
"Beritahu saja dia. Tapi ingat, di matanya, kaulah yang tidur dengan adiknya di malam pernikahannya. We're both dirty, Sakura. Welcome to hell."
Mario menutup pintu dengan keras, meninggalkan Sakura yang jatuh terduduk di atas lantai yang dingin.
Di dalam kamar yang mewah namun kini hancur berantakan itu, Sakura melolong pilu. Dia meremas seprai putih yang kini menjadi saksi bisu kehancurannya.
Di hari Daren memulai hidup baru yang bahagia di Jakarta, Sakura justru tenggelam dalam lubang kegelapan yang lebih dalam di Berlin. Cintanya sudah mati, dan kini harga dirinya pun telah dirampas.
Sakura menatap pantulan dirinya di cermin besar yang retak. Wajahnya sembap dan rambutnya kacau. Dia bersumpah dalam hati, rasa sakit ini tidak akan hilang begitu saja. Jika dia tidak bisa memiliki kebahagiaan, maka tidak boleh ada orang lain yang merasakannya terutama bukan "Gadis Pohon" itu. Sakura benar-benar berada di titik terendahnya sekarang
Bersambung
bener bener kek dpt hidayah atas kemauannya sendiri