"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 2 - Pahatan yang Nyaris Sempurna
Maura tiba di apartemennya ketika langit sudah menggelap sempurna. Unit itu tidak besar, hanya ada satu kamar tidur, dapur kecil yang menyatu dengan ruang tamu, dan balkon sempit yang menghadap gedung sebelah. Tapi Maura menyukainya karena menenangkan.
Ia meletakkan tas kerjanya di sofa, melepas sepatu, lalu berdiri diam beberapa detik di tengah ruangan.
“Cuma nganterin undangan, Maura,” gumamnya sambil berjalan ke dapur.
Maura menyiapkan makan malam sederhana. Nasi hangat, telur dadar, dan tumisan sayur cepat. Tangannya bekerja otomatis, tapi pikirannya tidak benar-benar di sana.
Setya Pradana.
Ia menghela napas, lalu mengambil ponsel dan meletakkannya di meja makan. Setelah duduk, Maura menatap layar itu beberapa detik, sebelum akhirnya membuka mesin pencari.
“Setya Pradana,” gumam Maura sambil mengetik nama yang menjadi fokus kehebohan para dosen.
Hasilnya muncul dengan foto seorang pria dengan jas gelap, wajah tegas, rahang kuat, tatapan tenang tapi sulit ditebak. Tidak banyak foto. Hampir semuanya formal.
“CEO Pradana Tech Group. Tiga puluh tujuh tahun,” gumam Maura sambil membaca.
Ia mengernyit.
“Tiga puluh tujuh,” ulangnya pelan.
Maura menggulir layar. Artikel demi artikel muncul, tapi isinya hampir seragam. Prestasi perusahaan, ekspansi bisnis, pendapatan yang naik drastis. Hampir tidak ada wawancara personal.
“Latar belakang keluarga, tidak banyak dipublikasikan,” bacanya keras-keras.
Ia mendengus kecil. “Misterius banget.”
Maura menyuapkan telur ke mulutnya sambil menatap layar, membaca kalimat yang sama berulang kali. Pria itu hidup di dunia yang sama sekali berbeda.
Sementara dirinya? Dosen berusia dua puluh lima tahun, bergulat dengan jadwal kuliah, nilai mahasiswa, dan rapat fakultas yang tidak pernah benar-benar selesai. Benar-benar dunia tidak adil.
“Kenapa aku yang harus ke sana?” gumamnya lirih.
Maura menyandarkan punggung ke kursi, lalu menghela napas panjang. Ia meraih ponselnya lagi dan menekan satu nama di daftar kontak.
Renata
Panggilan tersambung setelah dering ketiga.
“Halo?” suara Renata terdengar ceria. “Kamu jarang nelpon malam-malam begini. Kenapa?”
Maura tersenyum tipis. “Aku butuh curhat.”
“Wah, apa ini,” Renata langsung tertawa.
Maura bersandar lebih nyaman. “Aku dapet tugas dari universitas buat nganter undangan ke CEO besar.”
“Hah?” suara Renata meninggi. “CEO siapa?”
“Setya Pradana.”
Di seberang sana terdengar suara Renata menahan napas. “Yang itu?”
“Yang itu yang mana?”
“Yang sering muncul di timeline bisnis, Maura. Yang dingin, kaya, dan katanya susah dideketin.”
Maura memijat pelipisnya. “Nah. Itu dia masalahnya.”
“Masalah apa? justru itu kesempatan bagus dong,” Renata terdengar makin antusias.
“Kesempatan buat apa? orang jabatanku juga dosen biasa,” Maura mendengus.
“Justru itu. kan siapa tahu kamu tiba-tiba diangkat jadi rektor karena punya kenalan orang besar kayak dia,” kata Renata cepat.
“Kok tiba-tiba ke sana sih, Ta. Lagian juga apa hubungannya jabatanku sama Pak Setya itu,” geram Maura.
Renata memang salah satu sahabatnya yang bisa dibilang tidak normal dalam artian suka sembarangan kalau bicara. Tidak dipikir dulu.
“Iya juga ya,” lirih Renata.
“Pakai baju rapi. Profesional. Jangan minder,” lanjut Renata.
“Aku nggak minder,” Maura membela diri cepat.
“Baru juga ngomong, nada kamu udah minder.”
Maura terdiam. Maura tersenyum kecil, lalu menghela napas. “
Aku cuma mau tugas ini selesai tanpa masalah.”
“Ya udah, gampang Ra. kamu dateng, kasih undangannya, jelasin singkat, pulang deh. Simple kan,” kata Renata.
Maura tertawa perih, “ya kalau segampang itu, aku nggak akan serempong ini nelpon kamu malem malem, Renata.”
Panggilan berakhir. Maura meletakkan ponsel di meja, lalu menatap langit-langit apartemennya. menelepon Renata sama sekali tidak membantu dan justru semakin membuatnya kalang kabut.
Pagi datang begitu cepat, tahu-tahu Maura sudah berdiri di depan gedung tinggi berlapis kaca dengan logo perusahaan yang terpasang besar di bagian depan.
Pradana Tech Group.
Ia mendongak, menelan ludah.
“Tenang. Relax,” gumamnya.
Maura melangkah masuk. Pendingin ruangan langsung menyambut, dingin dan bersih. Lobi luas dengan lantai marmer mengilap. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah cepat, rapi, dan terarah.
Maura berjalan ke meja resepsionis untuk mempertanyakan bagaimana bertemu dengan orang paling penting di perusahaan ini.
“Selamat pagi,” sapa Maura sopan.
Resepsionis perempuan itu menoleh, senyumnya profesional. “Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?”
“Saya Maura. Dosen dari Universitas Nusantara. Saya ada janji untuk menyerahkan undangan acara amal,” jawabnya.
Resepsionis mengetik cepat. “Undangan untuk?”
“Bapak Setya Pradana.”
Alis resepsionis itu terangkat tipis, nyaris tak terlihat. “Mohon ditunggu sebentar.”
Maura mengangguk, berdiri dengan kedua tangan menggenggam map undangan di depan perutnya.
Satu menit. Dua menit. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri.
“Silakan naik ke lantai dua puluh satu,” kata resepsionis akhirnya. “Lift eksekutif di sebelah kanan.”
“Terima kasih,” jawab Maura pelan.
Lift bergerak naik dengan mulus. Angka-angka di layar menyala satu per satu. Maura menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.
Pintu lift terbuka.
Suasana lantai eksekutif jauh lebih sunyi. Karpet tebal meredam langkah kaki. Beberapa karyawan berjalan cepat sambil membawa tablet atau map. Maura diarahkan ke ruang tunggu.
“Silakan duduk. Bapak Setya sedang ada rapat evaluasi,” kata seorang asisten.
“Baik,” jawab Maura.
Ia duduk di kursi empuk itu, menatap sekeliling. Segalanya terasa sangat berbeda dengan dunia yang dikenalinya di luar sana. Maura merapatkan map di tangannya.
Tidak lama Maura melihat asisten laki-laki itu berdiri dibarengi dengan langkah kaki dari arah samping kanan Maura. Secara otomatis Maura ikut berdiri dengan tangannya mencengkeram map undangan.
“Asisten saya bilang, kamu dari universitas.”
Suara itu rendah. Tenang, tapi cukup untuk membuat Maura merasa merinding sebadan-badan. Maura mendongak dan...
Pria di hadapannya itu memiliki badan yang tinggi, bahu tegap, mengenakan setelan jas gelap tanpa dasi. Wajahnya tegas, garis rahangnya jelas, ekspresinya dingin dengan mata tajam.
Ini Setya Pradana.
“Iya, Pak. Saya Maura,” jawab Maura cepat, sedikit terlambat menyadari bahwa ia sempat terlalu lama menatap.
Setya menatapnya beberapa detik.
“Hanya Maura?” tanyanya datar.
Maura mengangguk. “Maura Preswari. Dosen Universitas Nusantara.”
Ia menambahkan itu, merasa perlu memperjelas posisinya.
“Ikut saya ke ruangan.”