Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. PERMINTAAN YANG TIDAK BISA DITOLAK
..."Di tanah yang menyerah pada takdir, satu permintaan lahir dan seorang tabib dari masa depan tak bisa lagi berpaling."...
...---•---...
"Doni! Doni Wira!"
Suara itu memecah lamunannya. Doni menoleh tajam, jantungnya berdetak cepat. Seorang pemuda kurus berlari menghampirinya, wajah penuh keringat. Ia mengenakan celana sebetis compang-camping dan baju tanpa lengan yang penuh tambalan. Napasnya terengah, seperti baru saja berlari jauh.
"Untung kau sudah bangun!" Pemuda itu menangkap bahunya, matanya lebar, penuh kelegaan yang hampir putus asa. "Kukira... kukira kau tidak akan bangun. Kemarin kau kejang sampai gigit lidah. Ada darah di mulutmu."
Doni menatap wajah pemuda itu. Ada sesuatu yang familiar. Bentuk mata, cara ia tersenyum walau wajahnya cemas. Lalu ingatan asing kembali menyeruak. Karyo. Teman masa kecilnya. Mereka tumbuh bersama di kampung ini, berbagi nasi aking saat kelaparan, bermain di sungai, bekerja sebagai kuli angkut di pasar.
"Karyo..." Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Iya, aku! Kenapa?" Karyo menyentuh dahi Doni dengan punggung tangan. "Lumayan dingin. Syukurlah. Kemarin..." Ia menarik napas. "Kemarin Mbok Sarmi hampir memanggil dukun. Tapi tidak ada uang."
Kejang-kejang. Demam tinggi. Tiga hari tidak sadarkan diri.
Kemungkinan malaria serebral, atau demam tifoid stadium lanjut. Mungkin meningitis. Tanpa pengobatan yang tepat, angka kematian sangat tinggi. Tubuh asli pemilik badan ini harusnya sudah mati.
Lalu kenapa aku bisa ada di sini? Menggantikan orang yang seharusnya mati?
"Doni?" Karyo menggoyangkan bahunya. "Kau baik-baik saja? Kau melamun lagi. Jangan-jangan..." Ia menurunkan suaranya. "Jangan-jangan masih ada sisa-sisa penyakitnya?"
"Aku..." Doni menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti amplas. "Aku baik-baik saja."
"Bagus!" Karyo melirik ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang mendengar. Lalu ia mendekat, suaranya turun menjadi bisikan mendesak. "Adikku, Tari... sakit keras."
Ada jeda singkat. Karyo menggigit bibir bawah.
"Sudah lima hari. Batuk-batuk terus, keluar darah." Tangannya meremas-remas ujung bajunya, buku-buku jarinya memutih. "Badannya panas dingin. Bapak sudah panggil dukun, tapi malah makin parah. Mereka bilang Tari kena guna-guna, harus dibawa ke kyai di kampung sebelah."
Ia menatap Doni dengan mata yang mulai berkaca. Suaranya pecah.
"Tapi kami tidak punya uang untuk bayar."
Batuk darah. Demam. Lima hari.
Penyakit paru-paru basah. Atau mungkin radang paru-paru yang sudah parah.
"Di mana dia sekarang?" Doni bertanya tanpa berpikir.
"Di rumah. Kenapa?"
"Aku ingin melihatnya."
Karyo menatapnya bingung. Alisnya mengerut. "Untuk apa? Kau kan bukan dukun."
Doni tidak bisa menjawab. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia ingin melihat gadis itu. Tapi ada sesuatu dalam dirinya, insting yang sudah tertanam selama bertahun-tahun di ruang operasi dan ruang gawat darurat yang tidak bisa mengabaikan orang sakit.
"Aku hanya ingin membantu," kata Doni. "Mungkin aku bisa melakukan sesuatu."
Karyo tampak ragu. Giginya menggigit bibir bawah. Tapi akhirnya ia mengangguk. "Baiklah. Tapi jangan bilang aneh-aneh yang membuat bapakku marah. Dia sudah cukup stress."
Mereka berjalan menyusuri jalan berlumpur. Doni mencoba membiasakan diri dengan tubuh barunya. Setiap langkah terasa asing. Tubuh ini lebih pendek, lebih ringan, tapi juga lebih lemah dari tubuh aslinya.
Sepanjang jalan, ia mengamati dengan mata yang terlatih. Orang dewasa dengan luka di kaki yang tidak diobati, bernanah, dikerumuni lalat. Seorang perempuan tua batuk-batuk hebat, meludahkan dahak kental berwarna kuning kehijauan.
Tidak ada sanitasi. Tidak ada sabun, tidak ada obat, tidak ada pengetahuan dasar tentang kebersihan.
Mereka melewati sebuah warung kecil, di mana seorang perempuan tua menjual jajanan pasar. Klepon, lupis, lemper yang ditutup daun pisang. Sekelilingnya, lalat hinggap bebas. Tidak ada yang tampak terganggu.
Doni mengalihkan pandang.
"Sebentar lagi sampai," kata Karyo. "Rumahku di ujung kampung. Dekat sawah."
Mereka tiba di sebuah gubuk yang sedikit lebih besar dari tempat tinggal Mbok Sarmi. Dinding bambu yang sama, atap rumbia yang bocor, lantai tanah. Tapi ada tikar pandan di tengah ruangan dan beberapa periuk tanah liat di sudut.
Seorang pria paruh baya duduk di depan gubuk, bahunya membungkuk. Ia mengenakan sarung lusuh dan baju tanpa kerah yang penuh keringat. Rambutnya acak-acakan, mata merah karena kurang tidur. Tangannya meremas-remas kain sarung berulang-ulang, seperti sedang berdoa atau mencari pegangan.
"Pak Karso," Karyo memanggil dengan hormat. "Ini Doni. Dia ingin melihat Tari."
Pak Karso mengangkat kepala. Ia menatap Doni dengan pandangan kosong, lalu mengangguk lemah. Suaranya serak, terkikis kelelahan.
"Masuk saja. Tapi aku tidak yakin ada yang bisa dilakukan."
Jeda panjang.
"Mungkin ini sudah takdir."
Kata-kata itu keluar tanpa keyakinan. Seperti mantra yang diucapkan untuk meyakinkan diri sendiri, bukan orang lain. Pak Karso menatap tanah, bahunya turun lebih dalam.
Karyo mendorong pintu bambu yang berderit. Doni melangkah masuk. Ruangan di dalam gelap dan pengap. Bau keringat dan sesuatu yang lebih mengganggu. Bau penyakit. Bau tubuh yang sedang melawan infeksi dan kalah.
Matanya butuh waktu untuk menyesuaikan dengan kegelapan. Lalu ia melihatnya.
Seorang gadis kecil terbaring di atas tikar, tubuhnya kurus kering, kulit pucat seperti lilin. Dadanya naik turun dengan susah payah, terlalu cepat, terlalu dangkal. Setiap napas disertai bunyi mengi yang keras, seperti udara dipaksa melalui pipa yang tersumbat. Keringat membasahi dahi dan lehernya. Bibir kering pecah-pecah. Ujung jari-jarinya mulai membiru.
Denyut nadi. Tarikan napas. Sirkulasi darah di ujung-ujung tubuh. Prosedur diagnosis berputar otomatis di kepalanya.
Seorang wanita setengah baya duduk di sampingnya, mengipasi dengan anyaman bambu. Kelopak matanya bengkak, warna merah tua di bawahnya. Tangannya bergerak mekanis, naik-turun, naik-turun seperti boneka yang kehabisan tenaga. Tatapannya kosong, menatap menembus dinding.
Doni tidak butuh stetoskop untuk tahu.
Tanpa antibiotik, anak ini punya waktu kurang dari 24 jam.
Dan di masa ini... antibiotik belum ada.
...---•---...
...Bersambung...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲