Pangeran Gautier de Valois.
Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.
"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."
"Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"
"Ini bukan permintaan, Countess,"
"Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iseeyou911, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 (Kebebasan yang Dicuri)
Malam itu, Château LeBlanc terasa seperti penjara yang dingin.
Amélie tidak makan malam. Ia mengunci diri di perpustakaan pribadinya, tangannya memegang salinan kontrak pernikahan yang terasa membakar. Stempel emas Valois itu tampak mengejek kebebasan yang telah ia perjuangkan dengan susah payah.
Pangeran Gautier de Valois... sosok itu terus menghantuinya. Ia melihat Amélie bukan sebagai wanita, apalagi sebagai pasangan hidup, tetapi sebagai alat—sebuah bejana untuk membawa pewaris, sebuah jaminan politik. Dan penolakannya, penolakan yang begitu jelas dan menyakitkan, menunjukkan bahwa dia sama terpaksa dan tidak bahagianya dalam situasi ini.
Aku butuh pewaris.
Aku tidak tertarik pada mu.
Aku tidak menerima penolakan.
Kata-kata Gautier mengulang dalam benaknya, memunculkan dua dilema yang sama-sama mengerikan, menikah dengan pria yang dingin dan menghinanya, atau melihat reputasi LeBlanc dan lebih buruk, nama orang tuanya, hancur.
"Utang kehormatan..." Amélie bergumam, membuka buku besar lama milik ayahnya.
Sejak ia mengambil alih manajemen, ia tidak pernah menemukan catatan tentang utang yang melibatkan pengkhianatan. Ada beberapa perjanjian yang meragukan dengan ksatria kecil, ya, tetapi tidak ada yang melibatkan kanselir Raja atau ancaman sebesar itu.
Ia yakin, Éloi berbohong.
Namun, Éloi adalah satu-satunya yang memiliki akses ke arsip keluarga lama di Paris. Dan jika ada sedikit pun kebenaran di baliknya, Amélie tidak bisa mengambil risiko itu.
"Sial!" ia membanting buku itu ke meja.
Tiba-tiba, ia teringat pada seseorang yang mungkin tahu lebih banyak tentang rahasia keluarga daripada dirinya, seseorang yang tidak akan pernah berpihak pada Éloi, Sœur Céleste.
Céleste adalah seorang biarawati yang sangat dihormati di biara kecil di luar kota. Namun, di masa lalu, Céleste adalah pengasuh rahasia ibunya. Ia adalah sebuah kebijaksanaan yang tidak pernah bisa dibeli dengan kekayaan Éloi.
...*****...
Keesokan paginya.
Amélie meninggalkan château sebelum fajar, menyamar dengan tudung sederhana. Ia harus bergerak cepat sebelum berita pertunangan paksa ini menyebar ke seluruh Prancis, mengunci semua gerakannya.
Perjalanan ke biara terasa seperti perjalanan terakhir menuju kebebasan.
Biara itu sunyi dan diselimuti kabut pagi. Sœur Céleste menunggunya di taman mawar, wajahnya damai namun matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam.
"Selamat datang, Nona Amélie," Céleste menyambutnya, suaranya lembut. "Saya sudah tahu mengapa Anda datang. Kedatangan Pangeran Gautier adalah angin buruk yang tidak bisa dihindari."
"Anda tahu tentang pernikahan ini?" Amélie terkejut.
"Para biarawati mendengarkan lebih banyak daripada yang Anda bayangkan, terutama bisikan dari Versailles," jawab Céleste, mengisyaratkan Amélie untuk duduk di bangku batu. "Éloi telah merencanakan ini sejak lama. Dia butuh koneksi Valois untuk rencana yang lebih besar dan Anda, Amélie, adalah kunci warisan LeBlanc yang sah."
"Dan utang itu? Utang kehormatan yang melibatkan pengkhianatan?" Amélie bertanya, suaranya penuh harapan.
Céleste terdiam sejenak, menghela napas. "Utang itu, ma fille... itu ada. Itu adalah sumpah kakekmu pada Raja. Sumpah yang melibatkan uang yang besar, bukan kehormatan politik. Uang itu seharusnya dikembalikan dua puluh tahun yang lalu. Éloi mengendalikan dokumen tersebut dan dia tahu betul bagaimana memutarbalikkan fakta. Uang itu kini telah dilunasi, bukan oleh LeBlanc, melainkan oleh Valois, atas perintah Gautier sendiri."
Amélie menatap Céleste, pikirannya berputar. "Gautier yang melunasinya? Jika dia sudah melunasinya, mengapa dia masih harus menikahiku?"
"Karena Gautier de Valois tidak bertindak tanpa keuntungan. Ia melunasi utang itu untuk mendapatkan kontrol mutlak atas Anda dan aset politik Anda, tanpa perlu menunggu negosiasi yang panjang. Dan dia butuh pewaris secepatnya, karena Raja semakin lemah." Céleste mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya serius.
"Amélie, dia menggunakan kelemahanmu—rasa cintamu pada nama baik orang tuamu—untuk memaksamu. Utang itu sudah mati. Tapi ketakutanmu, itu yang hidup. Dan Éloi bekerja untuknya."
"Maksud Anda, Éloi adalah sekutu Gautier?"
"Mereka memiliki kepentingan yang sama. Gautier mendapatkan Anda, Éloi mendapatkan kekuasaan dan koneksi Valois. Anda terjebak, Amélie."
Amélie merasakan dinding kaca yang menahan dirinya pecah. Ia tidak punya pilihan, selain satu hal.
"Saya akan menikah dengannya," kata Amélie, suaranya kini tenang, namun dipenuhi tekad yang dingin. "Tetapi saya tidak akan menjadi bonekanya. Jika dia pikir saya adalah alat, saya akan menjadi alat yang tajam. Saya akan menggunakan posisinya, koneksinya, untuk mencari tahu kebenaran mutlak tentang semua yang terjadi pada orang tua saya. Dan kemudian saya akan bebas."
Céleste tersenyum lembut. "Itu semangat yang saya kenal, Nona Amélie. Saya tidak bisa membantu Anda melawan Tahta, tetapi saya bisa membantu Anda mencari tahu kebenaran. Rahasia selalu meninggalkan jejak, bahkan di Versailles."
Sœur Céleste memberikan Amélie sebuah liontin perak sederhana—lambang kecil dari bunga iris.
"Jika Anda dalam bahaya, kirimkan ini ke biara dengan pesan. Saya akan mengirimkannya kepada seseorang di istana. Seseorang yang tahu bagaimana Valois bekerja di balik layar. Orang itu... adalah wanita yang Gautier cintai."
...*****...