NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Debu Masa Lalu

Valaria nama itu kini bukan lagi sekadar label asing bagi jiwa yang mendiaminya. Ria, sang tycoon dari masa depan, telah sepenuhnya menanggalkan identitas lamanya di permukaan. Di dunia barunya ini, ia tidak lagi bergumam, "Aku adalah Ria." Sebaliknya, ia mulai menanggapi panggilan "Valaria" dengan kesadaran penuh. Ia adalah entitas baru yang lahir dari abu kejayaan masa depan, seorang wanita dengan intuisi bisnis tajam yang terperangkap dalam raga gadis desa yang naif.

Otaknya yang cerdas segera bekerja seperti mesin pemroses data. Sambil berjalan, ia menyusun spreadsheet mental berdasarkan informasi yang ia kumpulkan dari percakapan orang tuanya dan pengamatan sekilas pada lingkungan sekitar.

Data Ekonomi Desa Panda (Estimasi 1997):

• Sayuran Hijau (Kangkung/Bayam): Rp100 – Rp300 per ikat.

• Cabai Merah Keriting: Rp1.000 – Rp3.000 per kg.

• Bawang Merah: Rp1.500 – Rp3.000 per kg.

• Bahan Bakar: Sangat murah, hampir tak terasa di kantong.

• Kebutuhan Sekolah: Rp500 – Rp1.000.

Angka-angka ini adalah senjata rahasia Valaria. Bagi orang lain, ini hanyalah harga pasar yang fluktuatif. Namun bagi Valaria, ini adalah peta harta karun. Ia tahu bahwa dalam hitungan bulan, badai moneter akan menghantam. Investasi sekecil apa pun pada komoditas pangan saat ini akan meledak menjadi keuntungan ribuan persen saat krisis distribusi melanda nanti.

Pagi itu, udara Desa Panda terasa seperti kristal; dingin, bersih, dan menyegarkan paru-paru. Aroma embun yang menguap dari tanah merah berpadu dengan wangi bunga kamboja yang rontok di pekarangan tetangga. Valaria mengenakan kaos katun usang yang sudah tipis dan celana panjang longgar. Pakaian ini terasa kasar di kulitnya yang dulu terbiasa dengan kain sutra, namun ia harus mengakui bahwa pakaian ini sangat praktis untuk bekerja.

Arjun, sang ayah memimpin di depan, langkahnya mantap meski punggungnya sedikit membungkuk karena beban hidup. Di sampingnya, Raka berjalan sambil sesekali melirik kakaknya dengan pandangan protektif. Ratri, sang ibu, berjalan tepat di sisi Valaria, sesekali menyentuh pundak putrinya seolah ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar ada di sana dan tidak akan menghilang lagi.

"Kita akan memanen daun singkong untuk diikat dan beberapa kacang panjang," jelas Arjun tanpa menoleh. "Daun singkong memang murah, tapi laku keras di pasar pagi. Kita juga akan memeriksa ubi singkong, siapa tahu sudah ada yang siap dicabut."

"Valaria, jalan di sini licin setelah hujan semalam. Hati-hati, Nak," bisik Ratri dengan nada penuh kecemasan. Mereka masih menganggap Valaria sebagai "pasien" yang rapuh akibat amnesia yang ia derita.

Valaria mengangguk kecil. Ia memperhatikan jalan setapak yang diapit pohon kelapa dan semak belukar rimbun. Pemandangan ini begitu damai, sebuah kontras yang tajam dengan polusi cahaya Jakarta tahun 2030. Namun, ia tahu kedamaian ini hanyalah lapisan tipis yang rawan pecah.

Saat mereka melewati tikungan tajam yang dinaungi pohon randu raksasa, suasana tenang itu mendadak menguap. Dua sosok muncul dari balik batang pohon, seolah memang sudah menunggu kedatangan mereka.

Seorang wanita berdiri dengan pose menantang. Rambutnya pendek, diwarnai kemerahan dengan gaya yang berusaha tampak modis namun terlihat norak di mata Valaria. Di wajahnya terukir senyum sombong yang mengandung racun.

Di sampingnya, berdiri seorang pria tinggi kekar dengan kemeja garis-garis yang disetrika rapi sebuah kemewahan kecil di desa ini. Pria itu merangkul pinggang si wanita dengan posesif, matanya menatap rombongan keluarga Arjun dengan tatapan penuh kemenangan yang memuakkan.

Arjun seketika berhenti. Tubuhnya menegang, beralih posisi menjadi tameng di depan Valaria. Ratri pun menyusul, matanya menyala dengan amarah yang tertahan.

"Laksmin. Damian," desis Arjun. Suaranya rendah, sarat dengan peringatan.

Valaria mengerutkan dahi di balik punggung ayahnya. "Siapa mereka?" tanyanya dalam hati. Namun, sebelum otaknya bertanya lebih jauh, sebuah denyutan dingin menghantam kepalanya. Fragmentasi memori Valaria yang asli muncul seperti kilatan listrik: Janji-janji manis di bawah bulan... Uang tabungan yang diserahkan dengan tangan gemetar... Isak tangis saat melihat mereka berdua di pasar... Pengkhianatan.

Oh. Jadi ini mereka. Damian, pria parasit yang telah memeras cinta dan harta Valaria yang asli, serta Laksmin, wanita yang selalu merasa bersaing dan ingin menghancurkan harga diri Valaria.

Laksmin menyeringai saat melihat Valaria yang bersembunyi di balik punggung ayahnya. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar hingga ke rumah tetangga sebelah.

"Oh, lihat, Damian! Si 'Valaria Bodoh' ternyata sudah bangun dari tidurnya," ejek Laksmin dengan tawa hambar. "Aku dengar kamu sakit karena tidak kuat menerima kenyataan kalau Damian lebih memilihku, ya? Kasihan sekali. Ternyata otakmu memang selemah perasaanmu."

Damian hanya tersenyum tipis, senyum yang dulunya dianggap Valaria sebagai lambang ketampanan, namun kini hanya terlihat seperti seringai buaya darat di mata Ria sang tycoon. "Sudahlah, Laksmin. Valaria memang selalu lemah. Sekarang aku sudah mendapatkan yang lebih baik darinya."

Bagi keluarga Arjun, kata-kata itu adalah belati yang menusuk. Ratri hampir menangis karena frustrasi, sementara tangan Arjun mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.

Namun, Valaria yang sekarang bukanlah Valaria yang lama. Di matanya, Laksmin dan Damian bukan lagi subjek emosional, melainkan gangguan kecil yang tidak efisien. Ia menatap mereka dengan wajah datar, dingin, dan benar-benar kosong. Tidak ada cemburu, tidak ada amarah. Hanya rasa muak pada sebuah drama picisan yang sangat murahan.

Valaria melangkah maju, keluar dari perlindungan ayahnya.

"Valaria, jangan dengarkan mereka!" seru Ratri, mencoba menarik lengan putrinya.

Namun Valaria memberikan isyarat tenang dengan tangannya. Ia berdiri tegak, memandang Laksmin dan Damian seolah-olah mereka adalah semut yang menghalangi jalannya.

"Maaf, Anda berdua siapa?" tanya Valaria dengan nada yang sangat formal, datar, dan tidak terpengaruh.

Laksmin seketika terdiam. Kalimat ejekan yang sudah ia siapkan di ujung lidah seolah tertelan kembali. Damian pun mengerutkan kening, merasa ada yang salah dengan tatapan mata Valaria yang biasanya penuh duka, kini justru menatapnya seperti orang asing yang tak berarti.

"Apa kau bilang?" desis Laksmin. "Jangan berpura-pura lupa, Valaria!"

"Anda menghalangi jalan setapak ini," lanjut Valaria, suaranya tetap tenang namun berwibawa, mirip seorang CEO yang sedang menegur staf keamanan yang salah posisi. "Dan Anda menyebutkan nama-nama yang tidak ada dalam ingatan saya. Jika tujuan Anda berdiri di sini hanya untuk memamerkan hubungan asmara, silakan lanjutkan. Tapi tolong, menepi sedikit. Kami punya pekerjaan yang jauh lebih penting daripada menonton pertunjukan gratis Anda."

Valaria kemudian menoleh ke arah orang tuanya yang terpaku. "Ayah, Ibu, kenapa kita membuang waktu untuk orang asing ini? Matahari mulai terik, dan kacang panjangnya harus segera sampai di pasar, bukan?"

Tanpa menunggu jawaban, Valaria memutar tubuhnya dan melanjutkan langkah, melewati Laksmin dan Damian seolah-olah mereka adalah udara kosong.

Keheningan yang canggung menyelimuti tempat itu. Laksmin tampak gemetar karena marah; senjata terkuatnya yaitu rasa rendah diri Valaria ternyata tumpul total. Sementara Damian merasa harga dirinya terjun bebas. Diabaikan sepenuhnya oleh wanita yang dulu memujanya ternyata jauh lebih menyakitkan daripada dimarahi.

Raka, yang melihat kejadian itu, tiba-tiba tersadar. "Benar! Kakak lupa ingatan! Kalian tidak penting lagi!" seru Raka dengan tawa lega yang meledak.

Ratri menyeka matanya, namun kali ini ia tersenyum bangga. "Kalian dengar itu? Anakku bahkan tidak tahu siapa kalian! Pergi sana, cari korban lain!"

Arjun mendengus puas sebelum menyusul langkah putrinya. "Minggir! Kalian hanya sampah di jalan kami!"

Laksmin berteriak histeris di belakang mereka, "Damian! Lihat dia! Dia pasti berpura-pura agar kita cemburu!" namun suaranya hanya memantul di antara batang pohon randu. Damian menarik tangan Laksmin untuk pergi, wajahnya menunjukkan kekalahan telak.

Setelah mereka cukup jauh, Ratri menggenggam tangan Valaria dengan haru. "Terima kasih, Nak. Ibu sangat lega melihatmu tidak menangis lagi karena mereka."

Valaria hanya tersenyum tipis. "Mereka hanyalah gangguan kecil, Bu. Fokus kita adalah ladang. Ada banyak hal yang harus kita siapkan sebelum dunia berubah."

Dalam hati, Ria sang tycoon membuat catatan: Laksmin dan Damian. Ancaman minor. Fokus utama tetap pada akumulasi aset sebelum krisis ekonomi melanda.

Jalan setapak menuju ladang kini terasa lebih ringan. Udara kembali dipenuhi aroma kesederhanaan Desa Panda. Valaria tahu, ini hanyalah langkah awal. Ia baru saja memenangkan pertempuran kecil, namun perang yang sesungguhnya perang melawan kemiskinan dan krisis moneter 1998 baru saja dimulai.

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!