Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02. PWB
...~•Happy Reading•~...
Para medis yang tiba di tempat kejadian kecelakaan berusaha menolong korban yang meninggal atau terluka berat dan ringan di pinggir jalan untuk dibawa ke ambulans.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah mobil Ceska yang terbakar. Semua orang berteriak, menjerit dan berlarian menjauh. Agar tidak terkena pecahan kaca atau serpihan dari mobil Ceska.
Para medis yang sedang berusaha menolong korban jadi terdiam. Mereka terpaku melihat api yang terus bernyala dengan jantung berdegup kuat sambil pegang tandu darurat.
Kendaraan yang dekat mobil Ceska mulai ikut terbakar. Tempat kejadian jadi mencengkam menjelang senja yang redup. Para medis bergerak cepat menyelamatkan yang bisa diselamatkan.
Petugas polisi berusaha mencegah orang mendekat dan mengangkat korban luka ringan untuk menjauh. "Ayo, lekas bawa korban ini ke ambulans." Teriak salah seorang petugas medis yang mendekat dan melihat Ceska masih bernafas.
Petugas medis yang menolong Ceska mengangkat tandu dan berlari cepat menjauh dari kobaran api. Mereka mengatasi rasa takut dan berlomba dengan waktu, agar bisa menyelamatkan korban.
Dalam situasi kacau, bingung dan panik, Ceska yang terbaring di tandu darurat berlatar belakang kobaran api, merasakan sesuatu yang aneh. Tiba-tiba dia tidak merasa sakit yang menekan dada, saat keluar dari tubuhnya yang berlumuran darah.
Setelah berada di atas tubuh, dia seakan diangkat menjauh tempat kecelakaan. Makin tinggi terangkat, dia hanya melihat hiruk pikuk orang-orang berlarian di antara lampu-lampu yang berkelap-kelip dan bunyi sirine ambulans datang dan pergi.
Semakin tinggi terangkat, semakin sunyi. Tidak lagi terdengar raungan bunyi sirine ambulans. Langit sore yang mulai temaran dan pakaiannya yang berlumuran darah perlahan memudar.
Dia seakan digendong oleh tangan yang kuat. Hingga tubuhnya melayang melewati langit senja berwarna orange kemerahan.
Saat tubuhnya diselubungi awan, semua luka ditubuhnya sembuh seketika dan pakaiannya berganti dengan yang baru.
Ceska tertegun melihat awan perlahan beranjak dan kakinya menapak di suatu tempat yang terang dan sejuk. Sebuah taman hijau seluas mata memandang membentang di depannya.
Kakinya terus melangkah didorong oleh rasa ingin tahu dan penasaran, ketika melihat taman hijau berganti dengan kebun ditanami beraneka bunga indah.
Dia memegang dada dengan kedua tangan, melihat berbagai jenis bunga warna-warni yang belum pernah dilihat di mana pun.
Sekonyong-konyong bau harum bunga melingkupi diri dan sekitarnya. Pakaiannya berganti jadi warna putih bersih, panjang menyentuh kaki.
Ceska jadi terpesona dengan lingkungan yang begitu tenang, menyenangkan dan menakjubkan. Tubuhnya terasa rileks dan tenang. Dia merentangkan kedua tangan sambil melangkah dan menghirup harum semerbak bunga memenuhi rongga dada.
Suatu rasa tentram yang belum pernah dirasakan menguasai hati dan pikirannya. Hingga pandangannya tidak beranjak dari pemandangan yang sangat memukau mata.
Dia terus berjalan menulusuri taman tanpa merasa lelah. Setiap sudut taman memperlihatkan keindahan yang berbeda. Dia menikmati sepuasnya, agar tidak ada yang terlewatkan.
Tiba-tiba keindahan taman dan harum bunga perlahan menguap. Diganti oleh sebuah pintu putih besar dan tinggi, seakan tidak berujung.
Ceska berdiri diam, karena melihat di kedua belah pintu tertutup ada tulisan yang tidak dimengerti. Sementara dia berpikir, muncul dua pria berpakaian putih bersih dan mengkilap sampai ke kaki.
Mereka berdiri tegap di kiri kanan pintu seperti penjaga yang memegang tongkat berwarna emas yang menyilaukan mata. Hatinya terdorong mendekat, ingin mengetahui apa yang ada di balik pintu putih. Karena bagian bawah pintu bersinar keemasan.
"Apakah saya bisa masuk ke dalam, tuan?" Ceska coba bertanya, sopan dan ramah.
"Perlihatkan tiketmu." Perintah tegas penjaga di sebelah kiri.
"Tiket? Saya tidak punya tiket, tuan." Jawab Ceska sambil melihat pakaiannya yang polos, tidak berkantong dan dia tidak membawa apa pun.
"Kalau tidak punya tiket, kau tidak akan berada di sini. Periksa lagi." Perintahnya lagi, tidak kalah tegas.
Ceska jadi mengerti maksud penjaga itu. Dia pasti punya tiket, sehingga bisa berada di tempat itu. Tapi karena merasa tidak ada apa pun padanya, dia heran dan membatin. 'Bapak-bapak penjaga ini gimana? Aku sendiri tidak tahu, bagimana bisa ada di sini.' Ceska protes dalam hati.
Walau heran dan bingung, dia berusaha mencari tiket yang dimaksudkan penjaga. Karena dia ingin masuk melihat yang ada di balik pintu.
"Tidak seorang pun bisa sampai di tempat ini tanpa tiket." Penjaga yang di sebelah kanan menegaskan dengan suara bagaikan desir air mengalir. Ceska tercengang mendengar yang dikatakan, seakan mengetahui protesnya.
"Buka tanganmu...!" Perintah penjaga yang di sebelah kiri, karena dia masih diam. Sontak Ceska membuka kedua tangannya.
Dia terkejut melihat dalam telapak tangannya ada menempel seperti tiket, yang dipotong dua. Satu di sebelah kiri dan satu di sebelah kanan.
Masing-masing menempel pada telapak tangan dengan berbagai simbol, angka dan tulisan yang tidak dimengerti. Tapi dia yakin, kedua potongan itu berhubungan satu dengan yang lain, karena tulisan yang tertera di tiket yang ada di telapak tangan kiri dan kanan saling berhubungan.
Yang membuat dia heran, simbol, angka dan tulisan, juga warnanya berbeda dan samar. Masing-masing warna sangat unik dan dia belum pernah melihat warna seperti itu.
Ceska terus melihat kedua potongan tiket tanpa beralih dan coba menggunakan kecerdasannya untuk mengurai dan mengaitkan keduanya. Tapi makin dicoba, makin tidak jelas dan tidak dimengerti.
"Kau belum bisa masuk ke tempat ini. Silahkan kembali lanjutkan tugasmu hingga tiket itu jelas." Ucap penjaga yang di sebelah kiri. "Jika sudah jelas, kau akan terima reward." Ucapnya lagi serius dan tegas.
Sedangkan penjaga di sebelah kanan mendekati Ceska yang masih tercengang melihat kedua tiket yang berkedap-kedip di dalam telapak tangannya.
Penjaga itu meletakan tangan di atas kedua potongan tiket. Seketika potongan tiket dalam tangan Ceska terurai, jadi serbuk warna-warni berwarna pelangi. Perlahan menguap menjadi asap pelangi, meninggalkan rasa panas dalam telapak tangannya.
Seiring serpihan tiket membumbung tinggi, tampak pintu putih besar dan tinggi perlahan terangkat, disusul oleh kedua penjaga. Ceska merasa tubuhnya melayang bersamaan dengan kedua penjaga menghilang dari pandangan.
Ceska terkejut oleh bulir air dingin membasahi wajahnya. "Bangun perempuan pemalas." Terdengar suara keras seorang wanita bersamaan dengan banyak percikan air.
Sehingga Ceska mengangkat tangan melindungi wajah sambil memicingkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang redup. Agar bisa melihat sumber air dan suara.
"Bangun pemalas. Kau kira bisa makan gratis? Bangun...!" Suara bentakan garang disertai dengan percikan air yang lebih banyak, hingga menusuk pori-porinya oleh rasa dingin.
Walau tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan ada di mana, naluri untuk melindungi diri tidak bisa dicegah.
Ceska mengangkat tangan menangkis siraman air, disertai gerakan refleks kaki menendang. Maka terdengar bunyi dentuman pada pintu dan disertai dengan jeritan.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○♡○•~...