NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Isekai
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 1: Akhir Dari Hidup Membosankan, Awal Dari Hidup Baru

Nia POV

Ini benar-benar menyebalkan.

Kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini?

Padahal aku ingin menikmati waktuku seperti yang lain, menikmati waktuku untuk makan siang untuk mengisi perutku yang kosong.

Argh! Sial. Aku benar-benar tidak tahan lagi.

Aku yang beranjak dari kursi di meja kerjaku keluar dari ruangan yang membuatku terdiam di tempat menyadari kalau ia tetap ada didekat tangga seolah-olah mengawasi aku.

"Mau kemana kau, Takamiya?"

Orang ini....

"Kembali ke dalam! Kerjakan tugas yang kuberikan padamu!"

"Baik."

Ingin sekali aku melawan perkataannya dengan mengatakan bahwa aku keberatan, tapi aku tidak bisa karena aku tetap membutuhkan pekerjaan ini.

Jika tidak, mungkin aku sudah lama keluar dari tempat ini sejak aku diperlakukan seperti ini olehnya.

•••••

Begitu Nia kembali masuk ke ruangannya, senyum terlihat lebar dibibir Yoga seakan-akan ia senang kalau Nia menetap disini, dibawah kendalinya yang fokus pada pekerjaannya.

Nia yang menatap ke layar monitor terpaksa untuk mengerjakan tugas yang seharusnya bukan menjadi tugas untuk pekerjaannya sebagai customer service karena ini tugas khusus untuk sekretaris manager, bukan untuknya.

"Baiklah, mari selesaikan ini."

Diperhatikan dengan seksama di layar monitor, Nia melihat susunan daftar yang akan dihadiri oleh Yoga di minggu depan.

Mulai dari; seminar untuk mewakili pusat di Perusahaan Fasde, pembukaan untuk cabang baru, bertemu klien terhormat, menghadiri acara pesta pernikahan pemilik perusahaan, dan yang terakhir adalah menghadiri tamu terhormat dari Keluarga Takamiya yang membuat Nia terkejut atas hal ini.

"Apa maksudnya ini? Kenapa ada nama keluargaku?"

Tanpa berpikir panjang, Nia mengambil ponsel untuk menghubungi ibunya karena hanya ia satu-satunya keluarga yang dimilikinya setelah ayahnya meninggal karena sakit karena bekerja terlalu keras.

"Halo, Ibu. Apa maksud pertemuan dengan Takamiya dengan Igashi? Apakah ada sesuatu yang terjadi."

"Ah, Nia sayangku. Ya, kamu benar."

Dugaan Nia benar-benar terjadi.

"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu melakukan pertemuan dengan Keluarga Igashi?"

"Ibu hanya ingin masa depanmu terjamin. Kamu bisa menjadi kaya raya jika menikahi Igashi Yoga."

Tidak rela mendengar perkataan ibunya dari balik panggilan, Nia menahan amarahnya untuk tidak membentaknya meskipun ia sekarang berada di ambang batas dari emosinya.

"Tapi, kenapa Ibu tidak bilang padaku?"

"Ibu tidak bilang karena Ibu tahu kalau kamu membencinya, Ibu tidak ingin semuanya berantakan."

Padahal Nia ingin ibunya jujur padanya, bukan menyembunyikan ini darinya yang membuatnya kecewa sebagai putrinya.

"Lagipula jika kamu terus-menerus bekerja, Ibu takut kamu berakhir sama seperti Ayahmu yang meninggal karena terlalu bekerja keras."

Memang, Nia menyadari kalau ia bekerja terlalu keras bukan untuk dirinya melainkan keluarganya, terutama untuk adik lelakinya berusia 20 tahun yang sedang berkuliah, sedangkan adik perempuannya berusia 15 tahun yang sedang sekolah di SMA membuat Nia harus menanggung beban tersebut.

Tapi, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan siapapun yang membuatnya keberatan atas perkataan ibunya.

"Tapi, aku bisa melakukannya. Aku bisa beristirahat tanpa perlu dijodohkan."

"Sayang, dengarkan aku. Ibu melakukannya ini untuk–"

"Tidak! Ibu tidak melakukan ini untukku! Ibu melakukannya karena kekayaan dan jabatannya, bukan karena aku, putrimu!"

Amarah meledak yang langsung diungkapkan pada ibunya, Nia segera menutup panggilan karena tidak mau mendengar alasan darinya lagi.

"Sial. Aku harus lakukan sesuatu."

Tanpa menunda-nunda lagi, Nia yang menyusun daftar acara pada Yoga memastikan untuk menghapus acara terakhir karena ia keberatan dan tidak setuju atas hal ini.

"Aku lebih baik mati daripada berakhir menjadi istrinya."

Hanya itu yang Nia pikirkan saat menghapus susunan acara untuk pertemuan antara Keluarga Takamiya dengan Igashi, berpikir kalau kematian lebih baik daripada menjadi istrinya yang membuat Nia merasa jijik untuk membayangkannya.

Tiga puluh menit berlalu, Nia yang keluar dari ruangan memberikan flashdisk yang sebelumnya diterima dari Yoga padanya untuk dikembalikan kepadanya.

"Ini, aku sudah menyelesaikannya."

"Bagus. Jadi, bagaimana dengan pertemuan kita nanti?"

"Aku tolak!"

"Huh?"

Bingung kenapa Nia tidak setuju atas proposal pertemuan dengan keluarganya, menurut Yoga ini merupakan kesempatan Nia untuk menjadi kaya-raya tanpa perlu bekerja keras seperti ini.

"Aku tidak sudi menikah denganmu. Jangankan menikah, aku lebih baik hidup dengan caraku sendiri."

"Begitu ya."

Tahu kalau tekad Nia tidak bisa digoyahkan, dengan terpaksa Yoga menyerah. Ia kembali ke lantai empat tanpa mengatakan apapun dari lantai dua, meninggalkan Nia seorang diri.

"Ini lebih baik."

Meyakinkan dirinya, Nia tahu betul kalau keputusannya yang terbaik.

Tidak peduli apakah adik lelaki maupun perempuannya membencinya atau tidak karena perkataannya pada ibunya nanti, Nia hanya ingin hidup dengan caranya sendiri tanpa dikendalikan oleh orang lain.

Lagipula menurut Nia, cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta datang pada orang yang tepat, orang yang benar-benar dicintai, bukan karena orang lain yang memiliki kekayaan maupun jabatan, apalagi dengan ketampanan.

Jikalau orang lain hanya memandang hal tersebut, hubungan orang tersebut dengan orang lain tidak akan bertahan lama melainkan akan putus lebih cepat daripada orang yang saling mencintai.

•••••

Di pukul 01:00, para karyawan yang selesai beristirahat untuk makan siang kembali ke perusahaan, terkecuali Nia yang tetap mengerjakan tugas lain yang dikirimkan oleh Yoga padanya tanpa henti.

Meskipun ada rasa jengkel dan benci, Nia berusaha untuk tetap profesional tanpa mengikuti emosinya, mengerjakan tugasnya dengan baik tanpa mengeluh pada siapapun meskipun hatinya selalu mengumpat atas perlakuan Yoga padanya.

Disaat Rin dan Luna memasuki ruangan, mereka yang terkejut melihat Nia tetap mengerjakan tugasnya tanpa henti dari Yoga, merasa kasihan jadi mereka berdua memberikan roti dan cup ramen untuk membuat Nia menghilangkan rasa lapar dengan meletakkannya di meja.

Mengetahui temannya meletakkan itu di mejanya, Nia yang terkejut hanya bisa tersenyum pada mereka sebagai bentuk terimakasih karena kepedulian mereka padanya.

"Ingat, jangan lupa untuk makan."

"Itu benar. Lebih baik isi perutmu daripada kelaparan."

"Ya, kalian benar."

Menunda sesaat pekerjaannya, Nia pergi ke dapur di lantai dasar untuk menyeduh ramen di cup, membawanya kembali ke mejanya di ruangannya di lantai dua.

Berbeda dengan perlakuan dari temannya, Reina yang menatap tajam padanya mengejek Nia.

"Seperti biasanya ya, karyawan yang mendedikasikan diri pada pekerjaan hingga lupa untuk makan siang."

Daripada meladeni Reina, Nia memilih hanya membalas dengan senyuman kecil tanpa mengatakan apapun, ia mengganjal laparnya dengan sebungkus roti dari Rin selagi menunggu ramen cup nya matang.

"Wanita ini...."

Kesal karena diacuhkan olehnya, padahal Reina sudah berusaha untuk memancing Nia untuk emosi untuk meledakkan amarah padanya namun gagal, membuatnya bingung kenapa Nia tidak melakukan hal tersebut.

Karena tahu Reina, Nia bisa saja meledakkan amarahnya padanya untuk membuatnya lega tapi ia malah tidak melakukannya, membuatnya penasaran kenapa Nia tidak melakukannya melainkan menahannya.

"Oh... sepertinya seseorang jengkel karena tidak bisa meledek Nia."

"Tsk...."

Kesal karena ejekan dari Luna, tatapan tajam Reina diarahkan padanya membuat Luna yang menikmati menggoda Reina menutup mulutnya sendiri dengan wajah konyol.

"Ups... sepertinya aku keceplosan."

"Luna, hentikan itu!"

Tidak ingin Luna malah memperkeruh masalah yang ada, dengan sukarela Nia menatap ke Reina dengan wajah tulus selagi menundukkan kepalanya seolah-olah meminta maaf.

"Tampaknya kamu terlalu baik, Nia."

"Ya, aku setuju pada Rin."

"Ini bukan soal baik atau tidak, ini adalah hal yang kupikirkan sejak lama."

Mendengar perkataan Nia pada kedua temannya membuat Reina yang penasaran, menatap Nia.

"Apa yang kamu pikirkan sejak lama?"

"Itu... Bagaimana mengatakannya ya...."

Bingung bagaimana menjelaskannya pada Reina, Nia tidak tahu apakah Reina akan mempercayai kata-katanya atau tidak, ia memegang hatinya bertekad untuk memberitahunya agar kesalahpahaman tidak terjadi lagi.

"Sebetulnya aku tidak memiliki perasaan apapun pada Ishida, hanya saja Ishida mengejar aku."

"Pembohong. Mana mungkin Ishida mengejar mu?"

Helaan nafas panjang terdengar dari Nia, ia sudah menduga kalau Reina takkan mempercayai kata-katanya begitu saja.

"Lagipula jika aku mencintai Ishida, aku sudah sejak lama merebutnya darimu, bukan?"

"Itu...."

Tidak bisa membantah perkataan Nia, menurut Reina apa yang dikatakan oleh Nia ada benarnya.

Jika Nia sudah lama mencintai Jun, Nia sudah merebut Jun dari Reina sejak awal yang dapat membuat hubungan teman masa kecil diantara mereka putus karena cinta Nia pada Jun. Tapi, Reina tid melihat Nia tertarik pada Jun sama sekali melainkan Jun yang tertarik padanya.

"Lagipula aku tak mungkin merebut orang lain dari rekan kerjaku, itu tidak masuk akal."

Kedua teman Nia mengangguk, mereka menatap ke Reina.

"Itu benar."

"Jika Nia melakukannya, ia pasti bersungguh-sungguh, tapi ia tidak benar-benar melakukannya sama sekali."

Mendengar perkataan dari Rin dan Luna, Reina merasa kalau apa yang mereka katakan ada benarnya membuatnya merasa bersalah, menyesal karena telah menjadikan Nia sebagai saingannya karena merebut Jun, teman masa kecilnya darinya.

"Aku benar-benar minta maaf. Awalnya aku berpikir kalau kamu adalah orang buruk yang merebut Jun dariku, tapi dugaan aku salah."

"Tidak apa-apa."

Nia melambaikan tangan seolah-olah tidak mempermasalahkan hal sebelumnya, ia berusaha meyakinkan Reina agar dirinya tidak bersalah padanya.

"Lagipula jika aku ada di posisimu, mungkin aku akan berpikiran sama sepertimu."

Keduanya saling tersenyum, tidak ada lagi permusuhan diantara mereka melainkan saling memahami satu sama lain.

"Sepertinya badai baru saja berlalu."

"Ya, kamu benar."

Menyaksikan teman mereka, Nia yang sudah berbaikan dengan Reina membuat Luna dan Rin hanya tersenyum, senang melihat Nia tidak lagi diganggu dan diejek oleh Reina.

•••••

Pukul 10:00 malam, semua jalanan mulai sepi karena semua orang yang pulang dari kerja sudah pulang sejak pukul 07:00, sedangkan orang-orang yang nongkrong di pukul 08:00-09:00 sudah kembali ke rumah mereka, menyisakan beberapa lalu-lalang yang pergi ke supermarket untuk berburu diskonan.

"Lelah sekali."

Seluruh tubuh Nia terasa lemas, pegal dan sakit seolah-olah ia merasakan beban yang dipikulnya terlalu berat melebihi beban yang dipikul oleh ayahnya sewaktu ia berusia 10 tahun lalu.

Hari itu, sepuluh tahun lalu sebelum ayahnya jatuh sakit, Nia memperhatikan punggung dari sosok ayahnya yang gagah yang tidak terlihat lelah, bekerja sendirian sebagai pedagang yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.

Meskipun beban yang dipikulnya terlalu berat karena menafkahi hidup untuk keluarganya dan Nia, beliau tidak pernah putus asa dan menyerah dalam berdagang membuatnya selalu tersenyum pada siapapun, membuat Nia selalu menghormatinya.

"Ingatlah ini, Sayangku. Bukan tentang siapa yang memikul beban dan tanggung jawab melainkan ini soal siapa yang bisa diandalkan dan bisa dijadikan sebagai pemimpin untuk mereka."

Kata-kata itu tetap teringat jelas oleh Nia, membuat Nia yang sekarang tidak pernah menyerah maupun putus asa, ia akan melakukan apapun untuk dapat bertahan di tempat kerjanya.

Begitu memasuki gerbang apartemen, kaki Nia terasa semakin lemah tidak sanggup berdiri membuatnya seakan-akan ingin menyerah namun ia memaksa untuk melangkah.

Satu-persatu anak tangga dinaikinya, membuat kakinya menjerit keras karena kelelahan karena dipaksa untuk berjalan oleh Nia. Tak hanya kakinya, tubuhnya yang semakin lelah, pegal dan sakit membuatnya tidak sanggup lagi untuk berdiri.

"Aku pulang."

Disaat memasuki apartemen, Nia tidak melepaskan setelan jas putih dan rok putih sepanjang lutut, ia malah berbaring di sofa dengan mata yang semakin tertutup, tidak sanggup untuk menjaga matanya tetap tersadar.

"Ah, aku lelah sekali."

Saat matanya terpejam, Nia mengingat masa lalunya sebagai gadis SMA.

Dimana saat itu, ia populer di kelasnya sebagai murid terpintar. Tak hanya kepintarannya, ia bahkan dikenal sebagai gadis bermartabat tanpa siapapun yang menerimanya sebagai cintanya membuatnya dikenal sebagai ratu dingin.

Padahal kenyataannya, Nia tidak ingin terlibat dalam percintaan melainkan ia hanya fokus pada hobinya sebagai otaku, dimana ia menghabiskan waktu dengan membaca novel dan komik, menonton acara anime yang disukainya melalui televisi maupun ponselnya.

"Andaikan Isekai benar-benar ada, mungkin aku bisa merasakan apa rasanya berada di Isekai."

Membayangkan bagaimana ia berada di isekai, hal pertama yang dipikirkan oleh Nia saat itu adalah langkahnya sebagai seorang petualang, mendapatkan rekan dalam perjalanan, dan berpetualang bersama mereka untuk mewujudkan impian mereka dalam perjalanan.

Tapi, hal tersebut berakhir sebagai angan-angan sejak Nia beranjak dewasa.

Dirinya mengutuk dirinya yang dulu sewaktu SMA, berpikir kalau isekai hanya imajinasi seseorang, tidak pernah ada sejak awal melainkan hanya angan-angan untuk melarikan diri.

•••••

Nia POV

"Hei Sayang, dia terlihat imut, bukan?"

"Ya, dia terlihat imut sepertimu."

"Awww... kamu bisa saja, Sayangku."

Kenapa berisik sekali? Padahal aku ingin tetap tidur, aku benar-benar lelah.

Begitu aku membuka mataku, aku terkejut saat melihat mereka menatapku.

Mereka, sepasang kekasih muda yang aku yakin usianya sekitar 30 tahunan karena mereka masih muda. Hanya saja aku bingung kenapa mereka menatapku, terutama mereka menggendongku.

Memang, aku akui kalau diriku berat sebesar 43 kg, tapi aku bingung kenapa mereka dengan mudahnya mengangkat tubuhku tanpa kesulitan sama sekali.

"Hei Sayang, mau kita beri nama siapa putri kita?"

Putri? Tunggu! Apa maksudmu?

Aku yang mengulurkan tangan kearah mereka terkejut melihat tanganku kecil seperti tangan bayi, membuatku tidak memahami apa yang terjadi padaku.

Mustahil. Kenapa aku jadi bayi? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Kalau tidak salah kuingat, aku tidur setelah tubuhku terasa lelah melebihi sebelumnya. Rasa pegal, lemah, capek, semua kurasakan malam itu sehingga jalan dan berdiri saja tidak kuat.

Tapi, kenapa aku bisa ada disini?

Ini yang tidak aku pahami.

Mungkinkah ini...

Tidak. Itu tidak mungkin, kan?

Mana mungkin orang sepertiku reinkarnasi ke dunia lain setelah kematian aku. Itu benar-benar tidak masuk akal untuk orang yang sudah menerima kenyataan pahit di dunia nyata sepertiku.

Lalu, kenapa aku bisa menjadi bayi disini, terutama dengan digendong oleh mereka yang kurasa adalah Ayah dan Ibu baruku?

Ini benar-benar tidak masuk akal.

Tapi, mana mungkin hal seperti ini bisa dijelaskan secara logika, bukan?

"Bagaimana kalau kita namai Alice? Dengan begitu, kita bisa melihat putri kita tumbuh di keluarga kita, Nishimura Alice."

"Ah, kurasa itu tidak masalah. Itu benar-benar nama yang bagus."

Tunggu sebentar! Jangan asal menentukan namaku begitu saja!

Sial. Aku tidak bisa mengatakan apapun melainkan suaraku yang keluar hanya suara bayi, bukan suara yang biasa dikatakan oleh orang dewasa.

•••••

Kembali ke dunia asal Nia, Jepang, dimana kematian Takamiya Nia baru diberitakan setelah beberapa hari ditemukan meninggal didalam apartemen yang tidur di sofa karena para tetangga mencium bau bangkai dari dalam apartemen Nia.

Para polisi yang menggeledah dan melakukan olah TKP tidak menemukan Nia diracuni maupun dibunuh, membuat keluarga Nia, Takamiya, Ibunya terisak tangis yang meledak begitu mengetahui putrinya meninggal karena kelelahan bekerja.

Sementara itu, kedua adik Nia, adik lelaki yang masih kuliah dan adik perempuannya yang masih SMA, keduanya ikut menangis dalam pelukan mereka terhadap ibunya, tidak disangka kalau mereka kehilangan kakak perempuan yang mereka cintai dan sayangi selama ini yang selalu peduli pada mereka berdua.

Ibunya yang tetap menangis, menyesal dalam hati karena tidak memperlakukan Nia dengan baik.

Ia selalu memaksa Nia untuk menikah meskipun putrinya keberatan atas pernikahan, membuat Nia membentaknya sebelumnya yang dirinya tidak disangka kalau putrinya berakhir mengenaskan malam itu.

Disaat pemakaman diadakan, kedua teman Nia, Luna dan Rin yang menghadiri acara pemakaman Nia turut berdukacita atas kematian sahabat mereka, Nia.

Awalnya mereka tidak menyangka kalau Nia meninggal saat dikabarkan oleh Ibunya Nia, tapi begitu tahu melalui berita membuat mereka shock karena mereka tahu penyebab Nia meninggal akibat kelelahan karena bekerja rodi di perusahaan terus-menerus tanpa diberikan istirahat sedikitpun.

Diantara orang-orang yang hadir dalam pemakaman, Reina ikut bersedih atas kematian Nia.

Untungnya ia tidak membenci dan marah pada Nia lagi, ia sudah berteman namun siapa sangka pertemanan itu singkat. Meskipun begitu, Reina takjub pada kesabaran Nia dalam menghadapi masalah, ia tidak pernah mengeluh maupun kesal atas masalah yang dihadapinya terus-menerus membuatnya disukai oleh banyak orang.

Disisi Reina, Jun mengepalkan tangannya dengan kuat. Hatinya dipenuhi dengan emosi campuran antara kesal, benci, kecewa yang menjadi satu karena ia tidak bisa melindungi Nia menyebabkan Nia berakhir seperti ini.

Di kejauhan dari para pelayat yang hadir di pemakaman, Yoga yang melihat dari jendela mobil hitam Lamborghini Gallardo yang tertutup, ekspresinya sedih.

Ada rasa penyesalan dan kekecewaan didalam hatinya, berpikir kalau ia begitu bodoh menyuruh Nia bekerja lembur tanpa tahu kondisi Nia yang sudah diambang batas.

Padahal Yoga hanya ingin bersama Nia di kantor, tidak lebih dari itu. Tapi karena posesifnya ia terhadap orang yang disukainya, Nia, wanita yang jauh berbeda dari wanita lain yang dikenalnya membuat egonya melebihi pemikirannya yang menyebabkan Nia mati karenanya.

"Andaikan waktu bisa diulang, aku takkan mungkin melakukan ini padamu, Takamiya."

Kata-kata itu muncul dalam hati karena penyesalan mendalam Yoga pada Nia.

Ia yang mengendarai Lamborghini Gallardo pergi meninggalkan pemakaman, tidak ingin menetap disini karena dihantui oleh rasa bersalah. Ia juga berjanji akan membiayai semua kebutuhan keluarga Nia, Takamiya sebagai bentuk penebusan dosa atas apa yang dilakukannya terhadap Nia.

Begitu semua pelayat bubar dari pemakaman Nia, kecuali Luna dan Rin, Reina dan Jun tetap di sana selagi melihat kedua adik Nia tetap menangis selagi memeluk Ibunya Nia.

"Maaf jikalau saya mengatakan sesuatu, Nyonya. Tapi, saya sangat senang bisa mengenal putri anda sebagai teman kami."

"Ya, itu benar."

Mendengarkan perkataan dari Luna dan Rin, kedua sahabat Nia membuat Ibu Nia memahami kesedihan dibalik nada mereka yang mata mereka memandang ke pemakaman putrinya.

"Dia benar-benar penyabar," sela Jun yang ikut berbicara yang mendekati Luna dan Rin selagi menatap ke ibunya dengan senyum kecil menampilkan sorot mata sedih.

"Ya, itu benar," jawab Reina yang matanya teralihkan ke pemakaman, melihat Nia yang sudah meninggal karena berlebihan dalam bekerja.

"Ia sangat sabar dalam mengatasi masalah apapun, tidak pernah mengeluh maupun marah melainkan tegar menghadapinya."

Mendengar kata-kata berikutnya dari Reina, Ibu Nia semakin terisak dalam tangisannya. Hatinya sangat menyesal tidak mengikuti perkataan putrinya yang membuatnya selalu berakhir renggang antara hubungannya dengan putrinya sebelum kematiannya, membuatnya berharap kalau waktu bisa diulang kembali, ia takkan mungkin melakukan hal ini.

"Kalian berdua, dengarkan aku."

Kedua adik Nia menatap ke Jun yang tersenyum pada mereka dengan ramah, mereka yang berhenti menangis menatapnya dengan penasaran dalam diam.

Memahami rasa penasaran dari mereka, Jun menepuk pundak mereka meyakinkan mereka agar tidak mudah putus asa maupun menyerah.

"Dengarkan aku, mungkin ini yang akan dikatakan oleh Takamiya sebagai temanku. Janganlah mudah menyerah dan putus asa, hadapilah masalah apapun meskipun seberapa berat beban yang kau pikul maupun masalah yang kau hadapi.

Ingat, saat kau sudah menetapkan tujuan, pastikan kau mengejarnya dengan sungguh-sungguh. Jangan menoleh kebelakang, jangan lihat inti permasalahan tetapi hadapi mereka dengan lapang dada."

Mendengar perkataan Jun mengingatkan mereka berdua pada perkataan Nia, kakak perempuan mereka membuat mereka menangis lagi seolah-olah apa yang dikatakan oleh Jun ada benarnya.

"Ya, kami janji takkan menyerah."

"Kami akan lalui bersama sebagai keluarga. Itulah yang dikatakan oleh Kak Nia pada kami."

Mendengar perkataan dari adik perempuan dan laki-laki Nia, ada rasa lega di hati Jun membuatnya senang kalau ia bisa menghibur hati dari saudara Nia sebagai penebus dosa karena tidak bisa melindungi Nia, kakak mereka.

"Jika kalian butuh saran dan mau curhat padaku, jangan sungkan untuk hubungi aku."

"Ya."

Keduanya menyeka air mata mereka setelah menangis, menerima kartu nama dari Jun untuk mereka simpan jikalau mereka memiliki masalah baik itu mengeluh maupun curhat padanya.

Reina yang ikut maju setelah Jun meninggalkan pemakaman, mengusap-usap rambut kedua saudara Nia selagi tersenyum pada mereka untuk meyakinkan mereka hal sama seperti Jun.

"Jika kalian butuh waktu untuk refreshing, kabari Kak Reina. Kak Reina akan mengajak kalian bersenang-senang ke tempat yang kalian ingin kunjungi."

Sekilas, secercah harapan terlihat di mata mereka yang berkilauan membuat Reina yakin kalau itu mengangkat kesedihan mereka atas kematian kakak mereka, Nia.

Rin dan Luna yang tidak ingin diam saja mendekati mereka berdua setelah Reina pergi.

"Kalian berdua, jika kalian butuh saran mengenai fashion, kabari aku, aku akan selalu ada untuk kalian."

Dengan senyum ceria dari bibir Luna, Luna tetap menatap mereka dengan wajah ramah sebagai teman dari kakak mereka, Nia.

Rin yang ikut mengangguk setuju pada perkataan Luna, tatapannya tetap menatap ke kedua saudara Nia.

"Jika kalian butuh saran soal percintaan, temui aku. Aku akan berikan solusi untuk mendekati orang yang kalian cintai."

"Terimakasih banyak."

Mendengar terimakasih dari Ibu Nia, Luna dan Rin hanya tersenyum seolah-olah tidak masalah atas hal ini sebelum mereka akhirnya pergi.

"Mari kita pergi, Sayangku."

"Ya."

Meskipun kesedihan masih ada dalam hati mereka, mereka akan berjuang menghadapi dunia bersama sebagai keluarga, tanpa ada ego masing-masing seperti yang terjadi pada Ibu dan Nia, kakak perempuan mereka.

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!