---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Kepala Nirmala berdenyut keras. Kelopak matanya terasa berat, tapi pikirannya justru sudah mulai menyusun kejadian semalam, satu demi satu. Aroma alkohol masih menempel samar di udara kamar hotel itu. Selimut kusut, baju berserakan, dan tubuhnya terasa pegal di beberapa titik.
Saat menoleh, matanya langsung menangkap sosok pria tertidur di sampingnya—tenang, dada naik turun pelan. Wajahnya terlihat jelas sekarang. Dagu tegas, alis rapih, kulit terawat. Bukan orang sembarangan.
Nirmala tidak panik. Tidak menjerit.
Hanya satu reaksi yang muncul:
kemarahan.
Bukan kemarahan meledak-ledak, tapi kemarahan dingin yang membuat tengkuknya menegang. Ia merapatkan selimut ke tubuhnya, lalu menatap pria itu tanpa berkedip.
“Bangun,” geramnya pelan.
Tidak ada respons.
Ia menggeram lebih keras. “Bangun!”
Pria itu mengerjap, matanya membuka pelan. Begitu sadar ada seseorang sedang menatapnya seperti hendak menelan hidup-hidup, ia refleks duduk.
“…kamu sudah sadar?” suaranya serak dan bingung.
Nirmala tidak menunggu ia menjelaskan. Ia langsung mengambil bantal dan mendorong dada pria itu dengan kasar.
“Kamu tau nggak apa yang kamu lakuin?!”
Daren—iya, Nirmala sangat mengenal wajah itu—menarik napas panjang. “Tunggu, aku bisa jelasin—”
“Diam.” Nirmala menatapnya tajam. “Aku tahu ibu tiri aku dan anaknya nyeret aku ke hotel semalam. Aku tahu mereka nyoba jual aku.”
Ia mendekat sedikit.
“Dan aku tahu kamu gantiin ‘pembeli’ itu.”
Daren menunduk, tidak bisa membantah. Tidak mencoba berdalih.
Nirmala menarik napas panjang, mencoba mengontrol emosi. “Aku nggak nangis, jadi kamu nggak usah pura-pura kasihan.”
Daren menatap wajah gadis itu—tegas, terluka tapi tidak pecah. Ia terlihat seperti seseorang yang terbiasa bertahan sendirian.
“Aku minta maaf,” kata Daren pelan.
“Maafmu nggak cukup.”
Daren mengernyit. “Terus kamu mau apa?”
Nirmala menatapnya lama sebelum akhirnya berkata:
“Nikahi aku.”
Daren membeku. “…apa?”
“Nikahi aku,” ulang Nirmala, nada suaranya stabil. “Bukan karena aku cinta kamu. Bukan karena aku butuh suami.”
Ia menegakkan punggung.
“Kamu harus tanggung jawab. Dan aku butuh perlindungan.”
Daren mengusap wajahnya. “Ini tiba-tiba banget—”
“Tiba-tiba?” Nirmala tertawa tipis, bukan karena lucu. “Kamu sadar nggak? Kalau aku nggak bangun tepat waktu, aku mungkin dipaksa tidur dengan laki-laki lain yang bahkan aku nggak kenal. Itu perbuatan ibu tiri aku dan anaknya. Mereka udah kelewatan.”
Daren menunduk, mengakui.
Nirmala melanjutkan, “Kamu orang pertama yang bisa bikin mereka berhenti. Mereka takut sama orang kaya. Takut sama nama besar. Kalau aku tiba-tiba muncul dengan suami selevel kamu, mereka nggak bakal berani seenaknya lagi.”
Daren memijat pelipisnya.
“…Jadi ini pernikahan untuk perlindungan?”
“Awalnya begitu.” Nirmala menatap lurus. “Dan harus segera.”
“Segera?”
“Nanti siang, kamu ikut aku ke rumah. Kita ketemu ayahku.”
Daren tampak makin bingung. “Kenapa harus ayah kamu?”
“Karena dia tahu semua kebusukan istrinya.”
Nirmala mengepalkan tangan di atas paha.
“Dia tahu aku diperlakukan buruk. Dia tahu istrinya sering sengaja kasih aku makan sisa, suruh aku kerja kayak pembantu, bahkan semalam dia tahu aku hilang.”
Ia menghela napas panjang.
“Tapi dia cuma diam.”
Daren mengamati setiap kata yang keluar, melihat bagaimana gadis ini tidak gemetar sama sekali. Ada kepedihan, tapi sudah terlalu lama, terlalu memadat menjadi ketegasan.
“Kenapa ayahmu diam?” tanya Daren akhirnya.
“Karena dia lemah.”
Jawaban itu keluar begitu cepat.
“Dia takut kehilangan istrinya, takut kehilangan ‘keluarga utuh’ versinya. Padahal aku yang dari dulu dia lindungi, bukan perempuan itu.”
Daren terdiam.
Nirmala melanjutkan, “Kalau aku datang sama kamu, dia pasti goyah. Aku cuma butuh dia bicara. Mengakui apa yang istrinya lakukan. Kamu cuma perlu ada di samping aku.”
“Menjadi tameng?” Daren bertanya.
“Ya.”
Tidak ragu.
Daren menyandarkan punggung, memikirkan cepat. “Kalau kamu mau aku menikahi kamu, kamu harus tahu sesuatu. Hidup aku nggak normal. Media ngikutin aku ke mana-mana. Nama aku sering jadi gosip.”
Nirmala tidak tampak peduli. “Bagus.”
Daren mengerjap. “Bagus?”
“Semakin terkenal kamu, semakin panas telinga ibu tiri aku. Dia paling benci kalau aku punya sesuatu yang dia nggak punya, apalagi status.”
Daren mengusap wajah lagi, putus asa tapi sedikit terkesan. “Kamu serius ya…”
Nirmala menatapnya lurus. “Aku nggak main-main. Kalau kamu takut, tolak sekarang. Aku bisa cari cara lain.”
Beberapa detik sunyi.
Daren akhirnya berkata:
“Kalau ini tanggung jawabku, aku lakuin.”
Nirmala menghela napas lega—bukan lega bahagia, tapi lega karena satu masalah besar selesai.
Tiba-tiba ia berdiri dari ranjang, mulai memunguti bajunya.
“Kita berangkat jam dua siang,” katanya sambil berjalan ke kamar mandi.
“Ke rumah orang tua kamu?” tanya Daren.
“Iya.”
Ia menoleh.
“Kamu bakal lihat sendiri siapa musuh aku sebenarnya.”
Pintu kamar mandi tertutup.
Daren duduk diam.
Ia belum sepenuhnya memahami apa yang menunggunya, tapi satu hal jelas:
Ia baru saja masuk ke hidup seorang gadis yang jauh lebih kuat dari kelihatannya.
Dan mulai hari itu, hidupnya tidak akan lagi sama.
Assalamualaikum semua
ini cerita ke dua othor
Jangan lupa like komen nya ya..
selamat sore
selamat membaca..